
"Jadi, kamu sudah menikah?" tanya Rachel saat mereka sedang menikmati minuman setelah keluar dari ruangannya.
Aryo masih setia berada di samping Agyan. Agyan yang memintanya karena ia memang tidak ingin kedapatan berduaan dengan Rachel dan memunculkan asumsi macam-macam.
"Sudah, dia sedang hamil anak kami."
Rachel tertawa. "Sayang sekali kamu tidak mengundangku untuk datang."
"Ini pernikahan tak terduga yang terjadi karena kami memang berjodoh."
"Dan harus bersama." sambung Agyan dengan santai. Rachel hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Sepertinya kapan-kapan kamu harus mengenalkan istrimu padaku."
Agyan mengangguk setuju. "Oh, yah. Bagaimana, mantan pacarmu yang psikopat itu?" tanya Agyan dengan kekehan kecil.
Rachel tersenyum sambil mengangkat tangannya. Pandangan Agyan seketika terfokus pada jari manis Rachel yang dilingkari sebuah cincin.
"Jadi?"
"Yah, sepertinya dia memang bergantung padaku dan aku tidak bisa menelantarkannya begitu saja."
"Aku yakin dia bisa berubah."
Agyan mengangguk-anggukan kepalanya. "Sekarang dia sedang melanjutkan S2 nya di Jerman. Setelah itu, kami baru akan menikah."
"Kamu tidak khawatir dia bersama perempuan lain di sana?" pancing Agyan.
Rachel hanya tersenyum, dengan santainya ia menyahut. "Seperti kamu, aku yakin dia juga akan setia."
*
*
Agyan berdiri di samping motornya, ia tampak gelisah, seperti menunggu kedatangan seseorang. Sampai sebuah sedan hitam berhenti tepat di hadapannya. Sang pengendara keluar dan langsung menghampiri Agyan.
"Ada apa, yah, Mas Agyan mau ketemu saya?" tanya seorang pemuda yang tak lain adalah Aryo, saat ia sudah berada di hadapan Agyan.
"Maaf kalau saya ngerepotin kamu, tapi kamu bisa tolong hubungi Rachel?" pintanya tanpa basa-basi.
"Ibu Rachel?" dahi Aryo berkerut. Agyan mengangguk , tanpa bertanya apa-apa lagi Aryo segera merogoh saku celana dan mengambil ponselnya.
"Hubungi Rachel dan bilang jika saya ingin bertemu." perintah Agyan. Aryo justru menatap Agyan. Jujur dia memang cukup heran dengan Agyan yang tiba-tiba saja meminta Aryo untuk menemuinya.
"Mas Agyan udah nentuin pilihan?" ia penasaran.
"Cepetan!"
"Oh, iya."
Aryo buru-buru mengotak-atik ponselnya, mendial nomor Rachel dan meletakan benda pipih itu di telinga kanannya. Dalam dering keempat, telponnya baru di angkat.
Aryo menyampaikan jika Agyan ingin bertemu dan Rachel menyuruh mereka untuk datang ke perusahaaan, tepat ke ruangan Rachel.
__ADS_1
Sebelum menghubungi Aryo, Agyan sempat banyak berfikir antara menerima atau tidak tawaran kontrakkerja sama yang Rachel serahkan padanya.
Seperti yang sudah Agyan bilang. Ia tidak suka bidang ini dan membiarkan wajahnya menjadi konsumsi publik. Namun begitu, Agyan mempertimbangkan apa yang para orang lain katakan, itu mengusik pikirannya dan membuatnya tertantang.
Agyan harus membuktikan pada mereka jika ia memiliki prestasi dan posisi yang layak dalam bidang ini. Ia tidak hanya bermodalkan tampang yang tampan saja. Mereka sudah salah jika menilai Agyan berdasrkan ketampanannha saja.
Menandatangani kontrak kerja sama adalah keputusan yang akan di ambilnya untuk meniti karirnya dalam dunia entertaint.
"Bagaimana?" tanya Agyan setelah Aryo memutus sambungan telpon.
"Kita ke RCH Pictures langsung, Mas."
"Yasudah, ayo."
Bersamaan dengan itu, ponsel Agyan berdering. ID dengan nama Papi menghiasi layar ponsel. Agyan sempat tertegun, karena ini kali pertama Andreas menghubunginya setelah ia menikah dan keluar dari rumah.
Rasanya apa yang akan Andreas katakan pasti sangat penting. Karena jika tidak, mustahil Andreas menghubunginya.
"Kamu tidak perlu menjadi seorang artis jika hanya mampu membangun citra yang buruk di mata masyarakat." oceh Andreas saat Agyan menemuinya di rumah, tepat di ruang kerja Andreas.
Agyan yang berdiri di sebrang meja hanya terdiam. Rupanya sang papi sama saja dengan orang-orang yang tidak dikenalinya di luar sana. Yang seenaknya mengambil kesimpulan tanpa tau kenyataan. Memojokkannya secara berlebihan.
"Belum apa-apa kamu sudah terlibat skandal. Bagaimana kamu akan menjaga nama baik keluarga kita!" bentaknya.
Nama baik keluarga? Rasanya Agyan ingin tertawa.
"Kamu hanya membuat malu saja!"
"Menghamili anak orang, menjadi pengantin pengganti, dan sekarang apa? Dan nanti apa lagi—"
Andreas mematung mendengar bentakan Agyan. Ia menatap putranya tak percaya. Agyan tampak menghela nafas meredakan amarah.
"Selama ini Agyan sudah sabar menghadapi Papi dan tetap menghormati Papi sebagai Papi Agyan!"
"Agyan tau Papi orang yang cerdas dan nggak mungkin ngambil kesimpulan sembarangan!"
"Dengar Agyan! Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Freya?"
"Apa perduli Papi?"
"Bukannya semenjak Agyan menikah dengan Freya. Papi udah gak nganggap Agyan sebagai anak Papi."
"Bahkan Papi—" Akan tidak sopan jika Agyan melanjutkan kalimatnya. Seperti yang ia katakan jika Agyan tetap menghormati Andreas sebagai Papinya. Ia lebih baik mengalah daripada memperkeruh keadaan.
"Agyan sama sekali gak punya hubungan apapun sama wanita itu. Dan Freya percaya sama Agyan."
Agyan menghela nafas. "Agyan gak akan buat malu Papi. Agyan akan berusaha keras, Agyan akan ngelakuin apapun biar Agyan sukses."
"Karena Agyan bertanggung jawab untuk tiga nyawa yang sedang Agyan perjuangkan."
Kali ini Andreas tampak terkejut, ia menatap Agyan lekat-lekat meminta jawaban atas kalimat ambigu Agyan.
Agyan mengangguk.
__ADS_1
"Freya hamil anak kembar, ada dua nyawa dalam janin Freya. Dan Agyan harus melindungi mereka, Agyan harus membuat mereka bahagia."
"Agyan permisi, Pi."
Agyan berlalu dari sana tanpa menatap Andreas. Keputusannya semakin matang untuk menandatangani kontrak dan bekerjasama dengan RCH Pictures. Membuktikan pada Andreas, orang lain bahkan seluruh dunia jika ia bisa menjadi orang besar. Orang yang sukses berdiri di atas kakinya sendiri.
Kepergian Agyan dengan apa yang baru saja ia sampaikan membuat Andress mengusap wajahnya frustrasi. Bahkan ia sampai tidak tau jika calon cucunya adalah anak kembar.
*
*
"Bagaimana, kamu sudah memikirkannya?"
"Sudah membuat keputusan?" tanya Rachel, ia menautkan jari jemarinya di atas meja. Matanya mengarah pada Agyan yang berdiri di sebrang mejanya, Aryo ddngan setia berada di samping pria tampan itu.
Agyan mengangguk atas pertanyaan Rachel.
"Bagus jika begitu. Kamu bisa langsung menandatangani kontrak dan mengisi beberapa acara."
"Tapi sebelumnya, aku memiliki beberapa permintaan."
Rachel terkekeh mendengar pertanyaan Agyan. "Kamu berharap aku mau memenuhinya?"
"Terserah, tapi aku hanya akan menandatangani kontrak jika kamu menyetujui permintaanku."
Rachel mendesah pasrah. "Baiklah, silahkan!"
"Yang pertama, aku sudah berkeluarga dan tidak menerima film atau drama yang banyak mengandung adegan romantis."
"Kamu artis dan kamu harus profesional!"
"Kedua." Agyan menyela dengan cepat tanpa memperdulikan protes dari Rachel.
"Aku yang akan menentukan keseluruhan aktifitasku. Terutama, aku tidak menerima acara on air pada malam hari."
"Ketiga, aku tidak ingin kehidupan pribadiku terusik awak media. Terutama aku tidak ingin wajah istriku terekspos media tanpa persetujuan kami!"
Rachel berdecih, tapi ia tetap menurut meski permintaan Agyan sedikit memberatkan. Ia menyodorkan kontrak kerjasama dan Agyan langsung menandatnganinya.
"Kamu terlalu arogan, Agyan."
"Bahkan istrimu adalah seorang model. Wajahnya sudah menjadi konsumsi publik bahkan sejak lama."
"Aku tidak perduli. Yang pasti ini permintaanku."
"Dasar arogan!"
"Percaya saja, aku akan menjadi terkenal. Kamu tidak perlu meragukanku." Agyan menyahut dengan yakin.
"Dan satu lagi, aku ingin Aryo yang menjadi menejerku!"
"Saya?" Aryo menunjuk wajahnya sendiri dengan tidak percaya. Rachel menoleh pada Aryo dan mengangguk.
__ADS_1
"Selamat bekerjasama." Rachel mengulurkan tangan. Agyan menerimanya, langkahnya sudah dimulai dari sejak penandatanganan kontrak kerjasamanya dengan RCH Pictures beberapa detik yang lalu.
TBC