Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
ETHAN


__ADS_3

Beberapa kali Freya membuka gorden dan melihat pelataran rumahnya, barangkali Agyan sudah sampai. Tapi nihil, suaminya itu tak kunjung terlihat. Waktu sudah hampir pukul sepuluh malam, tapi Agyan belum berada di rumah. Ia tidak pulang.


Menghadirkan kecemasan di hati Freya dan membuatnya khawatir, takut Agyan benar-benar tidak akan pulang karena masih marah padanya.


To : Gyan❤


Jangan lupa makan siang.


Freya mendesah, chat yang dikirimnya tadi siang tak kunjung mendapat balasan, bahkan ponsel milik Agyan tidak bisa dihubungi sama sekali.


"Kamu masih marah, nggak akan pulang?" Freya berbicara sendiri, bersamaan dengan suara khas motor yang memasuki pelataran rumahnya, sejenak Freya terdiam sampai pintu di hadapannya terbuka.


Seketika Freya berhambur memeluk Agyan, rasa cemas yang sejak tadi menghantuinya sirna seketika melihat Agyan berada di hadapannya.


"Aku kira kamu nggak akan pulang."


"Kamu masih marah?" tanyanya tanpa mengubah posisinya dengan Agyan. Agyan hanya tersenyum, kemudian mengusap rambut istrinya dan mencium keningnya.


"Aku nggak mungkin nggak pulang. Tempat pulang aku, 'kan cuma kamu." sahutnya menenangkan, perasaan Freya menghangat. Pertengkaran mereka tadi pagi seolah tidak pernah terjadi.


"Kamu udah nggak marah?" tanyanya, kali ini memundurkan wajahnya menatap Agyan, sementara tangannya masih memeluk tubuh Agyan. Agyan menggeleng, Freya tersenyum senang. Sampai ia menyadari jika ada luka pada ujung bibir suaminya.


"Ini kenapa?" tanyanya, khawatir. Agyan menyentuh ujung bibirnya, ia mengingat kejadian dengan Braga tadi.


"Oh, ini. Nggak papa, jatoh dari motor aja." dustanya, Freya menggeleng samar. Ia tidak mungkin percaya begitu saja. Terlebih, luka di ujung bibir Agyan bukan luka karena terjatuh dari motor. Tapi lebih seperti luka akibat pukulan.


"Kamu berantem sama siapa?"


"Nggak berantem, Sayang."


"Ta—"


Agyan menarik Freya kembali ke pelukannya, tidak membiarkan istrinya itu untuk kembali berbicara. Ia tidak ingin membuat Freya khawatir dan berpikir macam-macam.


Ia tidak ingin membuat Freya cemas sedikit pun. Ia hanya ingin membuat Freya bahagia, hanya bahagia yang akan ia berikan.


Sesaat, Agyan mengingat obrolannya dengan Gavin saat mereka makan siang. Tentang Freya yang ingin pergi ke acara peragaan busana. Agyan harus merubah keputusannya.


"Oh, yah. Kamu mau pergi ke acara peragaan busana itu?" tanya Agyan, Freya perlahan melepas pelukannya, ia menatap Agyan dengan ragu dan bingung, sementara pria tampan itu hanya tersenyum.


"Aku bakal temenin kamu ke acara peragaan busana minggu depan."


"Kamu kasih aku izin?" Freya bertanya dengan tatapan tak percaya. Agyan mengangguk, membuat Freya senang.


"Aku yang akan temenin kamu." Agyan kembali memeluk Freya. Rasanya, satu hari tidak bertemu, ia merasa rindu.


*


*


Grrycia hanya terdiam menatap figura besar yang berada di ruang keluarga rumahnya. Andreas yang akan menghampiri wanita itu untuk mengajaknya beristirahat ikut menatap figura tersebut.


Andreas mendesah, ia menyentuh bahu istrinya. "Kita istirahat, udah malem."


"Aku kangen Agyan, Mas."


"Harusnya dia tinggal sama kita, di sini." ucapnya dengan sedih. Andreas menggeleng pelan.


"Agyan harus menjadi mandiri, Sayang."


"Mandiri, atau hanya karena kamu nggak suka Freya tinggal sama kita!" Grrycia berkata tanpa menatap Andreas.


Andreas menggandeng Grrycia dengan perlahan. "Grrycia, Agyan putra saya. Putra kita satu-satunya, bukan tanpa alasan saya memberinya jalan yang sulit."


"Dia harus tau bagaimana sebenarnya kehidupan ini berjalan."


"Dan bagaimana seharusnya dia berjuang."


*


*

__ADS_1


Agyan hanya memperhatikan Freya yang enggan beranjak dari tempat tidur, waktu sudah berlalu dengan cepat pagi ini. Bahkan perut Agyan sudah keroncongan minta diisi. Tapi istrinya justru malah menahannya di sini. Ia enggan beranjak ke mana pun.


"Gyan,"


"Hmmm," setengah kesal Agyan menggumam dengan lengan yang berada di atas matanya.


"Aku mimpi." sambung Freya yang hanya kembali disahuti gumaman oleh Agyan.


"Ketemu anak cowok,"


Agyan menyingkirkan tangannya, kemudian menoleh pada Freya yang berada di atas lengan kanannya. Ia mulai penasaran.


"Dia panggil kamu Ayah." katanya, menatap dalam mata Agyan, pria itu hanya mendengarkan.


"Kayanya dia anak kita. Dia tampan. Matanya kaya kamu, tapi bibirnya kaya aku, hidungnya juga kaya aku,"


"Keras kepalanya juga kaya kamu?" canda Agyan dengan sedikit kekehan kecil.


"Enggak."


Kali ini Agyan tertawa melihat raut kalem istrinya. Lantas ia menaruh tangannya di leher Freya, mendekatkan bibirnya untuk mempertemukannya dengan bibir Freya.


Tapi justru gadis itu menahannya dengan meletakan dua jarinya di atas permukaan bibir Agyan. Agyan hanya menatapnya dengan heran. Dahinya mengernyit penuh tanya.


"Aku pikir anak kita cowok,"


Hening, lama keduanya hanya saling terdiam. Agyan menjatuhkan kepalanya di atas dada Freya. Tidak mengungkapkan apapun, sedangkan Freya hanya mengusap rambut suaminya itu.


"Kamu nggak seneng?" tanya Freya, Agyan tersenyum meski Freya tidak melihatnya karena posisi wajah keduanya yang tak saling berhadapan. Tangannya mengusap perut sang istri.


"Aku seneng. Makasih, yah."


Freya hanya diam, dengan tangan yang terus mengelus rambut Agyan.


"Aku mau kasih dia nama Ethan."


"Zeinn Ethan Maheswarry."


"Kenapa bisa seyakin itu kalo anak kita cowok?" kali ini Agyan membalikan wajahnya, menatap Freya, membuat gerakan tangan gadis itu tertahan di udara.


"Hmm?" Agyan menuntut jawaban.


"Soalnya aku sering mimpi kaya gitu."


"Jadinya anak kita cowok, satu? Bukan kembar tiga?"


Freya tertawa dan menjepit hidung Agyan. "Enggaklah, kalo tiga aku berat bawanya."


"Nanti aku bantu."


"Gimana?"


"Gendong kamu."


Seketika Freya terdiam, sedangkan matanya menatap lekat netra Agyan. Agyan mengusap sisi wajah Freya. "Aku kayaknya dapet kerjaan." Agyan mengalihkan pembicaraan dan membuat dahi Freya berkerut.


"Kok kayanya?"


Agyan diam beberapa saat, mengingat bagaimana kemarin ia kembali mendapat penolakan yang sama seperti di beberapa perusahaan yang sudah didatanginya.


"Gavin nawarin kerjaan. Kayaknya aku harus terima, gimana pun, aku harus punya kerjaan, 'kan?"


"Buat kamu, sama Ethan."


Freya tersenyum dan mengangguk. Apapun keputusan Agyan, ia akan berusaha mendukung dan menjadi penyaran terbaik bagi suaminya.


"Aku mandi, yah. Nanti kita sarapan. Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat."


"Kemana?" Freya menahan ujung kaos Agyan saat pria itu akan beranjak dari tempat tidur.


"Rahasia."

__ADS_1


*


*


Freya tidak tau Agyan akan membawanya ke mana. Motor yang dipacu Agyan melaju di jalanan mulus ibu kota, kemudian memasuki sebuah kompleks perumahan dan tidak tau tempat mana yang sedang coba Agyan tuju.


"Kita ke mana?" tanya Freya, ia menaruh dagunya di bahu kiri Agyan. Agyan menoleh sebentar.


"Ke suatu tempat."


Freya hanya mengangguk tanpa bertanya lagi, sampai motor Agyan memasuki sebuah gerbang dan berhenti di pelataran rumah tersebut.


Freya terdiam heran, tapi ketika ia melihat beberapa orang yang dikenalinya ada di teras, Freya tersenyum, kemudian menatap Agyan.


"Aku ajak kamu ke sini, biar kamu nggak kesepian." sahut Agyan, kemudian turun dari motor, membuka helm dan menggandeng tangan Freya ke arah teras.


"Ke sininya nggak ngabarin, Gyan." tegur Rayn seraya bangkit dari duduknya, diikuti Braga yang juga sedang bertamu di sana.


"Kejutan!" Agyan menyahut singkat.


"Freya, apa kabar?" Rayn beralih pada istri saudara sepupunya.


"Baik Bang, Rival di mana?"


"Di dalem, kamu masuk aja. Ada Vanesh juga." sahut Rayn seraya menunjuk pintu masuk. Freya mengangguk dan berpamitan pada Agyan. Agyan tersenyum mempersilahkan, mengusap rambut Freya sebelum istrinya itu berlalu.


"Di dalem ada Tante Grryc," sahut Rayn setelah Freya berlalu. Agyan hanya terdiam, kemudian mengangguk samar dan memilih duduk di tempat Braga, membuat pria itu tidak mendapatkan tempat duduk dan hanya berdiri dengan pasrah di samping kursi yang diduduki Agyan.


"Loe ngapain di sini?" tanya Agyan kemudian dengan tidak ramah pada Braga. Setelah kejadian kemarin, rasanya Agyan malas bersikap ramah pada pria tersebut.


"Nemenin Vanesh."


*


*


Freya masuk ke dalam rumah tersebut dengan langkah pelan. Ia sesekali melihat beberapa figura yang terpajang di beberapa dinding yang dilaluinya dan membuatnya tersenyum.


"Freya," Freya memusatkan tatapannya pada Vina yang sedang menyuapi Riva di ruang tengah. Kemudian ia melangkah menghampiri dua orang tersebut. Tangannya tidak sabar ingin menggendong, atau mencubit pipi Rival.


"Ke sininya sama Agyan?"


"Iya. Tiba-tiba dia ngajak jalan, aku kira ke mana, ternyata ke sini." sahutnya dengan sopan, bagaimana pun, sekarang Vina juga adalah kakak sepupunya.


"Vanesh di mana?"


"Lagi beresin kamar Rival, dia emang gitu kalo dateng ke sini."


Freya mengangguk-anggukan kepalanya. Dengan tangan yang memain-mainkan tangan Rival yang sedang asik makan.


"Rival makin ganteng aja, nih."


"Liat dong, Mamanya, cantik gini.”


Freya tertawa dengan kepala yang mengangguk membenarkan. "Oh, yah, Frey. Boleh minta tolong nggak?"


"Minta tolong apa?"


"Kamu suapin Rival sebentar, aku mandi dulu."


"Oh, oke." Freya tidak keberatan. Vina mengangguk dan berlalu setelah mencium pipi Rival. Sedangkan Freya yang ditinggalkan menggantikan tugas Vina dan lanjut menyuapai Rival.


"Makan yang banyak, yah. Sayang,"


Dari arah dapur, Grrycia muncul dengan sebotol susu yang sudah dibuatnya untuk Rival. Ia menyerahkannya pada Freya yang ia kira adalah Vina.


"Ini susu buat Rival, Tante kayaknya harus buru-buru pulang kar—" kalimat Grrycia terhenti saat wanita yang sedang menyuapai Rival makan yang dikiranya adalah Vina berbalik.


"Freya," ia sedikit terkejut.


Frrya tersenyum samar. "Mami Grryc."

__ADS_1


TBC


__ADS_2