
"Aku ada syuting satu scene hari ini. Enggak bisa ditunda, akad nikah kamu sama Naina masih ada jeda dua jam, 'kan?" Zoya tampak terburu-buru bersiap. Pasalnya, syuting hari ini sangat mendadak. Ia yang awalnya mengira tidak ada jadwal syuting apapun akhirnya harus pontang panting bersaing dengan waktu.
Ethan yang baru saja masuk kembali ke kamar setelah sarapan hanya menatap istrinya yang tengah berdandan.
"Zoya."
"Kemungkinan aku bisa hadir, semoga, yah."
"Aku usahain buat cepet-cepet." sambung wanita itu, tak memedulikan panggilan Ethan sama sekali.
"Zoya." Ethan kembali berusaha memanggil wanita itu dengan lembut sekali.
"Mbak Selin nanti juga hadir di sana sama Randy, mereka harus akan acaranya beres dan aman." sahut Zoya lagi mengingat dua orang itu yang membantunya mengurus semua persiapan akad nikah.
Wanita itu benar-benar tak memedulikan raut semrawut Ethan, membuat pria itu geram hingga memilih untuk melangkah menghampiri Zoya. Menarik pergelangan tangan wanita itu. Lipstik di tangan Zoya terjatuh saat Ethan menarik tangannya, pria itu membaringkan Zoya di atas tempat tidur dengan kasar kemudian menindihnya.
Zoya hanya bisa pasrah saat Ethan menyerang bibirnya dengan cukup brutal. Ia tahu Ethan kesal dan marah padanya.
Tentu saja Ethan melakukan hal tersebut ketika melihat keadaan Zoya. Pasalnya, ia merasa sangat kesal sekali, dimana hari ini ia akan menggelar akad nikahnya dengan Naina. Justru wanita itu bersikap biasa saja. Tampak tidak perduli dengan Ethan. Apa wanita itu tidak cemburu?
Mengingat fakta tersebut, Ethan kian menyalurkan hasratnya pada wanita di bawah tubuhnya itu. Sedangkan tanpa Ethan tahu, jika sang istri jauh lebih terluka dari dirinya.
Ada setetes air mata merembes dari sudut mata Zoya ketika Ethan tak kunjung usai meluapkan kekesalannya. Ethan justru memperdalamnya dengan satu tangan di belakang tengkuk Zoya. Nyaris membuat Zoya kehilangan cadangan oksigen. Tapi selang beberapa detik setelahnya, Ethan menjatuhkan tubuhnya ke samping Zoya dengan napas terengah-engah.
Posisi tangan pria itu menutup matanya. Sementara Zoya juga meraup oksigen banyak-banyak, menhatur napasnya yang berantakan. Ia tidak marah atas apa yang Ethan lakukan, ia justru iba pada suaminya tersebut. Semua memang tampak tidak mudah. Semua terlihat begitu sulit dalam rumah tangga mereka.
Zoya menoleh pada Ethan yang tak mengeluarkan sepatah katapaun. Dada pria itu masih naik turun tak beraturan. Zoya perlahan mendekat dan mendekap tubuh Ethan. Spontan membuat pria itu terisak dan menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di ceruk leher Zoya.
"Maaf Ethan, maaf." ia berbisik pelan di telinga pria itu.
***
Mata Ethan masih memerah saat Zoya memasangkan dasi untuk pria itu. Tak ada yang keluar dari bibir keduanya setelah kejadian beberapa saat lalu, baik Ethan maupun Zoya mendadak bisu. Hening menyelimiti setiap sudut ruang kamar.
"Randy bakalan jemput ke sini." beritahu Zoya setelah sangat lama keduanya hanya saling terdiam.
Ethan tak menyahut. Begitu dasinya terpasang sempurna. Ia mendaratkan dirinya di tepi tempat tidur. Zoya tersenyum simpul melihatnya. Mendekat pada Ethan, dan berdiri di hadapan pria yang tengah terduduk lemas itu.
Zoya menaruh kedua pergelangan tangannya di pundak Ethan, mencoba tersenyum sekalipun seluruh permukaan wajahnya terasa kaku. Ethan mendesah, melingkarkan tangannya di pinggang Zoya.
"Kamu tidak apa-apa Zoya?" pria itu baru buka suara. Mata keduanya saling bersitatap, Zoya menggelengkan kepala setelah cukup lama.
"Saya tidak baik-baik saja Zoya." beritahunya kemudian. Ethan tidak dapat membayangkan akan bagaimana kisah mereka ke depannya.
__ADS_1
"Semoga kita kuat, yah, Ethan." hanya itu yang dapat Zoya katakan. Hening kembali terjadi bersamaan dengan Zoya yang mendaratkan kecupan hangat penuh kasih sayang di dahi Ethan.
Menempelkan bibirnya lama di sana, membuat Ethan memejamkan mata merasakan aliran darahnya menghangat. Sementara tangannya kian merengkuh pinggang Zoya.
***
Zoya turun ke lantai bawah dengan membawa sebuah kebaya yang sudah ia pesan dua hari yang lalu dari butik langganannya Zoya cukup yakin jika kebaya tersebut akan cocok dengan tubuh Naina. Ia tersenyum begitu mendapati gadis itu tengah duduk di sofa ruang utama.
Gadis itu segera beranjak dari duduknya saat melihat Zoya, ia sudah cukup lama menunggu Zoya dengan Ethan turun dari lantai atas dengan perasaan tak karuan, tapi ia tak melihat Ethan ikut turun.
Naina menatap sebentar sebuah kebaya putih yang wanita itu bawa.
"Setidaknya kamu harus memakai kebaya. Supaya lebih cantik lagi." sahut Zoya. Naina tersenyum hambar, sejak semalam dadanya terus berdebar mengingat hari ini ia akan melangsungkan akad nikah–dengan suami orang lain.
Zoya menyerahkan kebaya tersebut pada Naina. Gadis itu dengan ragu menerimanya. "Mbak Zoya enggak akan hadir di acaranya nanti?" tanya Naina setelah beberapa saat begitu melihat wanita itu tampak rapi, seperti akan pergi ke suatu tempat.
"Saya ada syuting sebentar." sahut singkat Zoya.
"Semoga bisa, yah,"
"Nanti Mbak Selin bakal bantu kamu dandan, yah." sambungnya, Naina hanya mampu mengangguk. Tidak ada yang bisa ia katakan, bahkan ketika Zoya pamit untuk pergi ke lokasi syuting.
Tak lama setelah Zoya berlalu, Selin masuk ke dalam. Wanita itu baru saja tiba dan bertemu dengan Zoya di pintu gerbang. Zoya menyuruhnya untuk langsung masuk dan membantu Naina.
"Mbak Selin." Naina tampak terkejut melihat kehadiran wanita itu. Selin tersenyum, Zoya sudah berpesan agar ia memperlakukan Naina dengan baik, tentu saja hal tersebut akan Selin lakukan.
***
Gadis itu tampak cantik dan anggun dengan make up flawlessnya, meski cukup terlihat jelas jika gadis itu tampak gugup. Ethan sudah dapat menduga jika Selin yang mendandani gadis itu. karena setaunya, Naina tidak pandai berdandan.
"Sudah siap?" tanya Randy begitu melihat orang yang ditunggu-tunggu ada di antara mereka. Ethan mengangguk samar. Lantas berlalu lebih dulu dengan Randy. Selin dan Naina mengekor di belakang dua pria itu. Selin menggandeng Naina karena gadis itu cukup kerepotan dengan kebayanya.
Sepanjang perjalan menuju Kantor Urusan Agana. Randy benar-benar tidak percaya, jika pria di sampingnya, pria yang sangat mencintai istrinya itu akan menikah lagi dengan gadis lain demi mendapatkan keturunan. Lebih parahnya lagi, ia menikahi gadis yang selama ini tinggal di rumahnya.
Randy menggeleng takjub, sepertinya tiga orang itu sudah terikat dengan takdir.
**
Usai syuting, Zoya segera meluncur menuju Kantor Urusan Agama, tempat di mana suaminya akan melangsungkan akad nikah dengan wanita lain.
Zoya sempat terdiam sesaat begitu ia tiba di Kantor Urusan Agama yang Selin kirimkan alamatnya. Tiba-tiba saja Zoya merasa kepalanya pusing, ia bagai de'javu berada di sana.
Wanita itu lebih dulu menghela napas, mengukir senyum dan menenangkan dirinya sebelum kemudian membiarkan kakinya memijak anak tangga pada beranda Kantor Urusan Agama. Semua ada dalam kendali Zoya, semua berjalan karena keinginannya.
__ADS_1
Jadi Zoya harus tegar dan menerima semuanya. Karena hal tersebut terjadi atas keinginannya.
Orang yang pertama dilihatnya begitu ia masuk adalah Selin yang mengukir senyum padanya dengan sorot mata iba dan penuh kesedihan, sedangkan Zoya tersenyum lebar dan berjalan mendekat pada salah satu kursi kosong tepat di bekakang mempelai pengantin, ia duduk di sana dan kian tidak asing dengan suasana di sekelilingnya.
Zoya merasa jika dirinya pernah berada dalam posisinya saat ini. Zoya mengedarkan pandangan dan melihat satu persatu orang yang hadir di sana.
Tidak banyak orang yang hadir di tempat tersebut, hanya ada sekitar sepuluh orang termasuk orang yang menjadi wali nikah Naina dan beberapa saksi.
Zoya manatap punggung suaminya lekat-lekat ketika pria itu mulai menjabat tangan penghulu. Ada ketidakrelaan di relung hatinya yang terdalam ketika penghulu mengucapkan ijab kobul. Lantas disusul oleh suaminya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ananda Naina Mehrunisa binti Safar Raharjo dengan mas kawin tersebut. Tunai." pria itu mengucapkan hanya dalam satu tarikan napas.
Zoya ikut tersenyum, entahlah apa rasanya. Yang pasti, sesak juga bahagia bercampur jadi satu di dalam hatinya. Juga ada kelegaan yang tak bisa ia jelaskan.
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sah." serempak beberapa saksi dan orang yang hadir berucap sah, begitu juga dengan Zoya. Ia mengangkat tangan guna berdoa, mengaminkan doa-doa yang terpanjat dari sang penghulu. Semoga ia dengan suaminya dapat terus bahagia–melalui perantara Naina.
Artinya, hidup barunya, hidup Ethan, Naina dan juga rumah tangga mereka baru saja dimulai. Ethan dengan Zoya baru saja menginjak babak baru cerita rumah tangganya.
Ethan yang baru saja menyelesaikan ijab kobul dan berdoa sempat menoleh ke belakang, mencari di mana keberadaan orang terkasihnya yang katanya akan datang usai syutingnya selesai. Sampai kemudian ia menangkap sosok wanita cantik tepat di belakangnya. Tersenyum padanya dengan sorot penuh cinta. Meski ada sorot kesedihan di mata Ethan dan Zoya, keduanya dapat membaca sorot mata yang terpancar dari orang terkasihnya.
Keduanya tenggelam dalam tatapan itu ketika mata keduanya bertatapan dalam satu garis lurus, saling mengunci sampai Ethan merasakan seseorang yang menyentuh tangannya. Rupanya Naina yang melakukan hal tersebut untuk kemudian mencium punggung tangannya, membuat tatapannya dengan Zoya terputus.
Ragu, tetapi Ethan harus melakukannya. Untuk pertama kali, ia menyentuh wanita lain, tepat di hadapan Zoya.
Sementara Zoya menghalau air matanya ketika Ethan mendaratkan kecupan di dahi Naina. Di dalam hidupnya, ketika Zoya menyadari kebesaran cinta Ethan padanya, ia tak pernah membayangkan sedikitpun, jika kelak ia harus berbagi pria itu dengan orang lain. Dengan wanita lain.
Ia tidak pernah membayangkan sedikitpun jika pada akhirnya ia akan membagi cinta Ethan dengan perempuan lain.
Dengan Naina.
Tepat sekali, sekarang Zoya ingat jika ia memang pernah ada di sana. Dalam mimpinya, apa yang sekarang terjadi di depan matanya persis seperti mimpi Zoya tempo lalu.
Iya, Zoya yakin. Mimpinya sama persis.
Entahlah Zoya harus menyebutnya seperti apa.
Mimpi yang jadi kenyataan?
Atau ..., mimpi buruk?
TBC
__ADS_1
follow ig-ku eva_yuliaaan_04
Cek juga Sorry Tuan Presdir di platform sebelaah❤❤❤