
Zoya hanya duduk pasrah di kursi penumpang, Suaminya fokus menyetir dan sudah beberapa jam tidak berbicara padanya. Marah Ethan yang selalu Zoya takutkan – diam. Jika sudah diam, pria itu sangat betah mengabaikan segala hal di sekitarnya, terutama orang yang membuatnya marah.
Sejak menunggu pekerjaan pria itu selesai, meski pegal Zoya tetap setia berada di ruang kerja sang suami, walau Ethan tak menganggapnya ada.
Zoya merasa apa yang dilakukannya tidaklah salah. Ia meminta izin pada Ethan dan akan mengambil film tersebut jika memang Ethan mengizinkan, jika tidak maka ia juga tidak akan mau.
Tapi Ethan seolah menyalahkannya. Padahal pria itu akan sangat marah jika Zoya tidak bertanya dan langsung saja mengambil film tersebut. Ternyata usahanya menghargai pendapat sang suami sia - sia saat sang suami justru menyalahpahami maksudnya.
Zoya baru sadar jika mobil yang Ethan kemudikan sudah sampai di pelataran rumah, sepanjang perjalan keduanya hanya terdiam. Bahkan pria itu sudah turun dan tengah berjalan masuk. Benar - benar mengabaikan dirinya.
Zoya dengan malas mengikuti langkah kaki pria itu. Indera penciumannya segera menangkap harum yang berasal dari dapur. Membuat perutnya merasa lapar, ini sudah jam makan malam. Terlebih siang tadi ia merasa makannya tidak enak karena perdebatannya dengan Ethan. Ia lebih memilih membelokan langkahnya ke dapur, sedangkan Ethan yang merasa jika sang istri tidak mengikutinya lagi lantas menoleh, ia tak mendapati Zoya.
"Kamj masak apa?" tanya Zoya begitu tiba di dapur. Beberapa menu makanan sudah terhidang dengan sangat menggiurkan di atas meja. Sup tahu udang, telur ceplok cabe ijo, ayam goreng serundeng dan udang pedas gurih. Zoya benar - benar merasa lapar sekarang.
"Kamu pinter masak ternyata." decak Zoya setelah melihat hasil masakan yang membuatnya berliur. Naina tersenyum mendengar pujian wanita cantik itu.
"Sudah terbiasa Mbak."
"Asik kayaknya kalau saya juga bisa masak. Biar bisa masakin Ethan," sahut Zoya yang membuat Naina mengernyit mendengarnya.
"Mbak Zoya nggak bisa masak?"
"Hmm, hanya sedikit." Zoya menyahut putus asa, belum lagi kesibukannya memaksa ia untuk berjauhan dengan urusan masak memasak.
"Saya bisa ngajarin Mbak Zoya kalau Mbak Zoya mau " tawar Naina tampak tulus.
"Beneran?" mata Zoya berbinar. Sekali pun ia pernah beberapa kali belajar masak dengan Freya. Nyatanya semua terasa berbeda meski Freya dengan sabar mengajarinya. Ia merasa canggung dan malu pada Freya karena tidak bisa memasak untuk Ethan.
"Boleh kalau memang Mbak Zoya mau."
"Mau banget, kapan - kapan, yah. Kalau saya lagi gak sibuk."
Naina mengangguk antusias, Zoya juga tersenyum tak kalah antusias. Sama halnya dengan Ethan yang diam - diam tersenyum mendengarnya. Ia merasa penasaran dengan apa yang istrinya lakukan, sehingga ia mencari Zoya dan mengikuti langkah wanita itu ke dapur.
__ADS_1
"Oh, yah. Saya mau ingetin. Kalau masak, bawang putih jangan kebanyakan. Ethan nggak suka," sahutnya. Naina terdiam sebentar, kemudian mengangguk. Sedangkan kepalanya membayangkan kejadian pagi tadi di mana Ethan tidak menghabiskan sarapan. Karena menu sarapan yang ia buat adalah nasi ayam goreng bawang putih. Pantas saja Ethan tidak menghabiskan sarapannya. Tapi herannya pria itu tidak protes apalagi memakinya seperti apa yang terjadi dalam film.
"Saya mandi dulu, setelah itu kita makan malam bersama." sahut Zoya lagi, kemudian berlalu begitu Naina menganggukan kepala saat sadar dari lamunannya.
Gadis itu hanya diam menatap masakan buatannya. Beruntung, ia pandai melakukan segala pekerjaan rumah. Tidak sulit baginya melakukan hal seperti ini. Meski ia masih tidak habis pikir dengan Ethan yang tidak protes akan masakannya pagi tadi.
**
Gemericik air dari dalam kamar mandi membuat Zoya memilih duduk di tepi tempat tidur, menunggu suaminya selesai. Ia meregangkan tubuh dan melemaskan otot ototnya setelah setengah hari hanya duduk di ruang kerja Ethan tanpa diajak bicara sedikit pun, membuat mulut dan seluruh tubuhnya terasa kaku.
Ethan keluar dari kamar mandi dan segera menuju walk in closet, benar - benar mengabaikan keberadaan Zoya. Wanita itu berdecak, masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri.
Sedangkan Ethan yang sudah selesai mengenakan pakaiannya menatap pintu kamar mandi yang tertutup di mana Zoya ada di baliknya. Kemudian keluar dari kamar dan berjalan ke dapur. Naina berada di sana tengah membereskan perlatan memasak yang tadi digunakannya.
Ethan berjalan ke arah dispenser, hendak mengambil gelas namun tubuh Naina menghalanginya. Sedangkan gadis itu juga tak kunjung beranjak karena merasa risih jika tiba - tiba bergerak. Sehingga yang dilakukan keduanya hanya saling terdiam. Hingga hati Naina menggerutu kecil karena Ethan tak kunjung beranjak.
"Pak Ethan membutuhkan sesuatu?" tanya Naina kemudian, mengalah dan lebih baik baginya untuk bertanya pada sang majikan.
"Saya butuh gelas." sahut Ethan, datar.
"Udah beres Na?" tanyanya pada Naina. Naina mengangguk. "Sudah Bu." ia menyahut sopan. Ethan yang sudah menghabiskan segelas air lantas duduk di tempat biasanya. Begitu juga Zoya.
"Kamu makan bareng kita yah." ajak Zoya kemudian. Ia mendehem, meski ragu tetap meraih piring Ethan dan mengisinya dengan nasi juga beberapa lauk seperti biasanya.
Naina menatap keduanya bergantian, ia merasa ada yang janggal dan mungkin dugaannya tidak salah jika dua orang itu sedang bertengkar. Atau lebih tepatnya sedang perang dingin.
"Naina," tegur Zoya saat gadis itu hanya diam.
"Oh, ada apa Bu?"
"Tidak usah." ia baru ingat apa yang semula Zoya tawarkan agar ia makan malam bersama dengan mereka.
"Nggak papa, makan bareng aja. Lagian saya nggak enak juga makan sendirian," sahut Zoya yang membuat Ethan menahan sendoknya di udara. Merasa tidak dianggap, padahal seharusnya ia yang memperlakukan Zoya seperti itu. Ethan memilih tak perduli dan melanjutkan makannya tanpa mau ikut campur dengan Zoya yang tengah membujuk Naina agar makan malam bersama.
__ADS_1
"Ayo." ajak Zoya lagi. Merasa sang majikan memaksa dan juga tengah melancarkan serangan pada Ethan, akhirnga ia memilih duduk dan bergabung untuk makan.
Sekali pun ia baru dua puluh empat jam tinggal dengan Ethan dan Zoya. Rasanya melihat dua manusia itu tidak saling menyapa membuatnya merasa ada yang kurang. Jika biasanya Ethan akan tampak manja pada Zoya dan Zoya memperlakukannya dengan biasa, maka kali ini berbeda saat pria itu justru diam dan tak memerdulikan Zoya, sebaliknya Zoya pun bersikap acuh dan mengabaikan pria itu.
"Gimana? Kamu betah?" pertanyaan Zoya membuatnya membuyarkan lamunan yang sedang menerka pasangan muda tersebut.
"Hmm, betah Mbak. Lagipula kan ini baru sehari."
"Oh, yah. Gimana tadi pagi pas belanja. Kamu nggak kesasar?" Zoya baru mengingatnya. Naina menggeleng pelan.
"Skretaris Pak Ethan ngirim saya sopir. Jadinya dianter dan dibantu belanja Mbak." jujurnya yang membuat Zoya mengangguk - anggukan kepala. Sekilas menatap Ethan yang asik sendiri dengan dunianya.
Bahkan saat makan malam usai, Ethan berlalu begitu saja ke kamar dengan alasan jika tubuhnya kelelahan dan harus segera diistirahatkan. Padahal Zoya tau pria itu. Ethan tidak mungkin tidur dibawah jam sembilan malam kecuali jika sedang sakit.
"Oke, kalau gak butuh. Awas aja kalo nanti minta - minta." gerutu Zoya saat punggung suaminya itu kian menjauh dari hadapannya.
Ia memutuskan mengobrol dengan Naina, berjalan - jalan dan memberitahu bagian - bagian rumahnya pada gadis itu yang tampak antusias.
"Mbak Zoya bikin rumah ini sama Pak Ethan setelah menikah?" tanya Naina, keduanya baru saja mendudukan diri di kursi teras setelah selesai mengitari rumah.
"Hmm." Zoya berpikir, tersenyum mengingat jika Ethan sudah membuat rumah ini jauh sebelum menikah dengannya. Bahkan menyiapkan ruangan khusus tentangnya.
"Hmm, jauh sebelum menikah." sahutnya. Ia menoleh pada Naina. "Jauh sebelum menikah sama saya, Ethan udah siapin rumah ini."
"Pak Ethan romantis, yah."
"Sedikit." sahut Zoya yang tertawa setelahnya, Naina memperhatikannya, melihat dengan baik bagaimana cantik wanita itu ketika tertawa lepas. Pemandangan yang bahkan disukai kaum hawa.
"Saya merasa wajah Mbak Zoya tidak asing."
"Benarkah?" Zoya menangkup wajahnya. Naina mengangguk.
"Kayaknya pernah liat Mbak Zoya tapi gak tau di mana." kali ini Naina tampak berpikir dengan keras, bahkan menolak Zoya untuk mengganggunya. Membuat Zoya tersenyum melihat ekspresi gadis itu.
__ADS_1
"Lupa. Tapi saya pernah kok liat Mbak Zoya." sahutnya lagi dengan penuh keyakinan. Zoya hanya mengangguk - anggukan kepala, namun begitu ia melarang Naina berpikir keras. Juga tak memberitahukan pada Naina jika dirinya adalah seorang aktris. Cepat atau lambat Naina akan tau siapa ia sebenarnya.
TBC