Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Ethan VS Edrin


__ADS_3

"Ini terlambatnya parah banget," sahut seorang wanita yang buru - buru menarik Zoya menuju studio make up begitu mereka tiba di lokasi pemotretan yang tak lain adalah gedung perusahaan merk parfum yang bekerja sama dengan Zoya. Ethan mengernyit melihat sang istri yang sudah berlalu dari hadapannya karena dibawa oleh wanita tadi. Lantas ia menatap Selin meminta keterangan.


"Wini, make up artis terkenal. Dia udah sering make up - in Zoya. Pak Ethan tenang saja," terang Selin yang melihat maksud tatapan Ethan yang tampak khawatir istrinya akan diculik. Ethan hanya mengangguk mengerti setelahnya.


"Pak Ethan," panggil Randy, Ethan menoleh. Pria itu menunjuk kursi untuk Ethan duduk dan melihat proses pemotretan. Pria itu melangkah menghampiri Randy dan duduk di sana.


"Tadi Ibu Rachel menelpon dan protes." beritahu Randy, Ethan hanya menatap pria itu. Tau pasti apa yang akan Randy sampaikan karena saat ini seharusnya ia berada di ruang rapat, bukan di tempatnya sekarang.


"Pak Ethan ditunggu –"


"Sampaikan jika aku akan tiba beberapa jam lagi." ungkap Ethan tak mau tahu.


"Kalau begitu rapatnya akan segera selesai, Pak."


"Maka biarkan mereka segera memulai rapat tanpaku!" Ethan melipat tangan di dada, Randy diam seribu bahasa, jika sudah begini artinya Ethan menyuruhnya diam, tidak mengatakan apa pun dan tidak melakukan hal apa pun lagi. Mata pria itu sekarang tengah menatap Edrin yang sudah bersiap, seorang stylist tampak sedang membantu merapikan penampilannya. Mata keduanya bersitatap. Tapi Ethan lebih memilih memutusnya dan mengalihkan perhatian ke arah lain.


Sementara itu, Zoya yang baru saja selesai mengganti pakaian dan selesai pula di touch up menatap pantulan Naina dicermin yang tengah menatapnya penuh kagum.


"Dia model baru?" tanya Wini pada Zoya, sadar akan apa yang sedang wanita itu perhatikan. Yaitu gadis muda di belakang mereka.


"Wajahnya layaknya model?" Zoya justru bertanya. Wini mengangguk - anggukan kepalanya. "Dia emang cantik," Zoya menyahut kemudian, Naina yang mendengar hal itu hanya tersenyum dengan semu merah di pipinya atas pujian wanita itu.


"Dia asisten baruku, gantiin Adhel yang sekarang sibuk buka kedai baru." terang Zoya kemudian, Wini tampak lagi - lagi mengangguk.


"Enggak mau jadi model aja? Atau sekalian aktris, suami bos kamu ini kan bos AE RCH. Agensi paling besar," sahut Wini pada Naina, Naina hanya menggeleng samar.


"Saya nggak ada niatan jadi aktris, datang ke Jakarta cuma mau kerja aja. Enggak ada bakat kaya Mbak Zoya." Naina menyabut polos dan apa adanya.


"Siapa tau kalau dilatih bakatnya emang di sini."jawab Wini, tapi Naina tetap konsisten menggelengkan kepala. Zoya hanya tersenyun.


"Bener, tuh, kalau kamu mau saya bisa bantu." Zoya menawarkan diri, lantas bangkit dari duduk saat Wini mengatakan jika ia sudah selesai.


"Mbak Zoya terlalu baik, makasih Mbak. Tapi saya benar - benar nggak ada minat." Naina tersenyum lembut. Akhirnya, Zoya hanya mengangguk pasrah, toh ia juga tidak akan memaksa.


"Gimana, udah rapi, Win?" tanya Zoya pada Wini, wanita berusia sekitar empat puluh tahunan yang tampak awet muda itu mengangguk, kemudian mengangkat kedua jempolnya.


"Pokoknya kamu selalu jadi yang ter - best, deh." pujinya, Zoya hanya tertawa lantas mengaajak Naina keluar dari studio make up. Sesekali Naina memerhatikan Zoya, takut ada bagian - bagian yang berantakan pada wanita itu, entah tatanan rambut atau midi dress yang dikenakannya.


Sebelum menghampiri Edrin yang sudah siap di tempatnya, Zoya menoleh pada Ethan sebentar. Tampak pria itu memperhatikannya tanpa mengalihkan pandangan barang sedetik pun ke arah lain. Zoya tersenyum, lantas melanjutkan melangkah dan duduk di samping Edrin pada sofa yang tersedia di sana, ia mengambil salah satu botol parfum dari beberapa yang tertata rapi di atas meja bundar berwarna putih.


"Sorry telat," sahut pelan Zoya pada pria tampan itu. Edrin tersenyum, matanya mengerling pada Ethan yang lekat menatap keduanya. Tanpa perduli pada founder parfum yang menghampiri dan menyapanya, Randy yang mengerti lantas membalas sapaan sang founder parfum mewakili Ethan.


Edrin kembali mengalihkan tatapannya pada Zoya.


"Suaminya repot, yah?"


"Hah?" heran Zoya, tapi begitu sadar ia menganggukan kepala.

__ADS_1


"Biasa," sahutnya singkat. Begitu sang photografer menyuruh mereka memulai pose, Zoya mengukir senyum dan menatap kamera.


Selama proses pemotretan itu berlangsung, Ethan tak sedetik pun mengalihkan perhatian ke arah lain, ia tampak mengawasi setiap gerak yang dilakukan Edrin dan istrinya. Terutama ketika keduanya harus mengikis jarak, juga bergandengan atau berpose yang sedikit mesra di mata Ethan. Pria itu mengendurkan dasinya, Randy yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepala. Tersenyum samar pada sang founder parfum yang masih berada di sana guna melihat berlangsungnya proses pemotretan.


Randy menatap Edrin dengan Zota, pada dasarnya, ia merasa interaksi antara Edrin dengan Zoya dalam batas sewajarnya, tidak berlebihan seperti yang barangkali saat ini sedang Ethan rasakan. Mata Randy kemudian mengarah pada Naina yang stay didekat backround berwarna putih. Sedangkan Selin tampak sedang mengobrol dengan seseorang. Randy menatap dua orang itu bergantian.


Jika ada orang yang bertanya apakah ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Naina, jawabannya adalah iya. Selanjutnya, jika ia ditanya apakah ia jatuh cinta dengan Selin. Jawabannya juga iya. Randy tidak tau sejak kapan hal itu dimulai.


Keistimewaan apa yang Selin miliki hingga membuatnya jatuh cinta? Bahkan Randy tidak mengetahui apa jawabannya. Apa karena ia terlalu sering membantu wanita itu saat dikeribungi wartawan jika Zoya sedang diterpa isu panas? Maybe yes. Maybe no.


Randy refleks menoleh pada Ethan yang bangkit dari duduknya, pria itu berjalan menghampiri Zoya yang sudah selesai melakukan pemoretan sesi pertama.


"Kamu nggak canggung meski ada suami kamu?" tanya Edrin, ia meraih tisue dari sang asisten dan mengelap dahinya yang basah karena berkeringat.


Sedangkan Zoya yang duduk pada sebuah kursi rotan gaya modern di sana hanya tersenyum tipis, Naina tengah mengelap keringat di dahi dan sekitar leher. "Udah biasa." wanita itu menyahut singkat.


"Ngikutin terus, yah?" tanya Edrin lagi, Zoya tak sempat menyahut karena Ethan sudah berada di hadapannya.


"Hay." sapanya pada sang suami. Pria itu tersenyum membalas sapaan sang istri.


"Mbak Zoya, katanya ganti baju." bisik Naina, Zoya menatap suaminya sebentar, kemudian mengangguk dan bangkit berdiri.


"Aku ganti baju dulu." sahutnya, mengusap lengan Etgan dan berlalu. Ia melangkah, tapi sebelumnya menatap Randy dengan memberikan kode agar pria itu mengawasi Ethan. Mencegah kemungkinan yang bisa saja terjadi jika Ethan dibiarkan berdua dengan Edrin. Jangan sampai ada perang dunia.


"Jangan ganggu istri saya!" perintah Ethan begitu Zoya meninggalkannya dengan Edrin. Edrin yang mendengar hal itu hanya tersenyum miring.


"Sekali pun aku nggak ada niatan seperti itu, tapi kayaknya asik juga kalau –"


"Jangan macam - macam!"


"Cuma satu macam!"


Kali ini Ethan juga tersenyum miring. "Kalau begitu sillakan coba."


"Kamu memberiku kesempatan?" Edrin menaikan alisnya.


"Rebut Zoya jika kamu bisa!"


"Kayaknya Zoya bakal jatuh hati sama aku."


"In your dream!"


Perang mulut itu berhenti begitu Zoya tiba dengan dress berbeda yang dikenakannya. "Kalian ribut?" tanyanya pada dua pria yang sekarang saling memutus tatapan itu. Edrim menggelengkan kepalanya santai.


Mata Zoya mengarah pada suaminya meminta jawaban, pria itu menggeleng dan mengusap puncak kepala sang istri. "Kamu masuh lama?" tanya Ethan mengalihkan topik pembicaraan.


"Kamu udah bosen?" wanita itu justru balik bertanya. Ethan tak kunjung menyahut.

__ADS_1


"Kalau banyak kerjaan kamu ke perusahaan aja. Aku paling cuma setengah jam - an lagi." suruh Zoya. Ethan melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Kemudian menatap istrinya dan beralih pada Edrin yang masih berdiri di sana. Zoya mengikuti arah pandang sang suami, ia mengerti.


"Aku sama Mbak Selin, sama Naina juga. Menoleh pada Naina di sampingnya.


"Kamu nggak percaya sama aku?" sambungnya setengah dongkol.


"Kalau gitu saya ke perusahaan sekarang." pamit Ethan, Zoya mengangguk seraya tersenyum puas. Setidaknya, ia akan merasa jauh lebih tenang jika keluar dari pengawasan Ethan.


Ethan meraih puncak kepala wanita itu, kemudian mendaratkan kecupannya di kening tanpa perduli pandangan orang - orang yang berada di sana. Hal biasa memang, namun Ethan melakukannya di muka umum tanpa canggung.


Bahkan membuat para wanita yang berada di sana mendecak kagum, juga merasa iri pada Zoya. "Saya pergi." sahutnya, mengusap lengan Zoya dan berlalu, wanita itu sekali lagi mengangguk. Kemudian menghela napas lega.


Edrin yang melihat reaksi berlebihan orang orang di sana atas apa yang tadi dilakukan Ethan pada Zoya hanya berdecih tidak suka.


"Mbak Zoya ..., ini?" Naina menunjukan sebuah penjepit dasi. Zoya menepuk keningmya, hendak mengejar Ethan namun pria itu sudah menghilang, sedangkan waktu tidak memungkinkan baginya untuk menyusul. Edrin sudah memanggilnya karena pemotretan sesi kedua sudah akan dimulai.


"Kamu kejar Ethan, kasih ini ke dia, yah." pesannya pada Naina. Naina mengangguk, segera berlalu memenuhi perintah Zoya untuk mengejar Ethan.


**


"Edrin bilang apa?" tanya Randy yang sejak tadi mengawasai keduanya saat bersitegang begitu kepergian Zoya.


"Gak bilang apa - apa."


"Nantangin, yah?" tebak Randy dengan raut wajah menyebalkan. Karena faktnya pria itu sedang menertawakannya.


"Kamu mau dipecat?" Ethan justru mengancam.


"Kamu siap adaptsai sama skretaris baru?" Randy balik mengancam dan membuat Ethan kehilangan kata - kata.


"Pak Ethan."


Hingga sebuah panggilan membuatnya menghentikan langkah, lantas menoleh pada Naina yang setengah berlari mengejarnya. Randy tersenyum pada gadis itu yang dibalas oleh senyum tipis dari Naina.


Ethan tak bertanya, hanya menatap Naina yang entah untuk alasan apa mengejarnya bahkan sampai berlarian dan membuat napasnya berantakan.


"Ini –" tangannya menyodorkan penjepit dasi berwarna silver itu pada Ethan, Ethan menatapnya dengan dahi berkerut, kemudian ia sadar jika pagi tadi lupa memakainya dan Zoya yang membawa benda tersebut, Ethan menyodorkan tangan dan mengambil penjepit itu dari tangan Naina.


Lantas tersenyum pada gadis itu, kini napas Naina terdengar kembali normal. "Terimakasih Naina." ungkapnya, Naina mengangguk. Menatap gerakan tangan Ethan yang memakai jepit dasinya. Rupanya hal yang ia lakukan tak luput dari pengawasan Randy, karena pria itu menatapnya dengan alisb erangkat. Naina menggeleng samar melihatnya.


"Ayo." sampai suara Ethan membuatnya tersadar dan spontan mengalihkan tatapan pada pria itu.


"Saya duluan, yah." pamitnya. lantas berjalan menuju mobil dan masuk melalui pintu belakang begitu Randy membukakannya pintu. Setelah Ethan masuk, Randy berbalik menatap Naina.


Ia melambaikan tangan pada gadis itu yang Naina tanggapi dengan anggukan kepala yang sopan. Ia berdiri di sana, hingga begitu mobil yang Randy kendarai melaju meninggalkan halaman parkir gedung, Naina kembali ke tempat di mana Zoya melakukan sesi pemotretan.


TBC

__ADS_1


Part yang kemaren udah diedit, yah. Cek aja💖🤧


__ADS_2