Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Kelakuan Random Istri


__ADS_3

Zoya mandi lebih dulu, tak ingin sang istri kedinginan Ethan menyuruh wanita itu untuk segera ke kamar dan berganti pakaian sehingga Ethan menjadi orang terakhir yang keluar dari kamar mandi. Begitu ia keluar, Ethan berpapasan dengan Naina yang tampak terkejut melihat kehadirannya dengan sebuah kaos hitam dan handuk berwarna putih miliknya yang melilit di pinggang.


"Maaf Pak Ethan." sahutnya bagai tidak enak melihat kondisi Ethan.


"Bapak masuk dulu saja dan berganti pakaian nanti kita makan malam bersama." beritahunya. Ethan tidak bersuara, hanya menganggukkan kepalanya lantas berjalan menuju kamar sementara Nain mengutuki dirinya sendiri menggerutu tidak jelas padahal apa yang terjadi tadi bukanlah hal besar.


Makan malam berlangsung pada pukul tujuh, mereka makan di ruang utama rumah tepat di depan televisi dengan beralaskan sebuah karpet dan duduk lesehan. "Biar saya bantu." Zoya menawarkan diri, tetap memaksa untuk membawa beberapa wadah berisi lauk pauk sekalipun Bibi dengan Naina sudah melarangnya dan menyuruhnya untuk duduk saja dengan tenang bersama Ethan.


"Enggak masalah Bi, saya pengen ikut bantu." ucap Zoya saat si Bibi melarangnya, mau tak mau akhirnya Bibi hanya bisa mengangguk pasrah, membiarkan saja Zoya melakukan apapun yang diinginkan.


Di perjalanan tadi mereka memang sempat mampir di pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa bahan masakan atas usul Ethan yang khawatir jika nantinya Zoya merasa tidak cocok dengan makanan di tempat tinggal Naina. Hal yang terbalik. Seharusnya Zoya yang melakukan hal tersebut dan mengkhawatirkan suaminya, bukan malah sebaliknya.


Zoya merasa tergiur dengan menu makanan yang ada padahal hanya makanan biasa yang sering Naina masak di rumahnya, mungkin terasa berbeda karena mereka berada di tempat yang sangat sederhana dan suasana yang menenangkan di perkampungan.


Zoya menyendokan nasi untuk dirinya sendiri, mengambil beberapa lauk dan mencicipinya sedikit, ketika ia akan menyendokan nasi untuk Ethan, ia sudah lebih dulu melihat Naina yang tampak sedang menyodok nasi.


Tatapan Zoya beralih kepada piring si Bibi yang sudah berisi nasi dan beberapa lauk, juga piring Naina yang sudah serupa, artinya gadis itu sedang menyendokkan nasi untuk suaminya.


Zoya mengukir senyumnya, perlahan meraih piring yang sedang dipegang Naina. "Biar saya saja." sahutnya dengan lembut. Naina meaku sesaat, kemudian mengangguk. Dalam hati mengutuki dirinya sendiri karena sudah spontan melakukan hal yang tidak masuk akal. Padahal Zoya berada di sana, kenapa bisa-bisanya tanpa permisi ia menyendokkan nasi untuk Ethan?


"Terima kasih, Sayang." sahut Ethan begitu Zoya menyerahkan piring berisi nasi dengan beberapa lauk di atasnya, Zoya mengangguk.


Bibi yang sedang melahap makanannya diam-diam menatap sang keponakan dengan kedua majikan secara bergantian, Naina menikmati makan dan terlihat melamun. Sementara Zoya dengan Ethan tampak sekali saling bertukar pandang dan sesekali tersenyum.


**


Begitu makan malam usai, ketika Ethan lebih memilih untuk mengistirahatkan diri di dalam kamar Zoya justru pergi keluar tepat ke beranda rumah di mana Naina juga ada di sana. Tengah menatap bintang-bintang yang bersinar dengan cahaya redup, mungkin karena awan yang masih menghitam sisa hujan tadi siang.


"Mbak Zoya belum tidur," tegur Naina saat sadar sang majikan berada di sampingnya dan menatap objek yang sama dengannya.


"Kamu sendiri belum tidur." sahut Zoya, menatap gadis itu. Naina menganggukan kepalanya pelan. "Biasanya jika di kampung halaman, sebelum tidur saya lebih senang melihat bintang terlebih dahulu Mbak." panjang lebar Naina yang membuat Zoya kembali mengalihkan tatapannya ke langit, melihat bintang yang redup di atas sana.


"Sepertinya kamu sangat rindu dengan kampung halaman."


"Iya Mbak, bagaimanapun, 'kan saya besar di sini. Jadi saya sangat sering sekali rindu tempat ini dan sangat betah berada di sini." jelas lugas Naina. Setelahnya Zpya terdiam. Keduanya sibuk menatap langit malam, suara jangkrik tampak terdengar. Khas suasana perkampungan yang lagi-lagi membuat Zoya merasa nyaman.


"Sedang pada apa ini?" Bibi muncul dari dalam rumah, membuat dua wanita itu menoleh lantas berjalan ke arah si Bibi dan duduk pada sebuah dipan yang berada di teras rumah. Si Bibi tampak membawa potongan buah naga dalam sebuah panci berukuran kecil.


"Tadi Mang Agus anterin buah naga, katanya buat yang baru datang dari kota." sahut si Bibi Naina dengan Zoya hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


Mang Agus adalah tetangga Naina sekaligus pemilik kebun buah naga yang Naina ceritakan kepada Zoya saat mereka dalam perjalanan siang tadi.


"Sok Neng, di makan!" suruhnya pada Zoya.

__ADS_1


"Buah naga dari kampung biasanya beda sama yang dibeli di swalayan di kota."


Zoya hanya mengangguk dan menusuk potongan buah naga dengan garpu, kemudian menyuapkan ke mulutnya, ia tersenyum ketika buah naga tersebut menyentuh lidahnya. "Enak Bi," komentarnya.


"Iya, pasti enak. Baru dipetik soalnya, masih seger." si Bibi menyahut setelah kunyahan buah naga di mulutnya habis.


"Suaminya ke mana?" Bibi kemudian bertanya saat tidak mendapati Ethan di sana.


"Di kamar Bi."


"Ya udah, sok atuh ininya kasih ke suaminya. Biar nyicip buah naga dari kampung." sahut Bibi sambil menyerahkan sebuah piring yang sudah berisi potongan buah naga, Zoya mengangguk lantas pamit untuk masuk ke dalam rumah.


Naina menatap kepergian Zoya sampai wanita itu menghilang dari balik pintu, hal tersebut tidak luput dari pengawasan Bibinya. "Bibi lihat-lihat kamu sepertinya sering memerhatikan majikan lelaki kamu." kalimat yang keluar dari bibir sang Bibi membuat Naina mengalihkan tatapannya dari pintu masuk, ia memperhatikan sang Bibi yang tengah mengunyah buah naga sambil menatapnya dengan sorot serius. Pelan-pelan kepalanya mencerna apa yang barusan sang Bibi katakan.


Belum kunjung ia mengerti, si Bibi sudah menambahi. "Jangan gitu kalau sedang kerja, kamu, 'kan kerja sama mereka. Harus punya batasan."


"Iya, Bibi akui majikan lelakimu memang tampan, tapi, 'kan dia sudah beristri."


"Bibi ngomong apa sih? Naina nggak ngerti."


"Apapun itu, pokoknya Bibi berpesan sama kamu."


"Kamu, 'kan ke Jakarta untuk bekerja. Jadi cukup bekerja saja, ya. Jangan macam-macam!"


**


"Ethan."


"Ethan."


"Ethan." Zoya masuk ke dalam kamar dan mendapati suaminya itu dalam posisi tengkurap sambil bermain ponsel. Ethan menoleh kepada istrinyam Dia baru saja menyelesaikan panggilan videonya dengan Rendy saat istrinya itu menghampirinya.


"Kamu kalau dipanggil kenapa nggak nyaut, sih?!" Zoya merasa kesal sendiri, Ethan tersenyum, lantas bangkit dan mengganti posisinya menjadi duduk, berhadapan dengan wanita itu.


"Kamu bisa atau tidak, sih, panggil saya sedikit romantis?" tanya Ethan, Zoya justru mengerucutkan bibir.


"Kamu pengen dipanggil apa?" tanyanya kemudian.


"Apa saja, jangan keseringan sebut nama. Tidak sopan. Kamu lupa? Setelah menikah dengan kamu, saya sangat jarang sekali memanggil nama kamu."


"Saya biasa memanggil kamu. Sayang, Sayang Sayang." panjang lebar pria itu diakhiri nada bicara yang dibuat-buat.


"Kan aku nggak pernah minta. Emangnya kenapa kamu manggil aku 'Sayang'?"

__ADS_1


"Ya karena saya sayang sama kamu." jawab Ethan dengan enteng, sedangkan Zoya tersenyum mendengarnya. Sejenak ia merasakan panas menjalar di pipinya yang pastinya menampilkan semburat merah. Ia kian tersipu saat Ethan menyentuh wajahnya.


"Jangan dipegang!" larangnya.


"Kenapa?"


"Nanti malah makin merah." wanita itu menggerutu seperti anak kecil. Ethan hanya tertawa, ternyata benar. Wanita akan bersikap kekanakan di hadapan pria yang tepat.


"Besok rencananya mau ke mana?" tanya Zoya, mengalihkan topik. Lalu menyodorkan piring berisi potongan buah naga pada Ethan. Ethan tampak sama menghiraukannya. Membuat Zoya mengambil garpu dan menyuapi sang suami. Zoya mengerucutkan bibirnya begitu Ethan membuka mulut. Tapi nampaknya pria itu sama sekali tidak peduli.


"Terserah kamu maunya kita kemana. Jalan-jalan di pantai atau memetik buah, saya ikut kamu saja." katanya, Zoya menganggukan kepala, sepertinya akan sangat menyenangkan jika mereka memetik buah kemudian pada sore harinya bermain di pantai.


"Sunset gimana?" tanya Zoya. Ethan mengangguk. Kemudian menyahut singkat. "Boleh."


**


Udara malam terasa begitu dingin di perkampunga, terlebih hawa dingin semakin tercipta karena siang tadi sudah hujan. Zoya yang sedang berbaring di tempatnya hanya menatap Ethan yang tengah menatap keluar jendelam Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lebih dua puluh menit.


"Kamu belum ngantuk?" tanya Etan yang kemudian mengalihkan tatapannya pada Zoya yang tengah menatapnya. Zoya hanya menggelengkan kepala. "Nggak bisa tidur." Ethan mengernyitkan dahi, tapi Zoya hanya menggelengkan kepala Zoya pun tidak mengerti.


Ethan berjalan menutup jendela, lantas duduk di tepi tempat tidur. Ia ingin berbaring tapi tempat tersebut begitu sempit. "Tidur ya," Ethan mengusap puncak kepala istrinya.


"Sama kamu." sahut Zoya, meraih tangan Ethan. Ethan sedikit tertawa. "Sepertinya saya harus tidur di bawah, Sayang." Zoya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Jangan, di sini aja."


"Tempatnya sempit."


"Di sini aja." Zoya memaksa dengan raut wajah menggemaskan yang tidak bisa Ethan telok. Pria itu terkekeh, lantas menuruti keinginan sang istri dan berbaring di sana. Zoya memiringkan tubuhnya, memberi ruang kepada Ethan agar bisa berbaring.


Lantas keduanya tidur dengan saling berhadapan, Zoya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang suami, sejak tadi hal ini yang ia inginkan, namun Ethan tidak peka jika kedinginan dan butuh pelukan.


Ketika Ethan mengejamkan mata, Zoya justru memainkan jari-jemarinya di atas dada pria itu, yang membuat Ethan perlahan membuka matanya dan menoleh. "Tidur Sayang." suruhnya pelan. "Enggak bisa tidur." Zoya berbisik tak kalah pelan.


"Kalau begitu bagaimana?" Ethan bertanya. Zoya menggelengkan kepalanya, sedangkan Ethan kian mendekap tubuh wanita itu kemudian berbisik pelan tepat di telinga Zoya, mengerti apa yang istrinya inginkan.


"Kamarnya tidak kedap suara."


Zoya tahu hal itu, terlebih lagi tepat di samping mereka adalah kamar si Bibi yang sedang ditempati oleh Naina dan Bibinya, hanya ada sekat tipis di antara mereka yang bahkan mengobrol saja mampu didengar dari kamar lain.


Zoya ikut-ikutan berbisik di telinga Ethan. "Enggak papa." katanya dan kemudian menjauhkan wajahnya dari Ethan. Ethan menatapnya dengan senyum tak mengerti, kelakuan istrinya memang random sekali.


Beberapa saat hanya hening di antara mereka, kemudian tangan Ethan bergerak mengusap wajah mulus istrinya. Ibu jarinya berhenti pada permukaan bibir, Zoya. "Tidak papa?" tanyanya. Entah apa maksudnya, tapi karena pembahasan mereka sebelumnya menjurus ke sana Zoya hanya menganggukan kepala hingga kemudian Ethan meraih dirinya.


TBC

__ADS_1


Random amat Zoy, Zoy.


__ADS_2