Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Pergi Untuk Kembali


__ADS_3

Pada akhirnya, semua tidak bisa Rain cegah. Jalan takdir tak bisa ia rubah. Apa yang terjadi dalam hidupnya perlahan membuat hidupnya hancur sudah. Ketika ia sangat yakin jika seluruhnya cinta Angkasa hanya untuk dirinya, namun begitu Selia mengandung anaknya, lima puluh persen perhatian pria itu benar-benar terbagi.


Rain tak bisa menyalahkan Angkasa ataupun Selia. Karena semua berdasar dari dirinya yang ingin sang suami menikah lagi agar mereka memiliki keturunan meski dari wanita lain karena Rain tak bisa memberi pria itu anak.


Cinta Angkasa padanya tetap ada, hanya terbagi tanpa pria itu sadari. Angkasa terlalu banyak memberi Selia perhatian hingga Rain seolah hanya menjadi figuran di dalam rumah tangga mereka. Rain tersisih.


Akan tetapi, Rain berusaha meyakinkan dirinya sendiri jika hal itu hanya sementara, hanya sebagai bentuk perhatian Angkasa pada bayi yang Selia kandung, bukan kepada Selia.


Karena setelah Selia melahirkan, wanita itu akan bercerai dengan suaminya, Angkasa akan menceraikan wanita itu dan kembali kepada Rain dalam keadaan utuh, seperti semula. Sama seperti dulu.


Rain berusaha mengingat keras hal itu di kepalanya agar ia tak perlu merasa cemburu dan meragukan sang suami. Ia bahkan memberikan Selia dan calon bayinya perhatian dan kemewahan yang begitu melimpah.


Hingga hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, ketika Selia melahirkan bayi perempuan yang begitu cantik dan Rain dengan cekatan sudah menyiapkan surat cerai untuk wanita itu dan Angkasa, justru Rain harus mendapat kejutan tidak terduga ketika dengan sendu, Selia berkata dan memohon padanya untuk tidak menyuruhnya bercerai dengan Angkasa.


Hati Rain sangat terluka, jelas saja. Hatinya bagai disayat sayat belati tajam tak kasat mata, kemudian Rain merasa ditikam setelahnya ketika Angkasa mengatakan hal yang sama jika pria itu tidak bisa menceraikan Selia.


Hancur, hati dan hidup Rain hancur saat itu juga. Ia merasa dikhianati oleh suami dan madunya. Rain merasa seolah Angkasa melupakannya, membuangnya dan tidak perduli akan perasaannya.


Pondasi kokoh yang ia bangun bersama dengan Angkasa runtuh tanpa bisa Rain cegah. Cinta yang ia dan Angkasa rawat selama bertahun-tahun faktanya tidak menjadi apapun saat pada akhirnya cinta pria itu terbagi dan tercurahkan pada istri kedua dan juga putri kecilnya.


Rain memberi pria itu pilihan antara dirinya atau Selia, namun pria itu tak kunjung memberikan jawabanya hingga Rain menyimpulkannya sendiri. Bahwa pria itu siap kehilangan dirinya.


Dengan segala kekuatan yang masih tersisa di dalam dirinya, Rain menguatkan diri untuk berpisah dari pria itu. Usai acara aqiqah putri Angkasa dan Selia digelar, Rain melemparkan surat gugatan cerai yang sudah ia tandatangani.


Angkasa jelas saja menolak untuk berpisah dari Rain. Ia tidak bisa berpisah dengan Rain karena Angkasa sangat mencintai wanita itu.


"Aku sangat mencintai kamu, Rain. Aku tidak bisa berpisah dengan kamu."


Saat itu Rain menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak apa yang Angkasa katakan. Ia tidak akan goyah dari keputusan matang yang sudah dipertimbangkannya. "Kamu tidak sadar kalau kamu sudah tidak mencintaiku lagi, Angkasa?"


"Cinta yang kamu punya buat aku sudah terbagi seluruhnya pada istri dan anak kamu!"


Kali ini, Angkasa yang menggelengkan kepala. Menahan tangan wanita itu di dadanya. "Kamu punya tempat khusus untuk cinta yang aku punya Rain. Jangan berpisah, kumohon." pria itu memohon dengan sangat bahkan diiringi dengan mata yang berkaca-kaca.


"Terlambat!" Rain tak memberikannya kesempatan.


"Kamu sudah kehilangan aku saat kamu bingung menentukan pilihan!"


Pada akhirnya, segala jenis perjuangan dan pengorbanan yang ia dan Angkasa lalui hanya menjadi lelah yang sia sia ketika pria itu tak dapat mempertahankannya.

__ADS_1


Rain memilih pergi menjauh dari Angkasa dan segala kenangan manis mereka. Rain memilih sendiri, berdamai dengan dirinya tanpa cinta lagi di hidupnya. Meninggalkan Angkasa, satu-satunya pria yang memiliki hatinya.


Zoya mendesah, ia meraih ponselnya dan memasukannya pada saku celana. Ia terdiam sesaat mengingat jika semalam ia sudah membaca seluruh isi naskah filmnya.


Akankah ia bernasib sama dengan Rain? Apakah pernikahannya akan bernasib sama seperti Rain dan Angkasa? Zoya memikirkan hal itu sepanjang malam mengingat jika mereka memiliki kisah yang sama.


Semua sudah siap, segala keperluan yang sekiranya akan dibutuhkan sudah Zoya bawa. Ia siap berangkat. Awalnya Ethan akan mengantarkannya, namun panggilan mendadak dari agensi untuk rapat darurat jam sembilan pagi tak bisa membuat pria itu bolos kerja pada hari tersebut.


Ethan sangat kecewa tentu saja, awalnya setidaknya ia ingin mengantarkan sang istri dan memastikannya sendiri jika Zoya aman sampai di lokasi. Karena dirinya tidak bisa menemani Zoya di lokasi syuting setiap hari mengingat pekerjaannya yang begitu banyak di agensi.


"Sayang,"


"Hmm?" spontan Zoya menoleh ke arah pintu masuk dan melihat suaminya muncul dari luar. Berjalan ke arahnya. Pria itu membuat lamunan Zoya buyar seketika.


"Sudah siap?" tanya pria itu, Zoya menganggukan kepala, melihat lagi ke atas meja di mana ponsel yang ia butuhkan sudah masuk ke dalam saku celananya. "Udah."


"Alexa sudah menunggu di luar." beritahunya.


"Alexa?" tercipta beberapa kerutan di dahi wanita itu. Alexa? Kenapa bisa wanita itu yang menjemputnya? Kemana Selin? Sang manajer sama sekali tidak menghubunginya.


"Katanya yang lain menunggu di titik pemberangkatan, manajer kamu juga sudah menunggu, dia nggak jemput karena dia gak bawa mobil dan ikut sama yang lain."


Zoya mengangguk-anggukan kepala. Ethan menatapnya hingga wanita itu juga mengalihkan pandangannya ke mata Ethan. Ethan menaruh tangannya di kedua pundak Zoya, membuat wanita itu mengernyit, tetapi pria itu justru hanya tersenyum.


"Biara saya liatin kamu dulu, biar cuma ada kamu di mata saya." sahutnya, Zoya tersenyum. Lantas menyipitkan matanya.


"Emang selama ini, selain aku ada siapa lagi di mata kamu?"


"Ada Zoya." pria itu menyahut cepat.


"Zoya, Zoya, Zoya, Zoya dan Zoya." Ethan berdecak.


"Kenapa Zoya memenuhi hidup saya?" ia bagai bertanya pafa dirinya sendiri. Zoya hanya memerhatikan dengan senyuman. Sepertinya Ethan akan cukup lama membuatnya bertahan. Alexa pasti akan kesal karena akan cukup lama menunggu.


Zoya menaruh tangannya di dada pria itu.


"Kamu jaga diri baik, baik yah."


"Iya. Kamu juga jaga diri baik-baik di sana. Segera kabari saya jika terjadi sesuatu."

__ADS_1


Zoya mengangguk. "Iya." wanita itu berjinjit dan mendaratkan kecupan singkat di pipi pria itu, kemudian melenggang pergi dan membuat tangan Ethan yang semula berada di bahu wanita itu terjatuh bebas. Sementara Zoya melangkah menuju pinttu keluar, tetapi dengan cepat Ethan meraih tangan wanita itu dan merengkuh tubuh Zoya.


Membuat Zoya membulatkan mata saat pria itu mendekap tubuhnya. "Tinggalah sedikit lebih lama."


"Than,"


"Euu, Alexa udah nungguin aku di bawah."


"Siapa perduli, Zoya."


***


Berulang kali Alexa melihat arloji kecil yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah berlalu sekitar sepuluh menit sejak Ethan mengatakan akan memberitahukan Zoya bahwa ia sudah datang untuk menjemputnya. Padahal pria itu bilang Zoya sudah siap dab tinggal berangkat. Tapi sampai detik ini dua orang itu belum muncul sama sekali.


Alexa mendesah, sepertinya dua orang itu tengah melepas rindu karena akan cukup lama tidak bertemu. Naina yang duduk di hadapannya juga sesekali melihat ke anak tangga hingga dua orang itu muncul dari sana.


Alexa segera bangkit dari duduknya dengan wajah kesal. Naina juga ikut bangkit. "Sangat boros waktu." decaknya dengan mata sinis melihat dua orang yang saling bergenggaman tangan itu, tapi Ethan tampak tidak perduli. Tetap berjalan sembari menarik koper milik Zoya menuju teras. Sementara Zoya tetap tinggal di sana.


"Kok kamu yang jemput?" tanya Zoya, sedikit keberatan melihat wanita itu yang datang menjemputnya.


"Yang lain udah kumpul, aku telat dan disuruh jemput kamu." sahut wanita itu, ketiganya kemudian berlalu menuju pintu keluar. Alexa berjalan lebih dulu, Zoya mengikuti di belakang sembari menggandeng Naina.


"Kamu jaga diri baik-baik, yah." pesan Zoya kepada Naina ketika sudah tiba di teras. Ethan tampak sudah selesai memasukan koper Zoya ke dalam bagasi mobil Alexa.


"Iya. Mbak Zoya juga jaga diri baik-baik, yah. Jaga kesehatannya,"


"Iya."


"Tolong jaga Zoya, yah." pesan Ethan pada Alexa saat pria itu sudah berdiri di samping Zoya, tangan pria itu menggandeng bahu sang istri.


Alexa berdecih. "Kamu pikir aku bodyguard?" kesalnya yang kemudian berlalu lebih dulu menuju mobilnya. Zoya hanya tersenyum melihat interaksi dua orang itu.


"Aku pamit, yah." Zoya mengusap lengan suaminya. Ethan mengangguk, meraih puncak kepala Zoya dan mendaratkan kecupan di sana. Sangat lama.


"Hati-hati."


Zoya mengangguk, wanita itu beralih memeluk Naina, hanya pelukan singkat karena Alexa sudah membunyikan klakson mobil keras-keras dan membuatnya harus buru-buru.


Ethan dengan Naina hanya menatap kepergian mobil Alexa yang berlalu meninggalkan pelataran rumah. Ethan mendesah saat mobil wanita itu sudah benar-benar keluar gerbang. Naina menoleh pada pria itu, meraih tangan Ethan dan menggenggamnya dengan senyuman menenangkan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2