Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Kilas Balik


__ADS_3

Grrycia menoleh saat Andreas memasuki kamar. Suaminya itu melangkah perlahan pada ia dan Agyan. Andreas sempat mengamati kondisi kamar Agyan. Termasuk lemari besar milik Agyan yang cerminnya hancur dan berserakan di lantai.


"Gyan,"


"Agyan, mohon Pi." Agyan memohon pada sang Papi yang terlihat bimbang dengan wajah datarnya.


"Papi sudah melamarkan Freya untuk kamu, Gyan. Tapi keluarga Freya yang menolak, apa yang bisa kita lalukan?"


"Tapi Gyan cuma mau Freya, Pi. Anak yang dikandung Freya, milik Gyan, Pi. Dia milik Gyan."


Andreas terdiam, kemudian menghela nafas dan mengangguk. Mengiyakan apa yang Agyan minta dan ia akan mencobanya sekali lagi, kalau bisa harus sampai berhasil.


Agyan sudah jauh lebih tenang setelah Andreas dan Grrycia meyakinkan jika mereka akan membujuk Warry, juga membicarakan semuanya dengan keluarga Braga selaku calon besan Anna dan Warry.


"Aku gak tega sama Agyan, Mas." ungkap Grrycia setelah keluar dari kamar tamu yang ditempati Agyan. Sementara kamarnya yang berantakan sedang dibereskan oleh Bi Jumi.


Andreas hanya menyangga dagunya. Memikirkan cara bagaimana agar Agyan dan Freya dapat bersama. Meski, jika hal itu terjadi, artinya Agyan harus keluar dari rumah, keluar dari perusahaan dan hidup mandiri diluar sana sesuai dengan syarat yang ia ajukan, dan Agyan sudah menyanggupinya.


"Aku nggak mau liat Agyan kaya gini, Mas. Aku harus berbuat sesuatu." Grrycia beranjak, tapi Andreas menahan tangannya.


"Mau kemana, Sayang?"


"Rumah Arvand, aku harus bujuk dia biar batalin pernikahan Braga sama Freya, aku nggak mau liat anak aku menderita, Mas." cairan bening di mata wanita cantik itu meleleh, membentuk aliran anak sungai di pipinya, Andreas mengusapnya dengan ibu jari. Dengan tatapan lekat pada istri yang sangat ia cintai.


"Ini sudah hampir malam, Sayang. Besok saja,"


"Mas—"


Andreas menarik Grrycia ke pelukannya. "Dengarkan Mas, Grrycia. Percaya pada Mas, Mas juga tidak ingin melihat putra kita seperti ini."


"Mas memang tidak suka pada orangtua calon menantu kita. Tapi Mas masih memiliki hati nurani untuk membuat putra kita bahagia."


"Percaya pada Mas, Sayang."


Grrycia hanya mengangguk samar dalam pelukan suaminya. Mendengar penuturan tulus Andreas, tentu ia merasa lega dan bahagia.


Di dalam kamarnya. Agyan menatap tangannya yang tadi Grrycia balut dengan kain kasa, ada sedikit bercak darah di sana. Dan Agyan baru merasakan pperihnya sekarang.


Tapi ia sadar, jika perih di tangannya tidak separah perih pada luka di hatinya. Freya, sedang apa kekasihnya sekarang? Mungkinkah sedang bermesraan dengan Braga? Atau dengan bahagianya membicarakan pernikahan mereka?


Tidak. Agyan yakin Freya tidak sejahat itu untuk dengan cepat berpaling darinya. Agyan tau Freya bukanlah orang yang seperti itu. Meski akhir-akhir ini, ia melihat banyak perubahan sikap pada gadis itu.


Dengan pikiran Agyan yang berkelana, ia mengabaikan dering ponselnya yang beberapa kali berbunyi. Mengabaikan penelpon terus menghubunginya dengan perasaan cemas.


*


*


Grrycia sudah duduk di sofa ruang tamu rumah Arvand. Kebetulan,


pagi ini Arvand masih berada di rumahnya. Rea dan Braga turut menyambut kedatangannya, menjamunya sebagai tamu dengan sangat baik.


"Kamu mungkin heran dengan kedatangan aku ke sini, Vand." sahut Grrycia mengawali pembicaraan. Arvand hanya mengangguk samar, meski ia bisa menerka apa yang diinginkan oleh Grrycia.


"Aku datang ke sini untuk meminta kamu membatalkan pernikahan antara Braga sama Freya,"


Braga sudah dapat menebak ini, ia sama sekali tidak terkejut. Sementara Arvand dan Rea hanya saling bertukar pandang.

__ADS_1


"Tidak semudah itu, Grryc."


"Aku mohon, Vand. Aku nggak bisa biarin Agyan depresi karena kehilangan Freya. Aku mohon." pinta Grrycia dengan tatapan penuh harap. Membuat Arvand serba salah dan dilema.


"Grryc, ini permintaan Pak Warry. Aku gak bisa batalin gitu aja. Apalagi keluarga dia udah banyak membantu keluargaku."


"Tapi gimana sama keluargaku, Vand?"


Lagi-lagi Arvand mendesah, baginya hal ini bukanlah perkara mudah. Ia tidak mau mengecewakan keluarga Maheswarry. Sedangkan Grrycia adalah karibnya, dan suami wanita itu adalah gurunya saat SMA.


Tapi membatalkan pernikahan antara Braga dengan Freya, apa tidak akan menjadi bumerang baginya. Sementara Braga sendiri bersedia menjadi suami Freya dan siap menjadi ayah bagi anak yang sedang Freya kandung.


"Aku mohon, Vand. Aku cuma punya Agyan," pinta Grrycia lagi. Tapi Arvand tak kunjung buka suara.


"Grryc, meskipun kami dari pihak laki-laki yang melamar, tapi kami tidak memiliki hak untuk membatalkan pernikahan ini."


"Dalam waktu singkat, pesta pernikahannya akan segera dilangsungkan. Dan undangan juga sudah lama disebar." Rea angkat bicara saat Arvand hanya diam mempertimbangkan semuanya.


"Braga. Apa kamu akan tega merebut kebahagiaan Agyan?" Grrycia beralih pada Braga yang hanya terdiam.


"Saya tidak merebut, Tante." Braga menyahut dengan suara halus. Menghormati Grrycia selaku orangtua.


"Iya, kamu memang tidak merebut, kamu hanya mengambil secara tidak langsung." Grrycia menyahut miris, menyayangkan nasib putranya.


Braga tersenyum dengan tenang. Grrycia benar, ia sudah merebut kebahagiaan Agyan. Mengambilnya atas perantara dari Warry. Ia jahat sudah memanfaatkan situasi saat ini untuk memiliki Freya dan mengkhianati Agyan.


Sementara ia sendiri sadar jika hati Freya milik Agyan. Ia sadar cinta Freya hanya milik Agyan, dan Freya adalah milik Agyan. Tidak mungkin untuk menjadi miliknya.


Sedangkan, di tempat lain, ada gadis yang sangat mencintainya. Ada gadis yang sudah mengorbankan waktunya bertahun-tahun hanya untuk meyakinkannya jika orang yang tulus itu benar-benar ada.


Dan ia sadar, jika tidak ada yang baik dalam sesuatu hal yang dipaksakan.


*


*


"Kamu yakin akan bisa membahagiakan putri saya?" tanya Warry pada Agyan yang duduk di sofa di ruangannya. Di sampingnya ada Andreas yang tadi sudah memberitahukan maksud kedatangan mereka. Niat yang sama dengan beberapa hari yang lalu, yaitu melamar Freya Maheswarry.


"Saya yakin, Om." Agyan menyahut tanpa ragu saat Warry mempertimbangkan lamarannya kali ini.


Perlahan, atmosfer di ruangan Presdir milik Warry itu menjadi sejuk. Warry menatap Agyan dan kembali melempar pertanyaan.


"Tanpa sepeser pun uang atau warisan dari orangtua kamu?" Agyan menoleh pada Andreas, perlahan ia mengangguk, mengingat syarat yang diajukan Andreas padanya jika ia ingin menikah dengan Freya.


"Lalu, bagaimana kamu akan memberi putri saya makan?" tanya Warry lagi mencoba mencari celah agar Agyan mau menyerah.


"Saya akan bekerja keras, Om. Mencari pekerjaan apapun, tanpa bantuan dari kalian. Saya bisa berdiri di atas kaki saya sendiri demi calon keluarga kecil saya."


Kali ini Warry menyangga dagu dan mengangguk-anggukan kepalanya. Agyan di depannya saat ini adalah calon menantu idamannya andai saja dia bulan putra seorang Zeinn Andreas.


Melihat kesungguhan di mata pria itu membuatnya tidak yakin untuk menolak Agyan dan membiarkan Freya terus menderita. Meski sorot mata Andreas menyiratkan kebencian mendalam padanya dan Anna. Tapi Warry yakin, Agyan akan memperlakukan Freya dengan baik.


"Saya terima lamaran kamu." ungkap Warry setelah lama membiarkan Agyan menunggu jawaban. Agyan tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Restu kedua orangtuanya dan Freya sudah ia kantongi, langkah selanjutnya adalah pesta pernikahannya dengan Freya.


Selangkah lagi bagi mereka untuk dapat bersama.


"Berjanjilah untuk tidak mengecewakan putri saya dalam hal apapun!"

__ADS_1


"Saya berjanji, Om. Saya berjanji akan membahagiakan Freya, saya tidak akan mengecewakan Freya."


Warry mengangguk, mengusap lengan Agyan saat Agyan menyalaminya sebagai bentuk hormat dan terimakasih.


"Jujur Tante masih sangat kecewa dengan kamu, Agyan. Tapi demi, Freya, Tante merestui kalian."


"Tante hanya ingin Freya bahagia. Dan hanya kamu yang bisa membahagiakannya." sahut Anna saat Agyan mengajaknya untuk bertemu di sebuah restoran dan berkata jika ia sudah mendapatkan restu dari Andreas dan Warry.


"Terimakasih, Tante. Maaf sudah membuat Tante kecewa,"


*


*


Sore hari sepulang Warry dari perusahaan, Arvand dan Braga menemuinya. Mereka berbicara di ruang kerja Warry, dan Arvand mengutarakan maksud kedatangannya jika ia ingin membatalkan pernikahan antara Braga dengan Freya.


"Saya sudah mempertimbangkan itu, Pak Arvand. Sejujurnya saya juga tidak enak merampas kebebasan Braga dalam memilih pasangan hanya untuk menikahi putri saya."


"Jadi, Pak Warry setuju jika pernikahan ini dibatalkan?" tanya Arvand, tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja didapatnya.


Awalnya, ia mengira akan sulit. Namun ternyata, pikiran Warry sangat matang dan terbuka dalam memikirkannya.


Warry mengangguk dengan senyum meyakinkan.


"Lalu, bagaimana dengan undangan yang sudah tersebar?" Arvand mengingat hal itu dan menjadi cemas.


"Tidak papa, biarkan saja. Karena akan ada pengantin pria yang asli untuk datang."


Braga tersenyum mendengaranya, ia senang. Karena pada akhirnya, Agyan berhasil mendapatkan restu dari Warry.


*


*


Pada hari pernikahan antara Agyan dan Freya tiba. Agyan sengaja membiarkan ponselnya terus berdering karena panggilan dari Freya yang menelponinya sejak semalam. Ia akan memberi kejutan pada gadis itu. Kejutan anti mainstream


"Kamu deg-degan?" tanya Grrycia saat sebentar lagi mereka akan sampai di gedung pernikahan.


"Deg-degan, Mi. Semuanya kaya mimpi buat, Gyan." sahutnya dengan raut bahagia yang tidak dapat disembunyikan.


Grrycia hanya tersenyum senang. Melihat Agyan yang jauh lebih baik dari beberapa hari kemarin. Ia turut bahagia, melihat putranya menemukan kebahagiaannya.


Mobil sampai di pelataran gedung dan mendapat sambutan dari pihak wanita. Agyan tau, ketika ia dan keluarganya turun dari mobil, tatapan orang-orang terlihat penuh tanya saat ternyata adalah keluarga Zeinn yang menjadi calon pengantin.


Sebagian para tamu undangan mulai berkasak-kusuk membicarakan kejanggalan yang sedang terjadi. Beruntung, hal itu tidak berlangsung lama setelah kedatangan Warry yang menggandengnya menuju ruang akad.


Kemeriahan pesta dapat Agyan rasakan saat kakinya baru saja memasuki pintu masuk. Ia mulai merasa gugup saat sudah duduk di depan meja akad. Andreas berhasil menenangkannya. Ini adalah yang pertama, sangat wajar jika menjadi moment mendebarkan bagi Agyan.


Tapi rasa yang paling mendominasi di hatinya adalah perasaan bahagia. Ia bahagia dapat bersama dengan Freya.


Ketika gadis itu muncul saat mereka akan melangsungkan akad nikah, Agyan tau bagaimana keterkejutan Freya saat melihatnya. Air mata gadis itu justru jatuh semakin deras.


Tapi jauh dalam hatinya, Agyan tau satu hal. Jika perasaan Freya sama dengannya. Bahagia.


TBC


Kisah mereka masih banyak yang perlu diceritakan. Gimana, masih mau stay atau mungkin udah pada bosen?

__ADS_1


__ADS_2