
Selin yang pamit pulang karena ingin membiarkan Zoya hanya dengan Grrycia akhirnya membuat dua orang itu berpindah tempat setelah kepergiannya. Zoya mengajak Grrycia pada gazebo dekat kolam renang.
"Mami bawa banyak, di dalem pasti masih ada." sahut Grrycia pada Zoya yang sesekali masih menikmati kue klepon yang di bawanya. Wanita itu hanya tersenyum dan menganggukan kepala, tanpa ia sangka jika ternyata kue klepon tersebut membuat ia ketagihan.
"Mi."
"Iya?"
"Mami pas hamil Ayah Agyan ngidamnya nggak? Terus ngidamnya macem - macem, nggak?" tanyanya yang tiba - tiba saja merasa penasaran.
"Hmm, macem - macem gimana?"
"Ya pokoknya kaya pengen sesuatu hal yang nggak biasa, gitu."
"Kamu ngidam?" lagi - lagi Grrycia justru balik bertanya. Wanita itu menggelengkan kepala dan membuat Grrycia heran.
"Kalau nggak ngidam nggak normal, yah Mi?"
"Hmm. Nggak juga, karena nggak semua yang hamil pengen yang aneh - aneh kok."
"Ethan pernah ngomelin Zoya karena Zoya nggak pernah minta hal macem - macem." adu wanita itu.
Grrycia tertawa mendengarnya, sedangkan wanita itu tampak mengerucutkan bibirnya. Suaminya memang aneh, di saat mana pria lain di luar sana terkadang mengeluh ketika istrinya ngidam dan menginginkan hal macam - macam bahkan terkadang tak masuk akal, sedangkan Zoya sama sekali jauh berbeda dengan ibu hamil pada kebanyakan, justru Ethan malah menginginkannya agar merepotkan pria itu.
"Bisa gitu, yah Ethan. Mungkin maksudnya dia, dia pengen bikin kamu sama calon anak kalian senang kalau dia bisa penuhin apa yang kalian mau." terang Grrycia yang membuat Zoya mengangguk - anggukan kepala.
"Kalau Mami sendiri, pas hamil Ayah Agyan ngidamnya apaan? Ngerepotin Papi Andreas nggak?" tanya Zoya, penasaran ia menaiki ekspresi Grrycia yang berubah dari sebelumnya.
Wanita itu tampak menahan tawa, kemudian menyahut. "Sangat merepotkan."
"Gimana, Mi?"
"Hmmm."
Zoya akhirnya hanya tersenyum dan sesekali tertawa sepanjang Grrycia menceritakan proses kehamilan dan ngidamnya. Bagaimana ia mengalami gejala morning sickness. Mual setelah berciuman dengan Andreas bahkan pisang ranjang dengan pria itu.
Belum lagi keinginannya menikmati ikan bakar hasil pancingan pria itu. Yah, saat hamil dulu. Dirinya sangatlah merepotkan.
**
Tepat saat waktu menunjukan hampir pukul dua siang, Ethan tiba di rumah. Ia menenteng sebuah plastik besar, satu tangannya ia gunakan untuk membuka dasi yang dikenakannya. Pada akhirnya begitu mendapatkan pesanan Zoya. Ia meminta izin pada Rachel untuk tidak masuk bekerja.
Tubuhnya terasa gerah dan panas, juga lelah. Tanpa ia duga jika ternyata orang yang berjualan jajanan tradisional pindah lapak dan membuatnya dan Randy mencari - cari. Mudah menemukannya, tapi Randy tidak mengatakan jika pelanggannya begitu banyak dan bahkan mbuat Ethan harus mengantri untuk mendapat apa yang istrinya inginkan. Beruntung tidak kehabisan sehingga akhirnya ia memborong semua sisa dagangan.
Orang yang pertama kali ia jumpai di dalam rumah adalah Naina yang sedang menyapu ruang utama.
"Zoya di mana?" tanya pria itu.
"Di kamar Pak, tadi katanya mau tidur siang." sahutnya mengingat jika setelah satu jam yang lalu Grrycia pulang, Zoya permisi ke kamar untuk tidur. Ethan mengangguk samar. Lantas berjalan menapaki anak tangga menuju kamar untuk menemui sang istri.
Ethan melangkah pelan saat ternyata apa yang Naina katakan benar adanya, Zoya tengah tidur dengan posisi terlentang. Ethan melangkah mendekat, melihat bulir keringat di dahi istrinya, bahkan leher wanita itu tampak basah. Terlihat jelas jika Zoya pun merasa tak nyaman dengan hal itu. Ethan lantas menghidupkan AC, kemudian duduk di tepi tempat tidur dan kembali menatap sang istri.
__ADS_1
Ia menyentuh pipi wanita itu yang berisi, kemudian matanya turun ke perut Zoya. Ethan sedikit menyingkap kaos tipis yang istrinya kenakan. Ia tersenyum melihat perut rata Zoya yang turun naik saat wanita itu bernapas.
Tangannya mengusap lembut permukaan perut istrinya. Sampai kemudian Zoya menggeliat dan membuatnya menurunkan kaos wanita itu. Ethan mengernyit melihat Zoya yang melanjutkan tidurnya, ia menggeleng pelan, padahal dirinya berharap Zoya segera bangun. Beberapa menit menatap wanita itu dan ternyata Zoya tak kunjung bangun, akhirnya Ethan beranjak meninggalkan Zoya, membiarkan sang istri menikmati tidur siangnya.
Ethan turun ke lantai bawah, kembali membawa plastik berisi beberapa jajanan pesanana istrinya. Ia mendapati Naina yang berada di dapur, Ethan meletakan plastiknya di atas meja pantry.
"Kamu keluarin semuanya, nanti kalau Zoya sudah bangun, berikan pada Zoya." titahnya. Gadulis itu hanya mengangguk. Kemudian meraih plastik yang Ethan letakan.
"Klepon?" dahi gadis itu berkerut. Ethan mengangguk. "Kenapa?" tanyanya kemudian, Naina menggerakan kepalanya di mana di atas sebuaj piring tersisa beberapa klepon sisa Zoya beberapa jam yang lalu.
"Siapa yang bawa?" tanya Ethan.
"Ibu Grrycia, tadi pagi ke sini. Pulang jam dua belas setelah banyak mengobrol sama Mbak Zoya." terangnya yang membuat Ethan mengangguk - anggukan kepala. Saat ia berjuang demi mendapatkan apa yang istrinya inginkan, justru wanita itu sudah menikmati apa yang diinginkannya dari orang lain.
"Nanti tanya Zoya saja, dia mau atau tidak." sahut Ethan setelah cukup lama terdiam.
"Semuanya buat Mbak Zoya, Pak?" tanya Naina, melihat banyak jajanan tradisional itu yang sering ia temui di kampung halamannya. Tiba - tiba Naina merindukan kampung halaman dan bibi tersayangnya.
Ethan memerhatikan gadis itu yang menatap kue klepon bawaannya.
"Zoya nggak akan bisa abisin semuanya, kalau mau kamu boleh ambil." sahutnya. Gadis itu tersenyum.
"Saya udah makan tadi." gadis itu kembali menggerakan kepalanya pada kue klepon yang dibawa Grrycia. Ethan akhirnya mengangguk. Kemudian permisi dan kembali ke kamarnya. Meninggalkan Naina yang menatap kue - kue di hadapannya.
"Pak Ethan emang suami terbaik yang pernah ada." lirihnya.
**
"Saya ganggu, yah?" tanyanya, lantas duduk di tepi tempat tidur. Wanita itu menggelengkan kepala, matanya yang sayu membuat Ethan rindu. Rasanya sangat lama menunggu wanita itu bangun dari tidurnya.
"Sekarang jam berapa?" tanya Zoya dengan suara serak.
"Hmm, jam empat."
"Aku tidur lama banget." sahut Zoya, mengacak rambutnya dan kemudian memijat pelipis. Lantas perlahan mendudukan dirinya dan mengikat rambut, Ethan hanya memperhatikan tingkah istrinya. Memperhatikan bagaimana bentuk tubuh Zoya yang begitu berbeda dengan dua bulan yang lalu. "Kenapa?" tanya wanita itu dengan dahi berkerut saat mendapati Ethan yang tengah memerhatikannya.
"Cantik," puji Ethan.
"Bohong banget. Arasy bilang aku gendutan, nggak cantik, deh."
"Enggak, siapa bilang. Kamu cantik, selalu cantik. Karena ada malaikat di sana." jari telunjuk pria itu mengarah pada perut Zoya. Zoya tersenyum, memajukan bibir yang membuat Ethan mengecupnya sekilas.
"Saya sudah bawa apa yang kamu pesan. Naina bilang Mami Grrycia sudah bawakan." sahut pria itu.
"Hmm." wanita itu hanya mengangguk.
"Nanti kita nonton di ruang baca, yah." ajak kemudian, Ethan mengangguk. Akhir - akhir ini Zoya memang lebih sering menghabiskan waktunya di ruang baca Ethan. Ketika Ethan menyelesaikan pekerjaannya di ruangan tersebut, maka Zoya akan menyusul dan menyalakan tv di sana. Bahkan Ethan sering menggendong wanita itu ke kamar saat Zoya ketiduran di ruang baca.
"Kamu duluan aja, aku mandi dulu. Nanti nyusul," suruh Zoya seraya beranjak dari tempat tidur.
"Saya tunggu kamu saja."
__ADS_1
Zoya hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh dengan keputusan Ethan. Membuka kaos oblong yang dikenakannya tanpa perduli Ethan sedang menatapnya. Wanita itu menatap lekukan tubuhnya pada pantulan cermin, ia memang lebih berisi dari sebelumnya. Ethan yang melihat raut wajah sang istri lantas menghampirinya. Ikut menatap pantulan tubuh Zoya tanpa kaosnya dalam pantulan cermin.
"Kenapa?" tanya Ethan.
"Jujur dong, tubuh aku jadi lebih berisi, yah?" ia menolehkan kepala pada sang suami yang berada di belakangnya.
"Sedikit berisi," pria itu menyahut dengan ringisan. Zoya berbalik, memukul dada pria itu berulang - ulang yang membuat Ethan justru mendekap tubuh wanita itu.
"Tidak, tidak. Tidak berisi sama sekali." hibur Ethan, wanita itu masih menggerutu dalam dekapannya. Tangan Ethan membuka lemari dan mengambil salah satu dari beberapa jubah mandi milik Zoya, ia menyampirkannya pada bahu sang istri agar menutupi tubuh istrinya.
Zoya menengadah menatap sang suami. "Kamu nggak akan ninggalin aku cuma karena ini, 'kan?" tiba - tiba wanita itu merasa parno. Wanita memang sensitif jika berhubungan dengan berat badan. Ethan menggelengkan kepala.
"Tidak akan Sayang, apa pun keadaan kamu. Saya nggak akan ninggalin kamu, kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal - hal yang tidak mungkin saya lakukan."
**
Meski sudah memakan banyak klepon dari Grrycia, nyatanya Zoya tetap lahap memakan tiga jajanan pesanannya yang Ethan bawakan. Sudah lebih dari satu jam keduanya berada di ruang baca dan menonton televisi. Zoya juga sudah mendengar bagaimana perjuangan sang suami dalam memenuhi apa yang ia minta.
Ethan menggenggam tangan Zoya, kemudian mengecup punggung tangan wanita itu yang membuat Zoya menolehkan kepala pada sang suami.
"Apa harapan kamu ke depan?" tanya Ethan, menatap mata istrinya lekat - lekat.
Zoya sempat mengernyit dengan apa yang istrinya tanyakan, tapi kemudian ia menyahut. "Banyak."
"Apa?"
"Mmm, aku sama calon bayi kita sehat."
"Hmm." Ethan menganggukan kepala.
"Kamu sayang terus sama aku."
"Pastii,"
"Selamat pas lahiran, abis itu aku mau adain newborn photoshoot. Hmmm jadi ibu dan isteri yang baik dan hidup bahagia sama anak - anak kita." wanita itu tersenyum dengan mata yang menerawang jauh ke masa depan. Membayangkan bagaimana ia menikmati kehidupannya sebagai seorang ibu dan memiliki keluarga sempurna yang lengkap.
Ethan hanya mengusap lembut punggung tangan wanita itu dengan senyum yang mengembang setelah mendengar harapan Zoya. Zoya menatapnya dan ikut penasaran. "Kalau kamu, apa harapan kamu?"
"Saya?"
"Hmm." Zoya mengangguk - anggukan kepala penuh antusias.
"Harapan saya sederhana Zoya."
"Jadi?"
"Saya berharap kita selalu dapat bersama - sama, dan bahagia selamanya."
TBC
Iya Ethan, sederhana. Sangat sederhana🤗💗
__ADS_1