
"Kamu kenapa, sih?" tanya heran Zoya seraya mengikuti langkah sang suami masuk ke dalam kamar. Meninggalkan calon asisten rumah tangga mereka yang kebingungan di lantai dasar.
"Kamu bilang kamu setuju sama apa yang Bunda lakuin buat kita. Kamu udah setuju biar di rumah kita ada asisten rumah tangga." oceh Zoya pada sang suami yang berdiri dengan raut tidak terbaca. Ethan tampak gelisah.
"Kenapa malah tiba - tiba kaya gak suka?" kesalnya lagi.
"Sayang, saya memang setuju. Tapi saat Bunda bilang wanita berusia yang akan bekera di sini. Bukan gadis muda." Ethan menyahut emosional. Membuat Zoya menatap pria itu dengan mata memicing.
"Kamu naksir dia?" wanita itu melipat tangan di dada dengan tatapan kian lekat pada sang suami, membuat pria tampan itu mengernyitkan dahi lantaran merasa keberatan dengan apa yang dikatakan sang istri.
"Bukan itu, Zoya. Justru saya takut kamu tidak senang kalau gadis itu yang menjadi asisten rumah tangga kita."
Zoya diam menatap Ethan cukup lama, sampai kemudian ia tersenyum hingga memamrekan deretan giginya yang putih. "Kamu mikirin perasaan aku?" tanyanya dengan raut sumringah bahkan nyaris tertawa memikirkam dirinya sudah berasumsi macam - macam. Sertengah heran, spontan Ethan mengangguk.
"Ethan," wanita itu mengerjap - ngerjapkan matanya pada sang suami, berlaga terharu atas perlakuan Ethan yang mengutamakan perasaannya. Ethan menggeleng kecil melihat tingkah istrinya, namun begitu ia segera berhambur memeluk istrinya dan mendaratkan kecupan di dahi wanita tercintanya itu berulang ulang.
"Aku nggak papa."
"Lagian aku liat - liat dia baik kok." sahutnya meyakinkan sang suami. Karena sungguh, Zoya melihat ada ketulusan di mata Naina yang kedepannya akan banyak membantu Zoya. Ethan hanya mendesah pasrah, kemudian hanya menganggukan kepala saja. Bagaimanapun, Zoya sudah memutuskan dan setuju.
Sedangkan di lantai bawah rumah megah tersebut. Naina yang dipersilakan duduk pada sofa di ruang tamu hanya terdiam. Matanya menatap beberapa figura yang menempel pada dinding ruang tamu. Dari foto pernikahan calon majikannya hingga beberapa photo shoot mereka, terlihat jika pasangan muda itu begitu bahagia.
Tapi Naina merasa bingung karena dua orang itu belum kunjung kembali setelah membiarkannya duduk kebingungan sendirian. Tak lama, Naina bangkit dari duduk begitu dua orang yang berada di kepalanya tiba. Gadis muda itu tersenyum canggung, terutama segan pada tuannya yang berwajah tak ramah.
"Naina, kamu udah makan malam?"
"Kamu pasti enggak sempet makan malam karena nyari alamat rumah ini. Kita makan sama sama, yah." ajak Zoya dengan ramah, terkesan memaksa karena kemudian wanita itu melepas rangkulan suaminya dan menggandeng Naina ke meja makan.
Ethan mengekor di belakang dua wanita itu. Duduk pada kursinya dan menatap sang istri yang sibuk menata makanan untuk Naina yang terlihat masih canggung berbaur dengan mereka. Ethan maklum.
"Harusnya saya yang melakukan ini, Bu." ujar Naina, tak enak karena merasa dilayani calon majikannya.
__ADS_1
"Enggak papa, kamu belum resmi kerja di sini. Jadi, kamu tamu di rumah kami." balas Zoya, menyerahkan piring yang sudah diisinya dengan nasi dan beberapa lauk. Naina hanya mampu tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Sekilas ia menatap Ethan yang masih memperlihatkan ekspresi kaku padanya.
Ethan melihat piring istrinya yang masih kosong, mengambilnya dari hadapan Zoya dan mengisinya dengan nasi juga beberapa lauk yang memang semuanya makanan kesukaan Zoya.
"Thanks hubby." ungkap Zoya saat menerima piring dari sang suami. Untuk pertama kali bagi Naina melihat pria itu tersenyum, meski hanya senyum tipis yang tidak terlalu kentara jika dilihat sekilas.
"Oh, yah, nama kamu Naina?" tanya Zoya di sela - sela makan mereka. Ethan hanya menatap Zoya sebentar, kemudian melanjutkan makan tanpa mau perduli dengan apa yang akan istrinya dan gadis itu bicarakan.
"Benar Bu."
"Jangan panggil Ibu, saya kok ngerasa tua banget, yah." Zoya sedikit bercanda, Naina tersenyum tipis.
"Kamu panggil Mbak aja, nama saya Zoya. Ini suami saya, Ethan. Kamu nggak perlu takut, dia emang kaya gitu." maksud Zoya mengenai suaminya adalah kaku, tsundere, cuek dan cenderung angkuh. Ethan tampak tidak keberatan atas apa yang sang istri katakan. Ia hanya melanjutkan makan dengan telinga terbuka dan mendengar apa yang dua wanita itu bicarakan.
Seusai makan, Zoya membereskan semuanya sendiri. kemudian Ethan membantunya, sedangkan Naina hanya duduk di tempatnya tadi makan dengan perasasn tidak enak. Ia berinisiatif untuk membereskan meja makan dan mencuci piring, atau setidaknya membantu Zoya melakukannya.
Tapi wanita cantik itu melarang dan menyuruhnya untuk tetap duduk. Sehingga yang bisa Naina lakukan hanya memperhatikan Ethan dengan Zoya.
Tanpa sadar bibir Naina melengkung membentuk sebuah senyuman melihat keharmonisan dan keromantisan pasangan muda di hadapannya.
"Ini enggak akan selesai kalo kamu terus ganggu saya, Zoya." pada kenyataannya yang mencuci piring memanglah Ethan, Zoys hanya menemani pria itu dan sesekali merecokinya.
"Nggak papa, biar begadang. Sampe besok nggak selesai." sahut Zoya dengan santai, Ethan smirk. Mendekatkan bibirnya pada daun telinga sang istri.
"Gimana kalau begadangnya pake cara berbeda. Saya bikin kamu nggak bisa jalan!" Ethan berbisik dengan nada sensual. Hal yang kerap kali pria itu lakukan saat sedang menggodanya.
Sesaat Zoya mematung dengan tubuh yang meremang. Begitu suaminya tersenyum puas, ia memukul lengan sang suami.
"Nyebelin!" rutuknya. Ethan hanya tersenyum, pekerjaannya sudah selesai, ia mencuci tangan dan mengeringkannya dengan sebuah lap bersih yang Zoya sediakan. Kemudian menggandeng istrinya.
"Kita tidur."
__ADS_1
"Kamu–" otak Zoya traveling tanpa disadarinya.
"Ini sudah malam Zoya. Kamu harus istirahat." Ethan menyadarkan yang membuat wanita itu kikuk, Ethan mengusap puncak kepala sang istri, hampir mendaratkan kecupan di bibir Zoya kalau saja sang istri tidak langsung menghindar dan membuat Ethan sadar jika sekarang mereka tidak hanya berdua di rumah tersebut.
Hal yang membuat Ethan tidak suka mengingat jika ia harus menunda sesuatu hal penting dengan Zoya hanya karena ada orang lain.
"Kamu duluan aja ke kamar. Nanti aku nyusul, aku harus anterin Naina ke kamarnya dulu." sahut Zoya seraya menggandeng wanita itu, melambaikan tangan pada Ethan dan berlalu dari hadapan pria itu.
Ethan menggeleng samar melihat istrinya. Namun begitu ia menuruti perkataan sang istri dan berjalan menapaki anak tangga guna memasuki kamarnya.
Sedangkan Zoya mengantar Naina menuju kamar yang wanita itu akan tempati. Sebuah kamar di lantai satu. "Maaf yah, Bunda ngasih tahunya mendadak kalo mau kirim art, jadi kamarnya nggak sempet di beresin." sahut Zoya, tidak enak begitu melihat kamar yang berdebu. Karena sejak tinggal dengan Ethan, mereka tidak memiliki asisten rumah tangga dan tidak pernah membereskan bagian - bagian rumah yang tidak pernah dikunjungi.
"Enggak papa Mbak, biar nanti saya yang bereskan." Naina berkata dengan sopan.
Zoya mengangguk - anggukan kepala. "Gimana kalo malam ini kamu tidur di kamar tamu aja. Biar besok tempat ini dibereskan, baru ditempati." Zoya merasa tidak tega membiarkan Naina harus membereskan kamar sebelum beristirahat. Padahal gadis itu pasti sangat lelah setelah melakukan perjalanan panjang dan sempat beberapa kali tersesat.
"Enggak papa Mbak, saya udah biasa."
"Enggak, enggak bisa gitu. Ayo," Zoya menggandeng Naina keluar dari kamar tersebut dan menutup pintunya.
"Malam ini kamu tidur di ruang tamu, okey." wanita itu setengah memaksa, mau tak mau akhirnya membuat Naina mengangguk dan menurut.
Begitu selesai mengantarkan Naina pada salah satu kamar dari dua kamar tamu, Zoya masuk ke kamarnya. Badannya begitu lelah, hal pertama yang ia lihat begitu memasuki kamar adalah suaminya yang sudah terlelap.
Zoya melangkah ke arah tempat tidur. Menatap wajah tampan Ethan yang damai dalam tidurnya. "Katanya mau begadang, ini udah tepar duluan gini," cuapnya seraya menyisir rambut Ethan dengan jari tangan. Setelah cukup lama, Zoya mengecup kening pria itu. Kemudian mengambil remot dan mematikan lampu.
Membaringkan tubuhnya dan menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher sang suami.
"Night Ethan."
TBC
__ADS_1