
Sarapan pagi sedang berlangsung di rumah keluarga Rayn dan juga Vina, semua orang sudah berkumpul di meja makan kecuali hanya Rival.
"Mas Rival enggak ikut sarapan kenapa?" Rafa bertanya setelah masukkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. Vina hanya melihat ke arah lantai atas di mana pintu kamar putra sulungnya itu masih tertutup rapat.
"Sepertinya belum beres." sahut Vina setelah beberapa saat Rafa menunggu respondnya.
"Sayang, coba kamu ke kamar Mas. Suruh dia kemari, kita sarapan bersama." intruksi Vina kepada putri kecilnya yang tengah menikmati sarapan, Davika tampak tak keberatan dia mengangguk dan segera beranjak setengah berlari menapaki anak tangga menuju kamar Rival.
Tak lama pintu kamar pria itu terbuka, Davika tampak memaksa Rival untuk turun dan sarapan ke bawah sejujurnya sebelum menyiapkan sarapan tadi Vina juga sudah mengetuk pintu kamar putra sulungnnya tersebut dan mengajaknya untuk sarapan bersama namun tidak ada sahutan dari dalam, mungkin karena saat itu Rival masih tertidur.
Putra sulungnya itu berjalan gontai, tampak tampan dengan pakaian rapinya. "Selamat pagi semuanya," ia menyapa semua orang rumah. "Pagi Mas," Vina menyahuti, Rafa dengan Rayn hanya menganggukkan kepalanya, lantas Rival duduk pada kursi yang selalu ia tempati.
Vina menyendokan nasi goreng ke piring Rival agar Rival segera menghabiskan sarapannya.
"Mah, Pah, kayaknya aku harus duluan, ada piket kelas." sahut Rafa buru-buru beranjak sambil meraih tas punggung berwarna cokelat dan mengenakannya, nasi goreng di piringnya masih tersisa sedikit ia belum sepenuhnya menghabiskan sarapannya, Vina tak bisa mencegah, pada akhirnya ia hanya menerima uluran tangan putranya ketika Rafa hendak mencium punggung tangannya dan Rayn.
Lantas segera berlalu setelah, tapi sebelumnya ia sempat mengacak puncak kepala Davika dan membuat bocah itu menggerutu kesal sambil merapikan rambutnya yang dibuat berantakan oleh sang kakak.
Rival yang melihat kelakuan random adik pertamanya itu hanya menggeleng pelan, ia lantas ikut merapikan rambut Davika, membuat Davika mengukir senyum kepadanya disusul dengan ucapan terima kasih dari anak itu lantas melanjutkan sarapannya dengan tenang.
Sedangkan dalam kesempatan itu Rayn menatap Rival, membuat Rival menghentikan sejenak aktivitas tangannya mengaduk nasi goreng yang sudah mulai mendingin di piringnya.
"Kamu yakin ingin resign dari perusahaan?" tanya Rayn kemudian setelah semalaman ia dengan istrinya mempertimbangkan keinginan Rival untuk resign dari perusahaan sementara kemudian pergi mengunjungi tempat yang ingin didatanginya. Entahlah untuk waktu berapa lama, padahal seharusnya usia pria itu bukan lagi untuk bermain-main.
Di usia dewasanya Rival sama sekali tidak tertarik untuk segera berumah tangga, padahal Etan yang lebih muda darinya sudah lebih dulu memiliki istri bahkan menjalani rumah tangga cukup lama.
"Yakin Pah." Rival menyahut singkat. Rayn hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Vina mendengarkan percakapan antara ayah dengan anak itu.
"Kapan rencana kamu akan berangkat?" tanya Rayn lagi. Rival diam sesaat, memikirkan waktu yang tepat dan bener-bener mengambil keputusan yang tepat. Ia akan langsung pergi atau lebih dulu mengutarakan ketertarikannya kepada Naina? Atau mungkin bahkan membuat kenangan manis dengan gadis itu sebelum meninggalkannya.
**
"Oh, ya? Jadi tempat tinggal kamu deket sama pantai?"
"Kalau gitu asyik dong. Nanti kita main di pantai, ya." Seru Zoya, tampak kegirangan setelah Naina berbicara panjang lebar menceritakan bagaimana kampung halamannya.
__ADS_1
Ethan yang sedang menyetir menganggukan kepalanya, ia benar-benar diperlakukan sebagai seorang sopir oleh istrinya. Karena Zoya lebih tertarik untuk duduk di bangku belakang dengan Naina dari pada duduk di sampingnya menemaninya menyetir. Tapi tentu saja Ethan tidak merasa keberatan, apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan sang istri.
Melalui rear vision mirror ia melihat bagaimana Zoya tersenyum, tertawa dan tampak antusias mendengarkan Naina yang terus bercerita karena Zoya yang terus bertanya, tampak tidak sabar untuk segera sampai di kampung halaman Naina.
Sepertinya keputusan Ethan untuk membawa wanita itu liburan di kampung halaman Naina benar-benar pilihan yang tepat.
"Jadi Mbak, saya ada tetangga. Dia ini punya kebun buah-buahan." Naina lanjut bercerita.
"Oh, yah, buah apa aja?"
"Ada buah mangga, jeruk, buah naga terus sama beberapa tanaman sayuran juga."
"Kebetulan sekarang lagi musim panen."0
"Kita boleh metik?"
"Boleh, biasanya banyak orang kampung yang ikutan metik juga."
"Berarti kita tepat waktu ke sini. Aku nggak sabar pengen cepet sampe." oceh Zoya, memeluk kursi yang diduduki suaminya untuk menaruh dagunya pada pundak pria itu. Ethan hanya mengusap puncak kepala Zoya yang tampak tidak sabar, selebihnya Ethan menganggukkan kepala mengiyakan.
Perjalanan mereka nikmati dengan riang gembira seperti layaknya tamasya anak TK. Entahlah sudah berapa banyak lagu yang diputar dan mereka ikut bernyanyi seolah sedang konser, mereka bertiga juga membahas apapun dan bermain tebak-tebakan. Sangat menyenangkan bagi Zoya.
Zoya dengan Naina yang sudah lelah menikmati perjalanan tampak hanya bersandar dengan lesu pada sandaran kursi sambil melihat hujan diluar jendela, setelahnya angin bertiup cukup kencang.
"Kita bisa terusin perjalanan dengan cuaca kayak gini Than?" tanya Zoya, terlihat tidak bersemangat karena cuaca yang mendadak tidak mendukung. Tapi Ethan masih berusaha mengukir senyum manisnya guna menenangkan sang istri. "Enggak papa, Sayang. Kita coba, ya,"
"Tapi kayaknya kita harus neduh dulu deh." usul Zoya.
"Kan kita di dalam mobil, Sayang."
"Tapi hawanya nggak enak."
Ethan terdiam, mencari cara agar istrinya merasa nyaman, sedangkan Zoya fokus kedepan dengan dagu di bahu suaminya, ia melihat jalan yang mereka lalui ketika memasuki sebuah jalanan berbatu yang cukup mengguncang mobil.
Hingga kemudian mata Zoya menangkap sebuah tempat di mana rasanya mereka bisa berteduh di sana. Zoya kian bersemangat ketika melihat plang kayu bertuliskan Penginapan 24 jam. "Kayaknya kita bisa neduh di sana, deh. Ke sana aja, ya," ajaknya tidak sabaran.
__ADS_1
Ethan sempat memaku beberapa saat, tiba-tiba saja kepalanya mengingat momen dimana saat dia dengan Naina terjebak cuaca yang sama seperti saat ini, ditambah saat itu ban mobil yang dikendarainya pecah dan terpaksa menahan mereka di penginapan tersebut.
Perasaan Ethan mendadak tidak enak, bagaimanapun ia tidak bercerita kepada Zoya mengenai masalah tersebut.
"Kita ke sana aja, ayo." ajak Zoya sekali lagi yang akhirnya membuat Ethan menggangguk lantas melajukan mobilnya menuju pelataran Penginapan 24jam tersebut dan berhenti di sana.
Naina yang sejak tadi hanya diam, terhanyut suasana hujan dan tidak mendengarkan obrolan kedua majikannya lantas tersadar begitu mobil tiba-tiba saja berhenti. Ia kira mobil Ethan mengalami masalah dan akan membuat mereka terjebak di sana, namun justru ia mendapatkan sesuatu hal yang membuatnya menatap sebuah penginapan dengan tatapan nanar.
Kenapa mereka harus berhenti di sana?
"Di belakang ada payung. Kita neduh dulu di sini, ya, kita nggak mungkin nerusin perjalanan dalam keadaan kayak gini." sahut Zoya kepada Naina. Bagai terhipnotis, Naina hanya mampu menganggukan kepala lantas mengambil sebuah payung yang berada di kursi paling belakang, menyerahkannya kepada Zoya yang langsung diambil Oleh Ethan.
Ethan keluar lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Zoya, sedangkan Naina keluar sendiri karena kebetulan ada dua payung di dalam mobil. Mereka berjalan menuju beranda penginapan di mana di sana tersedia beberapa kursi panjang. Ethan hanya berdiri di sana dengan payung yang masih berada di tangannya. Sementara Zoya berada di tepi, awalnya ia hanya menatap air hujan yang kian deras, lalu kemudian menjulurkan tangannya untuk dapat menyentuh air hujan.
Hal sederhana yang justru membuatnya bahagia, hal kecil yang tidak pernah luput dari radar Ethan sedikitpun, moment yang tidak pernah terlewatkan di dalam setiap detik yang dihabiskannya dengan sang istri.
Naina yang berdiri di belakang keduanya memeluk tubuhnya sendiri, melihat cuaca yang memang sangat tidak mendukung menuju kampung halamannya. Hujan turun dengan begitu deras, ditambah angin kencang yang sangat tidak memungkinkan bagi mereka untuk meneruskan perjalanan.
"Kamu enggak kedinginan?" tanya Ethan, menarik tangan istrinya dan menaruh payungnya dengan asal. Zoya menggeleng, kemudian melihat sekitar. "Perlu kita menghangatkan diri di dalam ruangan?" tanya Ethan lagi, Zoya mengangkat kedua bahunya acuh, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyewa kamar, setidaknya untuk beberapa jam sampai hujan reda dan mereka akan kembali melanjutkan perjalanan.
Ragu, tetapi Naina tetap mengikuti langkah Ethan dan Zoya menuju loker di mana mereka akan meminta kunci kamar. Naina merapikan rambutnya sedikit, menutupi wajahnya dan berharap jika orang yang menjaga loker bukan lagi orang yang pernah ia temui dengan Ethan tempo lalu.
Setidaknya hal itu yang diharapkan Naina untuk menghindari kondisi buruk yang bisa saja terjadi. Entahlah, tapi Naina merasa tidak tenang.
"Permisi Bu. Ada kamar yang kosong?" tanya Ethan, Zoya hanya memerhatikan, melihat sang suami yang seolah mengetahui tempat tersebut. Padahal tempatitu hanyalah penginapan kecil yang sangat tidak mungkin Ethan pernah menemuinya.
Ibu penjaga loker tersenyum melihat calon tamunya. Dari raut wajahnya, ia tampak mengenali siapa pria yang saat ini ingin memesan kamar dalam cuaca hujan. Sama seperti tempo lalu.
"Ada Pak. Dengan wanita yang sama?" tanyanya spontan, dengan senyum manis di bibirnya, tapi kemudian ia mengernyitkan dahi dan menatap heran saat wanita di samping Ethan berbeda dengan wanita yang di bawahnya saat itu, terlebih lagi ia menangkap sosok wanita lain di belakang mereka berdua.
Wanita yang jelas-jelas pernah menginap semalam di penginapannya.
Naina mendadak mematung dengan mata terpejam terutama saat Zoya menoleh dan menatapnya dengan Ethan secara bergantian.
"Wanita yang sama?" tanya Zoya pada ibu penjaga loker tersebut.
__ADS_1
TBC
Tinggalkan like dan komentar kalian untuk author dan BCB🤗❤