Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Sudah Ada


__ADS_3

Langit biru yang cerah dan air laut berwarna biru yang tampak begitu jernih. Angin berembus dengan lembut menyapa kulit, para manusia berlalu lalang dengan suara gaduh yang diterbangkan angin, adalah perpaduan sempurna dari pemandangan yang membuat Naina betah berlama-lama menatap dan menikmatinya.


Gadis itu ingin berjalan-jalan menyusuri pantai dan banyak mengetahui sesuatu hal tentang Maladewa, namun Ethan tampak enggan melakukannya. Karena pria itu hanya diam di kamar tanpa perduli dengan apa yang istrinya inginkan.


Jujur Naina merasa sedih mengingat hal itu. Sepertinya hanya ia saja yang berbulan madu. Tetapi Ethan tidak.


Hembusan angin yang menerpa menerbangkan rambutnya, Naina mengguyur rambut ke belakang. Ia mulai merasa panas berada di bawah terik matahari sehingga ia memilih beranjak dari sana, Naina ingat jika ia memang sudah cukup lama berada di luar.


Kaki mungilnya melangkah menuju kembali ke hotel dengan kepala tertunduk, sesekali membuatnya tidak sengaja menabrak bahu orang lain yang tengah berlalu lalang di pinggir pantai.


"Maaf, maaf." ungkapnya saat ia menabrak beberapa orang wanita dengan kulit putih kemerah-merahan, terlebih saat mereka terbakar cahaya matahari.


"Maaf," ungkapnya sekali lagi saat mereka hanya menatapnya tanpa reaksi. Membuat gadis itu melangkah mundur dan sekali lagi menabrak orang lain, kali ini seorang pria. Tubuh kerasnya membuat Naina jatuh terjerembab di atas pasir putih yang hangat.


"Are you crazy?" pria itu tampak emosi karena minumannya tumpah. Naina hanya diam di tempatnya, tidak mengerti dengan apa yang pria di hadapannya katakan.


"Why are you walking backwards when so many other people are here?"


Naina hanya mampu diam, ia tak mengerti maksud pria tersebut, tapi yang paling pasti ia cukup tahu jika pria itu sedang memakinya karena ia berjalan mundur dan tanpa sengaja menabraknya.


"I'm sorry Sir, she's my wife. He didn't do it on purpose." Naina masih hanya diam bahkan ketika Ethan datang di waktu yang tepat untuk menyelamatkannya dari situasi kacau yang tengah terjadi.


"Let me change the drink." ucap Ethan lagi.


Selanjutnya, Naina tak menyimak apa yang Ethan dengan pria bule itu bahas karena Naina tidak mengerti sama sekali. Tapi keduanya sempat berjabat tangan sebelum kemudian pria berkulit putih kemerahan itu berlalu meninggalkannya dengan Ethan.


Naina hanya menundukan pandangannya saat Ethan mendesah, ia tahu jika sang suami saat ini tengah menatapnya. Tapi tak lama, saat pria itu menariknya pergi, Naina ikut melangkahkan kaki dan mengekor di belakang Ethan.


Tapi sebelumnya, pria itu sempat berkata. "Lain kali hati-hati."


"Iya, maaf."


Ethan sesaat memaku mendengar kata maaf keluar dari gadis itu, namun ia hanya mendesah dan menggelengkan kepala.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, keduanya sudah berada di balkon hotel. Ethan dengan kaos berwarna putih dan rambut basahnya setelah ia mandi siang hari guna mengusir rasa gerahnya usai berjemur di pantai saat mengawasi Naina beberapa saat lalu, handuk kecil berwarna putih masih tersampir di bahunya bekas mengelap rambut.


Ethan memang tidak berminat untuk berjalan-jalan dan menikmati bulan madunya dengan Naina. Tapi saat Naina keluar dari kamar hotel, ia juga ikut keluar dan mengawasi gadis itu dari jarak jauh. Ethan tidak ingin gadis itu membuatnya repot andai terjadi sesuatu hal padanya karena ketidaktahuan dan keteledoran Naina nanti.


Terbukti saat gadis itu tak sengaja menabrak pria bule saat berjalan mundur. Ethan menggelengkan kepalanya mengingat hal tersebut. Ia mengalihkan perhatian pada Naina yang tengah menatap pemandangan laut dengan tangan yang bertumpu pada pembatas balkon.


Ethan ikut melakukan hal yang sama, menumpukan tangannya pada pembatas balkon dan ikut menatap objek yang menarik perhatian Naina sejak mereka tiba di Maladewa.


Naina menoleh sebentar pada pria itu. Membuatnya sekilas berpikir jika mungkin akan lebih baik jika ia tidak perlu menerima usulan Zoya untuk berbulan madu dengan Ethan.


Andai saat ini ia ada di Indonesia, di rumah megah Ethan dan Zoya maka rasanya akan jauh lebih baik. Ia pasti sedang membereskan rumah daripada bersama dengan Ethan dalam keadaan canggung seperti saat ini.


"Kamu ingin jalan-jalan?" Naina menoleh saat Ethan bertanya. Pria itu tengah menatapnya, saat Naina hanya diam Ethan kembali bertanya. "Kamu ingin jalan-jalan?"


"Pak Ethan nggak perlu repot-repot–"


"Tidak repot, kalau kamu mau kita bisa jalan-jalan nanti." Ethan menyela dengan cepat. Ia peka jika Naina pasti sangat penasaran dan ingin jalan-jalan di tempat mereka menikmati bulan madu.


"Tapi saya ingin tidur sebentar, kamu siap-siap saja dulu, bangunkan saya jika sudah selesai!" intruksinya, pria tampan itu segera berlalu bahkan saat Naina belum memberikan respond apapun.


***


Di tempat lain, Rival yang tengah hanya terdiam dengan posisi duduk pada kursi panjang di halaman samping rumahnya tengah memikirkan kunjungannya semalam ke rumah Ethan dengan Zoya dimana ia tak menemukam Naina ada di sana.


Rival menatap ponselnya, kontak Naina sudah terpampang di layar namun ia merasa ragu untuk menekan ikon telepon. Sejujurnya Rival ingin sekedar mendengar suara gadis itu dan bertanya mengenai kabarnya.


Lebih-lebih, chat yang ia kirimkan pada Naina tak mendapat balasan setelah gadis itu membacanya. Membuat perasaan Rival resah, ia merasa terganggu dan berasmusi jika Naina tak perduli padanya.


"Mas–" Vina yang kebetulan sedang mencari keberadaan putra pertamanya untuk mengajaknya berbincang setelah pria itu pulang dari pelariannya mengerutkan dahi saat mendapati Rival yang tengah melamun di samping halaman rumah. Ia sudah mencari putranya kemana-mana, rupanya Rival ada di sana.


Perlahan dengan langkah pelan, Vina melangkahkan kakinya untuk menghampiri sang putra. Menepuk bahu putranya lembut hingga membuat Rival menoleh. Ia meraih tangan Vina yang berada di bahunya, tersenyum lembut seraya menatap sang mama saat wanita itu tiba.


"Kamu lagi ngelamunin apaan, Mas?" tanyanya, Rival sedikit menggeser posisinya agar Vina bisa duduk di sampingnya. Begitu sang mama duduk, Rival menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan yang Vina ajukan.

__ADS_1


"Gak ngelamunin apa-apa." jawabnya kemudian.


"Mama tahu kamu, Mas. Kamu gak pinter bohong."


Kali ini Rival sedikit terkekeh. Ia menggandeng Vina dan menyatukan pipi mereka. Vina mendekap pinggang pria itu dengan erat. Sedewasa apapun putra pertamanya, baginya Rival tetaplah malaikat kecilnya yang menjadi pelengkap bagi keluarganya dengan Rayn sebelum Rafa dan Davika hadir di tengah-tengah mereka. Tapi, setelah dua adik Rival hadir pun, kasih sayang Vina dan Rayn tidak berubah saman sekali.


Semua anaknya mendapat takaran kasih sayang yang sama banyaknya.


"Gimana pelarian kamu? Mama harap setelah ini kamu menetap saja di sini. Gak perlu ke luar negri lagi, nggak perlu ke kesana-kesini. Mama nggak suka liatnya." oceh Vina, Rival hanya menyimak dengan wajah serius.


"Mama nggak suka kalau aku kesana kesini terus?"


"Iya, Mama nggak suka."


"Jadi Mama sukanya aku gimana?" tanya Rival yang sejenak membuat Vina mematung di tempatnya. Ia menatap dalam-dalam sang putra, tentu saja hal itu memancing keheranan Rival hingga pria itu menautkan alisnya menatap sang Mama, Rival merasa curiga hingga kemudian tangan lembut Vina mendarat di pipi kirinya.


"Mama sukanya kalau Mas dapetin pasangan dan menikah."


"Mama lebih suka kalo nanti ngeliat Mas berumah tangga dan bahagia." sama seperti ibu lain pada umumnya, Vina juga menginginkan seorang menantu hadir di tengah-tengah keluarganya. Terlebih, usia Rival sudah matang untuk membina bahtera rumah tangga.


Rival menatap pasrah Vina. "Kayaknya sedikit sulit, Ma." jawabnya setelah terdiam cukup lama.


"Kalau begitu kamu nurut sama Papa buat dikenalin ke anak-anak rekan kerjanya." usul Vina yang langsung mendapat penolakan dari Rival dengan gelengan kepala.


"Semua rekan kerja Papa baik, Mas. Anaknya juga pasti baik."


"No, bukan masalah itu, Ma. Tapi aku udah ada." jawabnya tanpa ragu. Vina sesaat terdiam guna mencerna apa yang putranya sampaikan. Hingga ia menajamkan alisnya dan meminta kepastian dari Rival yang ambigu. Rival hanya mampu mengangguk meyakinkan sang mama.


"Kapan mau dibawa ke rumah dan dikenalin sama Mama sama Papa?" tanya Vina, tampak tidak sabaran.


Rival tersenyum miring kali ini, membuat Vina kian penasaran terutama setelah Rival buka suara. "Mama kenal dia, Papa juga kenal. Kita kenal sama dia."


TBC

__ADS_1


Kalo ada plot hole atau alur yang nggak nyambung, komen saja, yah. Soalnya aku nerusin naskah tanpa baca ulang naskah awal. Terimakasih, salam sayaaaaang❤❤❤❤


__ADS_2