Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Sebenarnya Ingin


__ADS_3

Naina baru saja keluar dari kamar mandi saat ia tiba-tiba saja memaku menatap pantulan tubuhnya di dalam cermin pada sebuah lemari pakaian besar. Ia menatap potret dirinya sendiri yang mengenakan handuk berwarna kuning. Gadis itu berjalan mendekat dengan pandangan yang tak lepas dari tubuhnya.


Ia menatap setiap inci tubuhnya seolah tak mengenali dirinya. tiba-tiba saja dadanya berdebar mengingat jika ada sesuatu dalam dirinya, tiba-tiba merasa lemas.Naina lantas segera duduk di tepi tempat tidur. Jika keadaannya seperti ini bagaimana bisa dia mengendalikan perasaannya sendiri kepada Ethan?


Naina cukup mengagumi pria itu, ia tidak ingin berharap lebih atau akan mendapat sesuatu yang lebih, tidak pernah. Tapi jika jalan ceritanya menjadi seperti ini bagaimana mungkin hatinya ia biarkan begitu saja tanpa membentuk perasaan apapun kepada Ethan? Rasanya mustahil.


Rasanya mustahil seorang wanita tidak menyukai Ethan.


Pria itu terlalu sempurna menjadi seorang laki-laki dan menjadi seorang suami. Naina sebagai orang yang memiliki intensitas pertemuan sangat sering dengan pria itu tentunya dapat melihat setiap gerak-gerik Ethan. Mengetahui apa yang pria itu lakukan dan bagaimana karakternya dalam memperlakukan orang-orang di sekitarnya terutama memperlakukan istri tercintanya.


Bagaimana mungkin ia tidak luluh atas sikap pria itu?


Naina mendesah, meraih selimut dan membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Hujan masih turun dengan begitu deras di luar sana, menciptakan rasa malas yang kian menjadi di dalam dirinya. Sepertinya, hari ini tidur akan menjadi opsi terbaik untuknya sejenak mengistirahatkan hati dan pikiran.


***


Zoya sudah merebahkan kepalanya di atas lengan Ethan sejak beberapa menit setelah aktivitas menyenangkan mereka. Sementara mata Ethan terpejam, Zoya sendiri lebih asik memainkan jemarinya di atas permukaan dada telanjang Ethan. Sedangkan tangan Ethan memainkan rambut wanita itu sekalipun matanya terpejam, karena sebenarnya ia tidak benar-benar tidur.


"Kalo seandainya inseminasinya gagal. kita gimana?" jujur sejak tadi, bahkan sepanjang aktivitasnya dengan Ethan kepala Zoya dipenuhi pikiran seperti itu.


Bagaimana jika iseminasinya gagal?


Apalagi yang harus mereka lakukan?


Bagaimana semuanya akan berjalan?


"Ethan,"


"Hmm?" Zoya mendongak menatap sang suami, sedangkan Ethan juga menoleh dan mempertemukan tatapan mereka ketika mata pria itu perlahan terbuka.


"Kalau seandainya inseminasinya gagal, kita gimana?" Zoya mengulang pertanyaannya.


"Kita coba lagi." Ethan tidak mau ambil pusing. Sedangkan Zoya terdiam. Mudah bagi Ethan mengatakan hal tersebut, sedangkan bagi dirinya, andai apa yang mereka usahakan gagal, Zoya pasti akan merasa sangat kecewa sekali.

__ADS_1


Zoya mendesah, Ethan yang mendengar hal itu hanya tersenyum. "Kita akan baik-baik aja, Zoya." Ethan menenangkan sekalipun Zoya merasa tak yakin. Namun begitu, Zoya hanya bisa pasrah, ia menganggukan kepala meyakinkan dirinya sendiri kemudian memejamkan mata.


Membuat Ethan mendekap tubuhnya dengan erat. Hujan deras di luar sana masih terus berlangsung. Membuat semua orang lebih memilih bertahan di atas tempat tidur daripada beraktivitas di luar.


***


Zoya sudah memilih dress terbaiknya untuk datang dalam acara syukuran salah satu orang yang pernah menjadi produser dalam fimya. Yaitu Rafly, yang memiliki acara syukuran untuk kelahiran anak ketiganya.


Saat Ethan menyampaikan undangan tersebut, pria itu meminta agar mereka tidak perlu datang. Namun Zoya tetap ingin memenuhi undangan mengingat jika ia cukup mengenal Rafly, setidaknya kehadiran mereka di sana sebagai bentuk penghargaaan dan penghormatan atas undangan yang sudah diberikan.


Ethan sudah bersiap, pria itu tampak begitu tampan dengan tuxedo putihnya. Terlihat berwibawa sekali.


"Naina, saya dengan Ethan tidak akan pulang larut malam, kok, kamu nggak apa-apa kan kalau ditinggal sendiri?" panjang lebar Zoya pada Naina yang akan ia tinggalkan sendirian di rumah. Naina menggelengkan kepala.


"Enggak papa, Mbak." toh dia sudah biasa ditinggal oleh kedua majikannya tersebut. Dan ia selalu baik-baij saja tanpa terjadi apapun.


"Yasudah, saya sama Ethan berangkat, yah." pamitnya, kembali Naina mengangguk. Sedangkan Zoya menggandeng Ethan dan berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan gadis itu di dalam rumah sendirian.


Naina nenatap punggung Ethan sampai menghilang di balik pintu. Ia mendesah, bukan masalah besar. Dua orang itu pergi tidak akan lama, tapi seolah ada yang hilang di dadanya.


**


"Randy bilang alamatnya di sini." Ethan menyahut sambil terus menyetir.


"Kamu sama Pak Rafly nggak akrab?"


"Tidak terlalu." yah, Zoya mengenal suaminya.


"Tapi, saya pernah sekali kesini saat acara syukuran anak keduanya. Sekarang sudah lupa jalannya." terang Ethan mengingat hal itu.


"Kalau kita nanti kesasar gimana?" Zoya merasa khawatir. Ethan justru tertawa melihat reaksi wanita itu.


"Tidak mungkin Sayang, kamu tenang saja. Saya tidak akan bawa kamu kesasar,"

__ADS_1


"Kalaupun kesasar, kamu kan berdua dengan saya." Zoya menoleh. Ethan juga menoleh tatapan mata keduanya bertemu dalam satu garis lurus. "Kan berdua dengan saya, jadi kamu aman. Kamu akan baik-baik saja jika bersama dengan saya." Zoya berdecih mendengar apa yang sang suami katakan.


Sedangkan Ethan justru tertawa, sampai kemudian Zoya mengalihkan tatapannya ke depan di mana beberapa mobil berbelok ke arah kiri mereka, terpasang sebuah gapura yang sudah dihias sedemikian rupa di sana. Ethan pun membelokkan mobilnya ke sana yang artinya tempat tersebut adalah tujuan mereka. Rumah Rafly.


Ethan dengan Zoya segera begitu memarkirkan mobil di tempat parkir yang sudah disediakan, kedatangan mereka disambut penuh hangat oleh Rafly dan beberapa kerabatnya. Sebelumnya, Zoya yang sudah mempersiapkan psikis dan hatinya yang selalu tersenyum bila melihat seorang bayi kemudian menginginkannya mencoba menenangkan diri.


Ethan menggenggam tangannya erat bagai mengerti, membuat Zoya tersenyum dan bersikap baik-baik saja di hadapan semua orang di sana. Beruntung Rafly benar-benar menjaga privasi keluarganya, sehingga ia tidak mengundang pihak media untuk acara tersebut.


Bahkan sepertinya media tidak tahu jika salah satu produser terkenal itu tengah menggelar acara syukuran kelahiran putra ketiganya. Membuat Zoya lebih leluasa bergerak tanpa takut ada yang memperhatikan.


"Istri Pak Ethan ini semakin cantik saja." puji salah seorang di antara beberapa para produser yang tengah berkumpul itu. Zoya hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih begitu juga dengan Ethan.


"Bagaimana dengan tawaran film yang kemarin Zoya, benar-benar tidak bisa berubah pikiran?" tiba-tiba saja di antara mereka ada yang membuka topik dengan Zoya sebagai sasaran dari film yang sangat Ethan tolak keras-keras ketika wanita itu meminta izin sang suami.


"Karakter tokohnya sangat cocok dengan kamu. Saya yakin jika kamu yang menjadi pemeran utamanya, maka filmnya akan buming, sama seperti film-film kamu sebelumnya." sambungnya, Zoya meringis, mengingat kembali sebuah film yang membuatnya dengan Ethan sempat bertengkar.


Ethan yang merasa kesal juga hanya mendengkuskan napasnya. Kemudian tersenyum. "Oh sepertinya tidak. Jika sudah tidak, maka tidak." Ethan menyahut dengan nada sedikit sarkas.


Ia sangat tidak suka membahas hal tersebut. Zoya menggandeng tangan suaminya erat-erat, tersenyum canggung setelahnya karena salah seorang produser yang berkata begitu juga tampak canggung kepada Ethan begitu melihat reaksi pria itu.


"Ayo, silakan masuk."


"Kita lanjut mengobrolnya di dalam." Rafly mencairkan suasana. Mereka yang berada di sana lantas segera masuk. Begitu juga dengan Zoya dan Ethan.


Keduanya segera menemui istri dari Raffy untuk mengucapkan selamat atas kelahiran putra ke-tiga mereka.


"Ini anak pertama saya. Saat Pak Ethan datang pada acara syukuran anakbkedua saya, dia sedang di rumah pamannya. Sekarang dia ada di sini rasa." Rafly mengenalkan putra pertamanya kepada Ethan yang tampak malu-malu itu pada Ethan. Rafly bilang jika bocah itu baru saja lulus dari Sekolah Dasar dan duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.


Ethan menyapanya seraya mengusap puncak kepala bocah itu lalu tersenyum hangat, yang membuat Zoya terpana melihat hal itu. Terhitung sangat jarang sekali suaminya bersikap seperti itu kepada orang lain, tetapi kepada anak kecil atau bayi, ia sedikit berbeda.


Terutama sorot mata pria itu ketika melihat putra ketiga Rafly. Jelas sekali terlihat di mata Ethan jika diapun menginginkannya. Zoya seperti memiliki rasa bersalah di dadanya karena tidak bisa memberikan pria itu anak.


Padahal dengan jelas Ethan memperlihatkannya, jika sebenarnya pria itu pun sama dengan Zoya. Ethan pun ingin ada malaikat kecil di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


TBC


__ADS_2