Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Persiapan malam pertama


__ADS_3

AIRIN


Sungguh, hatiku terasa sakit diperlakukan seperti itu olehnya. Dia bilang tak ada yang perlu dimaafkan. Tapi sikapnya sangat jelas menunjukan kemarahan. Ya Tuhan, apa sebenanya yang telah kulakukan yang membuatnya sekarang bersikap seperti itu.


Tadi malam, setelah beberapa jam aku menunggunya pulang. Tak sedikitpun dia melirikku. Hanya Bunda yang disapanya, sementara sikapnya padaku masih saja dingin. Tak terasa airmataku mengalir. Tapi aku tetap berusaha tenang dan melayaninya seperti biasa. Sampai aku harus berpura pura tidur lebih dulu untuk menghindarinya agar hatiku tak sedih lagi.


Aku tak bisa kunjung tidur, mataku tak bisa terpejam. Setelah ku lihat mas Devid terlelap dalam tidurnya. Aku pun bangun. Kupandangi wajah tampannya, wajah yang kini selalu aku rindukan. Tapi wajah itu sekarang tak pernah lagi tersenyum padaku, entah apa salahku.


Ku ambil wudhu dan ku bentangkan sajadahku. Hanya ini yang selalu bisa memberiku ketenangan. Ku adukan semua sakitku pada Allah. Menangis dalam sujudku, aku yakin Allah mendengarkan rintihanku.


Ya Allah, apa yang harus kulakukan. Aku tak ingin rumah tangga ku gagal lagi. Apalagi sekarang hatiku telah terpaut dengannya. Dan Syfa pun telah menganggapnya ayah kandungnya. Tapi kenapa sekarang mas Devid berubah. Apa yang telah kulakukan.


Aku teringat perkataan Bunda, seorang istri harus selalu mengalah. Minta maaf terlebih dahulu bukan menampakan kelemahan. Mungkin benar, aku haru meminta maaf dahulu pada mas Devid. Semoga hatinya dilembutkan Allah.


Tak terasa Adzan Subuh pun terdengar. Ya Tuhan aku benar benar tak tertidur. Ku lihat mas Devid bangun dan berjalan ke arah kamar mandi. Tanpa menunggu lama lagi aku langsung meminta maaf padanya. Tapi sedikitpun mas Devid tak tampak seperti memaafkanku. Meskipun airmataku telah deras mengalir. Hingga suara tangisanku membangunkan Syfa yang tengah tertidur pulas. Aku berharap tangisanku tak sampai terdengar oleh Ibu mertuaku.


Akhirnya ku ambil Syfa dan kupeluk dala gendonganku. Hatiku benar benar pilu. Apa salah ku sehingga mas Devid seperti ini. Ku menangis dalam diam, airmataku tak kunjung surut.

__ADS_1


"nanan nanis. nanan nanis.."Suara Syfa makin membuatku pilu. Gadi kecilku itu menghapus airmataku. Wajahnya keliatan takut dan sedih.


"Nggak sayang, Bunda ngk nangis lagi kok. Syfa masih ngantuk ngk. Mau tidur lagi. Yuk nen dulu.." Ku bujuk Syfa agar mau tidur kembali. Ku susuin dia sambil rebahan. Mungkin karena tak tidur semalaman. Rasa kantuk pun membuat ku terlelap.


Aku terkejut saat bangun, kulirik Syfa disebelahku masih tertidur lelap. Ku lihat Jam di dinding kamar. Sudah hampir jam delapan pagi. Ya Allah aku bear benar terlelap tadi. Pelan pelan ku bangun dari ranjang, agar Syfa tak terkejut. Mas Devid tak ada lagi di kamar. ku buka pintu kamar mandi kosong. Ku lihat tas dan sepatu nya. Dia sudah berangkat mungkin. Atau masih sarapan. Aku pun mencuci muka, bersih bersih seperlunya. Kemudian memakai hijab dan keluar kamar. Sepi, benar dugaanku mas Devid sudah berangkat ke Rumah Sakit.


"Kamu sudah enakan Airin." Ibu mertuaku menyapaku. Saat aku duduk terdiam di meja makan sendirian.


"Eh Bunda, maaf bund, Airin ketiduran lagi sehabis subuh.." Jawabku apa adanya.


"Nggak pa pa, memangnya kamu kerja disini. Sampai harus bangun pagi tiap hari. Ini kan rumah kamu. Wajarlah sesekali kamu istirahat seharian.. Emang harus begitu. Jangan terlalu capek. Jadi badan kamu tetap fit melayani suami lahir batin"ucap Ibu mertuaku menasehati sambil mengedipkan sebelah matanya. Entah apa maksudnya, lama aku berikir. Ya Allah, mungkinkah maksud Bunda lahir batin itu juga masalah ranjang.


"Ya Allah, betapa berdosanya aku. Jangan lakhnat hamba Ya Allah. Hamba berjanji, malam ini akan hamba berikan hak suami hamba atas diri hamba." Doa'ku dalam hati.


Pagi pun berlalu, ku jalani hariku seperti biasa. Mengurus Syfa gadis kecilku. Dan menemani Ibu mertuaku. Kami kadang berkreasi didapur mempraktekan resep resep terbaru yamg kami dapatkan dari sosmed Kadang kami mengurus kembang kembang. Dibelakang rumah ada sebuah taman bunga. Bunganya cantik cantik dan bermekaran. Kadang aku membantu Bunda merawat bunga bunga itu.


Tak terasa hari pun beranjak sore, mas Devid masih belum pulang. Mungkin dia akan pulang malam lagi. Biarlah tak mengapa. Yang penting malam ini aku harus mempersiapkan diriku sebaik mungkn. Aku ingin malam ini menunaikan salah satu kewajiban ku sebagai seorang istri yang masih belum pernah ku lakukan. Meskipun kami sudah hampir setahun menikah.

__ADS_1


Syfa sudah ku mandikan dan ku suapi makan. Dia lagi anteng bersama Bunda dan ada seorang pengasuh. Aku ingin mandi sambil berendam didalam bath tub. Memanjakan kulitku, agar nanti malam mas Devid tak merasa kecewa dengan pelayananku. Aku tersenyum senyum sendiri membayangkannya. Dadaku berdebar debar. Rasanya beda sekali dengan yang pernah kurasakn dulu dengan mas Andri, matan suamiku. Kalau dulu aku merasa sangat ketakutan dan was was.


Mungkin smua karena rasa yang ada didalam hati ini yang berbeda. Dulu aku tidak mencintai mas Andri karena perlakuannya yang kasar padaku. Berbeda dengan perasaanku sekarang kepada mas Devid. Apakah ini yang namanya cinta. Aku jadi malu sendiri memikirkannya.


Tak lama setelah sholat Isya mas Devid pulang. Kulihat wajahnya kusut seperti sedang banyak beban masalah. Apakah sebegitunya kah kesalahanku sehinggu membuat suamiku berwajah kusut seperti itu. "Ampuni hamba ya Allah." bisikku lirih dalam hati.


Ku cium tangannya, ku bantu dia membuka sepatu kerjanya seperti biasa. Air mineral juga sudah ku siapkan. Jas putih Dokternya juga sudah ku letakkan di tempat pakaian kotor.


"Mas mau mandi sekarang" Tanyaku lembut dengan senyuman. Tapi mes Devid tak meresponku. Dia berlalu begitu saja ke kamar mandi. Aku mencoba memahami sikapnya. Swmoga setelah malam ini sikap mas Devid akan kembali seperti kemaren kemaren.


Tak lama mas Devid keluar dari kamar mandi. Dan berpakaian, memakai baju ganti yang sudah kusiapkan. Dia masih saja diam dan dingin.


"Mas mau makan malam, aku siapkan ya.." Ujarku.


"Nggak usah, aku sudah makan tadi dirumah sakit Kamu istirahat saja. Tidurlah, aku mau keruang kerja sebentar." Jawab mas Devid tanpa menatapku, kemudian langsung keluar kamar. Aku terdiam, jujur aku menjadi lemah lagi. Ingin rasanya menangis lagi. Cepat cepat ku hapus airmata yang mengalir. Tidak, malam ini tidak boleh lagi ada kesedihan. Lebih baik aku bersiap siap.


Ku bersihkan diriku, kemudian ku oles wajahku dengan pelembab, agar tidak terlihat pucat. Ku ganti gamisku dengan sebuah lingerie. Aku memandangi pantulan diriku di kaca. Meskipun ada beberapa bekas luka ditubuhku karena siksaan mantan suamiku dulu, tapi syukurnya itu semua tak terlalu terlihat lagi. Karena setiap hari ku pakai lotion yang bisa menghilangkan bekas bekas luka. Ku poles bibirku dengan lipstik. Meskipun tipis, tapi cukup terlihat merona. Aku berharap mas Devid menyukai warnanya. Tak lupa juga ku pakai sedikit parfhum.

__ADS_1


Kini aku telah siap menungu suamiku masuk lagi kedalam kamar. Sebenarnya aku deg deg an. Walau bagaimanapun semua ini hal pertama bagiku. Berpakaian sexy dan bersolek seperti ini. Tapi tak apalah, niatku untuk melayani suamiku. Allah pati meridhoiku.


Ku rebahkan tubuhku diatas ranjang. Tadi Syfa sengaja ku titipkan tidur dengan Bunda. Syukurnya Ibu mertuaku seakan mengerti meskipun tak ku jelaskan. Detik menuju menit, tak terasa sudah hampir dua jam aku menunggu mas Devid. Tapi dia belum juga kembali ke kamar. Mungkin karena pakaianku sangat minim dan suhu kamar yang sejuk semakin membuat mataku mengantuk. Dan aku pun tak sadar tertidur dengan pulasnya.


__ADS_2