
Jangan lupa ngabarin aku!
Iya Sayang, aku inget. Kamu tenang aja.
Besok aku harus ke kampus pagi-pagi.
Aku nggak akan lupa bales chat dari kamu.
Aku sayang kamu. Bye, By.
Freya yang semula tengkurap di atas tidur beranjak dengan lesu. Mengambil sebuah calendar di meja belajarnya berikut bolpoin. Kemudian kembali pada posisinya tadi, menatap calendar dan menandai sebuah tanggal di sana.
Ia menghela nafas panjang, raut bahagia seperti sirna dari wajahnya. Ini adalah hari ke-365 ia kehilangan kabar dari Agyan. Terakhir mereka berkomunikasi, Agyan berjanji tidak akan terlambat memberinya kabar, nyatanya kabar dari Agyan justru menghilang begitu saja.
Freya tidak dapat menemukan berita apapun. Seolah mereka berada dalam dunia yang berbeda sekarang.
Apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Mungkin Agyan sekarang sudah berpaling pada gadis yang lebih baik dari Freya. Mungkin Agyan sudah mendapat orang yang tepat dan melupakannya.
Sungguh, mengingatnya, Freya merasakan sakit luar biasa. Seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas habis hatinya. Penantiannya menunggu kepulangan Agyan nyatanya sia-sia. Agyan tidak menepati janji dan justru menyerah dengan hubungan mereka.
Apa yang sudah mereka lewati selama bersama, selama jarak memisahkan mereka, nayatanya hanyalah angan yang terbuang sia-sia.
Semuanya sudah berakhir.
Freya mendesah, melepas cincin yang terus melingkar di jari manisnya selama tiga tahun ini. Ia menatapnya dengan lekat dan lama.
"Gyan, apa kamu nyerah pertahanin hubungan kita. Kamu udah nggak sayang aku, kamu nggak nepatin janji kamu?"
"Kamu bosan sama aku?"
Freya mendesah. "Bukan aku yang nyerah Gyan, tapi kamu!"
"Aku tetep nunggu, tapi apa kamu akan pulang?"
Tiba-tiba saja air mata mengaliri pipi Freya dengan deras. Tapi bibir gadis itu mengulas senyum memilukan. "Mungkin kamu bakal pulang, bawa pacar baru kamu. Dan kamu ngenalin dia ke orangtua kamu."
"Papi kamu pasti setuju. Kamu nggak akan ngalamin masa sulit kaya sama aku, yah. Gyan."
"Maaf, aku udah nyusahin kamu!"
Freya menaruh cincinnya begitu saja di atas tempat tidur. Sepertinya percuma saja menunggu kepulangan orang yang bahkan menghilang kabarnya. Freya tidak mendapat kepastian.
Tapi, apakah ia akan bisa menemukan pengganti Agyan. Apa ia mampu menemukan orang yang seperti Agyan? Nyatanya hal itu mustahil dan ia hanya ingin pada Agyan.
"Frey,"
__ADS_1
Freya menoleh saat pintu kamarnya terbuka, Anna muncul dengan senyum tipis di wajahnya. "Di bawah ada Braga, kalian ada janji?"
Gadis itu mengangguk, beranjak dengan lemas dan merapihkan diri melalui kaca lemarinya. Lantas berjalan ke arah Anna dan keduanya berlalu ke lantai bawah.
Braga yang sudah menunggu gadis itu tersenyum begitu Freya turun. Mereka pamit pada Anna dan berlalu. Freya dengan Braga memang memiliki janji untuk pergi ke toko buku membeli keperluan tugas. Freya hampir saja melupakannya, untunglah dia sudah mandi saat Anna masuk ke kamarnya.
Sepanjang perjalanan, Freya hanya terdiam. Sesekali, Braga yang sedang menyetir di sampingnya hanya menoleh. "Frey,"
Freya menoleh dengan raut bertanya. "Agyan masih belum kasih kabar?"
Freya menggeleng dengan wajah sendu, Braga menghela nafas, lanjut menyetir sampai ia memarkirkan mobilnya dengan mulus di depan toko buku. Matanya menyipit kala seseorang melambai-lambaikan tangan padanya. Kemudian perlahan berjalan dengan anggun menghampiri ia dan Freya yang sekarang sudah turun dari mobil.
"Kak Braga, Kak Freya." sapanya dengan wajah ceria. Braga tersenyum, tadi Vanesh memang menghubunginya dan Braga mengatakan ia akan ke toko buku. Gadis itu bilang ia akan menyusulnya.
"Kamu juga ke toko buku?" tegur Freya. Gadis dengan dres selutut tanpa lengan itu mengangguk.
"Kak Braga bantuin nyari buku yang bagus, yah. Aku ada tugas, dosennya galak banget. Kalo minggu depan tugasnya belum selesai, aku mau di hukum masa!" gadis itu mengakhiri ocehannya dengan menunjukan wajah sendunya yang imut.
Braga tertawa dan mengusap puncak kepalanya. "Nanti sekalian aku bantu beresin tugasnya."
Vanesh memasang raut wajah tak percayanya dengan berlebihan dan dibuat-buat. Freya menggeleng, masuk lebih dulu ke toko buku meninggalkan dua orang itu.
Sekarang Vanesh juga adalah seorang mahasiswa di jurusan yang sama dengan Freya dan Braga. Tapi, tiga tahun berlalu, usahanya mengejar cinta Braga tampak tidak memiliki perkembangan apapun.
Braga seolah menutup rapat pintu hatinya yang entah untuk siapa.
Setelah menemukan buku yang dicarinya, Freya pamit untuk pulang lebih dulu, meninggalkam Braga yang akan belajar bersama dengan Vanesh. "Loe yakin pulang sendiri?"
Braga tersenyum. "Apaan, sih."
"Yaudah, gue duluan." Freya berlalu, menepuk dada Braga sebelum benar-benar pergi. Dan tatapan Braga bukan mengarah pada kepergian gadis itu, tapi pada dadanya yang mendapat tepukan dari Freya.
*
*
Freya hanya menatap kaca jendela taksi. Beberapa bulan ini, kebiasaannya selain menunggu kabar dari Agyan, adalah berjalan-jalan. Kemana saja, sekalipun ke tempat-tempat yang mengingatkannya pada Agyan.
"Gyan, apa kabar? Aku kangen."
*
*
Siang ini, saat baru saja bangun dari tidur siangnya, Freya mendapat kabar tak menyenangkan saat Rayn mengiriminya pesan jika Tomy meninggal.
Freya tidak tau bagaimana kronologinya, yang ia ketahui, belakangan kondisi Tomy memang semakin menurun.
Setelah rapih dengan pakaian serba putih, Freya berjalan menuruni anak tangga. "Sayang, kamu—"
"Freya keluar sebentar, Mi."
__ADS_1
"Ke mana?"
"Pemakaman Opanya Agyan."
Anna menutup mulutnya dengan raut terkejut.Tapi ia mengerti dengan kondisi yang tengah terjadi. "Sampaikan duka cita Mami,"
Freya mengangguk, dengan cepat berjalan ke halaman rumahnya. Bersamaan dengan kemunculan mobil Braga yang baru saja memasuki pekarangan rumahnya. Pria tampan itu juga mengenakan pakaian serba putih, Freya yakin jika Braga pun sudah mendengar kabar kematian Tomy.
"Kita bareng, pake mobil gue aja!" sahut Braga. Ia membenarkan letak kacamata hitam yang dikenakannya, Freya mengangguk dan segera masuk ke mobil Braga. Mobil dengan cepat melaju menuju tempat peristirahatan terakhir Tomy.
Sepanjang jalan Freya tampak hanya melamun. Bagaimana pun, ia memiliki cerita dengan Tomy, di mana Agyan mempertemukan mereka dan memperkenalkannya sebagai pacar dari lelaki itu.
Dan hari ini, Tomy benar-benar meninggalkan dunia untuk selamanya, lantas bagaimana nasib Shanty. Dia pasti sangat sedih sekarang. Sungguh, Freya memikirkan dan mencemaskannya.
"Vanesh sama yang lain pada kesini juga, Ga?" Refleks Braga menoleh dan mengangguk. "Vina ngasih tau tadi pagi." sahutnya setelah beberapa saat.
Freya mengangguk, begitu mobil Braga berhenti ketika sudah sampai di Tempat Pemakaman Umum. Freya segera turun, membenarkan letak pashmina yang dikenakannya, berjalan sambil memasang kacamata hitam. Braga menyusul di belakangnya.
Melihat kerumunan orang di salah satu pusara baru membuat lutut Freya melemas, ia tidak bisa membayangkan perasaan Shanty yang tampak digandeng oleh Grrycia dan Wulan sekarang, matanya bengkak dengan hidung yang memerah, Freya dapat melihatnya dari kejauhan.
Langkah Freya memelan saat sudah sampai di sana, ia mengulas senyum saat Grrycia menoleh padanya, begitu juga Andreas yang mendampingi istrinya. "Oma," Freya menyentuh lengan Shanty, ia tak dapat menahan laju air matanya. Terlebih, saat Shanty memeluknya dan menangis di bahu Freya.
"Oma yang sabar, ya. Freya turut berduka cita. Semoga, Opa Tomy ditempatkan di sisi-Nya."
Shanty melepas pelukannya, Freya mengusap air mata yang menganak sungai di pipi wanita yang sudah tua itu. Freya beralih pada Grrycia dan Wulan. "Freya turut berduka cita." Grrycia dan Wulan mengangguk tersenyum.
"Terimakasih Freya." Grrycia mengusap puncak kepala gadis itu yang membuat perasaan Freya seketika menghangat. Freya mengangguk, perlahan berjalan ke arah Andreas.
Mata pria tampan itu memerah menahan tangis, kehilangan seorang ayah, jelas adalah luka besar baginya. Tapi, untuk menangisi kepergian sang ayah yang kembali ke pangkuan sang ilahi, rasanya tidak mungkin untuk ia lakukan. Memang lebih baik Tomy kembali, karena Andreas seringkali tidak tega melihat kesakitannya.
"Om Andre, Freya turut berduka cita."
"Terimakasih, Freya."
Ragu, tapi tangan Andreas dengan perlahan menggapai puncak kepala gadis itu, mengusapnya lembut dengan perasaan tak karuan. Freya hanya tersenyum, kemudian ia beralih pada Jordan, dan berhenti di samping Vina, sedangkan Rayn tampak bersimpuh di pusara Tomy. Kemudian, Freya baru menyadari satu hal. Jika Rayn tidak sendiri di sana.
Agyan?
Freya tak dapat mengeluarkan ekspresi apapun saat Agyan menoleh padanya. Freya dapat melihat banyak kerinduan dalam mata Agyan di balik kacamata hitam yang dikenakannya. Juga pilu yang mendalam atas kehilangan orang yang disayanginya.
Tapi—Agyan, apa kabar? Kenapa selama ini kamu menghilang?
Freya menepis tatapan Agyan, ia berusaha untuk tak banyak mengundang pertanyaan di dalam kepalanya dalam kondisi duka seperti ini.
Diam-diam Andreas memperhatikan interaksi dua orang itu. Ia melangkah mendekati Freya. "Seandainya kamu bukanlah putri Anna, saya tentu akan merestui hubungan kamu dengan Agyan." sahut pelan Andreas. Freya menoleh,
tersenyum tenang pada Andreas yang menatapnya.
"Tapi sayangnya Freya nggak bisa milih buat lahir dari rahim siapa, Om."
TBC
__ADS_1
Freya, tuh, nggak bisa milih. Gimana dong:"(