
Siang itu Anita mengajak Airin dan Syfa belanja. Mereka mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di kota itu. Anita mengajak Airin membeli beberapa stel gamis syar'i. Dia tak bisa menolak, padahal dia bingung. Lemari pakaian di kamarnya sudah full isinya dan masih banyak gamis yang belum pernah dipakainya.
"Kamu itu masih muda, haru selalu tampil cantik di depan suami mu. Pakai aja baju baju itu semua dirumah. Biarpun hanya dirumah, kamu harus selalu menjaga penampilan kamu." Pesan Anita padanya. Makanya meskipun hanya dirumah, Airin selalu berusaha tampil rapi. Selain mengikuti kata kata Ibu mertuanya juga berniat Ibadah. Bukankah berhias untuk suami adalah termasuk Ibadah.
Syfa pun tak ketinggalan, baju baru dan mainan baru. Semua dibelikan Anita. Gadis kecil itu sangat riang sekali. Syfa baru saja bisa berjalan. Dia sangat senang bermain main di sekitar mall.
Saat mereka sedang antri dibagian kasir untuk membayar semua belanjaan mereka. Syfa dengan lincahnya berlari lari kecil. Membuat Airin kewalahan.
"Sudah sana temanin Syfa, dia sangat senang kayaknya melihat keramaian. Dirumahkan hanya kita kita aja... hehehhehe Biar Bunda aja yang antri." Ujar Anita. Airin pun kembali mengejar Syfa.
Ternyata Syfa menabrak seorang Pria didepannya. Pria itu langsung menyapa Syfa dan menggendongnya. Airin sangat terkejut melihat siapa pria itu. Syahdan, ternyata Pria yang ditabrak Sya saat berlarian tadi adalah Syahdan.
Syahdan yang memang mengenal Syfa langsung menggendongnya. Dia juga tidak menyangka akan bertemu disini. Karena tadi dia hanya beriniat untuk membeli Alat tulis untuk pekerjaannya.
Syahdan menatap Airin, lama mereka saling pandang. Sejujurnya Syahdan masih sangat mencintai Airin, dia begitu sangat merindukan wanita terkasihnya itu. Airin menjadi salah tingkah ditatap mesra seperti itu oleh Syahdan. Dia sadar mereka bukanlah mahrom yang tidak pantas berpandangan seperti itu. Nampak jelas hasrat kerinduan itu dari mata Syahdan.
"Sini nak sama Bunda." Airin megambil Syfa dari gendongan Syahdan. Dia tak lagi menatap wajah Syahdan. Karena dia tak ingin ada lagi rasa seperti dulu dalam hati nya untuk Syahdan. Karena kini dia adalah seorang istri dari pria lain.
"Apa kabar Ai..." Sapa Syahdan lembut.
"Alhamdulillah, baik mas. Mas apa kabar." Jawab Airin. Sebenarnya Airin ingin sekalo menatap wajah Syahdan. Karena memang masih ada kerinduan itu dihatinya, tapi dia sadar akan statusnya. Apalagi disini ada Anita Ibu mertuanya. Jangan sampai Ibu mertuanya itu salah paham.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat sekarang. Beginilah kabar mas." Ucap Syahdan.
__ADS_1
"Apa kamu Bahagia dengan pernikahanmu.." Tiba tiba saja Syahdan bertanya itu. Airin bingung harus jawab apa. Dia sendiripun bingung, apa kah dia merasa bahagia ? atau kah hanya menjalani semuanya dengan pasrah.
"Kalau kamu tak bahagia katakan Ai, mas akan rebut kamu kembali." Syahdan pun berkata seperti itu melihat kediaman Airin.
"Tidak mas, Airin bahagia insyaAllah" Airin lansung menjawab. Dia tak ingin ada masalah lagi.
"Airin dimana Syfa.." Tiba tiba Anita muncul dari arah belakang Airin. Anita kaget melihat Syahdan. Dia juga tidak menyangka mereka akan bertemu Syahdan disini.
"Syahdan..." Sapa Anita..
"Ya tante... Kita tak sengaja bertemu. " Ujar Syahdan.
"Mas pergi dulu.. Assalamu'alaikum." Kata Syahdan dan langsung pergi meninggalkan mereka.
"Ayo kita pulang." Ajak Anita kemudian. Dia tak ingin larut dengan kejadian barusan.
Airin pun mengikuti langkahnya, mereka langsung keluar ke arah mobil yang sudah menunggu. Brang belanjaan mereka sudah dibantu supir dibawa ke mobil. Selama dalam perjalanan pulang Airin hanya terdiam. Hanya celoteh Syfa yang terdengar.
Airin jadi serba salah, dia takut ibu mertuanya akan salah paham. Bagaimana kalau Devid tau pertemuan nya dengan Syahdan tadi. Apakah Devid akan memarahinya. Airin jadi sangat takut.
Sementara Anita juga larut dengan fikirannya. Apakah Airin menantunya itu masih mencintai Syahdan. Bagaimana nanti perasaan putranya kalau dia tau Istrinya bertemu dengan mantannya. Anita berniat tak ingin memberi tau Devid. Karena dia tak ingin Devid menjadi sedih dan kecewa. Lagi pula, mereka tadi tak sengaja bertemu kan.
Sesampainya dirumah, Anita bersikap seperti biasa. Dia tak ingin Airin masih memikirkan pertemuanya dengan Syahdan tadi. Anita mengajak Airin masu kedapur untu membuat kue. Mungkin dengan banyak kegiatan, Airin tidak mengingat pertemuan tadi. Begitu fikir Anita.
__ADS_1
Airin sebenarnya juga tak ingin memikirkan lagi pertemuan tadi. Dia sendiri juga berusaha melupakan dan menghapus semua rasa yang pernah disimpannya untuk syahdan. Biarlah itu hanya menjadi cerita masa lalu perjalanan hidupnya. Sekarang masa depannya adalah Rumah tangga nya dengan Devid. Keinginannya sekaran hanya ingin bisa mencintai dan dicintai suaminya.
Siang pun berganti sore, Devid pulang cepat hari ini. Syfa yang begitu mendengar suara mobil langsung berlari keluar. Seakan dia sudah tau bahwa itu adalah mobil Devid. Alangkah girangnya tingkah gadis kecil itu, saat melihat Devid keluar dari dalam mobil. Devid pun bersorak gembira melihat Syfa kegirangan menyambut kepulangannya didepan pintu. Dibelakang Syfa ada Airin juga yang tersenyum kepadanya. Wanita yang kini telah mengisi hati dan hari harinya.
Syfa langsun merengek ingin di gendong Devid. Tapi Devid baru saja pulang, dia belum mandi jadi belum bisa menggendong Syfa. Gadis kecil itu pun merajuk meagis manja. Setelah mencium tangan Devid, Airin menggendong Syfa. Dan mengikuti Devid ke kamar.
"Iyaaa nanti digendong Ayah ya, Ayah mandi dulu. Yuk kita tunggu Ayah dikamar." Sahut Airin membujuk Syfa. Syukurlah Syfa mau, mereka pun mengikuti Devid ke kamar. Seperri biasa Airin menyediakan air putih minuman Devid, dan membantunya membuka sepatunya. Kemudian Devid pun menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Syfa tengah bermain main berlarian di kamar itu.
Tiba tiba ponsel Devid berbunyi. Ada panggilan masuk. Tertulis dilayar nya nama DOKTER ALVIN. Airin bingung antara menjawabnya atau membiarkan saja. Kalau dibiarkan siapa tau telfon penting. Diangkat, dia belum pernah sekalipun menyentuh ponsel Devid. Dia belum tau apakah Devid mengizinkannya membuka ponselnya. Panggilan itupun berakhir, tapi kemudian masuk lagi.
"Mas, ada telfon dari Dokter Alvin." Akhirnya Airin memberi tau Devid. Sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Jawab saja dek, bilang nanti telfon lagi." Jawab Devid setenga berteriak dari dalam Kamar mandi.
"Hallo, Assalamu'alaikum..." Ucap Airin menjawab panggilan masuk itu.
"Wa'alaikumsalam.... Maaf bu, Dokter Devid ada.." Jawab Dokter Alvin dari seberang sana.
"Maaf Dok, Dokter Devidnya lagi mandi. Katanya nanti telfon lagi aja nanti." Jawab Airin.
"Baik bu... Selamat sore..." Dan panggilan pun berakhir.
Airin kaget melihat wallpaper ponsel Devid. Terpampang Foto dirinya dan Syfa. Airin tak tau kapan kapan Devid mengambil gambarnya. Kemudian menjadikan wallpaper ponselnya. Airi tersenyum sendiri. Dia merasa menjadi wanita yang special. Merasa menjadi Ratu. " Ah, apa apa an sih..." Ucap Airin lirih.Dia menjadi tersipu sendiri.
__ADS_1
"Apa kah mas Devid mencintaiku.." Tanya Airin didalam hati.