Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Project Membuat Bayi.


__ADS_3

Beratapkan langit malam yang berhiaskan bintang. Dua orang manusia itu masih asik menikmati pekatnya malam. Begitu menyelesaikan makan malamnya, Zoya dengan Ethan duduk pada tikar yang berada di sana, mata keduanya menatap langit yang cantik.


"Cantik." bibir Zoya menggumam pelan melihat bintang yang paling bersinar di langit, Ethan menoleh dan tersenyum, menggapai tangan wanita itu dan menggenggamnya.


Sedangkan matanya menatap wajah cantik Zoya dengan lekat. Membuat wanita itu perlahan menoleh karena maerasa sedang dipandangi. Ternyata benar saja, tatapan hangat itu tengah meneduhkannya. Beberapa waktu, keduanya hanya saling menatap. Pelan tapi pasti, Ethan mendekatkan wajahnya, menggapai wajah wanita itu dan menyatukannya.


Zoya hanya bisa pasrah, tapi perlahan ia mulai merasa gelisah saat merasakan reaksi menuntut Ethan dengan tangan yang tidak bisa diam. Membuatnya terpaksa menjauhkan diri dan membuat pria itu heran dengan kesal tertahan.


"Kita nggak akan ngelakuinnya di sini, 'kan?" tanyanya dengan cemas.


Ethan melihat sekitar, kemudian kembali menatap Zoya. "Di sini tidak ada siapa - siapa. Kenapa menjadi masalah?" wajah pria itu tampak santai, seementara Zoya tentu saja keberatan. Dengan angin yang sesekaali berembus, yang ada mereka akan sakit karena masuk angin.


"Than," Zoya berusaha menahan saat pria itu menyerang sekitar tulang selangkanya, meninggalkan jejak di sana.


"Kamu akan berdosa jika menolak, Sayang." Ethan berujar tetap seperti semula, santai dan terkesan memaksa. Membuat Zoya tidak memiliki pilihan kecuali hanya pasrah menerimanya.


**


Beberapa waktu kemudian, keduanya sudah berada di dalam kamar. Ethan tentu saja hanya bercanda jika mereka akan melakukannya di atap. Ia masih sangat waras dan tidak mungkin memaksa Zoya di sana.


Cahaya temaram di dalam kamar nyatanya membuat Zoya nyaman saat Ethan perlahan mulai menyentuynya dengan lembut. Membuat Zoya merasa seperti pengantin baru karena kamar yang didekor dengan sedemikian indah.


Rupanya rencana Ethan sangatlah matang untuk memberikannya kejutan. Beberapa lilin yang berada di kamar membuatnya tenang dengan harum aroma mawar yamg menguar karena memenuhi seisi kamar. Terkesan sensual dan romantis.


Dan sentuhan Ethan, sangat menyenangkan dan membuat nyaman. Membuatnya selalu menginginkannya, lagi dan lagi.


Waktu sudah menunjukan pukul dini hari saat Ethan dengan Zoya mengakhiri permainannya. Dengan lengan Ethan sebagai bantalan, mata wanita itu mulai terpejam. Sedangkan Ethan tampak tidak terserang kantuk sedikit pun. Ia hanya memperhatikan wajah damai istrinya yang perlahan terlelap dengan wajah damai.


Tangan pria itu menyingkap sebagian rambut Zoya yang menutupi wajah cantiknya, menyeka bulir keringat di dahi wanita itu. "Apa sebegitu melelahkan?" tanyanya nyaris tertawa, wanita itu hanya menggumam, kemudian menelusupkan kepalanya kian dalam ke ceruk leher suaminya.


Ethan menatapnya sebentar, kemudian menggapai sebuah kotak hitam di atas meja dekat dengan lampu night stand. Membukanya dan mengeluarkan sebuah gelang jenis bangle di sana dan memakaikannya pada Zoya.


Setelahnya, Ethan menjauhkan tubuhnya dengan perlahan. Memposisikan kepala Zoya agar jatuh pada bantal, tapi mata wanita itu justru terbuka dan menatap Ethan penuh keberatan.


"Kamu mau kemana?" tanyanya dengan suara yang sedikit serak. Khas suara orang bangun tidur, atau khas suara orang kelelahan mendesah?


"Enggak kemana - mana."


"Ini mau pergi." kesal Zoya, berhasil membuat Ethan menggeleng heran, padahal tadi wanita itu sudah sangat lelap tertidur. Pada akhirnya Ethan kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Zoya yang merasa kesal karena tidurnya terganggu lantas membalikan badannya dan memilih untuk memunggungi pria itu. Ethan menatapnya pasrah, tapi beberapa waktu kemudian ia memilih mendekat, menelusupkan satu tangannya ke bawah pinggang Zoya dan mendekap pinggang ramping wanita itu. Menaruh wajahnya di tengkuk Zoya, hembusan napas hangat pria itu dapat Zoya rasakan.


Ia tersenyum mengingat jika Ethan lebih memilih kembali tidur daripada pergi ke luar yang entah akan kemana. Perlahan, mata wanita itu terpejam, kemudian ia benar - benar kembali terlap dalam tidurnya, dalam dekapan Ethan.


**


Ethan keluar dari kamar sambil menyisir rambutnya yang masih basah. Ia memutuskan mandi dan membuat rasa kantuknya kian sirna. Langkahnya membawa ia menuju lantai dasar, ternyata sang skretaris ada di sana sedang menikmati minuman kaleng.


Ethan perlahan berjalan menghampirinya. "Belum tidur?" tanya Ethan, matanya mengerling ke arah jam dinding di mana jarum jam pendek menunjuk angka dua. Randy menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kamu juga belum tidur?" ia balik bertanya, menilik penampilan Ethan yang tampak begitu segar, rambut yang sedikit basah dengan kaos hitam lengan panjang, celana selutut dan raut wajah yang cerah. Ia tau pria itu baru saja usai bersenang - senang. Karena ia dan Selin yang menyiapkan segalanya.


Ethan lebih dulu mendaratkan dirinya di sofa sebelum menjawab, selain itu rasanya pertanyaan Randy juga tidak membutuhkan jawaban. Karena faktanya ia memang belum tidur karena sedang bersama dengan pria itu sekarang.


"Zoya udah tidur?" Randy bertanya lagi. Kali ini Ethan mengangguk, mengambil salah satu minuman kaleng dan melegutnya.


"Kita jadi pulang besok?"


"Aku udah pesen tiket."


Ethan menoleh, menatap Randy sebentara kemudian menganggukan kepala. Tentu saja mereka akan pulang, Ethan sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaannya, Zoya juga. Meski Ethan tak kunjung merasa cukup menghabiskan waktu berdua dengan istrinya.


Randy hanya menatap sang atasan yang sekaligus temannya itu untuk beberapa saat. Setelahnya ia memilih abai, bagaimana sikap dan sifat Ethan, rasanya sama sekali tidak perlu merasa heran.


"Kamu tidak ada niatan untuk menikah?" Ethan bertanya random, membuat Randy yang sedang menenggak minumannya tersedak. Sedangkan Ethan seperti biasa hanya memasang wajah tanpa dosa, mengabaikan Randy yang menatapmya penuh heran, sedikit mengumpati Ethan karena pria itu sembarangan bertanya.


"Nikah?" tanyanya dengan dramatis. Terlihat ekspresi wajahnya yang sangat berlebihan. Ethan menganggukan kepala, mengiyakan. Apa yang dikatakannya tidaklah salah.


"Nikah, yang bener ajalah, Than!"


"Kamu pikir nikah nggak bener?"


"Ya bukan masalah itu, cuma –"


"Kalau kamu gak mau terserah, aku cuma tanya!" acuhnya yang membuat Randy hampir melempar kaleng minumannya yang telah tandas, tapi urung ia lakukan mengingat jika Zoya pasti akan mengamuk nanti.


Setelahnya keduanya hanya saling terdiam, sibuk dengan pikiran masing - masing. Sampai kemudian Ethan yamg lebih dulu buka suara.


"Kamu pecat aku?"


"Ya mau tidak mau."


"Maunya?"


"Kamu akan berkeluarga, kamu gak mungkin ikut kemana pun aku pergi terutama saat ada acara seperti ini dengan Zoya."


"Gak maunya?"


"Kamu skretaris telaten yang bisa dipercaya. Kita udah lama kerja bareng, pasti aku akan merasa sulit adaptasi sama skretaris baru. Apalagi buat naruh kepercayaan sama mereka." Ethan menyahut panjang lebar.


"Kalau kamu cari kerja di tempat lain akan sulit. Tapi kalau di AE RCH, aku percaya. Apalagi kamu juga udah lama kerja di sana." sambungnya, Randy memgangguk - anggukan kepala, diam - diam merasa respect dengan Ethan yang berpikir sejauh itu untuk kehidupannya.


"Gimana?" tanya Ethan memastikan.


"Gimana apanya? Calonnya aja belum ada Than."


"Enggak bakal ada kalau gak dicari. Kudrat laki - laki, 'kan mencari dan wanita menunggu. Siapa tau selama ini ada wanita yang sudah menunggu kamu dalam jangka waktu yang lama."


Lagi, Randy harus diam - diam merasa kagum dengan pola pikir Ethan.

__ADS_1


Apa menikah membuat pikiran seseorang menjadi dewasa?


**


Di pagi hari, di mana arunika tampak membuat belahan bumi berwarna jingga, Zoya terbangun dan mendapati dirinya dalam dekapan sang suami. Pria itu tampak masih memejamkan mata dengan setia.


Zoya ingat jika baru beberapa jam yang lalu pria itu kembali ke kamar setelah meninggalkannya begitu ia terlelap tidur. Zoya perlahan mendudukan diri dengan rasa pegal yang menyerang seluruh badan. Rasanya sakit di sana sini seolah ini yang pertama kali baginya bermain dengan Ethan.


Wanita cantik itu memilih beranjak dari atas ranjang setelah menyambar sebuah kemeja secara random yang berada pada stand hanger. Jika Zoya tidak salah ingat, kemeja hitam tersebut adalah kemeja yamg Ethan pakai semalam.


Dengan menginjak kelopak bunga mawar yang berserakan di lantai, Zoya melangkah dan membuka pintu balkon lebar - lebar, membuat seberkas cahaya memasuki kamarnya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati mata suaminya yang mengerjap begitu sinar itu memembus kelopak mata, pria itu membuka matanya.


Ethan melihat raut wajah Zoya tersenyum yang membuatnya juga ikut tersenyum. Namun begitu ia memilih membalikan badan dan melanjutkan tidur. Ethan tidak tau jam berapa semalam ia kembali ke kamar, yang ia tau ia baru tidur sekitar dua sampai tiga jam.


"Dasar!" rutuk Zoya mendapati sang suami yang justru membalikan badan guna menyambung tidur. Merasa kasihan, lantas Zoya menutup gorden putih itu agar cahaya mentari pagi tak menembus kamarnya. Kemudian kakinya melangkah keluar dan berdiri di balkon dengan suguhan keadaan pantai yang damai.


Zoya menggeliat, menghirup udara bebas dan mengembuskan napas penuh ketenangan. Rasanya hidup begitu sempurna saat di pagi hari ia mendapati dua panorama menyenangkan sekaligus. Ethan dengan mata terpejam dan suguhan alam yang memanjakan mata.


Ethan baru bangun setelah sekitar tiga jam Zoya menunggunya untuk mereka sarapan bersama. Dengan muka bantal, pria itu menghampiri Zoya di meja makan. Randy dengan Selin yang sudah lebih dulu sarapan entahlah ada di mana, Zoya bahkan tidak mendengar suara mereka.


"Lama bangunnya, sarapannya udah hambar!" kesalnya begitu segelas air yang sudah ia siapkan untuk Ethan, pria itu tandaskan dalam sekali tegukan.


"Saya ngantuk."


"Aku kan udah bilang gausah pergi! Bandel, sih jadi gitu." rutuknya yang membuat Ethan tersenyum.


"Kamu sudah sarapan?"


"Ya belumlah, aku kan nunggu kamu gimana, sih."


Kali ini Ethan benar - benar melebarkan senyumnya. Ia menarik sebuah kursi di dekat Zoya kemudian memposisikan diri di samping wanita itu.


"Kenapa duduknya di sini?" tanya wanita itu dengan gerakan waspada. Ethan justru menumpukan tangannya pada sandaran kursi Zoya dengan tangan lain yang berada di atas meja. Tanpa aba - aba ia mendekatkan wajah dan mendaratkan ciuman singkat di pipi wanita itu.


"Ini maksudnya apaaan?" kesal Zoya, meski tak ayal jika ia tersipu.


"Biar kamu diam!"


"Maksud–"


Belum Zoya meneruskan kalimatnya. Bibirnya sudah lebih dulu merasakan sebuah benda lembab yang terasa tidak asing mendarat di sana.


Ethan menyeringai penuh kemenangan saat wanita itu meremas pinggiran kaos yang ia kenakan. Sepertinya hanya ini yang bisa dilakukannya untuk membuat sang istri diam.


Begitu usai. Ethan menatap wanita itu, ia tersenyum hangat dengan tangan yang mengusap sisi wajah wanita yang tampak tersipu itu.


"Saya hangatkan makanannya sebentar, setelah itu baru kita sarapan."


Seolah melihat sebuah benda spiral, Zoya mengangguk bagai orang terhipnotis. Membuat Ethan perlahan beranjak untuk memanaskan kembali sarapan mereka yang sudah hambar karena ia telat terbangun.

__ADS_1


TBC


__ADS_2