
Airin
Aku tidur dengan lelapnya, dan terbangun saat mendengar Adzan subuh dari mesjid. Ku lihat disebelahku tak ada siapapun. Apa aku tidur sendirian semalam. Aku mengingat kejadian malam tadi. Mulai dari mas Devid pulang sampai mas Devid keruang kerjanya, aku memakai lingerie ini dan rebahan sambil menunggunya kembali ke kamar. Ternyata mas Devid tak kembali ke kamar, mungkin dia tidur di ruang kerja.
Tadi malam aku merasakan belaian dan ciuman. Ku raba bibirku, mungkinkah aku semalam bermimpi. Tapi aku merasakan ciuman itu begitu nyata, mas Devid menyentuhku dan menciumku. Tapi kemudian aku tak ingat apa apa lagi saking mengantuknya. Mungkin benar aku bermimpi. Ya Tuhan, dalam mimpi saja sentuhannya begitu terasa nyata apalagi kalau sungguh terjadi. Aku tersenyum sendiri membayangkannya. Tapi, seketika senyumku hambar mengingat kalau kenyataannya mas Devid tak tidur di kamar semalam. Sebegitu marahkah dia padaku.
Segera ku membersihkan diri dan bersuci, kemudian melaksanakan sholat subuh. Selesai sholat, aku menuju ke ruang kerja mas Devid. Ternyata benar, mas Devid tidur disana. Dia tertidur di sofa, tanpa bantal dan selimut. Ku dekati mas Devid, dia masih tertidur pulas. Ku perhatikan lebih dekat wajah yang kini telah mengisi hatiku. Wajahnya teduh dengan mata yang tajam. Awalnya aku takut menatap mata mas Devid. Karena kulihat sorot matanya sangat tajam. Tapi kian hari kurasakan kehangatan dalam pandangan mata ini. Ku sentuh pelan wajahnya, hidungnya, dan,,, bibirnya. Bibir yang semalam telah menciumku dalam mimpi. Ciuman yang sangat lembut dan manis. Seandainya saja itu bukan mimpi. Aku tersenyum mengingatnya.
Mas Devid sedikit bergerak, aku dengan cepat menarik tanganku dan berdiri menjauh. Aku malu kalau mas Devid sampai tau kalau aku telah membelai wajahnya. Mas Devid ternyata belum bangun. Tak ingin larut dalam perasaan, ku tepuk halus bahunya. Ku bangunkan mas Devid. Karena waktu sholat subuh sebentar lagi akan habis.
Mas Devid bangun dan melangkah ke kamar untuk sholat subuh. Sementara itu aku langsung turun ke dapur. Ingin membuat sarapan, mumpung Syfa belum terdengar suaranya. Mungkin dia masih tidur.
Setelah semua selesai dan Syfa pun sudah bangun. Kulihat mas Devid sudah berpakaian rapi. Tapi ini masih sangat pagi untuk dia pergi kerumah sakit. Tapi mungkin dia ada pekerjaan penting. Karena kan selain seorang Dokter, mas Devid juga seorang President Direktur rumah sakit.
Aku sedih, karena sikapnya masih sama. saat ku tawari sarapan dulu sebelum berangkat, lagi lagi dia menolaknya. Saat berpamitan pun sama sekali dia tak menatapku, apalagi tersenyum. Tak terasa airmataku pun jatuh, tapi cepat ku hapus segera. Aku tak ingin Bunda melihatnya. Aku tak ingin Bunda tau masalah rumah tanggaku.
Hari pun berlalu, dan belum ada perubahan. Malahan sekarang mas Devid tiap hari pulang sudah larut malam. Terkadang aku sudah tak tahan lagi menahan rasa ngantukku dan tertidur. Saat bangun ku lihat mas Devid sudah tidur disampingku. Meskipun aku tak tau jam berapa dia pulang, setidaknya dia tidak tidur diruang kerja lagi. Bagaimana kalau sampai Bunda tau mas Devid tidur disana. Pasti Bunda akan langsung menegur kami. Yang bisa ku lakuksan saat ini hanya memandang wajahnya saat sudah tidur. Wajah itu makin terlihat kusut. Seperti menanggung beban berat. Apa mungkin masalah rumah tangga kami yang membuat mas Devid seperti ini Atau kah ada masalah lain, tapi kenapa dia tak mau cerita padaku.
Hari ini seperti biasa, mas Devid berangkat ke rumah sakit. Dan berpamitan seperti biasa. Entah kapan akan seperti awal awal kami menikah dulu. Dia selalu mencoba usil untuk memancing senyumku. Sekarang justru saat aku sudah terbiasa dengan ke usilannya, malah mas Devid yang berubah. Entahlah sampai kapan rumah tangga kami akan seperti ini.
Untuk menghilangkan rasa sedih, aku berkreasi didapur. Aku ingin membuat masakan kesukaan mas Devid. Dan berniat mengantarkannya kerumah sakit. Mungkin nanti kalau mas Devid tak sibuk, kami bisa makan bareng di ruangannya. Rencana ini sedikit membuat hatiku terhibur. Syukurlah sekarang sudah ada pengasuh Syfa, yang membantuku menjaga Syfa.
__ADS_1
Aku sudah bersiap siap untuk kerumah sakit. Aku tak membawa Syfa, selain karena Syfa memang masih sangat kecil untuk dibawa ke rumah sakit. Bunda juga nggak mengizinkannya. Pak didin sudah di mobil siap untuk mengantarkan ku. Setelah pamit ke Bunda dan mencium Syfa aku pun berangkat ke rumah sakit. Syfa terlihat merajuk menangis manja karena aku tak mengajaknya ikut.
Tak lama aku sampai dirumah sakit. Aku memang baru beberapa kali datang kerumah sakit ini sebagai istrinya mas Devid. Tapi aku sudah tau jalan arah keruangannya. Para tenaga medis sudah banyak yang mngenaliku rupanya, karena sepanjang lorong banyak mereka yang menyapaku. Bahkan didepan tadi para security memberikan salam hormat padaku. MasyaAllah, beginikah rasanya menjadi istri orang yang berpengaruh. Tidak pernah terbayangkan kalau hidupku akan jauh lebih baik seperti ini. Bila mengenang masa lalu ku yang sangat pahit. Betapa sayangnya Allah padaku, sekarang aku bisa menikmati hidupku. Memiliki Ibu mertua sebaik Bunda. Punya suami sebaik dan setampan Dokter Devid.
Maka nikmat Tuhan yang mana yang bisa aku dustakan.Sungguh banyak karunia Allah untukku. Karena itu, aku akan melakukan apapun untuk kembali mendapatkan senyum suamiku. Agar dia ridho kepadaku dan Allah ridho kepadaku.
Setibanya didepan ruangan mas Devid, Asisten perawat tersenyum padaku. Syukurlah kalau dia juga sudah mengenaliku. Jadi aku tak perlu lagi memperkenalkan diri, karena aku masih canggung. Ternyata mas Devid ada rapat pemegang saham, begitu kata perawat itu. Aku di persilahkan menunggu didalam saja. Dan aku pun masuk ke dalam ruangan mas Devid.
Baru beberapa kali aku masuk ruangan ini Ruangan yang sangat nyaman. Aku pun berjalan jalan melihat lhat semua sisi ruangan kerja mas Devid. Aku tersenyum, ternyata ada fotoku diatas meja mas Devid. Foto kami bertiga. Aku , mas Devid dan Syfa. Disebelahnya juga ada foto Bunda. Aku semakin yakin kalau sebenarnya kami memiliki perasaan yang sama. Tapi aku masih belum mengerti kenapa sikap mas Devid sekarang berubah.
Aku pun duduk di sofa tamu, sambil membuka ponselku untuk menghilangkan rasa jenuh menunggu. Tba iba terdengar suara ponsel berdering. Itu suara ponselnya mas Devid. Aku biarkan saja sejenak sampai deringan itu berhenti dengan sendirinya. Tapi ponsel itu kembali berdering bahkan sampai beberapa kali. Aku pun melangkah ke meja kerjanya. Tapi tak ada ponsel disana. Kemudian suara deringan ponsel terdengar lagi. Arahnya berasal dari laci meja. Perlahan kubuka laci itu, tak terkunci karena kuncinya juga masih tergantung disitu. Benar dugaanku, ponsel mas Devid ada di laci itu, tapi tak lagi berdering. Ku tunggu sesaat, mungkin saja akan berdering kembali.
Cukup lama menunggu tapi ponsel itu tak berdering lagi. Perlahan ku tutup saja laci mejanya. Tapi aku sekilas melihat sebuah amplop coklat, dan sedikit terbuka. Isinya seperti foto, karena penasaran aku raih amplop itu dan membukanya. Mungkin perbuatanku salah sudah membuka barang pribadi mas Devid. Tapi entah kenapa aku sangat ingin melihatnya.
Tubuhku lemas, airmataku pun luruh. Cobaan apa lagi ini Tuhan, jeritku didalam hati. Dada ku sesak, sesaat aku jatuh ke lantai. Aku menangis tak bersuara. Siapa yang ingin menghancurkan kebahagiaanku. Tak bolehkah aku bahagia. Apakah mas Syahdan, apakah ini ulahnya. Sebegitu marahkah dia dengan keputusan ku kemaren. Tapi mungkinkah ini ulah mas Syahdan.
Aku segera bangun, dan mengambil foto foto itu. Sengaja ku tinggalkan amplop nya agar tidak mencurigakan mas Devid. Ku cuci muka ku ke kamar mandi, aku tak ingin perawat yang diluar tadi heran melihatku seperti habis menangis. Saat akan keluar dari kamar mandi, ku dengar ada yang masuk ke dalam ruangan. Apakah itu mas Devid.
"Apa anda yakin Tuan, mau menemui Pengacara Syahdan." Terdengar suara orang bertanya. Kenapa dia menyebut nama Syahdan.
"Ya, aku harus menemuinya sekarang juga. Terlepas dari apa yang sudah terjadi diantara kami. Aku ingin dia tidak menangani kasus ini. Semoga saja dia bisa mengerti." Itu suara mas Devid. Dia mau menemui Syahdan. Kasus ? kasus apa ? Ada masalah apa sebenarnya.
__ADS_1
"Baik tuan, kalau begitu izinkan saya menemani tuan kesana. Takut terjadi apa apa dengan Tuan. Mungkin saat ini Pengacara Syahdan juga sedang mengambil kesempatan untuk menghancurkan tuan." Aku yakin itu suara Anton, orang kepercayaan mas Devid.
"Tidak perlu. Kamu disini saja. Sambil tetap mencari kebenarannya Siap siapa saja yang menurutmu pantas untuk dicurigai." Jawab mas Devid.
Kemudian aku mendengar suara pintu dibuka dan tertutup kembali. Apakah mereka sudah keluar. Ku tunggu beberapa saat. Setelah yakin tidak ada orang barulah aku keluar dari kamar mandi. Apa mas Devid tidak tau kedatanganku. Apa perawat yang didepan tidak memberitaukan kalau aku menunggu didalam. Apa dia tidak melihat rantang makanan yang kubawa. Mungkin saja dia tidak melihat rantangku, ternyata rantangku tadi aku letakkan dibawah pinggir meja sofa. Jadi sedikit tertutup oleh meja.
Aku pun lalu keluar, kulihat tidak ada siapa pun diluar. Pantas saja mas Devid tidak tau aku datang. Perawatnya juga tidak berada di mejanya. Aku baru akan melangkah pergi, perawat itu pun datang dari arah lain.
"Maaf bu, tadi saya ke toilet.." Ujarnya.
"Iya, ngk pa2. Saya pulang aja." Jawabku.
"Dokter Devid belum kembali bu ?" Aku semakin yakin kalau tadi mas Devid tak bertemu perawat ini. Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Iseng aku tanya perawat itu. Ada kasus apa di rumah sakit. Dan perawat itupun bercerita. Aku semakin shock, ternyata masalah mas Devid cukup berat. Perawat itu pun kaget kalau ternyata aku tidak tau apapun tentang itu. Dia jadi ketakutan, takut mas Devid marah karena sudah memberitauku. Ku yakin kan perawat itu, kalau dia tidak akan dimarahi apa lagi kalau sampai di pecat. Aku jamin, dan perawat itu pun tampak tenang kembali.
Tak membuang waktu lama aku segera pergi Aku yakin mas Devid sekarang akan menemui mas Syahdan. Aku harus kesana, jangan sampai mereka saling tersulut emosi. Segera ku suruh pak Didin ke kantor Hukumnya mas Syahdan. Selama diperjalanan aku benar benar khawatir.Jangan sampai mereka berkelahi. Jangan sampai mereka saling menyakiti.
Hampir setengah jam kami dalam perjalanan. Begitu sampai aku segera turun dari mobil. Kulihat dari kejauhan mas Devid dan mas Syahdan tengah bicara. Dapat ku pastikan mereka sudah sama sama emosi. Terlihat dari raut wajah keduanya yang sama sama menahan amarah. Aku hampir mendekati keduanya Tiba tiba mas Syahdan melayangkan tangannya hendak memukul mas Devid. Refleks ku berlari, berniat untuk menarik mas Devid agar tak terkena pukulan itu. Tapi yang terjadi ku rasakan kepala bagian belakangku sakit dihantam dengan kuat. Dan aku pun ambruk dalam pelukan mas Devid.
Sesaat aku masih mendengar suara keduanya yang meneriakkan namaku. Aku memeluk mas Devid, kupandang wajah suamiku itu. Terlihat dia sangat mencemaskanku. Kupaksakan tersenyum.
__ADS_1
"Airin,, Airin... kenapa harus begini dek... " ujar mas Devid.
"Mas,, aku mencintaimu. Aku tak pernah selingkuh mas.." Entah kenapa, aku mengucapkan itu. Tapi memang itu yang hanya ingin ku sampaikan. Bahwa aku mencintai pria yang kini menjadi suamiku itu. Kemudian aku tak ingat apa apa lagi.