
Arasy melangkah dengan sangat pelan memasuki Rumah Hantu setelah sebelumnya ia sempat sedikit berbicara dengan Ethan yang ditinggalnya di luar.
Sejujurnya, Arasy tidak cukup berani untuk memasuki Rumah Hantu, terlebih dia berpetualang sendirian. Namun, karena rasa penasarannya, ia memaksakan diri dengan penuh percaya diri.
Ia akan berteriak menyebut nama anggota keluarganya saat melihat hantu di dalam Rumah Hantu itu.
"Ethaaan!"
"Tolong. Ayah, Bunda. Tolong aku,"
Langkah Arasy semakin pelan dan berhati-hati. Kedipan lampu warna-warni di sana dan menampilkan sosok berbagai hantu membuatnya ketakutan dan merasa menyesal tidak mendengarkan Ethan untuk tidak memasuki Rumah Hantu.
Arasy berbalik meski langkahnya sudah jauh. Ia ingin kembali pada Ethan. Ia tidak sanggup mengikuti rasa penasarannya.
"Oke, Rumah Hantu. Aku akan datang kemari jika sudah dewasa dan cukup berani." ia berbicara sendiri.
"Sekarang, aku akan pulang. Aku lebih suka syuting daripada ditakut-takuti seperti ini."
Arasy mulai melangkah, tiba-tiba seseorang mencekal lengannya. Spontan membuatnya berteriak meski ia tau tidak akan ada yang mendengar atau sadar jika dirinya dalam bahaya.
Seseorang itu menutup mulut dan hidung Arasy dengan sebuah sapu tangan yang pastinya sudah diberi obat bius. Seperti yang sering Arasy tonton dalam film-film. Sebentar lagi, ia pasti akan pinsan.
Dan benar saja, tak lama. Pandangan Arasy kabur, ia mulai merasa pusing dan tidak sadarkan diri.
*
*
"Bagaimana, Arasy sudah ketemu?" Freya bertanya dengan panik. Ia berlari dari parkiran ke tempat yang Aryo sebutkan saat menelponnya.
Aryo menggeleng, membuat tubuh Freya melemas dan hampir terjatuh jika saja Agyan tidak cepat datang dan segera menopang tubuh Freya.
Waktu sudah sangat sore, Arasy tak kunjung ditemukan meski semua petugas di sana sudah dikerahkan. Semua tempat sudah disisir dan hasilnya tetap nihil.
"Gyan,"
Agyan hanya mengusap bahu Freya. Menenangkan istrinya agar tidak terlalu cemas.
Saat mendapat telpon dari Aryo tadi. Agyan baru saja pulang dari perusahaan. Mereka segera berangkat ke alamat yang Aryo katakan. Mendapati kabar jika Arasy hilang, sangat membuat perasaan Freya remuk.
Ia tidak sanggup jika harus kehilangan putrinya. Freya menghela nafas, ia melihat Ethan yang menatapnya dengan perasaan bersalah. Freya melangkah mendekat, hatinya melupakan satu hal, jika mungkin putranya juga berada dalam bahaya. Ia tidak bisa egois hanya dengan memikirkan satu anaknya.
"Ethan,"
"Maafkan, Ethan Bunda, Ethan tidak bisa menjaga Arasy dengan baik. Maaf," ucapnya penuh sesal.
__ADS_1
Freya menggeleng, ia mengusap puncak kepala Ethan dan segera memeluknya. "Ini bukan salah kamu, Sayang."
"Seharusnya Ethan ikut saat Arasy mengajak Ethan masuk ke Rumah Hantu." Ethan tetap menyalahkan dirinya sendiri. Freya hanya mampu memeluk putranya, untuk menenangkan Ethan.
Agyan tampak sedang menghubungi beberapa orang, mengerahkan mereka semua untuk membantunya agar cepat menemukan Arasy.
Sementara itu, di dalam sebuah bangunan tua yang gelap. Seorang gadis kecil dengan tali yang terikat di seluruh tubuhnya tampak mengerjapkan mata, samar-samar ia mendengar seseorang sedang berbicara.
Ternyata, orang yang menculiknya di Rumah Hantu siang tadi tidak hanya satu orang. Tapi mereka tiga orang yang sudah bersekongkol untuk menculiknya, barangkali akan meminta tebusan besar dari orangtuanya.
"Lumayan, dia juga artis. Orangtuanya artis juga, mereka banyak duit." salah satu dari mereka berbicara.
Sepertinya mereka sudah lama mengincar Arasy sebelum akhirnya berhasil menculik gadis kecil itu.
"Coba aja, kalo anak yang cowok ikut juga masuk. Kita pasti dapet komisi yang jauh lebih gede." Arasy yakin orang berkepala plontos yang mengatakannya.
Ia melihat sekeliling, sepertinya hari sudah malam. Arasy tiba-tiba saja terisak. Tidak ada yang baik dalam tempatnya berada sekarang. Dinding disekitarnya tampak kumuh dengan lantai yang penuh debu. Bahkan kursi yang didudukinya saat ini amat usang dan kotor.
"Bunda. Ayah. Ethan, aku mau pulang." ia berucap pelan dengan setetes air mata yang jatuh membaalsahi pipinya.
"Laper,"
Arasy menatap sekelilingnya yang gelap. Penerangan di sana hanya sebuah lampu kuning temaram dan sebuah perapian yang menghangatkan.
"Sudah bangun?" seseorang menghampiri Arasy. Arasy menunduk sedalam-dalamnya. Ia merasa sangat takut. Takut, jika para penculik ini akan menyakitinya.
"Kenapa kamu tidak mengajak saudara kembarmu itu untuk masuk?" tanyanya dengan kasar. Arasy hanya mampu menggeleng ketakutan.
"Cantik juga, nih, bocah!" salah satu dari mereka berkata dengan senyum nakal.
"Jangan apa-apakan, aku. Aku mohon," gadis kecil itu memohon dengan menangis. Ketakutannya semakin menjadi, dalam hati ia bersumpah tidak akan memaafkan orang-orang ini.
"Jangan apa-apakan aku. Katakan, apa yang kalian mau? Uang?" Arasy mengingat pembicaraan mereka tadi.
Tiga pria berbadan tegap itu tertawa puas mendengar pertanyaan Arasy, atau lebih tepatnya penawaran.
"Bagus, pintar juga, nih, anak."
"Mana nomor telpon orangtua kamu?"
Arasy menggeleng, membuat tiga orang pria irltu marah. Salah satunya membuang puntung rokok dengan kasar dan mengumpati Arasy.
"Di tas!" Arasy menyahut spontan dengan gemetaran.
Dengan cepat si kepala plontos mengambil tas Arasy yang tergeletak di lantai. Ia mengambil salah satu buku yang ditunjuk Arasy. di mana di sana ia menyimpan nomor ayahnya.
__ADS_1
"Lu gak boong, 'kan, bocah?"
Arasy menggeleng. Orang yang barangkali adalah bos diantara mereka segera menghubungi nomor yang baru saja ia lihat tadi.
Sementara itu, di kediaman Zeinn Agyan. Freya tampak tidak tenang, bahkan ia sempat pinsan setelah melihat cctv di mana di sana dua orang berbadan tegap memasuki Rumah Hantu.
Para petugas Taman Bermain mengatakan jika mereka bukanlah pegawai di sana. Artinya mereka bukanlah orang baik-baik. Spekulasi jika Arasy diculik semakin diperkuat dengan ditemukannya anting Arasy di dalam Rumah Hantu.
Perasaan Freya kacau, ia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaaan putrinya saat ini. Bagaimana jika putrinya disakiti oleh para penculik itu?
Ethan yang baru saja selesai membuat susu cokelat hangat untuk sang Bunda segera mendekat. Grrycia dan Anna tampak setia berada di samping Freya.
Sementara para laki-laki tengah berunding untuk mencari cara menemukan Arasy. Bahkan Braga dan Morgan belum pulang ke rumah sejak sore tadi.
"Bunda," Ethan menyentuh bahu Freya. Wanita itu menoleh pada putranya dan tersenyum.
Ethan menyerahkan segelas susu buatannya pada Freya. "Biar Bunda lebih tenang," sahutnya. Grrycia tersenyum, mengusap lengan cucunya. Sementara Freya meminum sedikit susu dari Ethan.
"Kamu tidur, yah. Sudah larut malam," sahut Freya. "Ayo, biar Bunda antar." Freya bangkit menggandeng Ethan.
Sedangkan Agyan merogoh ponsel dari saku celananya. Ia segera menggeser ikon hijau tanpa melihat sang penelpon.
"Selamat malam." sapa Agyan.
"Selamat malam,"
Agyan mengernyit, ia melihat layar ponselnya. Nomor tidak dikenal. Raut wajah Agyan membuat semua orang di sana memusatkan perhatian padanya. Begitu juga Freya yang urung melangkah. Berharap mendapat informasi mengenai Arasy.
Agyan menekan tanda pengeras suara. Keadaan menjadi begitu senyap.
"Ayah."
Rengekan di sebrang telpon, membuat Freya spontan melangkah mendekat pada Agyan. "Sayang. Arasy,"
"Kamu di mana nak?" Freya bertanya dengan tidak sabaran.
"Bhlunda, Arasy takut, Bunda. Tolong,"
"Kamu di mana, Sayang. Bunda ke sana sekarang, oke."
Agyan dengan cepat menopang tubuh Freya yang hampir terjatuh, ia meletakan ponselnya di atas meja dan mengangkat tubuh Freya, membawanya duduk pada sofa.
Warry, merogoh ponselnya. Ia segera menelpon dokter untuk menangani Freya.
"Kamu tenang, aku yang akan mengurus ini." Agyan menenangkan istrinya.
__ADS_1
"Arasy, Gyan. Aku gak mau terjadi apa-apa sama Arasy."
"Aku gak akan biarian apapaun terjadi sama Arasy. Kamu tenang,"