Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Toko Perlengkapan Bayi


__ADS_3

Zoya harus merasa kecewa, saat ternyata gaun pilihannya tak muat di badannya. Ia mengerucutkan bibir dengan tatapan kesal pada Ethan yang menahan tawa begitu melihat ressleting gaunnya yang tak bisa dinaikan.


"Tuh, 'kan. Badan aku, tuh, berisi banget." gerutu Zoya begitu di ruang ganti hanya ada mereka berdua. Dua karyawan di sana mengambil dua sisa gaun lagi untuk Zoya coba.


"Enggak berisi Sayang. Cuma –"


"Cuma gendut?" ia menjadi lebih kesal.


"Enggak gendut juga. Gaunnya yang emang kecil, percaya sama saya."


Wanita itu akhirnya terdiam saat dua karyawan store kembali masuk dengan membawakan dua gaun yang belum Zoya coba. Zoya menggelengkan kepala pada pria itu, seolah meminta Ethan saja yang memilihkannya. Ethan mengangguk, melihat gaun berwarna lilac dan putih itu, kemudian matanya jatuh hati pada gaun berwarna putih. Jari telunjuknya terangkat menunjuk gaun berwarna putih tersebut.


"Harus banget yang putih?" tanya Zoya dengan dahi berkerut, Ethan yang menganggukan kepala menyatakan final yang artinya Zoya harus mencoba gaun itu.


Ethan tersenyum puas begitu gaun tersebut melekat dengan sempurna di tubuh sang istri. Ia sudah memperkirakan hal itu, karena ukuran gaun berwarna lilac tampak sama dengan gaun yang pertama kali wanita itu coba.


Ethan tidak ingin istrinya merasa minder apalagi marah padanya andai saja gaun berwarna lilac itu yang sang istri coba dan ia mendapat kenyataan jika tubuhnya memang berisi.


"Cantik." pujinya, Ethan tidak tahan untuk tak menghampiri wanita itu yang justru membuat dua karyawan wanita itu saling tersipu. Melihat Ethan dari jarak dekat, rasanya seperti mendapat jackpot besar.


"Malah kaya aku yang jadi pengantinnya nanti." sahut Zoya, menilik gaun yang dikenakannya. "Enggak papa, lagian kan putih bisa dipake diacara apa aja."


"Iya. Tapi gaunnya berlebihan."


"Enggak Sayang!"


Blusshh, kenapa pipi dua karyawan wanita itu yang tampak memerah? Melihat bagaimana perlakuan manis Ethan pada aktris cantik itu. Rasanya mendebarkan meski mereka hanya sekedar menyaksikan.


"Beneran nggak berlebihan?" wanita itu bertanya sekali lagi untuk memastikan.


"Enggak."


Sekali lagi wanita itu menilik penampilannya. Ia akhirnya hanya mengangguk. "Oh, iya. Kalau gitu gaun yang pertama, kasih buat Naina aja." sahut wanita itu. Itu adalah perintah yang membuat Ethan terdiam terdiam beberapa saat, tapi begitu mata Zoya mengarah padanya, ia hanya bisa mengangguk.


"Ukurannya pasti cocok sama Naina."


"Boleh, kalau emang Naina mau." Zoya mengangguk penuh antusias mendengar pernyataan sang suami. Ia sudah jatuh cinta pada gaun pilihannya, namun sayang gaun itu tidak dapat ia pakai, sehingga dipakai oleh orang yang disayanginya akan menjadi opsi terbaik bagi Zoya dari pada melihat gaun tersebut melekat di tubuh orang lain.


"Makasih." ucap wanita itu dengan begitu pelan. Ethan mengangguk, melihat kekesalan telah sirna di mata istrinya.


Di luar sana, Naina yang merasa sudah lama menunggu akhirnya tak tak tahan untuk tidak mencari toilet. Ia sudah menahan ingin buang air kecil sejak setengah jam yang lalu. Perasaannya lega begitu ia keluar dari bilik toilet wanita.


Ia berjalan untuk kembali ke tempat di mana Zoya dan Ethan masih berada di sana. Tanpa gadis itu sadar jika seseorang terus memperhatikannya. Melihat setiap gerak - gerik gadis itu.


Naina menghela napas, tampak bingung kemana ia harus melangkah sedangkan saat mencari toilet tadi ia benar - benar buru - buru dan tidak memperhatikan jalan dan counter - counter yang dilewatinya.


"Kemana, yah?" Naina meraba keberadaan ponselnya untuk mengabari Zoya. Namun nihil saat benda canggih itu tak dapat ia temukan. Naina baru ingat jika ponselnya berada pada selempangnya yang ia letakan begitu saja di atas sofa saat keluar dari store gaun.

__ADS_1


Naina mengedarkan pandangan di mana semua orang sibuk pada dunianya masing - masing. Di mata Naina, semua store tampak sama dan membingungkannya. Ia juga tidak menemukan pintu keluar yang membuatnya kian merasa terjebak, seharusnya ia lebih teliti lagi dalam keadaan segenting apa pun.


Di tengah kecemasannya, seseorang tiba - tiba saja menggenggam tangannya, menariknya pergi dari tengah kebingungannya. Naina tidak mengetahui siapa orang yang membawanya. Ia hanya merasakan telapak tangan besar menggenggam tangannya dengan erat agar tak terlepas.


"Kamu cari Ethan sama Zoya?" tanyanya begitu mereka berada di tempat yang tidak terlalu ramai. Kali ini, Naina tau siapa orang yang menyelamatkannya. Lagi.


"Iya, Mas."


"Mereka ada di store sebelah sana." Rival menunjuk bagian store di mana banyak orang masih berkerumun di sana dengan beberapa bodyguard yang berjaga di pintu masuk. Sekarang Naina ingat, jika store tersebutlah yang tadi dikunjunginya. Artinya Zoya dengan Ethan masih berada di sana.


"Makasih, Mas Rival." sahut gadis itu dengan nada kaku, Rival menaikan satu alisnya. "Bisa juga bilang makasih,"


"Maksudnya–" Naina terdiam, sementara otaknya menerawang. Kemudian ia kembali menatap Rival begitu mengingat kejadian lalu saat Rival menolongnya lolos dari Kevin di kamar hotel saat pria bejad itu hampir memerkosanya.


"Waktu di rumah Ibu Shanty dua bulan lalu, saya ingin bilang makasih pas kita bertemu di dapur. Tapi Mas Rival acuh tak acuh, jadi saya kira Mas nggak butuh."


"Gak gitu, lah."


"Ya tapi –"


"Saya duluan." pamit Rival tanpa menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut Naina. Ia berlalu begitu saja bahkan sebelum Naina menganggukan kepala.


Naina akhirnya hanya terdiam, matanya menatap punggung Rival yang kian menjauh, sampai pria itu hilang di kerumunan orang - orang. Naina segera menepiskan tatapannya, kemudian melangkahkan kaki menuju store di mana Zoya dan Ethan berada.


"Habis dari mana, sih?" tanya seorang pria dengan kemeja slim fit berwarna hitam begitu Rival tiba kembali di food court setelah menghilang beberapa saat.


"Habis ada urusan sebentar." pria itu menyahut kalem, kemudian duduk di tempatnya semula. Ia berdecak kesal mendapati minumannya yang telah tandas, bahkan makanannya hanya sisa setengah.


"Roby, tuh, yang makan." jari telunjuk pria dengan kemeja slim fit hitam itu menunjuk satu dari tiga orang yang berada di sampingnya setelah melihat reaksi Rival yang mendapati makanan dan minumannya telah habis.Orang yang namanya disebutkaan mengangkat kedua tangan ke udara.


"Sumpah, gue kira loe gak bakal balik lagi, makannya gue abisin. Kan sayang kalau dibuang." ujarnya dengan wajah tanpa dosa.


"Nih, yah, kata emak gue jangan buang - buang makanan. Di luar sana banyak yang ngaduk ngaduk tempat sampah buat makan."


"Jadi – mumpung Tuhan masih ngasih rezeky buat kita. Ya, bersyukurlah, maanfatin sebaik - baiknya. Abisin, jangan dibuat mubazir!"


"Bacot, bet, dah. Laper bilang aja!" salah satu dari mereka nyeletuk.


"Nah, itu salah satunya." orang bernama Roby itu mengangkat satu jempolnya yang disambut tawa dan ejekan dari kawan - kawannya. Sedangkan Rival hanya terdiam, sudah tak perduli apa pun lagi mengenai makanan, matanya menatap arah di mana tadi ia meninggalkan Naina.


Rival tidak sengaja melihat gadis itu yang tampak kebingungan sehingga akhirnya ia menghampiri gadis tersebut dan mengantarkannya ke store di mana Ethan dan Zoya hang sempat mengundang kehebohan orang sebagian mall berada di sana.


"Val, jangan ngelamun, lah. Kesambet ntar!"


**


"Naina, habis dari mana?" tanya Zoya yang sudah cukup lama menunggu wanita itu yang katanya permisi ke toilet. Zoya takut gadis itu tersesat, sehingga ia sudah berniat mencari Naina begitu gadis itu tak kunjung kembali. Terutama saat dihubungi dan ponsel gadis itu berada di sana. Beruntung gadis itu ssgera kembali.

__ADS_1


"Kamu tersesat?" tanya Zoya lagi. Gadis itu mengangguk. "Tapi beruntung tadi ada Mas Rival. Dia yang nunjukin saya tempat ini." sahutnya. Zoya tersenyum dengan tangan yang mendarat di bahu gadis itu, mengusapnya lembut. Sejenak ia lupa apa yang membuatnya menggebu menunggu Naina kembali.


"Kita langsung coba gaunnya, yah." ajak Zoya, menarik tangan Naina menuju ruang ganti, gadis itu tampak keheranan, tapi kakinya tetap melangkah mengikuti langkah Zoya. Sedangkan Ethan tampak sibuk sendiri dengan ponselnya. Sesekali tersenyum melihat slide demi slide foto yang ia ambil saat Zoya mencoba gaunnya.


Ia nyaris tertawa saat melihat bibir sang istri yang mengerucut dan tampak kecewa begitu mendapati gaun yang dicobanya tidak pas di tubuhnya. Kemudian Ethan tersenyum melihat foto di mana wanita itu mengenakan gaun berwarna putih pilihannya. Begitu cantik dan mengingatkannya pada hari di mana ia resmi memperistri Zoya.


Ethan menyimpan ponsel begitu Zoya duduk di sampingnya dengan tersenyum. "Naina lagi coba gaunnya. Pasti cocok," beritahu wanita itu dengan raut bersemangat. Sederhana, hanya dengan melihatnya tampak seperti itu, Ethan merasa bahagia. Bahkan dengan percaya diri hatinya mengakui bahwa ia sudah berhasil membahagiakan sang istri.


Ethan menggenggam tangan wanita itu dan tersenyum. Tak lama, Naina keluar dengan gaun yang dikenakannya. Zoya menatap gadis itu dengan tatapan penuh kagum. Sementara gadis yang ditatapnya dengan penuh kagum itu tampak tersipu malu.


"Cantik bangeet." puji Zoya, bangkit dari duduknya dan menghampiri gadis itu. "Nah, kan gaunnya cantik banget." sambung wanita itu. Menyentuh gaun yang melekat di tubuh Naina pada bagian pinggang.


"Jadi yang cantik, tu, gaunnya ya Mbak?" tanya Naina dengan nada bercanda yang membuat mereka di sana tertawa, begitu juga dengan Zoya.


"Gaunnya cantik. dipakenya sama orang cantik. Gimana coba?"


"Damagenya gila parah." salah satu karyawan yang sejak tadi memerhatikan interaksi dua orang itu nyeletuk tanpa di sadarinya. Karena setelahnya, ia menutup mulut dengan tatapan tidak enak pada Zoya dan Naina. Terutama pada Ethan dan bosnya.


Tapi Zoya tampak tak masalah, ia terlihat santai dan menyuruh Naina berputar untuk memperlihatkan gaunnya.


"Gimana, Than. Caantik, 'kan?" Zoya meminta pendapat suaminya.


"Hmm. Siapa? Gaunnya?" tanya pria itu dengan nada bercanda, membuat Naina tersipu sedangkan Zoya tertawa. "Dua - duanya." Zoya menyahut, Ethan menganggukan kepala. Benar benar hanya menganggukan kepala, tak ada kalimat apa pun yang keluar dari mulutnya. Menandakan jika ia setuju dengan apa yang Zoya katakan. Naina tampak cantik dengan gaun tersebut.


Niat awal yang hanya akan membeli gaun berubah saat Zoya mengajak Ethan menonton film, makan, dan membeli beberapa aksesoris begitu transaksi gaun selesai. Bahkan wanita itu menarik Ethan memasuki salah satu toko di mana di sana tersedia perlengkapan bayi.


"Gemes banget." decak Zoya, melihat sebuah sepatu berukuran sangat kecil dengan warna cokelat yang begitu cantik nan elegan.


Ethan hanya tersenyum dan mengikuti langkah wanita itu yang hanya melihat - lihat barang tanpa ada hasrat untuk membelinya.


"Lucu nggak?" tanyanya pada sang suami, menunjukan sebuah topi beani, topi untuk bayi yang baru lahir. Ethan mengangguk, menyentuh topi tersebut dengan bahan lembut yang akan tampak menghangatkan.


"Ini juga bagus." Ethan menyentuh topi cap berwarna putih. Zoya mengangguk setuju, Naina tersenyum menatap dua orang itu. Ia sudah dapat membayangkan bagaimana kehidupan Zoya dengan Ethan akan menjadi lebih sempurna saat anak mereka lahir nanti.


"Kamu mau beli semuanya?" tanya Ethan saat melihat istrinya yang tampak jatuh cinta pada apa pun yang dilihatnya. Tapi wanita itu menggelengkan kepala atas pertanyaan sang suami.


"Nanti aja. Kalo sebentar lagi lahiran, pokoknya kita harus ke sini, okey?" Zoya tampak antusias, menatap Ethan penuh harap. Sesegera mungkin pria itu menganggukan kepala.


"Pasti, nanti kita ke sini."


"Harus!"


Ketiganya keluar dari toko perlengkapan bayi dengan Zoya dalam gandengan Ethan. Sedangkan tangan Zoya menggenggam tangan Naina. Beberapa bodyguard yang Ethan pinjam dari Warry tampak terus mengawal mereka. Menjaga sebisa mungkin agar tidak ada yang menyentuh Zoya.


Sedangkan tanpa ada satu orang pun yang tau jika orang yang sejak tadi memerhatikan Naina masih memantau gadis itu. Wajahnya tampak tidak senang melihat gadis yang diawasinya tertawa bahagia. Karena gadis itu sudah membuatnya tersiksa selama dua bulan ini. Total.


TBC

__ADS_1


Yang merhatiin Naina, tuh, Mas Rival? No. Doi berada jauh dari tempat Zoya Ethan Naina saat ini.


__ADS_2