
Enam orang itu menikmati makan siangnya di tengah hiruk-pikuk ramainya berbagai suara yang terdengar. Sekalipun merasa kecewa, Zoya hanya bisa pasrah dan berlapang dada. Menerima semuanya dan kembali bersabar untuk penantian panjangnya.
Sedangkan Naina yang merasa bersalah tetap tak bisa menyalahkan dirinya sendiri. Karena Ethan sama sekali tidak menyentuhnya, mustahil ia akan mengandung anak pria itu.
Ethan menatap sang istri yang terlihat sendu, sekalipun tersenyum, Ethan cukup peka terhadap perasaan wanita itu. Ia lantas mengambil ponsel dan mengunjungi situs pembelian tiket online mengingat jika ada film bagus yang saat ini tengah tayang.
"Mm, Randy. Seingat saya, pekerjaan kita hari ini sudah selesai." sahut pria itu tiba tiba saja dan membuat tatapan semua orang di meja tersebut mengarah padanya.
Randy diam menatap pria itu dengan mulut yang mengunyah perlahan, ia belum mengerti maksud sang atasan karena seingatnya mereka masih memiliki beberapa pekerjaan yang belum diselesaikan.
"Bagaimana kalau kita menonton film." usulnya yang kali ini membuat Randy mengerti.
"Benar Pak, pekerjaan kita hari ini sudah selesai." pria itu menyahut bersemangat, Selin hanya mencebikan bibir melihatnya.
"Bagaimana?" ia meminta pendapat semua orang, mereka mengangguk setuju begitu juga dengan Rival.
"Memangnya Mas Rival benar-benar nggak ada acara?" tanya Naina pada pria itu, dengan senyum lebar Rival menganggukan kepala penuh keyakinan.
Hanya Zoya yang belum mengeluarkan persetujuan, sehingga saat Ethan menatapnya penuh harap, wanita itu mengangguk dengan senyum tipis yang dipaksakan. Melihat antusias orang-orang yang setuju untuk menonton film, Zoya tidak mungkin menolak dan mengacaukan suasana.
Usai makan siang, Zoya lebih dulu mengantarkan Naina untuk mengganti pakaiannya, sedangkan yang lain lebih dulu ke gedung bioskop dan menunggu Zoya dengan Naina di pintu masuk.
Rival segera merogoh ponsel dalam saku celananya saat benda canggih itu bergetar, setelah melihat layar ponsel dan membaca id penelpon, Rival sedikit mengambil jarak dari yang lain dan menempelkan benda pipih tersebut pada daun telinganya usai menggeser ikon hijau.
"Mas, kamu di mana. Temen-temen Papa nungguin kamh buat pamitan."
"Kamu kenapa ke toilet nggak balik lagi, sih?" suara Rayn terdengar di ujung sana, pria itu tampak menahan kesal.
"Pah, mendadak aku ada urusan. Salam aja ke temen-temen Papa."
"Aku buru-buru, yah, Pah, daaah." Rival meringis setelah memutuskan sambungan secara sepihak. Rival tidak boleh kembali pada Rayn dan kembali lagi ke kantor, berkutat dengan segudang pekerjaan yang mengundang migrain di kepalanya.
Ia harus bersama Naina hari ini. Menonton film dan menghabiskan waktu dengan gadis itu.
***
"Maafin saya ya Mbak Zoya," sahut gadis itu ketika usai mengganti pakainnya dengan pakaian yang Zoya belanjakan untuk gadis itu beberapa saat yang lalu.
Zoya memaksakan senyumnya terbit dan menatap gadis itu, meraih tangan Naina untuk ia genggam.
"Kamu nggak perlu minta maaf. Tuhan belum ngasih, kita harus sabar, yah." Zoya justru menghibur dan menenangkan Naina meski senenarnya, dia adalah yang paling butuh hal tersebut.
Naina mengangguk dengan kedua sudut bibir yang tertarik ke atas. Balik menggenggam tangan Zoya untuk saling menguatkan.
***
Naina dengan Zoya tiba tepat ketika pintu teater telah dibuka. Bak tiga pasangan yang tengah melakukan kencan, ke-enam orang itu mencari tempat duduk paling strategis dan duduk dengan pasangannya masing-masing–kecuali Rival dan Naina yang bukan pasangan–tetapi duduk saling berdampingan.
Mereka duduk satu deretan. Dimulai dari Zoya dan Ethan di sisi paling kanan, Selin dan Randy di tengah dan Rival dengan Naina di sisi sebelah kiri.
__ADS_1
Keadaan bioskop tidak begitu ramai saat itu. Banyak bangku yang kosong mengingat film yang ditayangkan adalah film jadul, barangkali sudah sepi peminat sekalipun kualitas dan kuantitasnya bagus. Namun justru hal itu yang Ethan inginkan. Ia merasa menjadi lebih tenang ketika tidak terlalu banyak orang.
Tidak ada yang mengobrol, semuanya asik menikmati berjalannya film. Sepanjang pemutaran film berlangsung, Zoya terus menyandarkan kepala di bahu sang suami. Sementara tangan keduanya saling bergenggaman erat.
Bahkan Ethan merasa jika tangannya sudah basah karena berkeringat, namun Zoya tampak enggan melepaskannya. Pun Ethan tak akan meminta wanita itu untuk melepaskannya.
Ethan tahu ada yang tidak beres dengan sang istri, ia peka jika kabar yang baru saja disampaikan Naina pasti membuat perasaan Zoya terluka. Wanita itu pasti sangat kecewa.
"Zoya," panggilan pria itu membuat Zoya mengalihkan perhatiannya, wanita itu mendongak dan menatap sang suami.
"Ada apa?" tanya Zoya mendapati sang suami yang hanya diam menatapnya.
"Jangan kecewa, yah, jangan sedih, jangan menangis atau–" Ethan mendesah sebelum kemudian manjutkan kalimatnya.
"Atau saya akan merasa hancur."
"Berapa kali saya katakan, jika saya–"
"Saya tidak ingin menjadi orang yang gagal." Zoya menyela dengan cepat mengingat pria itu seringkali mengatakan hal tersebut padanya saat Zoya dirundung pilu.
Ethan menghela napas dan mengusap punggung tangan Zoya, tak lama kepalanya mengangguk. "Saya tidak ingin menjadi orang yang gagal dalam membahagiakan kamu." sahutnya yang berakhir dengan kecupan di punggung tangan Zoya.
Zoya hanya diam menatap suaminya. Sama halnya seperti pria itu yang memusatkan tatapan pada Zoya seolah hanya Zoya-lah dunianya.
Film yang sekarang tengah diputar dan menampilkan adegan demi adrgan baru tak Ethan dan Zoya hiraukan. Keduanya terbuai rasa cinta yang membara di dada masing-masing.
Bahkan dua orang itu sudah tidak perduli atas apa yang terjadi di sekitar mereka. Pelan tapi pasti, Zoya memejamkan mata. Tanpa dua orang itu tahu jika hanya dari jarak beberapa puluh centi meter, sejak beberapa saat yang lalu, seseorang tengah mengawasi keduanya.
Film yang ditontonnya sangat seru, tapi lama kelamaan tiba-tiba saja terlihat membosankan!
Gadis itu berusaha tegar sampai kemudian sebuah tangan besar menggenggan tangan mungil Naina. Membuat gadis itu segera menolehkan wajah pada pria di sampingnya. Naina berniat melepaskan genggaman tangan Rival, namun pria itu dengan keras menahan dan menggenggam tamgan Naina erat-erat.
"Saya merasa jika hawa di dalam sini sangat dingin, tangan kamu hangat dan saya butuh kehangatan." modus pria itu yang pada akhirnya memuat Naina hanya pasrah dan mengikuti saja kemauan pria itu–ia tak ingin membuat keributan.Toh Ethan juga tak memerhatikannya sama sekali. Jadi, pria itu tidak akan tau apa yang dilakukannya dengan Rival.
"Naina,"
"Hmm?" Naina yang sudah kembali fokus menatap layar besar di hadapannya–meski sudah tak mengerti alurnya– tak menghiraukan Rival sama sekali–ia tetap mengarahkan pandangannya pada layar besar di hadapan mereka.
"Saat saya bilang jika ada alasan kenapa saya kembali pulang ke Indonesia, kamu mau tau apa alasannya?" tanya pria itu panjang lebar, kali ini berhasil mengalihkan atensi Naina sehingga gadis itu menoleh padanya.
Naina tak menanggapi untuk sekedar bertanya, ia hanya diam memerhatikan Rival yang siap dengan jawabannya.
"Kamu." pria itu menyahut. Sementara Naina mematung. Ia perlu mencerna dengan baik maksud Rival. Nain tak bisa sendiri menyimpulkan.
"Alasan saya kembali adalah kamu." sambung pria itu lagi bahkan saat Naina belum dapat paham sepenuhnya kalimat pertama yang Rival katakan.
"Kamu tahu, saat saya berada jauh dari kamu. Saat saya memutuskan tinggal jauh dari kamu, ternyata saya tidak mampu." ungkap pria itu dengan kekehan pelan yang seolah menertawakan dirinya sendiri.
"Naina, saya tidak tahu kapan ini bermula, saya bahkan merasa jika tidak ada yang istimewa dari interaksi kita, tetapi kenapa kamu begitu istimewa di hati saya?"
__ADS_1
"Bahkan kamu menggoyahkan plan yang sudah saya buat untuk tetap menetap di luar negri. Tapi kamu seolah meminta saya kembali."
"Sampai saya sekarang ada di sini–"
"Dengan kamu." genggaman tangan Rival di tangan wanita itu kian erat. Sementara Naina masih belum mengerti.
Susunan kata yang menjadi sebuah kalimat bagai rangkaian puisi yang Rival utarakan cukup menggetarkan sesuatu yang kecil dalam diri Naina. Hati.
Hati gadis itu bergetar, getarannya kian hebat ketika matanya dan mata Rival saling bersitatap dalam satu garis lurus. Naina mencoba mengalihkan perhatiannya ke arah lain guna mengendalikan perasaannya yang tak bisa ia kontrol.
"Naina,"
Bahkan saat Naina belum dapat mencerna dengan baik kalimat panjang yang pria itu katakan. Rival justru memanggil namanya dengan suara parau yang membuat hati Naina kian bergetar, bahkan berdebar hebat.
"Kapan kamu siap bertemu dengan keluarga saya?" tanya pria itu dengan yakin, senyum tipis bahkan terbit di bibir manisnya dengan sorot mata penuh harap pada Naina.
"Mas–"
"Saya sudah bilang pada orang tua saya jika saya sudah ada calon."
"Tapi–"
"Naina."
"Saya tidak bisa, Mas."
Rival diam sesaat. Senyumnya berubah jadi senyum miris, ia menatap Naina dengan kerutan di dahinya.
"Kenapa?"
"Apa kamu sudah memiliki pasangan?"
Naina diam, debaran di hatinya mengundang kepanikan, tangannya bahkan terasa dingin.
"Kenapa Naina?"
"Kamu sudah ada calon?"
"Dengerin saya dulu, Mas Rival!" Naina menaikan nada bicaranya, beruntung tak menarik atensi orang-orang karena mereka tengah asik menikmati pemutaran film yang sedang berlangsung.
Rival mengangguk polos, sedangkan Naina tampak tengah mengatur napasnya pelan-pelan. Ia menatap Rival dalam-dalam.
"Saya bahkan belum mengerti maksud Mas Rival, gimana bisa saya ketemu orang tua Mas Rival." sahutnya dengan hati-hati.
"Tapi saya ingin segera membawa kamu ke rumah."
"Kasih saya waktu, Mas." pinta Naina setengah memohon dengan raut bimbang. Memang apa yang ia harapkan? Jelas-jelas ia terikat sebuah pernikahan dengan Ethan. Bagaimana mungkin ia dibawa oleh Rival untuk bertemu dengan kedua orang tua pria itu?
Membawa seseorang pada keluarga? Jelas saja, Naina hanya mengerti satu hal jika langkah tersebut adalah langkah serius.
__ADS_1
Rival tidak bermain-main. Lalu apa yang akan Rival lakukan?
TBC