Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Mengakhiri Semuanya


__ADS_3

Konferensi pers yang disiarkan secara langsung itu menarik atensi banyak orang dengan berbagai pendapat yang mereka simpulkam mengenai pernyataan yang Zoya kemukakan.


Fans Zoya terbagi menjadi dua kubu. Kubu satu para fans yang tetap mendukungnya, dan kudu dua adalah orang-orang yang berpaling darinya lantaran kecewa dengan keputusan yang dibuat wanita itu.


Berbagai komentar memenuhi kolom siaran langsung instagram agensi AE RCH. Sebagian membela Zoya dan sebagian lagi menyalahkan wanita itu dan juga Ethan bahkan orang ketiga di antara mereka.


Jadi ini semua nyata? Bukan sandiwara?


Tapi air mata Zoya kelihatan tulus, sorot matanya juga terluka, aku nggak yakin kalau dia cuma sandiwara untuk menarik simpati.


Seorang Zeinn Ethan memiliki dua istri? Sepertinya perlu dicatat dalam sejarah.


Zoya kok bisa-bisanya kepikiran buat biarin suaminya nikah lagi sama wanita lain. Apa dia nggak sakit hati? Apa dia nggak mikirin perasaan suami sama asistennya juga? Kok dia bisa seenaknya, gitu, sih?


Gila, Zoya bener-bener nggak punya otak.


Zoya nggak mungkin maksa, 'kan? Sebelum pernikahannya terjadi pasti ketiga pihak udah buat kesekapatan, nggak cuma satu pihak aja yang memutuskan.


Aku percaya kamu sudah melakukan yang terbaik Zoya.


Hidupmu milik kamu, kamu boleh melakukan apapun.


Lagian kok mau-maunya jadi idtri rahasia. Apa nggak sakit hati?


Makan hati tiap hari.


Semangat Zoya, sebagai seorang istri sekaligus ibu aku sangat mengerti perasaan kamu.


Aku punya pengalaman yang sama kaya Zoya. Aku pernah keguguran, aku tahu gimana rasa sakitnya. Fisik maupun batin. Terlebih, saat sedikit orang yang mengerti.


Bukannya yang diangkat ovariumnya cuma satu? Zoya, berarti kamu masih ada harapan, semangat.


Sulit dimengerti, hidupnya terlalu rumit.


Penuh sandiwara.


Pusing liatnya.


Oke, kita unfollow Zoya Hardiswara.


Sepertinya, Zoya harus merelakan sebagian followersnya menghilang.


***


Ethan mendesah setelah tidak menemukan jejak Zoya. Wanita itu berjalan cepat hingga tidak dapat ia kejar dan temukan dimana keberadaannya. Terlebih, wanita itu mengabaikan panggilannya. Membuat Ethan kian merasa frustrasi dan putus asa.


Di sisi lain, Selin yang sudah berjanji pada Zoya untuk mengintrogasi Somi segera meluncur menuju apartemen wanita itu. Saat Selin memintanya membuka pintu melalui intercom yang terpasang di depan pintu apartement, Somi sempat menolak. Namun Selin tidak pergi begitu saja dan tetap menunggu hingga Somi terpaksa membuka pintu dan membiarkannya masuk.


Dalam menit kelima, Selin masih hanya memerhatikan wanita itu, sekilas ia melihat sebuah laptop di atas meja. Bagaimanapun, Somi pasti tengah memantau kekacaun yang sudah dibuatnya.


"Bagaimana?" tanya Selin ambigu, membuat Somi menatapnya penuh tanda tanya.


"Bagaimana rasanya menghancurkan citra seseorang yang bahkan tidak melakukan kesalahan apapun terhadap kamu?" Selin memperjelas pertanyaannya. Somi kembali menunduk.


"Saya nggak tau pasti alasan kenapa kamu melakukam hal ini. Tapi yang jelas, tindakan kamu sudah sangat merugikan Zoya."


"Kalau seandainya Zoya tidak mencegah, saya bisa saja membawa kamu ke meja hijau, sayangnya Zoya bersikeras melarang saya untuk melakukan hal itu." Selin menggebu-gebu. Juju ia sangat ingin mencakar wajah wanita di hadapannya yang sudah menyakiti Zoya, namun ia masih mencoba menahan emosi.


"Seharusnya kamu tidak melakukan hal ini. Kalau kamu sakit hati karena tidak ambil bagian dari film yang digarap Pak Arfat dan Pak Irpan, kamu introspeksi diri. Barangkali akting kamu kurang memuaskan, barangkali kinerja kamu perlu dipertimbangkan."


"Bukan malah sibuk mencari cara menjatuhkan orang lain. Tanpa sadar kamu bahkan sudah menjatuhkan harga diri kamu sendiri." panjang lebarnya, sementara Somi hanya diam.


"Kedatangan saya kemari hanya untuk itu. Saya hanya ingin melihat langsung kondisi kamu setelah melakukan kejahtan pada aktris saya." sahut Selin setelah beberapa saat seraya bangkit dari duduknya


"Satu hal yang harus kamu ingat. Script itu memilih sendiri aktrisnya. Permisi." Selin segera berlalu meninggalkan wanita itu.

__ADS_1


Somi yang ditinggalkannya hanya diam. Ia memejamkan mata sesaat dengan hati yang bertanya-tanya. Apakah tindakannya benar salah atau tidak?


Sebersit perasaan menyesal muncul di hatinya mengingat bagaimana raut wajah Zoya yang kusut beberapa waktu lalu saat memberikan pernyataan mengenai skandal suaminya.


***


Sama halnya dengan Somi, Alexa pun hanya diam di ruangan sang mommy usai melihat siaran langsung konferensi pers Zoya. Ia merasa sudah sangat melukai perasaan wanita itu.


Alexa sadar apa yang dilakukan Zoya kurang masuk akal baginya, namun seharusnya ia tidak perlu ijut campur apapun bahkan membuat kekacauan yang merugikan banyak pihak


"Bagaimana, apa kamu puas setelah melihat kekacauan yang sudah kamu buat?" Rachel yang baru saja masuk ke ruangannya dan melihat Alexa yang duduk pada sofa si sudut ruangan dengan laptop di hadapannya menyambar seraya berjalan menuju meja keejanya.


"Mommy, jangan dibahas terus."


"Jangan dibahas terus kamu bilang? Semua orang gempar meributkan hal ini. Kamu pikir siapa yang jadi penyebabnya.


"Kamu lihat bagaimana tanggapan publik? Mereka mengolok-olok Zoya."


"Kamu bayangkan saja bagaimana perasaan Zoya sekarang!"


"Seharusnya kamu mencari cara untuk menebus kesalahan yang sudah kamu buat!"


***


"Kamu bercanda, 'kan Zoy." Selin memekik tak percaya saat Zoya memintanya bertemu dan mengatakan jika wanita itu akan pergi ke tempat yang jauh.


"Aku minta tolong sama Mbak. Mungkin ini yang terakhir–"


"Jangan sembarangan Zoya, gimana sama suami kamu?"


"Mbak, aku mohon. Mbak bisa kan gantiin aku buat promosiin film sampai perilisan nanti. Aku bener-bener butuh bantuan Mbak."


"Zoy–"


"Ethan berhak bahagia. Tapi bukan sama aku."


"Aku mohon Mbak jangan bilang kalau Mbak tahu aku pergi."


"Tapi seenggaknya Mbak juga harus tahu kemana kamu akan pergi."


"Aku nggak bisa bilang, Mbak."


"Tolong," sesaat wanita itu mematung. "Aku mohon."


Selin sesaat terdiam. Menatap Zoya yang terlihat begitu sembab, melihat raut wanita itu yang tampak begitu memohon, jelas saja Selin tidak mungkin menolak keinginannya. Selin tahu sakit bagi Zoya menghadapi hal ini, tapi perguli juga bukan jalan keluar bagi masalah yang sudah terjadi.


Sekalipun apalah daya, Selin tak bisa berbuat apa apa kecuali hanya menuruti keinginan Zoya.


"Zoya, apa kamu nggak akan nenyesal?" tanya Selin dengan hati-hati guna memastikan.


"Kamu pikirin lagi matang-matang, kamu sangat mencintai Etgan, Mbak tahu itu."


"Berpisah ngak selalu jadi solusi, Zoy."


"Kamu pikir-pikir lagi!"


"Keputusanku udah bulat Mbak. Sejak di Bukares, aku udah nentuin keputusan aku. Ethan udah terlalu baik sama aku, sedangkan aku nggak bisa balas apapun."


"Sama Ethan emang bikin aku bahagia, tapi aku juga selalu terluka, Mbak. Kami nggak bisa terus bersama."


Selin lagi lagi hanya pasrah, ia hanya nampu mengangguk samar menyetujui keputusan Zoya. Ia akan mendukung apapun yang wanita itu inginkan jika membuatnya bahagia.


"Aku pamit." .


"Sampein terimakasih aku buat Pak Irpan Pak Arfat dan semua anggota tim juga. Sampein maafku juga buat mereka." ucap Zoya, sebelum berlau, ia sempat memeluk Selin dan mencium perut wanita itu yang sudah menonjol.

__ADS_1


"Jaga baik-baik keponakanku Mbak."


Selin hanya mampu mengangguk, lantas melamabaikan tangan saat Zoya memasuki taksi. Bersamaan dengan itu, ponselnya berdering, id Pak Ethan menghiasi layar ponselnya.


Selin hanya menempelkan benda pipih itu ke telinganya tanpa berkata apa-apa usai menggeser ikon hijau.


"Apa kamu sedang bersama Zoya sekarang?"


"Tidak Pak."


"Kamu tidak tahu Zoya dimana?"


"Tidak Pak."


"Zoya sama sekali tidak mengabari kamu?"


Selin sempat menatap taksi yang membawa Zoya, sudah jauh melaju meninggalkannya.


"Tidak Pak."


***


"Bagaimana?" Freya segera menyambar putranya dengan pertanyaan begitu Ethan tiba di rumah.


Ethan dengan lesu menggelengkan kepalanya. Freya menutup mulutnya tak percaya, satu jam yang lalu usai siaran langsung konferensi pers yang digelar AE RCH, Ethan mengabarinya jika Zoya tiba-tiba saja menghilang.


Tentu saja Freya panik, ia ingin memberikan pelukan untuk menantunya guna menguatkan wanita itu namun sekarang, Zoya bahkan tak menunjukan batang hiduangnya. Panggilan dari siapapun tampaknya tak wanita itu respond.


Denga lemas, Freya mendudukan diri di sofa, Vina yang masih berada di sana memberinya segelas air agar ia menjadi lebih tenang.


Freya tak menyangka, jika apa yang dihadapi menantunya begitu berat. Ia selalu mengira jika Zoya bahagia tanpa beban apapun , rupnya Freya salah besar. Ia tak mengenal menantunya dengan baik.


"Mungkin Zoya sedang menenangkan diri dulu. Masalah ini bukan perkara mudah, Zoya pasti butuh waktu senduri." Vina menenangkan Freya dan Ethan.


Ethan hanya diam, tapi hatinya berharap jika apanl yang Vina katakan adalag benar.


"Zoya, kamu tidak akan sanggup menghadapinya sendiri. Kemarilah, temui saya dan kita hadapi ini sama-sama." Ethan memabatin, sampai ponselnya berbunyi, menandakan jika ada pesan masuk, Ethan dengan segera membuka pesan begitu melihat jikala notifikasi tersebut berasal dari Zoya.


Ethan, aku baik-baik aja. Kamu nggak perlu khawatir.


Kamu juga nggak perlu nyariin aku.


Makasih buat semuanya. Maaf, aku belum bisa balas kebaikan kamu selama kita menikah. Sampein makasihku juga ke Ayah, Bunda, sama Naina, sampein maaf juga ke mereka kalau selama ini aku udah buat maereka semua repot.


Ethan menggelengkan kepala membaca serrangkaian isi pesan. Matanya bahkan berkaca-kaca dengan bibir yang berucap pelan."Kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkan saya, Zoya."


Freya yang melihat hal itu lantas mendekat pada putranya dan ikut membaca pesan yang Zoya kirimkan.


Ethan, kamu adalah laki laki terbaik yang pernah aku kenal. Aku beruntung bisa bersama sama, sama kamu. Aku adalah orang paling beruntung yang memiliki suami seperti kamu.


Aku juga sangat beruntung memiliki mertua seperti Ayah dan Bunda. Aku harap mereka nggak kecewa sama aku. Ataupun kalah kecewa, aku harap rasa kecewanya sudah reda.


Tapi Ethan, kita nggak bisa bersama lagi untuk ke depannya. Apa yang harus kita pertahankan? Enggak ada. Enggak ada apa-apa lagi.


Ethan, kamu memang bukan Angkasa. Tapi aku akan menjadi Rain. Rain yang pergi meninggalkan Angkasa.


Terimakasih Ethan, aku sayang kamu. Di perjalanan ini, kita harus berjalan sendiri-sendiri.


"Tapi Rain meninggalkan Angkasa karena Angkasa berbuat salah Zoya. Sedangkan saya? Saya tidak melakukan kesalahan apapun, ini tidak adil Zoya." pria itu tak mampu menahan air matanya. Sementara Freya sudah berderai air mata sejak tadi, yang bisa dilakukannya hanya memeluk putranya, dan berharap jika Zoya akan segera pulang dan kemabali berkumpul dengan mereka.


Sementara itu, Zoya yang sudah tiba di Bandara, beberapa waktu sebelum pesawatnya take off. Ia menonaktifkan ponsel usai mengirim pesan pada sang suami, lantas membuang ponselnya tersebut pada tong sampah.


"Selamat tinggal Ethan."


TBC

__ADS_1


__ADS_2