Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Hal Berharga Untuk Zoya


__ADS_3

Jagat dunia hiburan dihebohkan oleh aktris cantik Zoya Hardiswara yang kembali muncul ke media setelah beberapa hari tidak terdengar kabar beritanya.


Kabar burung berseliweran, jika aktris tersebut banyak membatalkan kontrak pekerjaan yang sudah ditandatangani sehingga memunculkan berbagai asumsi publik.


Tentu hal itu memicu para awak media untuk mewawancarainya, setidaknya mereka perlu tahu apa yang terjadi dengan wanita itu yang menghilang tiba-tiba bahkan menonaktifkan seluruh sosial medianya beberapa hari belakangan ini.


Namun Ethan, selaku pimpinan perusahaan agensi dari wanita itu menolak keras para awak media yang ingin mewawancarai istrinya. Ia tidak ingin hal tersebut mengganggu Zoya, ia tidak ingin jika nantinya pertanyaan yang dilayangkan para wartawan membuat Zoya stress dan memicunya untuk mengingat jelas lagi apa yang terjadi dengan wanita itu belakangan ini.


Ethan ingin melindungi istri sekaligus aktrisnya tersebut. Ethan tidak ingin melihat air mata wanita itu lagi


Tentu saja para awak media merasa kecewa. Padahal mereka yakin jika Zoya buka suara, hal itu akan menjadi berita terpanas minggu ini. Mengingat jagat entertaiment memang mencari-cari sosok wanita itu yang menghilang berapa hari terakhir setelah terakhir kali wanita itu ditemukan berada di halaman rumah sakit dan pingsan dalam dekapan Ethan, foto mereka yang diambil dari jarak jauh menyebar di dunia maya.


Sehingga akhirnya Selin angkat bicara sebagai manajer Zoya, setidaknya harus ada tembusan pada awak media atau mereka akan membuat spekulasi yang nantinya justru memicu mental Zoya.


"Zoya Hardiwara baik-baik saja. Dia menghilang karena ada beberapa urusan pribadi dan fokus menyelesaikannya. Beberapa kontrak dibatalkan karena alasan pribadi juga dan tidak bisa dibocorkan kepada pihak media manapun mengenai alasannya."


Selin mengawali wawancara hari itu. "Lalu apa benar isu mengenai Zoya Hardiswara yang mengalami sakit parah?" tanya salah seorang wartawan. Alasan Zoya pingsan di halaman Rumah Sakit tentu saja menjadi pusat perhatian.


"Itu tidak benar, Zoya tidak memiliki sakit parah. Dia datang waktu itu ke rumah sakit hanya sakit biasa setelah menyelesaikan syuting iklannya yang memiliki proses panjang."


Selin mencoba tersenyum, kilatan blitz yang menerpa wajahnya terasa cukup mengganggu. Tapi ia kembali berbicara.


"Tidak ada masalah dengan hal itu. Do'akan saja ya, biar Zoya selalu sehat. Beberapa hari ke depan dia akan beraktifitas seperti biasanya, doakan yang terbaik aja, ya." perkataan Selin kali ini mengakhiri semuanya, beberapa wartawan masih mencoba melempar pertanyaan namun ia tak memperdulikan.


Selin tidak ingin banyak berbicara atau nanti para media akan mencecarnya dengan pertanyaan yang bisa saja membuatnya tidak dapat mengendalikan diri. Selin harus menghindari hal-hal tersebut demi karir Zoya, terutama kesehatan mental wanita itu.


***


Zoya kembali beraktifitas seperti biasanya. Ia juga mulai melakukan lagi syuting iklan dan mencoba berdamai dengan semuanya, hal tersebut tentu saja membuat Freya bangga dan juga senang menantunya kembali dengan keadaan baik-baik saja. Meski tetap tidak bisa dipungkiri, sesekali sesak di dada Zoya perlu ditumpahkan. Kadang-kadang ini masih sering menangis.


Seperti saat ini misalnya ketika ia berada di dalam kamarnya sendirian, sedangkan Ethan belum pulang bekerja, kemudian Zoya merasa haus lantas pergi ke dapur untuk mengambil segelas air guna membasahi kerongkongannya yang kering.


Ketika menenggak air tersebut tiba-tiba saja ia membayangkan bagaimana nasibnya ke depan. Zoya benar-benar menginginkan kehadiran seorang anak di dalam keluarganya. Tapi apa yang harus dilakukan? Dia tidak mampu untuk melakukan hal tersebut.


Beberapa hari ini, ia dengan Ethan sudah mengulik berbagai informasi dari semua media mengenai bayi tabung, tapi Zoya tidak bisa melakukannya, ia tak memiliki rahim dia tak memiliki tempat untuk janin dapat berkembang di dalam tubuhnya.


Surrogate mother? Ibu pengganti? Zoya tahu hal ini sudah dilakukan di luar negeri seperti Amerika dan India, namun di negaranya tinggal hal itu masih dilarang. Lagi pun siapa yang mau menjadi ibu pengganti untuk dititipkan janin dalam rahimnya.


Mungkin Ethan dengan Zoya dapat membeli seseorang, tapi apakah terjamin jika privasi mereka terjaga?


Bagaimana jika hal tersebut bocor ke media?


Bagaimana jika media tahu Zoya Hardiswara adalah seorang wanita yang tidak bisa melahirkan seorang anak dari rahimnya sendiri? Zoya pasti akan menjadi gunjingan.


Tanpa sadar, Zoya menangis membayangkannya. Ia dihantui ketakutan.


"Mbak Zoya." wanita itu buru-buru menyeka air matanya ketika mendengar suara Naina yang memanggilnya. Naina mungkir senyum tipis ketika Zoya menoleh, ia memang akan pergi ke dapur untuk mengambil minum. Kemudian mendengar Zoya yang tengah terisak.

__ADS_1


Awalnya ia akan membiarkan saja wanita itu menangis. Ia tak ingin mengganggu, namun setelah pikir-pikir lagi, Naina tidak ingin membiarkan Zoya larut dalam kesedihannya sehingga ia memutuskan untuk menegur wanita itu.


"Hay Naina." adalah andalan Zoya ketika menyapa gadis itu, Naina tersenyum membalas sapaan Zoya kemudian duduk di samping wanita itu setelah menarik salah satu kursi meja makan.


"Mbak Zoya lapar?"


"Ingin dibuatin susu? Sereal atau makanan ringan?" Naina mengawali pembicaraan, tapi Zoya justru tersenyum hangat, menggelengkan kepalanya pelan.


"Eggak perlu, saya udah kenyang." sahutnya sembari mengangkat segelas air yang sudah ia tandaskan.


Keduanya saling terdiam, jam dinding di dapur terasa lebih mendominasi, jarum pendek jam menunjuk angka tujuh sementara Ethan belum pulang dari gedung agensi, pria itu bilang masih ada hal yang harus diurus dengan Randy sehingga malam ini akan kembali pulang terlambat Akhir-akhir ini Ethan memang sering pulang terlambat ke rumah.


"Saya perhatikan Mbak Zoya sekarang makin cantik aja." sahut Naina setelah beberapa saat, membuat wanita yang tengah menatap jam dinding itu lantas mengalihkan tatapannya kepada Naina, ia tersipu. Menyelipkan rambut ke belakang telinga.


Cantik? Bagaimana bisa dirinya semakin cantik sementara belakangan dia kehilangan berat badannya. Ia pasti terlihat begitu kurus.


"Enggak cantik. Cantiknya sudah luntur."


"Luntur gimana? Masih cantik, sama seperti saat pertama kali saya ke sini." Naina tak ingin pendapatnya dibantah, sehingga Zoya hanya bisa pasrah dan menganggukan kepala.


Sesaat keduanya hanya saling terdiam, hingga kemudian Zoya memanggil gadis itu.


"Naina,"


"Iya Mbak."


"Maksud Mbak?" ia mencoba bertanya sekalipun dapat menerka meski tak dapat mengerti seutuhnya.


"Seandainya kamu ada diposisi saya." Zoya menyahut singkat dengan pertanyaan yang sama. Naina kembali terdiam. Zoya memerhatikan gadis itu, menunggu reaksi Naina dan jawaban seperti apa yang akan gadis itu berikan.


"Mbak Zoya." justru Naina memanggilnya, Zoya yang tengah menatap gadis itu menganggukan kepala, lantas bertanya.


"Ada apa?"


"Saya ingin kasih sesuatu buat Mbak Zoya."


Zoya mengerutkan kening, merasa penasaran terlebih saat Naina hanya menatapnya tetapi tidak mengatakan apapun lagi. Wanita itu mulai tersenyum hambar, perasaannya mulai tidak enak.


"Apa Naina, jangan buat saya penasaran." desak Zoya, Naina tersenyum tipis.


"Saya ingin kasih sesuatu."


"Iya. Apa?"


"Rahim saya."


Spontan Zoya mengerutkan kening, beberapa detik selanjutnya wanita itu tertawa, tertawa terbahak bahak bahkan sampai memegangi perutnya . Tentu ia akan menganggap apa yang Naina katakan sebagai sebuah lelucon.

__ADS_1


Wanita seperti apa nemangnya yang rela memberikan rahimnya untuk wanita lain? Mungkin, jika Naina adalah orang gila, Zoya bisa saja percaya. Tetapi Zoya cukup yakin jika Naina waras seratus persen. Jadi ia tak mungkin sungguh-sungguh atas pernyataannya.


Nina tak buka suara lagi, hanya terdiam menatap Zoya yang menertawakan apa yang baru saja ia katakan. Naina membiarkan saja wanita itu hingga Zoya meredakan tawanya lantas menatapnya.


"Kamu bercanda Naina?" tanya wanita itu, tanpa berpikir lagi Naina mengelengkan kepala.


"Saya serius Mbak Zoya. Saya benar-benar serius." ucap Naina, berkata dengan sungguh-sungguh.


Sementara Zoya mematung, tatapan matanya berubah menjadi sayu, raut wajahnya menjadi serius menata Naina penuh tanya.


"Saya serius ingin mendonorkan rahim saya untuk Mbak Zoya." sahut Naina sekali lagi, menyakinkan Zoya jika ia tak main-main dengan perkataannya. Naina sudah mempertimbangkannya dengan matang.


Selama beberapa hari ini, ia menggali banyak informasi tentang transplantasi rahim. Sekalipun resikonya besar dan kegagalannya lebih besar dari keberhasilan bahkan membahayakan, tetapi Naina ingin mencobanya.


Jika ada orang yang bertanya alasan mengapa Naina ingin melakukan hal tersebut, maka Naian akan menjawab. Yang pertama adalah Kmkarena ia merasa bersalah pada Zoya, bagaimanapun juga, Zoya kehilangan rahimnya karena sudah menyelamatkannya dari maut dengan mengorbankan dirinya sendiri.


Dan yang kedua karena Naina menyayangi Zoya, menyayangi wanita itu yang sudah menganggap dirinya seperti keluarga. Pada intinya terlepas dari kedua alasan yang akan ia kemukakan, ia terkesima dengan sifat baik Zoya selama ini padanya.


Ia rela memberikan rahimnya untuk wanita itu dan ia sungguh-sungguh ingin melihat Zoya bahagia jika nanti wanita itu memiliki anak dari rahimnya sendiri.


"Naina–"


"Saya serius Mbak Zoya, dan saya benar-benar melakukannya." Naina kembali meyakinkan saat sorot mata Zoya memancarkan ketidakpercayaan.


"Alasannya?" Zoya perlu tahu alasan dan tujuan gadis itu ingin melakukannya.


"Mbak Zoya sudah sangat baik sama saya. Saya berhutang budi terhadap Mbak Zoya–"


"Saya tulus pada kamu Naina." Zoya menyela dengan cepat.


"–Dan saya menyayangi Mbak Zoya." Naina menyela tak kalah cepat. Zoya sempat mematung, kemudian angkat suara.


"Naina tapi ini bukan hal sepele."


"Saya tahu ini bukan hal sepele, itu kenapa saya nggak berani main-main."


"Tapi Naina, bagi wanita rahim sangat berharga."


"Saya ingin menyerahkan milik saya yang paling berharga untuk Mbak Zoya."


Naina tidak bisa dibantah. Sedangkan yang bisa Zoya lakukan hanya tersenyum dengan raut wajah tak terbaca, tak percaya atas apa yang akan benar-benar Naina berikan padanya.


Dua wanita berhati malaikat itu hanya saling menatap dengan mata berkaca-kaca. Sorot mata Naina yang memberi keyakinan juga kekuatan untuk Zoya. Dengan sorot mata Zoya yang sendu seolah tak percaya dengan apa yang terjadi.


Dua wanita itu tenggelam dalam tatapan masing-masing.


TBC

__ADS_1


__ADS_2