Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Mengikuti Jejak Arasy


__ADS_3

Seorang wanita tampak melangkahkan kakinya dengan anggun memasuki sebuah restoran dimana ketika ia masuk, ia segera mengedarkan pandangan ke segala penjuru, mencari pria yang mengajaknya untuk menikmati makan siang.


Begitu menemukan seorang pria dengan kaos kasual, celana jeans hitam dan jaket denim berwarna hitam yamg melambai padanya, ia lantas segera melangkahkan kaki mendekat.


"Sudah lama? Maaf, aku terlambat." tanya Arasy pria tersebut, yang ditanya hanya menggeleng pelan lantas melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan.


"Sepuluh menit, tidak terlalu lama. Bukan masalah besar, kamu tidak perlu meminta maaf."


"Sepuluh menit sangat berharga untuk Tuan Rai Ryuga Jagaska."


"Pantas. Karena yang ditunggunya juga berharga." pria itu menjawab dengan kedua sudut bibir yang tertarik ke atas, Arasy terkekeh pelan sampai kemudian seorang waitress menghampiri keduanya dan menyodorkan sebuah buku menu.


"Makan apa kira-kira?" tanya Arasy dengan mata yang fokus menatap buku menu.


"Makanan apa yang cocok untuk sebuah perpisahan?" pria itu bertanya. Membuat Arasy mematapnya sebentar, kemudian melihat lagi buku menunya.


"Kira-kira makanan apa yang pantas untuk hari terakhir kita?" tanyanya lagi saat tidak ada respon apapun dari Arasy.


"Kenapa kamu bilang ini hari terakhir kita? Bukankah masih ada hari selanjutnya?"


"Ya dan itu adalah sesuatu yang tidak pasti." Ryuga menyahut dengan raut wajah datar. Arasy memilih untuk mengabaikan. Iebih memilih fokus kepada beberapa menu yang menarik perhatian. Lantas memesannya dan juga memesankan makanan untuk Ryuga.


Pria itu mengajaknya untuk bertemu dan menikmati makan siang begitu Arady mengabarinya jika esok pagi ia akan pergi menuju Spanyol untuk menikmati kehidupannya di sana dalam waktu yang tidak ditentukan.


Suasana restoran begitu ramai siang itu. Mungkin itulah


"Apa kamu benar-benar akan pergi untuk waktu yang lama?" tanya Ryuga kemudian, Arasy hanya menganggukan kepala. Ia sendiri pun belum tahu pasti berapa lama ia akan menetap di Spanyol. Namun yang pasti, akan cukup lama.


"Apakah Indonesia tidak cukup luas untuk mu?"


"Kalau begitu biar aku mengajakmu keliling Indonesia. Di sini masih banyak tempat-tempat yang sangat bagus untuk dikunjungi." Ryga mencoba membujuk. Tapi keputusan Arasy sudah bulat, selain daripada itu juga sudah pernah mengelilingi Indonesia. Sejak kecil ia seringkali syuting di luar kota. Arasy sudah hafal negaranya sendiri.


"Ayolah Arasy,"


"Bukan seperti itu, Ryuga. Kamu tidak akan mengerti. Indonesia dengan Spanyol jelas saja berbeda."


"Bukan karena tempat di sini tidak bagus tapi karena aku hanya ingin pergi ke Spanyol." sahut Arasy, berusaha membuat Ryuga mengerti. Ryuga hanya bisa mendesah, ia tidak mengerti mengapa Arasy sangat ingin pergi sana.


Sementara Arasy terdiam setelahnya, menyandarkan punggungnya ke belakang sandaran kursi sementara matanya dengan Ryuga berpandangan dalam satu garis lurus.

__ADS_1


Setelah insiden yang pernah keduanya alami atas ketidak sengajaan mobil mereka yang berbenturan, Ryuga dengan Arasy menjadi sering bertemu. Lantas menjadi akrab sehingga keduanya berteman, atau bahkan mungkin Ryuga memiliki perasaan lebih kepada Arasy.


Tapi Arasy tidak ingin ke geer-an. Lagi pula, Ryuga belum pernah mengatakan apapun padanya atau melakukan interaksi yang sekiranya mencurigakan dan berlebihan hingga membuat Arasy berspekulasi bahwa pria itu menyukainya.


Jika pria itu sekarang menahannya untuk tidak meninggalkan Indonesia, maka Arasy cukup yakin bukan semata-mata karena pria itu menyukainya. Namun sebagai seorang teman, membiarkan temannya pergi jauh untuk waktu yang lama pasti memang cukup menyesakkan dada, akan ada ketidakrelaan di sana. Ryuga pasti merasakan hal itu.


Namun sekali lagi. Keputusannya sudah bulat, tidak ada yang bisa mencegahnya siapapun itu. Ini ingin pergi ke Spanyol. Tentang mengapa dirinya ingin mengunjungi negara tersebut, ia hanya ingin mencoba peruntungan barangkali ia menemukan petunjuk di mana keberadaan pemilik lencana yang selama 20 tahun ini ada pada tangannya.


**


Pada keesokan harinya, Arasy benar-benar berangkat ke Spanyol, Ethan sudah memastikan tidak akan ada media yang mengetahui keberangkatan saudara kembarnya tersebut. Demi kenyamanan privasi Arasy.


Ayah, bunda, saudara kembarnya dan juga iparnya ikut mengantarkan ke bandara. Begitu juga Ryuga, namun pria itu tidak mengiringi kepergiannya sebagaimana kerabat keluarga Arasy, melainkan hanya menatap wanita itu dari jarak beberapa meter.


Entahlah kenapa ia melakukannya, tapi yang paling pasti Ryuga tidak ingin mengucapkan selamat tinggal kepada wanita itu.


"Hati-hati di sana. Sering-sering mengabariku." sahut Zoya ketika mereka berada di depan Boarding Lounge dan Arasy sudah berpamitan. Arasy menganggukan kepalanya.


"Kamu tenang aja, jaga Ethan untukku. Jangan membuatnya menangis, oke." pesan Arasy, membuat orang-orang yang mendengarnya tertawa, mungkin seharusnya Arasy berkata seperti itu kepada Ethan dan menitipkan Zoya. Bukan malah sebaliknya.


Meski begitu, Zoya tetap menganggukan kepala, setelahnya Arasy beralih kepada sang Bunda. Bundanya yang sejak semalam bercucuran air mata karena akan melepas kepergian putrinya.


Padahal ia sangat terbiasa ditinggalkan oleh Arasy ke luar kota maupun luar negeri, bahkan untuk waktu beberapa bulan. Namun kali ini rasanya berbeda. Ia seperti akan ditinggalkan dalam waktu yang sangat lama oleh putrinya tersebut.


"Kamu jaga diri baik-baik di sana." pesan Freya, Arasy mengganggukan kepala, hanya memejamkan mata saat Freya mengurai pelukan dan menghujani wajah putrinya tersebut dengan ciuman berulang-ulang.


Setelahnya Arasy beralih kepada Agyan, ayahnya yang mengasihinya dengan kasih sayang yang sempurna. Karena sedewasa apapun Arasy, ia hanyalah seorang anak kecil di mata ayahnya.


Setelahnya, Arasy beralih kepada kembarannya. Sebelum memeluk Ethan, ia lebih dulu sempat memukul dada pria itu. Membuat Ethan meringis, tapi kemudian tetap menyambut hangat pelukan Arasy sebagai bentuk ucapan selamat tinggal.


"Kabari aku jika ada apapun." pesan Ethan yang langsung mendapat anggukan dari wanita itu. Setelahnya, Arasy mundur mendekat pada pintu masuk Boarding Lounge, bibirnya terus mengukir senyum sekalipun matanya tak henti mengalirkan air, ia hanya mampu melambaikan tangan. Arasy merasa, hari ini semua orang mendadak menjadi lebay hanya karena kepergiannya. Padahal ia pergi untuk bersenang-senang, bukan bertempur ke medan perang.


"Dadah Bunda cantik, Ayah tampan."


"Selamat tinggal Ethan si ngeselin. Selamat tinggal ipar cantik,"


"Sampai jumpa kembali, Ryuga Jagaska." Arasy merapal di dam hati.


Arasy berbalik setelahnya, Freya menatap sang putri tanpa berkedip sampai Arasy masuk dan menghilamg di pintu boarding lounge. Agyan meraih istrinya dan memeluknya, Agyan paham bagaimana perasaan seoranga ibu. Jangankan ditinggal beda negara untuk waktu yang cukup lama, bahkan ditinggal pergi oleh anak anakanya sekalipun hanya ke rumah temannya, seorang ibu seringkali banyak berpesan.

__ADS_1


"Hati-hati, jangan kebut-kebutan."


"Kalau sudah sampe langsung kabarin."'


"Jangan pulang larut malam."


Kira seperti itu. Yah, seperti itu.


Dari jarak beberapa meter, Ryuga dengan kacamata hitamnya hanya mampu melambaikan tangan bahkan tanpa Arasy sadar.


Mungkin, lain kali ia harus lebih sering mengunjungi saudaranya yang berada di Spanyol agar dapat bertemu dengan Arasy. Ryuga mendesah, tapi apa bisa? Sedangkan ia sama sekali tidak tau kota mana yang Arasy tuju dan akan ditempati, wanita itu menolak untuk memberitahunya. Pun, selain itu saudaranya juga seringkali melarangnya untuk sering datang berkunjung.


Lagi, Ryuga mendesah. Kenapa jarak harus memisahkan ia dengan Arasy?


**


Sementara itu, di sebuah salah satu divisi perusahaan besar. Pada sebuah kubikel deret terakhir, Rival tampak meremas kertad yang sudah ia buat sejak sebelum dirinya menghabiskan liburan di kampung halaman Naina beberapa hari yang lalu.


Rival pikir ia harus men-cancel lebih dulu rencana resign-nya dari perusahaan. Tekadnya untuk pergi masihlah sama, tapi tidak dalam waktu cepat. Tapi ia mengingat kembali perkataan Ethan pada suatu pagi sebelum mereka kembali ke Jakarta.


"Ya lebih baik mencoba kalau memang kamu ingin. Resign dari perusahaan dan pergi ke tempat yang ingin kamu singgahi." sahut pria itu sambil memanaskan mesin mobilnya. Rival yang bersandar pada body mobil hanya mendengarkan.


"Kalau memang lebih tenang di sini. kamu bisa kembali dan tidak perlu pergi-pergi lagi."


"Kalau lebih tenang di sana."


"Menetaplah, jangan kembali."


Rival menyandarkan punggungnya ke belakang saat bayangan Ethan yang menjelma sebagai motivator menghilang dari pikirannya bersamaan dengan sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Balasan pesan dari Arasy saat ia mengucapkan selamat tinggal dan maaf karena tidak ikut mengantar ke Bandara.


Mungkin Rival juga harus memiliki tekad yang kuat seperti Arasy, setidaknya untuk mematahkan egonya sendiri agar kedepannya ia tidak lagi bimbang dalam menentukan pilihan. Karena ketika ia sudah mencoba maka ia sudah pernah merasakan dan tidak perlu mengulang lagi.


Rival mengangguk-anggukan kepala, membenarkan isi kepalanya. Dengan helaan napas ringan, ia lantas melakukan gerak pemanasan pada jari-jari tangannya, kemudian jari-jari tersebut dengan lincah menari-nari di atas keyboard komputer.


Sepertinya ia akan membuat ulang surat pengunduran dirinya, resign dari perusahaan kemudian pergi ke tempat yang ingin didatanginya.


Tentang kembali dengan cepat atau tidak, akan tergantung dengan bagaimana perasaannya.


TBC

__ADS_1


Bye bye Arasyy good luck.


Hmm Mas Rival udah ancang-ancang mau otw nih.


__ADS_2