
"Oke, cut!"
Agyan segera mengurai pelukannya dengan lawan mainnya ketika Sutradara bersuara di ujung sana dan terlihat puas dengan adegan yang baru saja Agyan mainkan, ia mengangkat kedua jempolnya dan bertepuk tangan setelahnya.
Di susul tepuk tangan para kru dan beberapa asisten serta manajer artis di sana.
Aryo segera menghampiri Agyan dengan segelas susu cokelat hangat dan juga jaket untuk Agyan kenakan. Lokasi tempat syuting berada di daerah pegunungan untuk beberapa scene. Sehingga mereka membuat tenda untuk beristirahat, sedangkan setelah syuting usai, semuanya akan kembali ke hotel.
Tapi malam ini, mereka akan menginap di tenda. Mengingat ada beberapa scene yang harus di selesaikan di malam terakhir ini sebelum mereka kembali ke Jakarta besok.
"Freya di mana?" tanya Agyan pada Aryo yang berdiri dengan tangan yang memeluk tubuhnya sendiri.
"Mbak Freya ada di tenda Mas Agyan, katanya ngantuk!"
Agyan mengangguk, menyodorkan gelasnya yang tersisa setengah pada Aryo, kemudian berjalan ke arah tendanya sambil merapatkan jaket ditubuhnya. Hawa dingin di daerah tersebut memang sangat parah pada malam hari.
Agyan masuk ke tendanya, ia melihat Freya yang membaringkan tubuh dengan posisi miring membelakanginya. Freya menoleh saat ada pergerakan di belakangnya.
"Udah beres?" Agyan mengangguk, mengambil posisi di belakang Freya. Memeluk tubuh istrinya setelah menyelimuti tubuh mereka. Freya tersenyum, merapatkan tangan Agyan yang berada di atas dadanya. Ia sudah tidak merasa kedinginan sekarang.
"Maaf, yah, aku gak bisa nemenin kamu sampe beres. Aku ngantuk, dan di luar anginnya kenceng banget." sesalnya pada Agyan. Agyan hanya tersenyum.
"Enggak papa, kamu istirahat aja."
Freya mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Besok, mereka akan kembali ke Jakarta setelah satu minggu menetap di kota ini untuk keperluan syuting.
"Dingin nggak?" tanya Agyan sembari mengeratkan pelukannya. Freya membuka matanya, diam-diam ia tersenyum.
"Sekarang udah nggak. Karena ada kamu."
"Harusnya dari tadi bilang kalo kedinginan."
"Aku gak mau ganggu kamu."
Agyan terdiam, sementara Freya kembali memejamkan matanya. "Kamu tidur, aku ada satu scene lagi."
"Kalau di sini masih dingin, kita pindah ke mobil."
__ADS_1
"Nanti kamu gendong aku berat, Gyan."
"Aku udah biasa gendong tiga orang." Freya terkekeh. Agyan benar, pria itu sering menggendong tiga orang. Freya dan dua bayi di dalam perutnya.
"Kamu kuat. Aku sayang,"
"Iya, makasih."
Merintis karir dari nol memang tidak mudah. Meski seorang pendatang baru, tapi jadwal Agyan begitu padat dan ia seringkali mengalami kesulitan. Dengan jiwa cuek yang dimiliknya, terkadang ia kesulitan untuk menjalin kedekatan dengan rekan artisnya yang lain.
Meski semakin kesini, Agyan menjadi terbiasa dengan semuanya dan sudah bisa beradaptasi dengan kehidupan barunya.
Sulit. Tapi, ketika melihat senyum sang istri. Ia merasa bahagia dan selalu merasa baik-baik saja. Seakan ia bisa melewati cobaan apapun di hadapannya.
Agyan membuka matanya dengan spontan begitu meraba tempat di sampingnya dan tidak mendapati Freya di sana. Padahal, ia mengingat dengan jelas jika semalam, setelah syuting usai, ia kembali ke tenda dan tidur di samping Freya sambil memeluknya.
Buru-buru Agyan keluar dari tenda, ia mengedarkan pandangannya ke sekitar dan tidak dapat menemukan sang istri. Barulah Agyan bisa bernafas lega ketika menemukan Freya yang tengah menatap sunrise.
Agyan berjalan pelan sembari melepas jaket yang dikenakannya, ia menyampirkannya di pundak Freya dan melingkarkan tangannya pada pundak sang istri. "Aku kira kamu kemana,"
Agyan menaruh dagunya di atas kepala Freya dengan manja. Freya tampak tidak terganggu dengan tingkah suaminya. Pagi terakhir di pegunungan, Agyan dengan Freya menikmati sunrise.
Menikmati kebersamaan mereka di tempat tersebut. Karena setelah ini, mereka akan mengucapkan selamat tinggal. Begitu semuanya terbangun, mereka akan meluncur ke hotel dan kembali ke Jakarta untuk melanjutkan syuting di sana.
*
*
Freya menatap beberapa trofi milik Agyan dalam lemari pajangan. Ia tersenyum dan menyentuh benda kebanggaan suaminya yang sudah membuat nama Agyan semakin berada di udara selama kurang lebih enam bulan ini.
Salah satu di antara trofi itu adalah nominasi dari aktor pendatang baru terbaik yang berhasil di sandang oleh Agyan.
Film perdananya semakin membawa nama Agyan ke tempat yang lebih tinggi dan dikenali oleh banyak orang. Mengantarkan ia untuk membintangi film-film lain sampai ia berada di puncak kariernya sekarang.
Hal itu tentu tidak jauh daru dukungan sang istri dan para fansnya. Juga dorongan dari mertuanya yang sekarang sudah mendukung penuh pada Agyan, baik karier maupun keluaga kecilnya.
Sementara Andreas, Freya dengan Agyan tidak tau bagaimana kabarnya. Sedangkan Grrycia sesekali mengirimi mereka pesan dan pernah berkunjung beberapa kali ke rumah Agyan.
__ADS_1
"Kamu nggak kangen, Agyan, Mas?" tanya Grrycia saat ia sedang menikmati sarapan dengan Andreas.
"Hmmm,"
"Kenapa kita nggak dateng buat jengukin mereka. Kamu udah lama nggak ketemu, loh, sama Agyan Freya."
Andreas hanya diam sambil mengunyah pelan makanan di dalam mulutnya.
"Agyan juga kayaknya kangen sama kamu. Tapi aku gak tau pasti karna gak pernah tanya."
"Tapi dia pernah beberapa kali nanyain kamu."
Kali ini Andreas menghela nafas. "Sayang, hari ini Mas ada beberapa urusan penting, mungkin akan pulang larut malam." ia justru mengalihkan pembicaraan.
"Kamu tidak papa?"
Grrycia tersenyum dan mengangguk. "Aku nggak papa.”
Andreas beranjak, ia sudah menyelesaikan sarapannya. Mengambil jas dan tas kantornya kemudian mengecup kening Grrycia, berlalu ke arah pintu keluar dengan sedikit terburu-buru.
Grrycia mendesah menatap kepergian suaminya. Ia tau betul jika sebenarnya Andreas merindukan putra mereka. Grrycia masih mengingatnya ketika ia baru saja pulang dari acara Agyan di mana putranya meraih trofi dari nominasi pemeran utama pria terbaik.
Saat itu Andreas akan ikut meski terlihat canggung. Namun Shanty yang tiba-tiba saja ingin diantar ke Surabaya mengurungkan niatnya untuk menghadiri acara Agyan. Membuat Grrycia datang tanpa Andreas ke sana.
"Agyan nanyain saya?" tanya Andreas sepulang ia dari Surabaya pada keesokan harinya.
Grrycia menggeleng pelan. "Mungkin dia bosen nanyain kamu. Karena kenyataannya kamu nggak pernah perduli, 'kan?"
Andreas menghentikan gerakan tangannya membuka dasi. Ia kemudian melanjutkannya dengan perlahan. "Lagian, di sana dia asik sama Papi mertuanya."
Andreas mengangguk samar. Kemudian berlalu ke arah kamar mandi setelah Grrycia menyerahkan handuk padanya.
"Aku gak ngerti kenapa sampe sekarang tingkat gensi kamu masih meninggi. Padahal, kamu bukan berhadapan sama orang lain. Dia anak kamu, Mas." Grrycia mendesah. Tapi bagaimanapun, ia tidak dapat memaksakan kehendak suaminya.
Grrycia menghargai keputusan Andreas. Meski sulit, ia terima. Jika sebenarnya, silap Andreas menjauhkan mereka dari putra satu-satunya.
TBC
__ADS_1