
Zoya tidak pernah ingin untuk memaksa Naina menerima apa yang ditawarkannya, jika memang gadis itu tidak mau maka ia akan berhenti, tapi seandainya Naina bersedia maka ia akan berusaha membantu. Respon Naina tadi memang tidak memberikan lampu hijau baginya untuk mendesak Rival agar mendekati Naina. Tapi Zoya merasa jika mereka cocok untuk menjalin hubungan. Zoya yakin mereka akan melengkapi suatu saat nanti setelah berumah tangga.
Zoya yang semula duduk di tepian tempat tidur Setelah membersihkan dan merapikan dirinya lantas mendongak begitu pintu kamar mandi terbuka. Ethan muncul dari sana dengan rambut basah dan handuk putih yang melingkar di pinggangnya, di tangannya terdapat sebuah handuk kecil.
Zoya lantas bangkit dan melangkahkan kaki mendekat kepada suaminya, membuat pria itu mengernyit tentu saja. "Ada apa?" tanya Ethan. Karena adalah hal yang sangat langka Zoya mau berdekatan dengannya setelah ia keluar dari kamar mandi, terutama hanya dengan handuk, biasanya wanita itu akan menghindar.
"Ada apa Sayang?" Ethan kembali bertanya sambil menggosok rambutnya yang basah dengan sebuah handuk kecil. Zoya menggelengkan kepalanya, menggandeng satu tangan Ethan dan mengikuti langkah kaki pria itu menuju walk in closet.
Ethan kembali mengernyitkan dahi saat melihat Zoya hanya menggelengkan kepala dan merasa heran kepada istrinya itu, tapi tak ingin banyak bertanya, Ethan lebih memilih untuk mengabaikannya.
Tangannya memilih pakaian dan menggunakannya sementara Zoya masih berdiri di sana.
"Menurut kamu gimana?" tanyanya kemudian setelah sang suami selesai berpakaian.
"Apanya yang gaimana Sayang? Saya bahkan tidak tahu kemana arah pembicaraan kamu." jawab logis Ethan dan membuat Zoya terdiam, beberapa saat kemudian ia menyahut. "Naina sama Mas Rival. Menurut kamu gimana? Mereka cocok enggak?" Zoya akhirnya menjelaskan. Ethan tampak berpikir, mempertimbangkan, menerawang Naina dengan Rival apakah cocok untuk bersama, atau mungkin tidak.
"Memangnya kalau mereka cocok apa yang akan kamu lakukan?"
"Sekalipun mereka cocok, kalau mereka tidak saling menginginkan maka akan sulit Sayang."
"Kan nanti ada kamu yang bantuin aku." Zoya menyahut enteng.
"Seandainya Rival enggak memiliki perasaan apapun sama Nina kamu yakin kita bisa maksa dia?" kali ini Zoya mengerucutkan bibirnya. Ia lupa juga watak Rival sama dengan watak suaminya, keras. Sekalipun ia tak begitu mengenal baik seorang Rival Afgara Zeinn.
Lama Zoya tak memberikan respon apapun, justru melangkahkan kakinya menuju tempat tidur. Ethan mengikuti di belakangnya, ia tau jika barangkali sang istri kesal dengan fakta yang barusan ia katakan.
"Sayang," Ethan memanggil namun Zoya tak menghiraukan, Ethan kemudian meraih tubuh wanita itu dari belakang, berjalan dengan posisi Zoya yang berada dalam dekapannya.
"Kenapa kamu berambisi sekali dengan Rival dan Naina?" akhirnya Ethan bertanya.
"Karena aku merasa mereka cocok. Naina baik, Mas Rival juga kelihatannya baik, aku ngerasa mereka pantas kalau sama-sama. Serasi."
"Seperti kita?" pertanyaan Ethan kali ini berhasil membuat Zoya membalikan tubuhnya, menatap pria itu dalam-dalam.
"Kita serasi?" tanyanga yang langsung mendapat anggukan dari Etan, kemudian setelahnya senyum wanita itu terukir, ia menjatuhkan kepalanya di dada sang suami.
"Mungkin akan lebih serasi lagi kalau kita udah punya bayi."
__ADS_1
Ethan mengusap belakang kepala wanita itu dengan mata terpejam, jujur ia merasa kesal atas pembahasan Zoya yang sedikit-sedikit membicarakan hal tersebut, meski dia juga paham bagaimana jiwa istrinya sebagai seorang calon ibu yang dua kali gagal menjadi seorang ibu,
Dan mungkin selamanya tidak akan menjadi seorang ibu.
"Nanti kita buat bayi yang lucu." hibur Ethan yang kemudian membuat Zoya tertawa dan mendaratkan pukulan pada dada pria itu dengan pelan, sedangkan Ethan justru tertawa dengan kencang.
"Sayang, cocok menurut kita saja nggak cukup. Mereka yang merasain dan akan menjalani hubungan." Ethan kembali pada topik awal.
"Tapi kamu tunggu saja jawaban dari Naina, dia mau atau tidak sama Rival. Kalau memang mau, nanti biar saya yang urus Rival, okey." Ethan menengahi pembahasan Zoya tadi agar istrinya merasa senang atas apa yang akan direncanakan untuk menyatukan Naina, seorang gadis baik dengan Rival yang kelihatan baik.
**
"Aku nggak bisa syuting hari ini, Mbak. Aku udah bilang sama sutradara." terang Zoya saat sang manajer menghubunginya.
"Alasannya karena apa Zoya?" Selin bertanya di ujung sana dengan nada gemas.
Sekalipun ia sudah menikah dengan Randy. Ia mengatakannya sendiri jika akan tetap bekerja sebagai manajer Zoya, begitu pula suaminya yang akan tetap bekerja sebagai sekretaris Ethan.
"Ethan ngambil libur hari ini, jadi dia pengen aku juga libur. Mbak tahu sendiri, "kan gimana suamiku?"
"Aku bisa ditelan bulat-bulat kalau maksain tetep syuting."
"Sorry Mbak, aku lupa ngasih tau Mbak soalnya semalam ngantuk banget,"
"Yaudah, nggak papa. Kalau gitu nikmatin libur kamu sama Pak Ethan."
"Oke, Mbak, sorry, ya sekali lagi."
"Kamu minta maaf terus kayak sama siapa aja, deh." Zoya tertawa, kemudian setelahnya sambungan telepon terputus.
Zoya mengangkat ponsel ke udara dan menoleh kepada Ethan yang melipat tangan di dada sambil menatapnya. Seolah berkata pada Ethan. Puas?
"Kalau begitu siap-siap!" intruksi Ethan, berhasil membuat Zoya mengerutkan keningnya. "Kemana?" tanya Zoya. Karena yang ia tahu, Ethan menyuruhnya mengambil libur agar mereka bisa menikmati waktu berdua di rumah setelah pria itu melakukan perjalanan bisnis dalam waktu yang lumayan lama.
"Saya akan bawa kamu ke suatu tempat." Ethan menyahut singkat. Surprise, Zoya memang memiliki suami yang pernah kejutan.
"Saya tunggu di bawah. Jangan lama-lama, mumpung masih pagi." sahut Ethan, kemudian mendekat ke arah Zoya, mengecup kening wanita itu sekilas lantas meninggalkan Zoya di dalam kamar sendirian dengan beberapa pakaian yang sudah disediakan di atas tempat tidur.
__ADS_1
Zoya membuka lemarinya, ia menemukan beberapa pakaiannya tidak ada di sana, kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. Sepertinya ada hal yang dilakukan sang suami yang tidak ia ketahui.
Zoya kembali ke tempat tidur, lagi, ia melihat beberapa setel pakaian yang sudah suaminya siapkan. Sebenarnya Ethan akan membawanya ke mana?
Sedangkan di lantai bawah, Naina yang sudah lama menunggu Ethan dengan Zoya turun dari lantai atas lantas bangkit dari posisinya yang semula duduk pada salah satu sofa di ruang utama lantai dasar.
Di sampingnya ada beberapa koper yang sudah ia siapkan sejak pagi buta. "Bagaimana Pak?" tanyanya basa-basi begitu Ethan datang.
"Mbak Zoya sudah siap-siap?" sambungnya. Ethan sekilas melihat ke arah lantai dua. Ia hanya menganggukkan kepala. Setelahnya hanya hening di antara mereka, Ethan lebih fokus kepada ponselnya sedangkan Naina hanya berdiam di sana.
Semalam, ketika ia pergi ke dapur untuk mengambil minum karena kehausan, ia bertemu dengan Ethan, atau lebih tepatnya Ethan memang sengaja mendatanginya.
"Saya merasa penasaran dengan kampung halaman kamu." sahutnya setelah menenggak habis minumannya.
"Rencananya, saya ingin mengajak Zoya untuk berlibur di sana beberapa hari, menghiburnya sekalian menikmati pemandangan perkampungan."
"Bagaimana menurut kamu?" Naina tanpa sadar mengalihkan tatapannya lurus kepada Etan terutama saat pria itu juga menatapnya.
Jadi ternyata Ethan benar-benar meminta pendapatnya? Beberapa detik berselang saat Ethan memutuskan tatapan mereka, Naina menyadarkan dirinya sendiri, kemudian mengangguk setuju.
"Tidak masalah Pak, kampung halaman saya indah. Mbak Zoya juga pernah beberapa kali bilang ke saya ingin berkunjung ke sana mungkin sekarang waktunya sudah sangat tepat."
Ethan menganggukkan kepalanya, puas. Ia ingin menikmati waktu dengan Zoya di perkampungan dengan tujuan utamanya agar wanita itu rileks dan menikmati hidupnya dengan bahagia sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Ethan dengan Naina yang semula hanya saling berdiam diri menoleh ke arah tangga begitu terdengar suara langkah kaki, Zoya berjalan mendekat kepada mereka tentu saja dengan raut terheran-heran melihat beberapa koper berada di sana. Apa Ethan akan mengasingkannya?
Kesalahan apa yang sudah Zoya perbuat kepada pria itu? Bukankah semalam mereka bersenang-senang?
"Ini kita mau kemana?" Zoya akhirnya memilih bertanya karena tidak ada yang buka suara untuk memberitahukan alasan mengapa koper-koper tersebut berada di sana. Naina hanya tersenyum, sedangkan Ethan melangkah mendekat ke arahnya dan menggenggam tangan Zoya.
"Kita akan pergi ke suatu tempat." Ethan menyahut penuh ambigu.
"Suatu tempat? Di mana?" Zoya masih bertanya dengan terheran-heran.
"Sebuah tempat di mana kamu hanya mampu tersenyum di sana." Ethan menyahut dengan nada yang begitu manis terdengar di telinga, membuat Zoya tersipu yang akhirnya wanita itu hanya tersenyum tipis. Lantas mengalihkan tatapannya pada Naina, gadis itu menganggukan kepala seolah meyakinkannya jika Ethan benar-benar akan membawanya ke suatu tempat yang indah.
"Ayo." ajak Ethan dengan tangan yang tetap menggenggam tangan Zoya. Lantas menarik sebuah koper miliknya yang berisi pakaiannya dengan wanita itu. Tiga hari ini mereka akan menghabiskan waktunya di sebuah perkampungan bersama dengan istri tercintanya.
__ADS_1
Dunia harus tahu. Apapun yang terjadi antara dirinya dengan Zoya, dia tidak akan pernah meninggalkan wanita itu.
TBC