
Shinta bergegas keluar dari cafe, setelah mendapat panggilan dari seseorang.
Karena memang di saat hendak pergi, wanita itu kembali lagi mengaktifkan ponselnya.
Namun sayang, pangilan malah di akhiri. Dan tak lama kemudian masuklah sebuah pesan sms.
Shinta berfikir sesaat!
"Benar-benar tidak beres!" gumamnya yang langsung memutuskan untuk segera pergi kesana, ingin menemui bocah ingusan itu.
"Kemana perginya dia?" tanya Samudra merasa heran, dan Helen pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Singkat cerita!
Setelah beberapa menit kemudian. Shinta akhirnya sampai juga dan langsung bertemu dengan Dion.
"Ada apa kau memanggil ku kesini?" tanya Shinta, yang langsung membuat Dion reflek tersenyum.
"Duduklah terlebih dahulu! Jangan terburu-buru seperti itu nona!"
Dengan malas akhirnya Shinta menuruti kemauan Dion, dan duduk tepat di hadapan pria itu.
"Aku mengetahuinya!" ucap Dion lagi setelahnya.
Mata Shinta langsung menyipit seketika.
"Mengetahui apa?" tantangnya seolah tidak merasa takut.
"Kau menikah dengan pengacara itu?" tanya Dion masih belum mau percaya sebelum Shinta sendiri yang mengakuinya, karena ia berfikir mungkin anak buahnya itu salah informasi. Karena mana mungkin seorang Andika mau menikah dengan pembunuh bayaran.
"Iya. Lalu?"
"Aku tidak pernah menyangka Andika melakukan hal ini. Apa dia tau tentang dirimu jika kau adalah seorang pembunuh?"
"Tentu saja dia tau, memangnya kenapa? Kau terlihat cukup penasaran tentang kehidupan rumah tangga ku!" balas Shinta sembari melipat kedua tangan nya di dada.
__ADS_1
"Bukan begitu, aku hanya tidak bisa menerima tentang kenyataan ini." ucap Dion sembari terus menatap wajah cantik Shinta yang tiada bosan-bosannya untuk ia puji di dalam hati.
Sampai-sampai membuat Shinta sendiri pun menjadi risih, dan tidak nyaman karena di tatap terus-terusan seperti itu.
Hingga akhirnya wanita itu memutuskan untuk berbicara, agar Dion dapat mengalihkan pandangan dari wajahnya.
"Memangnya kenapa jika aku pembunuh? Kami saling mencintai, jadi dia pasti akan menerimaku apa adanya." ucap wanita itu.
"Hm ya kau benar! Jika itu terjadi kepada ku, aku pasti akan menerima mu juga apa adanya."
"What?" pekik Shinta. "Maksud mu?" tanya nya lagi, karena menurut Shinta ucapan dari Dion barusan terasa ambigu. Apa mungkin pria ini menyukainya? Tapi rasanya seperti tidak mungkin!
"Hh, lupakanlah! Ayo nikmati makanan yang sudah ku pesan kan untukmu."
Setelah mempersilahkan Shinta, Dion langsung terdiam memikirkan tentang perasaannya saat ini. Menurutnya tidak ada yang salah dengan pekerjaan Shinta! Jika seandainya wanita itu belum memiliki suami sekarang, sudah bisa di pastikan jika ia pasti akan segera menikahinya.
Cintanya kepada Shinta benar-benar buta! Tapi satu hal yang tidak pernah terpikirkan di dalam benaknya, yaitu merebut wanita yang sudah menjadi milik orang lain. Sejahat-jahatnya Dion, pria itu sama sekali tidak berniat untuk mengambil Shinta dari Andika.
Di sela-sela Shinta sedang sibuk menyatap makanannya, sementara Dion sendiri kini telah selesai.
Tentu Shinta langsung di buat keheranan karena hal itu. Tidak ada hujan maupun badai tapi secara tiba-tiba pria yang ada di hadapannya ini malah meminta maaf. Padahal menurut Shinta, Dion sama sekali tidak punya kesalahan apapun.
"Maaf untuk apa?" tanya wanita itu, bahkan ia sampai menghentikan sejenak aktivitas makan nya, dan beralih kini memandang ke arah Dion.
"Maaf karena sudah merencanakan pembunuhan terhadap suamimu! Aku menyesal karena pernah memiliki niat seperti itu." balasnya dengan tulus, wajah polos pria muda itu langsung saja memancing tawa bagi Shinta. Sampai-sampai membuat Dion menjadi bingung sendiri, dan reflek ikut tertawa juga.
"Kau kenapa?" tanya pria itu dengan tertawa kecil.
Sementara Shinta masih saja terus tertawa tidak jelas, hingga merasakan perutnya yang terasa keram.
"Aduh, duhh!" ringisnya merasa ngilu.
Reflek Dion langsung berdiri, dan mendadak khawatir dengan kondisi Shinta. "Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa! Perut ku hanya terasa sakit dan keram." jawabnya.
"Baguslah kalau begitu!" Dion pun langsung kembali lagi duduk di tempatnya semula.
__ADS_1
"Oh ya tentang perkataan mu tadi. Jangan bilang! Kau pasti takut jika aku akan melaporkan tentang pembunuhan ini pada Andika. Iya kan?" tebak Shinta merasa yakin. Dia berfikir mungkin Dion takut jika harus masuk penjara, padahal tidak ada di dalam benak Shinta sekalipun untuk mengadukannya kepada Andika.
"Tidak! Kau salah, sudah ku katakan jika aku benar-benar menyesal melakukannya. Mana mungkin aku tega membunuh suami dari orang yang ku cintai. Aku tidak ingin kau menjadi janda!" balas Dion serius.
"Apa, kau mencintaiku?" Barulah Shinta paham jika Dion memang memiliki perasaan kepadanya.
"Sejak kapan?" tanya nya lagi akibat merasa penasaran.
"Sejak pada saat kau menolak tawaranku!"
"Hm, kalau kau mencintai ku! Bukankah seharusnya kau senang jika aku menjadi janda? Maka dari itu kau bisa menjadikan ku sebagai istrimu." ujar Shinta, kini wanita itu telah kembali melanjutkan makannya. Dengan sesekali melihat ke arah Dion.
"Tidak akan semudah itu! Yang ada kau malah akan membenciku nantinya, dan aku tidak bisa melihat mu bahagia."
Jawaban dari Dion benar-benar di luar nalar bagi Shinta.
"Kau, sejak kapan pikiranmu bisa berubah menjadi seperti ini?" tanya Shinta dengan sedikit tertawa akibat merasa geli.
Tidak menyangka jika bocah ingusan yang di temuinya pada saat itu kini telah berubah jauh dari sebelumnya. Karena pada saat itu pikiran Dion memang sangat kekanak-kanakan, sementara Dion yang ia temui sekarang! Benar-benar berbeda jauh dan telah menjadi dewasa dalam waktu yang singkat.
"Sudah ku katakan sejak aku mengenalmu pikiran ku langsung berubah"
"Hm baiklah, terima kasih atas perhatiannya karena kau memikirkan tentang statusku, dan tidak ingin aku menjadi janda. Karena kebetulan aku memang sedang hamil muda sekarang! Jadi kau pasti tidak akan tega melihat ku mengurus anak sendirian. Jadi kau benar-benar mengurungkan niat untuk rencana awalmu kan?" tanya Shinta dengan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Dion.
"Iya, tentu saja!" balas pria itu canggung. Pasalnya melihat wajah Shinta dari jarak yang cukup dekat, mampu membuat darahnya langsung berdesir hebat, begitu pun juga dengan jantungnya yang tak kalah ikut deg-degan.
"Setidaknya kita bisa berteman sekarang!" ucap Shinta yang langsung mengulurkan tangannya kepada Dion, dan Dion sendiri awalnya cukup ragu untuk menerima uluran tangan Shinta.
Entah mengapa rasanya hati Dion sedikit tercubit, dan merasakan sakit!
Teman? Hanya teman? Tidak bisakah dirinya dan juga wanita itu memiliki hubungan yang lebih dari ini?
Jawabanya tidak! Shinta bilang mereka berdua saling mencintai, dan juga bahkan saat ini wanita itu sedang mengandung anak dari Andika. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal itu? Menghancurkan hubungan mereka berdua.
Biarlah dirinya rela melupakan tentang permusuhan sengit antara nya dan juga Andika demi Shinta. Ia ingin berdamai dengan keadaan!
Bahkan rencananya yang ingin membunuh pria itu kini sudah menghilang, dan ingin meminta maaf saja! Jika ia melakukan hal itu, dan melukai Andika, otomatis Shinta juga pasti akan ikut terluka. Sementara ia tidak ingin wanita itu tergores sedikitpun!
__ADS_1