Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
SAH... SAH.. SAH..


__ADS_3

Pagi pun menjelang.. Hari ini hari penyatuan dua insan. Yang akan menikah tanpa perkenalan dan tanpa waktu lama. Dirumah pengantin wanita sudah nampak kesibukan. Semua nampak focus dengan bagian masing masing.


Sementara itu Devid dirumahnya juga sudah siap untuk berangkat. Anita tampak bersemangat untuk pernikahan putra semata wayangnya. Dia benar benar detail mengurus segala persiapannya. Sampai sampai pihak keluarga Airin tak melakukan apapun. semua sudah beres diatur Anita


"Apakah kamu sudah hafal nama calon istrimu dan nama lengkap nya" Tanya Anita pada Devid. Saat ini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah Airin.


"Ya Allah, Devid lupa Bund.Belum dilihat dari semalam." Ujar Devid sambil memukul keningnya.


"Ya Allah Deviiiiiiidddd.... Gimana sih kamu ini." sungut Anita kesal. Sementara Devid hanya senyum senyum tertawa kecil.


Tapi bukannya membuka kertas yang dimakud Anita dia malah menerima telfon dari Syahdan. Terdengarlah percakapan dua sahabat itu, Anita hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan anaknya. Benar benar keliatan terpaksa dia menjalani perjodohan ini. Sampai untuk mengenal nama calon istrinya pun seperti enggan. Begitu lah yang Anita fikir dalam hatinya. Tapi biarlah, Anita yakin hidup Devid akan lebih bahagia setelah menikah dengan Airin nanti.


"Syahdan dan Luna datangkan.?" Tanya Anita ketika Devid kembali menyimpan ponselnya.


"InsyaAllah Bund, mereka masih dirumah katanya. Tapi Devid sudah kirim shareloc nya ke Syahdan. Dan katanya sepertinya tau lokasinya." Ujar Devid.


"Syukurlah kalau begitu." ucap Anita.


Sementara itu dirumah Syahdan.Dia dan Luna sudah siap siap untuk berangkat. Tapi tiba tiba Fiona datang. Dengan gaya bepakaiannya yang sexy, Fiona tersenyum manis kepada Syahdan dan Luna.


"Hai Mas Syahdan, hai Luna. Apa kabar." Sapa Fiona Bersikap sok manis.


"Mau perlu apa kamu kesini." Luna yang menjawab sapaan Fiona itu dengan wajah juteknya.


"Aku kesini yaaaa karena kangen dengan Mas Syahdan.. Siapa tau Mas Syahdan sekarang mau membuka hatinya untukku setelah wanita Janda nya itu resmi menikah hari ini. " Ujar Fiona. dengan suara yang sediktt di tekan. Dia menatap Syahdan genit. Membuat Syahdan mual melihat sikapnya.


"Aku tidak tertarik bicara denganmu, maaf kami mau pergi. Jadi silahkan tinggalkan rumah ini." Kata Syahdan. Sama sekali dia tak menatap Fiona.


"Bolehkan aku ikut kalian. Aku tau kok kalian mau kemana. Kalian mau ke pernikahan Dokter Devid kan.." Ujar Fiona.

__ADS_1


"Aaahhh yaaa,,, aku penasaran, mas Syahdan tidak marah yaaa, kalau wanita yang mas cintai itu menikah dengan SAHABAT mas sendiri. Sampai sampai mas mau datang ke pernikahan mereka..?" Fiona mulai memancing Syahdan.


"Apa maksudmu Haah... Bicara yang jelas. " Syahdan mulai emosi.


"Ooooo maaf mas, jangan marah dulu. Aku hanya salut aja dengan mas Syahdan. eehh tapi,,, jangan jangan mas Syahdan sendiri belum tau ya.. Kalau Dokter Devid akan menikah dengan Airin hari ini ? ooopsss maaf yaaaa aku ngk tau..." Ucap Fiona dengan sikap yang sangat dibuat buat.


"Jangan asal bicara kau *blis bet*na,,, Jangan kau fitnah Dokter Devid. Nggak mungkin Dokter Devid menikahi Airin." Luna sangat marah dengan kata kata Fiona.


"Hei jaga bicaramu ya anak kecil, kau pikir aku takut denganmu." Fiona pun berteriak.


"Ya sudah kalau kalian nggak percaya, lagian apa untungnya buatku memfitnah Dokter Devid. Hanyaaaa,,, kasian saja dengan mas mu yang sok keg*ntengan itu. Pacarnya malah diambil SAHABAT nya sendiri. Hahahhahha..." Ujar Fiona. Keliatan sekali dia puas membuat Syahdan marah... Dan Fiona pun pergi meninggalkan Syahdan dan Luna.


Syahdan masih terdiam, dia benar benar tidak percaya. Tapi ketika ingat kalau Devid selalu bilang dia belum tau nama calon istrinya Mana ada orang yang akan menikah tidak kenal dengan calonnya.


Apakah Devid membohonginya, apakah devid sengaja tak memberi tau nya kalau dia akan menikahi Airin. Pantas saja dia merasa kenal dengan shareloc yang dikirim Devid. Itu kan arah menuju rumah Airin. Devid mulai tersulut emosi. Rahangnya mengeras, dia pun bergegas pergi menuju rumah Airin.


"Mas tunggu, aku ikut.." Ujar Luna mengejarnya. Luna paham Syahdan mau kemana. Melihat kemarahan Syahdan, Luna tidak ingin Syahdan pergi sendiri. Dia tak ingin terjadi apa apa dengan Syahdan. Dia tak ingin kehilangan orang orang yang di sayanginya lagi. Dan mereka pun menuju rumah Airin.


Tiba lah saatnya Ijab Qobul. Anita menghampiri Devid dan berbisik bertanya.


"Sudah hafalkan nama lengkap calon istrimu ?" Tanya nya pada Devid.


Devid pun tersadar kalau dia masih belum membaca kertas yang bertuliskan nama lengkap wanita calon istrinya itu. Lagi lagi dia memggeleng tersenyum. Anita benar benar kesal melihat tingkah anaknya tu. Kalau saja tidak ada orang lain sudah di jewernya Devid.


"Bagaimana nak Devid, sudah bisa kita mulai." Ujar Bapak penghulu.


"Oh,, eh,,,, iya pak sudah.. Sebentar ya pak." Jawab Devid gugup sambil mengluarkan kertas dan cincin pernikahannya dari kantongnya.


"AIRIN CHINTYA DEWI BINTI RAHMAT WIJAYA" Devid membaca sebuah nama dikertas itu sembari mengingatny.

__ADS_1


"Belum hafal ya nak nama calon istrinya. piye toh,,, sudah mau Ijab Qobul baru tau nama istrinya." Ujar Pak Penghulu mengolok Devid. Semua tamu yang hadir disana pun tersenyu tertawa.Sementara Devid menjadi gugup dan tidak focus. Dia pun hanya tersenyum.


Lalu Pak Penghulu memberikan sedikit contoh agar Devid bisa mengikutinya. Meskipun keliatan gugup akhirnya Ijab Qobul pun dimulai. Devid duduk berhadapan dengan Ayah Airin, dan berjabat tangan.


"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA AIRIN CHINTYA DEWI BINTI RAHMAT WIJAYA DENGAN MAS KAWIN SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DAN 50 GRAM EMAS DIBAYAR TUNAI." Devid degan lantangnya mengucapkan Ijab Qobul. Meskipun dada nya berdebar kencang.


"Bagaimana saksi... SAH.. SAH.. SAH. ?" Ujar Pak Penghulu memandang para saksi. "SAH..." Ujar para saksi kompak.


"Apa,, Airin ? namanya Airin ? Tapi bukan Airin yang itu kan ? " Tiba tiba Devid tersadar. Sekali lagi di eja nya nama yang tertulis di kertas itu. Dia memang tidak tau nama lengkap Airin, wanita yang dicintai Syahdan. Devid berharap kalau ini bukan Airin yang sama. Jangan sampai Airin yang kini telah SAH menjadi istrinya adalah Airin yang dicintai sahabatnya sendiri.


"Alhamdulillah.." Lalu Pak Penghulu pun membaca Do'a khususnya untuk kedua mempelai semoga dilimpahkan kebahagiaan dari Allah.


Dan Airin pun dipanggil untuk duduk disebelah Devid, untuk memasangkan cincin pernikahan mereka. Dan Alangkah terkejutnya Devid saat dia memandang kearah Airin yang baru saja muncul dari dalam. Jantung Devid berdebar kencang, bukan krena terpesona akan ke anggunan Airin. Tapi karena dia mengenali siapa yang kini telah resmi menjadi istrinya.


Airin masih belum memandang ke arah Devid, karena dia masih ragu ragu dan takut menatap pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Dan kini mereka pun duduk berhadapan. Devid merasa gemetaran, dia terdiam kaku. Bayangan pilu Syahdan melintas di fikirannya. Apa yang akan terjadi nanti kalau Syahdan tau.


"Ayo dipasangkan cincinnya Devid." Ujar Anita, karena Devid masih saja mematung.


"Devid..., " Panggil Anita lagi. Dan Devid pun baru tersadar. Dengan gemetaran dia pun memasangkan cincin dijari Airin.


Melihat tangan Devid yang gemetaran membuat Airin mengangkat kepala nya menatap Pria didepannya. Seketika Airin terkejut,,, "Dokter..." Ucap Airin shock. Cincin pun telah terpasang dijari manis Airin.


"Sekarang giliranmu nak,," Ujar Anita sambil memberikan cincin ketangan Airin. Untuk dipasangkan ke jari Devid. Airin ragu untuk memasangkannya. Meskipun jarang bertemu, tapi dia masih ingat wajah Dokter Devid. Yang tak lain sahabat dari Syahdan.


"Airin.." Dewi pun menegur anaknya sambil menyentuh lengan Airin.


Tak terasa Airin menangis, sekarang tangannya yang gemetar mengambil cincin itu dari tangan Anita. Devid mengerti kenapa Airin menangis. Tapi dia juga tak kuasa, kalau dia membatalkan semua ini bagaimana dengan Bundanya.


Akhirnya cincin itu pun telah tersemat dijari keduanya. Sebagai tanda ikatan pernikahan mereka yang telah sah dimata agama dan hukum.

__ADS_1


"Deviiiddd...." Tiba tiba Syahdan datang dan berteriak memanggil Devid. Semua mata tertuju ke arah nya. Syahdan menatap tajam ke arah Devid, dan menghampirinya.


"Brengs*k,,, munafik..." Ujar Syahdan lalu melayangkan pukulan ke arah wajah Devid... Dan semua yang hadir diruangan itu berteriak histeris.


__ADS_2