Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Hujan


__ADS_3

Rendy buru-buru pergi menuju ke Rumah Sakit ketika Ethan menghubunginya jika pria itu datang hanya berdua dengan Naina ke Rumah Sakit, artinya tidak ada Zoga dengan mereka dan Ethan meminta bantuan padanya agar ia ada di antara Ethan dengan Naina, agar mereka tidak hanya berdua.


Randy melihat dua orang itu sudah berjalan memasuki Rumah Sakit, tapi matanya menangkap sesuatu hal yang ada dari kejauhan ia tersenyum miring. Lantas segera berjalan menuju sebuah pohon yang berada di seberang Rumah Sakit, tak butuh waktu lama untuk dirinya segera merampas sebuah kamera dari tangan seseorang berpakaian serba hitam uang tengah menjadikan Ethan dan Naina sasaran.


Orang tersebut tampak sedikit terkejut mendapati orang yang tiba-tiba meraih kamera miliknya. Ia hendak merebutnya kembali tetapi Randy lebih dulu menghindar.


"Siapa yang menyuruh kamu?" tanya Randy, menahan kamera di tangannya saat orang tersebut hendak meraihnya.


"Saya dengan Bos saya tidak terima atas foto ini. Kami bisa saja nenuntutmu dan agensimu kalau kamu sampai menyebarluaskan foto tersebut." ancam Randy yang membuat tubuh pria itu bergetar.


Ia tidak sengaja melihat Ethan dengan Naina di toko roti. Ia tahu siapa Ethan dan siapa gadis yang bersama dengan pria itu. Yaitu asisten dari seorang aktris terkenal Zoya Hardiswara. Rasanya menarik mendapati dua orang itu hanya berdua. Hinggga dengan nekad ia mengikuti mobil Ethan sampai ke Rumah Sakit.


Atasannya pasti akan sangat senang jika ia mendapatkan berita hangat dan membuat isu panas mengenai Zeinn Ethan Maheswary. Namun kedatangan skretaris Zeinn Ethan tentu saja adalah bencana dari rencana besar yang baru saja dibuatnya.


"Kamera ini saya tahan." sahut Randy tidak mau tahu.


"Bapak boleh menghapus fotonya, tapi tolong jangan tahan kamera saya. Saya bekerja dengan benda itu." pria itu memohon. Randy menimang benda di tangannya. Melihat hasil fotonya. Ia mengerutkan kening karena tidak menemukan apapun di sana. Pria itu tersenyum.


"Saya baru aja mau memotret mereka. Tapi Bapak segera datang sehingga saya tidak mendapatkan apapun." sahutnya. Randy menatapnya dengan sorot tak percaya. Tapi raut wajah paria itu begitu meyakinkan. Terlebih lagi, Randy hanya menemukan beberapa foto aktris. Tidak ada gambar Ethan maupun Naina di sana.


"Kamu tidak berbohong?" sorot mata Randy penuh selidik. Pria tersebut menggelengkan kepalanya dengan tenang. Tak lama Rendy mendesah, ia merasa tidak yakin tetapi dirinya tidak menemukan bukti apapun sehingga dengan pasrah ia menyerahkan kamera tersebut kepada pemiliknya.


"Kamu akan tahu akibatnya jika kamu mempublikasi foto tersebut." ancam Randy yang kemudian berlalu pergi meninggalkan pria tersebut l, pria yang ditinggalkan hanya tersenyum menatap kepergian Randy hingga punggung pria itu menghilang dari pandangannya.


***


Jujur Naina merasa gugup ketika ia diminta berbaring pada sebuah brangkar di sebuah ruangan, tangannya bahkan sampai berkeringat. Padahal dokter belum melakukan tindakan apapun padanya, pun ia sudah diberitahukan bagaimana prosedurnya. Tapi tetap saja, ini yang pertama kali untuk Naina sehingga ia benar-benar merasa risih.


Menurut dokter selanjutnya akan dilakukan pelebaran pada **** * untuknya dengan menggunakan spekulum. Lantas keteter berisi ****** akan dimasukkan ke dalam **** * melalui pintu rahim dan akan dimasukkan ke rahim selanjutnya ****** akan disemprotkan di dekat tuba Falopi.


Begitu tahapan itu selesai dengan Naina dan dadanya yang berdebar-debar, dokter meminta gadis itu untuk tetap berbaring hingga beberapa saat, sampai nanti dokter


melepaskan keteter dan spekulum.


"Sudah Bu." beritahu sang dokter. Naina sempat terhenyak, dokter hanya tersenyum pada gadis itu.


"Silakan, Ibu bisa langsung pulang." sahut sang dokter lagi, Naina mengangguk dengan tersenyum. "Terima kasih Dok."


**


"Sudah selesai?" tanya Ethan yang menunggu di depan ruangan tempat Naina melakukan inseminasi buatan, Naina menganggukkan kepalanya, berjalan dengan sangat pelan dan hati-hati, ia takut terjadi sesuatu hal di bawah sana. Ethan yang memerhatikan cara berjalan gadid itu segera mengalihkan pandangannya.


"Saya telepon Zoya dulu apa Bunda sudah pulang atau belum." sahut Ethan kemudian, Naina hanya mengangguk, Randy mempersilakan Naina untuk duduk di kursi tunggu, sedangkan Ethan sedikit menjauh untuk nelepon istrinya dan menanyakan apakah Bunda masih berada di sana atau wanita itu sudah pulang.


"Hallo Sayang." Ethan segera menyapa wanita itu saat panggilan sudah terhubung.


"Gimana, udah beres?" Zoya segera bertanya di ujung sana.

__ADS_1


"Sudah selesai. Bunda sudah pulang?"


"Udah, ada acara sama temen-temen seangkatannya. Baru pulang beberapa menit yang lalu." Zoya memberitahukan detailnya. Ethan mengangguk-anggukan. kepala.


"Yasudah kalau begitu. Saya dan Naina akan segera pulang." beritahunya yang langsung diiyakan oleh Zoya. Panggilan segera terputus, Ethan kembali pada Naina dan mengajak wanita itu untuk segera pulang.


"Pak Ethan." Randy menahan pria itu. Naina hanya menoleh, mengerti jika tampaknya ada yang ingin Randy bicarakan dengan Ethan tanpa kehadirannya. Gadis itu akhirnya pamit lebih dulu menuju pintu keluar Rumah Sakit dan akan menunggu di dalam mobil.


Sedangkan Ethan berada di sana. Ia mengerutkan kening melihat Randy yang tak berkata apapun setelah kepergian Naina. "Ada apa?" Ethan segera bertanya saat pria itu tak kunjung berbicara.


"Undangan syukuran besok malam dari Pak Rafly. Pak Ethan sudah menerimanya?" tanya Randy begitu mengingat sebelumnya ia sempat membuka email pribadi Ethan dan mendapatkan undangan tersebut.


"Rafly?" Ethan mengerutkan kening, merasa familiar dengan nama itu.


"Salah satu produser film. Dia mengundang Bapak untuk datang ke acara syukuran anak ketiganya."


Ethan diam sesaat, kemudian mengangguk. Ia tidak yakin untuk datang, mengingat acaranya akan sangat sensitif pada psikis Zoya. Tapi ia akan coba berbicara dengan wanita itu nanti apa dia mau atau tidak.


"Sudah?" tanya Ethan saat Randy tampak masih ingin mengatakan sesuatu hal, namun terlihat ragu untuk mengatakannya pada Ethan.


"Tadi saat saya menyusul Pak Ethan, ada orang yang membuntuti dan mengambil foto kalian." beritahunya, menciptakan kerutan di dahi Ethan kian dalam.


"Foto saya dengan Naina?" Randy mengangguk, Ethan diam sesaat. Padahal tadi dia sudah sangat berhati-hati.


"Lalu bagaimana?"


Rasaya aneh, sekalipun pria itu sudah mengatakannya jika ia belum sempat mengambil foto, rasanya tidak mungkin.


Para wartawan biasanya sangat cekatan.


"Alasannya?" Randy diam, kemudian menggelengksn kepala. "Saya cuma merasa tidak tenang. Setelah ini kita semua harus berhati-hati."


**


Hujan turun ketika Naina baru saja akan melangkah menapaki anak tangga di beranda Rumah Sakit. Ia menjeda langkahnya sembari menunggu Ethan dengan Randy keluar. Angin berembus cukup kencang, sesekali suara petir terdengar meski tidak besar. Hanya gemuruh.


Naina menoleh saat seseorang tiba-tiba saja berdiri di sampingnya. Rupanya Ethan, dengan Randy.


"Hujannya lumayan." sahut Randy. Ethan mengedarkan pandangan, lantas melepas jas yang ia kenakan dan menyerahkannya pada Naina. Ia tidak bisa menunggu sampai hujan reda.


"Hujannya tidak akan cepat reda. Jarak dari sini ke mobil tidak terlalu jauh." sahut Ethan. Naina terdiam sesaat. Ethan tidak mengerti jika proses inseminasi yang dilakukan Naina tadi mengundang ngilu pada bagian paling sensitif di tubuhnya. Dan pria itu memintanya untuk berlari?


Ethan diam menatap gadis itu, tampaknya sekarang ia sadar apa yang membuat Naina tampak ragu atas ajakannya.


"Yasudah." Ethan menarik tangan gadis itu, membuat jarak di antara mereka terkikis. Sedangkan setelahnya Ethan menjadikan jas yang tadi sudah ia lepas sebagai payung. Lantas berjalan pelan menerobos hujan. Randy yang mengerti situasi segera berlari melewati keduanya dan mengambil sebuah payung di dalam mobi.


Tak lama ia kembali dan menghampiri dua orang itu yang terlanjur basah kuyup, menyerahkan payung pada Ethan. Setidaknya, dengan begitu dua orang itu memiliki jarak yang cukup agar tidak terlalu berdekatan.

__ADS_1


Naina merasa menggigil begitu ia memasuki mobil, di sampingnya Ethan menoleh sekilas. "Tidak papa, hanya sebentar." sahut pria itu, kemudian mulai menghidupkan mesin mobil. Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi di bawah hujan deras, mereka harus segera sampai ke rumah agar gadis di sampingnya tidak kedinginan. Sedangkan Randy mengambil jalan lain karena ia akan kembali ke gedung agensi.


Begitu tiba di rumah, Zoya segera menyambut kedatangan keduanya, ia cukup terkejut mendapati dua orang itu basah kuyup.


Bagaimana mungkin mereka berada di dalam mobil tetapi terkena hujan?


"Kok bisa basah?" heran Zoya.


"Tadi kita ke mobil sambil hujan-hujanan, kan tidak mungkin nunggu hujannya sampai reda." Ethan menyahut. "Yaampun Ethan. Kamu biarin Naina hujan-hujanan? Astaga." Zoya memarahi sang suami. Suaminya tampak hanya pasrah.


"Terus gimana proses inseminasinya? Berhasil kan, nggak ada kendala apapun?" Zoya benar-benar penasaran dengan hal itu. Dia sangat tidak sabaran menunggu keduanya untuk pulang dan menanyakan hal tersebut, Zoya ingin mendengar hasilnya secara langsung.


Ethan dengan Naina kompak mengangguk. "Setelah dua minggu nanti kita baru tes kehamilan." sahut Ethan mengingat apa yang tadi Dokter katakan sebelum ia pulang. Zoya menganggukkan kepalanya. Ia hanya ingin bertanya tentang hal itu, sisanya yasudah hanya tinggal menunggu waktu. Nina dengan Ethan harus segera mandi dengan air hangat agar tidak sakit dan beristirahat.


"Yasudah, kamu mandi ya. Langsung istirahat." intruksi Zoya kepada Naina, gadid itu mengangguk dan berjalan menuju ke arah kamarnya, sementara ia sendiri menggandeng suaminya untuk ke kamar mereka.


"Harusnya kamu jangan maksain kayak gini, dong, kan jadi basah-basah kaya gini." sahut Zoya pada suaminya sambil merapikan rambut pria itu yang berantakan.


"Saya pulang, 'kan biar bisa cepat bertemu kamu." pria itu menyahut santai, sedangkan Zoya berdecih.


"Gimana kalau kamu nanti sakit?"


"Tidak apa-apa," Zoya mengerutkan kening mendengar jawaban suaminya. "Kalau sakit, 'kan ada kamu yang rawat saya." sambung pria itu. Untuk kali ini Zoya tertawa, tidak lupa mendaratkan pukulan pelan pada lengan suaminya.


**


"Biar aku siapin air hangat." sahut Zoya begitu tiba di dalam kamar, Ethan mengangguk tapi mengikuti langkah wanita itu menuju kamar mandi, melihat setiap gerakan yang istrinya buat ketika wanita itu menyediakan air hangat untuknya. Mengatur suhu sower.


"Sekarang kamu mandi, biar aku yang siapin baju buat kamu, oke." sahutnya yang kemudian berlalu meninggalkan kamar mandi, namun Ethan menarik tangannya membuat wanita yang berjalan dengan cepat itu sedikit terhenyak hingga tubuhnya tertarik dan menabrak dada Ethan. Dia berdecak, tak mengerti apa yang suaminya lakukan.


"Ethan, kamu harus buru-buru mandi atau kamu bakalan sakit nanti." Zoya memperingatkan pria itu.


"Jangan macam-macam!" intruksinya melihat tatapan Etan.


"Sayang–"


"Kamu harus mandi dulu, oke. Aku nggak mau kamu sakit." Zoya tidak bisa dibantah, Ethan mendesah pasrah, melepaskan pergelangan tangan wanita itu. Membiarkan Zoya keluar dari kamar mandi dan membiarkan dirinya hanya sendiri. Lagi-lagi Ethan mendesah sambil membuka satu persatu kancing kemejanya.


Sedangkan Zoya menyiapkan pakaian pria itu, sesaat ia terdiam. Apakah Ethan akan ke perusahaan atau meliburkan diri dan menikmati hari ini dengannya ketika di luar hujan turun dengan sangat derasnya? Zoya bertanya-tanya.


Pintu kamar mandi terbuka, Zoya menoleh ke arah suaminya yang baru saja keluar dari sana. "Kamu mau ke agensi atau libur aja hari ini?" tanyanya agar ia bisa dengan cepat menyiapkan pakaian untuk pria itu. Ethan tak langsung menyahut, ia berjalan mendekat ke arah Zoya yang berdiri di depan lemari.


"Bagaimana kalau libur saja?" ia berbisik tepat di telinga Zoya, tak lama pria itu melingkarkan tangannya di perut wanita itu. "Sepertinya saya tidak akan keluar, di luar dingin." sambungnya, masih melakukan hal yang sama, berbisik di telinga Zoya, sedikit membuat wanita itu merinding ketika hembusan napas Ethan menerpa kulit lehernya.


"Kalau gitu kamu pake baju ini aja." Zoya mengambil sebuah swetear berwarna putih dengan celana tebal berwarna putih pula. Zoya segera berbalik, namun matanya membulat begitu bibirnya mendapat serangan.


Ethan yang menahan tangannya ke atas kepala membuat pakaian pria itu yang berada di tangannya terjatuh ke lantai. Sepertinya, hari ini pria itu benar-benar tidak akan keluar kamar.

__ADS_1


TBC


__ADS_2