
Pagi ini Airin pulang, aku mengencel semua jadwal hari ini Aku ingin menghabiskan waktu sharian bersama wanita yang kucintai. Sampai dirumah kami disambut Bunda didepan pintu. Kelihatan sekali ke khawatiran Bunda dari wajah. Syfa langsung meminta gendong Airin begitu melihat kami turun dari mobil. Mungkin dia rindu karena semalaman tak bersama Bundanya.
Setelah menerangkan sedikit mengenai keadaan Airin, aku membawa Airin ke kamar agar bisa istirahat. Tapi kami tidak menceritakan kalau Airin terkena pukulan dari Syahdan, kami memang sudah sepakat dari rumah sakit tadi untuk menyembunyikan dari Bunda. Karena tak ingin Bunda semakin khawatir.
"Nggak apa apa mas, Airin bisa sendiri kok." Ujar Airin saat aku membantunya berbaring diranjang.
"Mas nggak mau nanti kamu pusing lagi." Jawabku. Kemudian duduk disampingnya.Ku pandangi wajah cantiknya, sambil menggenggam jemarinya
"Jangan pandangin Au seperti itu ah.."Ujrnya sambil memalingkan wajahnya yang merah merona karena malu.
"Habisnya kamu cantik banget.." Jawabku tertawa kecil.
Ku raih dagunya agar kembali menatapku. Sungguh, sedari kemaren tak bosan bosan aku ingin selalu menatap wajah itu. Apalagi bibir itu, ingin sekali rasanya ********** lagi. Tak sanggup menahan hasrat, ku cium bibir tipisnya. Airin tak menolak, dan membalas ciumanku. Kembali kami berpagutan, menikmati sensasi halus yang menggetarkan. Sesaat kami berhenti, seraya mengambil nafas. Kemudian mengulanginya lagi. Ciuman itu semakin panas, tanganku tak mampu lagi untuk diam. Menyentuh apa yang ingin disentuhnya. Bagian dada Airin terasa mulai mengeras saat ku belai. Jemari Airin meremas rambutku.
"Undaaaaa...." Terdengar suara khas balita dari balik pintu. Sontak aku dan Airin terkejut dan menghentikan kegiatan asmara kami. Sudah bisa dipastikan itu suara Syfa. Tak lama kemudian pintu pun terbuka. Setelah sebelumnya terdenga suara ketukan pintu.
" Bunda masuk ya,, Syfa rewel minta kesini terus. Kangen mungkin dengan Bundanya." Sahut Bunda. Syfa langsung turun dari gendongan Bunda, dan berlari kecil ke arah ranjang. Aku membantunya naik keatas ranjang. Syfa memang sudah bisa berjalan, tapi untuk bayi yang baru umur setahun belum bisa naik ke atas ranjang yang berukuran king size ini.
Syfa langsung berhambur kepelukan Airin. Memang kelihatan sekali dia rindu dengan Bundanya. Ah Syfa, kasih kesempatan ayah sebentar dulu donk dengan Bundamu. Aku hanya tersenyum melihat tingkah Balita itu yang bermanja dengan Bundanya.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu sama Syfa aja dulu ya.. Dia rindu banget kayaknya.." Ujarku. Airin tersenyum mengangguk. Aku pun keluar kamar bersama Bunda, membiarkan Ibu dan anak itu bersama. Meskipun sedkit kecewa karena hasrat ini jadi tak tersalurkan. Tapi aku bukanlah lelaki egois. Semoga saja malam ini Syfa tidak merengek minta tidur bersama Bundanya. Aku pun tersenyum senyum sendiri membayangkan kalau nanti malam aku dan Airin akan tidur sambil berpelukan. Ah, apakah mungkin hanya berpelukan.
Untuk mengisi waktu, sementara Airin bersama Syfa. Aku menuju ruang kerjaku. Aku berniat untuk menghubungi Anton. Untuk menanyakan keadaan rumah sakit. Tetapi Anton malah memberiku sebuah berita yang sungguh sangat membuatku terkejut, tapi juga senang. Anton mengabari, kalau tiba tiba saja anak Bapak Firdaus baru saja mencabut tuntutannya terhadapku siang ini. Meskipun berita ini membuatku senang, tapi juga membuatku penasaran. Kenapa tiba tiba begini.
Tapi setidaknya sekarang aku bisa bernafas lega, karena semua ini sudah berakhir. Dan yang sangat membuatu bahagia adalah membaiknya hubunganku dengan Airin.
Aku masuk ke kamar ingin mandi dan sholat ashar. Kulihat Airin sedang sholat, dan Syfa masih tertidur diranjang. Sudah sore begini, balita itu masih tidur. Jangan sampai nanti malam dia tak kunjung tidur karena sekarang sudah puas tidur. Aku langsung ke kamar mandi membersihkan tubuh lanjut berwudhu. Setelah keluar kamar mandi Airin telah selesai sholatnya dan Syfa pun sudah bangun.
"Apakah kepala kamu masih sakit dek" Tanyaku pada Airin.
"Alhamdulillah sudah nggak lagi mas.." Jawab Airin tersenyum.
"Syukurlah.. " Ucapku senang. Kemudian aku pun menunaikan tugasku sebagai hamba Allah, sholat Ashar.
Malam ini Syfa tidur dengan Bunda, aku sangat senang sekali. Aku bisa tidur sambil memeluk Airin dan... Ah baru membayangkan saja, aku sudah kepanasan. Tapi aku tidak ingin memaksa Airin untuk memberikan hak ku sebagai suaminya. Aku ingin kami melakukan atas rasa cinta. Seperti janjiku dulu padanya di awal pernikahan kami.
Aku sudah diatas ranjang, sambil menunggu Airin aku masih memainkan ponselku. Sekedar menghilangkan ke gugupanku. Saat Airin keluar dari walk in closet membuat jantungku terasa berhenti berdetak. Dia memakai lingerie yang sangat tipis, sampai aku bisa tau kalau dia tidak memakai pakaian dalam. Airn tersenyum ke arahku. Ku ulurkan tanganku seraya memanggilnya kedalam pelukanku.
"Mas boleh melakukan..." Tanyaku setengah berbisik di telinganya. Sumpah, aku benar benar tak sanggup lagi untuk menahan hasrat yang membara ini. Kupandangi wajahnya,ku tatap matanya menunggu jawabannya Airin tersenyum dan mengangguk, dan tanpa membuang waktu lagi langsung ku ***** bibir tipisnya. Airin pun membalas ciumanku. Kami berciuman sebagai pemanasan.
__ADS_1
Kupandangi tubuhnya yang kini sudah tanpa sehelai benagpun. Entah kapan aku membuka lingerie sexy nya tadi. Bekas bekas luka ditubuhnya sudah memudar, bahkan sudah tak terlihat lagi. warna kulitnya sangat bercahaya. Airin memalingkan wajahnya karena malu. Semakin membuatku gemas dan tak ingin behenti.
Aku tak ingin melakukannya terburu buru. Ku nikmati setiap detik yang berlalu. Kumanjakan wanita yang kini berada sepenuhnya dalam pelukanku. Setiap bagian tubuhnya ku tinggalkan cap pemilikanku. Warna merah yang kuberikan sangat jelas kelihatan di kulitnya yang putih.. Dan sempurnalah penyatuan cinta kami.
"Makasih sayang.. " Ucapku sambil memgecup keningnya. Airin menyembunyikan wajahnya di dada ku.. Masih terasa gerakan nafasnya yang belum teratur karena percintaan kami tadi. Ku selimuti tubuh polos kami. Lagi lagi ku ***** bibirnya, entahlah bibirnya serasa candu kini buatku. Bibir tipis itu seakan semanis madu yang membuatku ingin menghisapnya lagi dan lagi.
Memeluk dan membelainya seperti ini membuatku ingin lagi melakukannya. Airin sama sekali tidak menolak saat kembali ku sentuh tubuhnya. Suara ******* Airin membuatku semakin menggila. Sampai hampir masuk waktu subuh baru kami berhenti.
"Mandi yuk mas, bentar lagi adzan subuh." Ujar Airin.
"Kamu nggak capek sayang. tidurlah sebentar." Jawabku. Aku tau Airin sudah benar benar lemas.
"Nanti aja tidurnya. Sholat subuh dulu." Ujarnya kemudian bangun. Dengan sprei ditutupnya tubuhnya dan berjalan ke kamar mandi. Melihat Airin yang ke kamar mandi pikiranku pun membayangkan. Nikmat mungkin melakukan dibawah siraman shower.
Ku kejar Airin ke kamar mandi. Benar dugaanku, melihat Airin dibawah siraman air shower membuatku berhasrat lagi. Langsung ku peluk Airin dari belakang dan ku sentuh dadanya.
"Maaassss... Aaahhhhh...." Airin mendesah nikmat karena sentuhanku. Desahannya membuatku tak tahan untuk melakuan lainnya.. Sekali lagi kami bercinta dibawah guyuran air shower...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Semoga lulus sensor yaaa...
maaf kalau kurang menggigit.. Saya sendiri bingung mau menulisnya..hehehehe