Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Rencana Pertemuan


__ADS_3

Hanya dalam beberapa hari, tapi Naina merasa sudah begitu lama meninggalkan rumah. Keadaan rumah tampak rapi saat ia kembali, dapur pun terlihat bersih dan semua perabotan berada di tempatnya masing-masing, persis saat Naina meninggalkannya. Barangkali Zoya jarang menggunkannya. Atau wanita itu mungkin membereskannya.


"Sepi." decak Naina. Pasti hal itu sudah Zoya rasakan saat dirinya dengan Ethan menikmati bulan madu mereka di Maladewa selama beberapa hari. Zoya pasti kesepian.


Usai mengunci pintu karena seratus persen yakin jika Ethan tidak akan pulang, Naina melangkahkan kaki menuju kamarnya, begitu tiba ia segera merebahkan diri. Napasnya berembus pelan dengan mata yang menatap plafon kamar. Naina mengingat lagi jika ponselnya tertinggal di Bandara dalam keadaan rusak. Saat ini ia tak memiliki ponsel.


Gadis itu bangkit saat merasakan jika perutnya lapar, ia beranjak dari tempat tidur menuju dapur dengan kepala gang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan gila.


Sedang apa Ethan sekarang?


Dia menemui Zoya? Yah, dia pasti menemui Zoya.


Apa mereka sedang bersenang-senang sekarang?


Kenapa perasaan Naina rasanya tidak karuan?


Mungkinkah ia cemburu?


***


"Aku udah bilang, aku mau sampein ke kamu tapi kamu tutup telpon pas kita telponan kemarin malam." Zoya berusaha menjelaskan agar Ethan tidak salah paham mengenai keterlibatan Edrin dalam film yang akan dibintanginya.


Pria yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basah itu tak menghiraukan ocehan istrinya. Membuat Zoya kian kacau. Andai Ethan benar-benar tak memberinya izin untuk syuting film tersebut, maka hancur sudah hidup Zoya.


"Than!"


Wanita itu berteriak saat Ethan hanya menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil dan berdiri di depan cermin rias dengan posisi memunggungi Zoya. Seolah menganggap wanita itu tidak ada.


"Bukan itu poin pentingnya Zoya!" ia kemudian menanggapi apa yang istrinya sampaikan.


"SAYA TIDAK AKAN MEMBERI KAMU IZIN UNTUK TERLIBAT PROJECT APAPUN DENGAN PRIA ITU!" tegasnya tak terbantahkan, sesuai dengan dugaan Zoya yang membuat wanita itu ragu untuk menyampaikan hal tersebut. Tapi sekarang, pria itu sudah mengetahuinya dan Zoya tidak tahu apa yang harus dilakukannya agar sang suami memberinya izin syutung film dengan Edrin.


"Saya mau kamu mundur!" kali ini nada bicara pria itu terdengar netral.


Zoya mendesah saat Ethan berjalan ke arah tempat tidur dan berbaring di sampingnya usai pria itu mengenakan kaos. Pria itu mematikan lampu dan tidur. Tentu saja membuat Zoya sangat kesal melihat gelagatnya yang seolah enggan menyelesaikan masalah.


"Syuting filmnya minggu depan. Enggak ada waktu buat nyari aktris baru–"


"Saya tidak perduli!"


"Spoilernya udah buat semua orang heboh. Kalau tiba-tiba aktrisnya diganti semua bakal runyam Than."


"Kita juga udah pemotretan buat poster film dan udah jadi. Jangan berlebihan deh!"


"Kamu tuh ada di industri ini, kamu pasti tahu betul dong gimana cara kerjanya. Aku udah taken kontrak dan nggak bisa batalin gitu aja."


"Kalau aku mundur, artinya aku ngerugiin semua orang!" panjang lebar Zoya, berapi-api yang membuat Ethan bangkit dari posisi berbaringnya, ia setengah duduk dan bersandar pada kepala ranjang. Napasnya tampak memburu setelah mendengar penjelasan Zoya Rasanya waktunya memang sempit.


"Seharusnya kamu bilang dari awal!"


"Aku juga taunya beberapa hari lalu pas pulang dari Bandara setelah nganterin kamu sama Naina. Aku bener-bener nggak tahu sama sekali awalnya." jujur Zoya, karena saat Selin memberitahunya mengenai perkara tersebut jika lawan mainnya adalah Edrin. Zoya begitu terkejut dan bahkan nyaris mundur dari film tersebut. Namun sayang, kontrak yang sudah ia tandatangani tidak bisa dibatalkan. Pun Zoya merasa enggan melepas filmnya begitu saja.


Ethan terdiam di sampingnya. Ia tidak bisa membiarkan Zoya terlibat terlalu sering dengan Edrulin atau hal yang ditakutkannya akan terjadi nanti.


"Aku sama Edrin nggak ada hubungan apa-apa kamu juga tahu itu, 'kan Than?" Zoya berusaha memberikan pria itu pemahaman.


"Aku nggak mungkin suka sama Edrin!"


"Tapi Edrin?" Ethan menyela dengan cepat. Sesaat membuat Zoya mematung mengingat kejadian dengan Edrin di depan restoran usai mereka makan siang saat pria itu berbicara mengenai tipe ideal dan menunjuk Zoya sebagai tipe idealnya.


Mungkin Edrin bisa saja menyukainya, tapi Zoya cukup yakin jika perasaan pria itu tidak akan lebih dari sekedar kagum padanya. Hanya kagum.


Zoya meraih tangan Ethan dan menggenggamnya. "Kamu nggak percaya sama aku?"

__ADS_1


"Sayang–"


"Than, kamu tahu sendiri aku nggak suka kalau cemburu kamu ngelewati batas." Zoya berbicara dengan suara yang terdengar sangat pelan.


"Tapi saya juga tidak suka melihat kamu sama Edrin."


"Kita cuma orang yang bekerja di industri ini dan bersikap profesional. Kita punya kehidupan pribadi masing-masing dan Edrin juga tahu aku udah jadi istri orang, aku bersuami dan sebagai aktor besar dia punya batasan, Than!"


"Kamu nggak harus khawatir sama hal-hal yang nggak perlu, okay?"


"Tapi kamu nggak tahu, 'kan kalau dia pernah nantangin saya buat deketin kamu?"


"Aku nggak akan biarin dia deketin aku buat hal yang nggak penting Than. Lagian aku juga yakin kalau dia nantangin kamu tuh cuma iseng aja karena ngeliat sikap kamu yang berlebihan!" Zoya mengutarakan asumsinya. Ia merasa cukup yakin dengan hal tersebut.


"Aku nggak bisa keluar dari film ini, kamu tahu sendiri gimana perjuangan aku buat dapet izin dari kamu biar bisa ambil film ini."


"Kamu mau nyuruh aku mundur gitu aja?"


"Percaya sama aku. Aku nggak akan khianatin kamu apalagi sampe ninggalin kamu cuma karena Edrin, yah." bujuk Zoya dengan lembut. Setidaknya Ethan harus mengerti atas keinginannya.


Pria itu hanya diam, Zoya juga diam menunggu jawaban Ethan dan berharap sang suami akan setuju. Hingga kemudian pria itu mengembuskan napas kasarnya, lantas balik menggenggam tangan Zoya.


"Baiklah!"


Senyum Zoya seketika terbit menghiasi wajah cantiknya. "Thanks my husband!" ia mendaratkan kecupan singkat si bibir Ethan.


"Tapi dengarkan saya!" Zoya spontan mengangguk.


"Ini adalah kali terakhir kamu memiliki project kerja sama dengan Edrin. Di masa depan, untuk apapun nanti, saya tidak akan membiarkannya." ucap Ethan sungguh-sungguh.


"Siap Boss!"


"Dan satu lagi!"


"Saya ingin bertemu dengan Edrin nanti. Saya harus memastikannya sendiri jika dia tidak akan macam-macam pada kamu selama kalian menjalani proses syuting."


"Saya harus memastikannya sendiri jika dia benar-benar tidak akan melakukan hal gila untuk mengambil kamu dari saya."


"Okay, aku bakal hubungin Edrin nanti."


"TIDAK PERLU!" spontan Ethan menaikan nada bicaranya dan membuat sang istri terkejut, sadar dengan apa yang ia lakukan, Ethan buru-buru berdehem.


"Biar saya sendiri yang menghubungi Edrin."


Zoya hanya bisa tersenyum pasrah dan menganggukan kepala. Setidaknya, Ethan sudah memberinya izin untuk bertahan. Zoya tidak perlu mundur dari film yang diinginkannya tersebut.


Ethan meraih ponselnya, mencari kontak orang kepercayaannya dan segera menghubunginya.


Begitu panggilan terhubung, Ethan segera berbicara.


"Hubungi manajer Edrin dan atur jadwal pertemuanku dengan Edrin!" intruksinya yang kemudian memutus sambungan secara sepihak. Rupanya api cemburu masih membakar pria itu sehingga deruan napasnya pun terdengar kasar. Yang bisa Zoya lakukan hanya mengusap lengan sang suami dengan lembut dan penuh pengertian.


Ethan kembali berbaring, merentangkan tangan dan meraih kepala Zoya agar berbaring di sana, mendekap wanita itu dalam pelukannya.


"Sekarang kita tidur, yah."


"Hmm, night Ethan."


"Night Sayang,"


***


Randy berdecih setelah panggilannya dengan teman sekaligus atasannya itu berakhir. Rupanya benar, memang ada yang tidak beres dengan pria itu.

__ADS_1


"Pak Ethan?" istrinya yang sedang menonton sebuah vidio kegiatan kesehatan dalam laptopnya sembari menikmati camilan bertanya. Randy mengangguk, mendudukan dirinya di tepi tempat tidur di samping sang istri.


"Dia pulang cepet dari bulan madunya." sahut Randy yang membuat Selin sontak membulatkan mata tidak percaya. Melihat keterkejutan sang istri. Randy hanya bisa mengerutkan dahi.


"Pak Ethan pasti udah liat foto Zoya sama Edrin. Pak Ethan pasti udah tau kalau mereka terlibat dalam film yang sama." Selin menjelaskan pada suaminya. Randy menganguk-anggukan kepala mengerti setelah mendengar penjelasan sang istri. Wajar saja jika sikap Ethan begitu dingin saat ditemuinya di Bandara beberapa jam yang lalu.


Randy mengingat lagi pertemuan mereka, sekilas wajah sendu Naina melintasi kepalanya. Mendadak ia merasa kasihan pada gadis itu, bagaimanapun sekalipun pernikahan yang dijalaninya dengan Ethan atas sebuah kesepakatan, tetap saja, Naina adalah istri pria itu dan ia pasti merasa cemburu.


Randy mendesah, lantas mengambil ponselnya dan berniat untuk menghubungi manajer Edrin untuk mengetahui jadwal pria itu dan mengatur pertemuannya dengan Ethan besok.


***


"Kamu cukup bicara sama Edrin baik-baik dan buat kesepakatan!" suruh Zoya saat Ethan mengatakan padanya jika setidaknya Ethan harus mendaratkan satu pukulan di wajah Edrin.


"No!"


"Kamu bakal dituntut kalau sampai melakukan kekerasan fisik sama Edrin. Aku nggak mau ada skandal apapun selama proses pembuatan film!" Zoya menaikan nada bicaranya saat keduanya berada di undakan tangga untuk turun ke lantai bawah.


Ethan yang berjalan lebih dulu lantas menghentikan langkahnya dan berbalik menatap istrinya. Ayolah, ia hanya bermain main saat mengatakan jika ia akan menghajar Edrin. Ethan tahu batasan dan ia tidak suka menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Kecuali mendesak.


Tapi saat sang istri menanggapinya dengan serius justru Ethan malah semakin menjadi-jadi.


"Saya tidak perduli!"


"ETHAN!" teriakan wanita itu membuat Ethan mengambil langkah mendekat padanya. Mungkin Zoya sedang lupa jika saat ini mereka berada di rumah Agyan dan Freya, bukan di rumah mereka.


"Shh, jangan berteriak!"


"Kamu mau jika Bunda mengira saya menyakiti kamu?"


Zoya hanya diam, ia menatap pria itu dengan kilatan kesal di matanya namun Ethan justru tersenyum. Pria tampan itu lantas meraih satu sisi wajah Zoya.


"Saya tahu bagaimana harus menyelesaikan masalah, Sayang. Kamu tidak perlu khawatir," ia akhirnya menenangkan dengan senyum tulus yang terbit di bibirnya. Membuat tatapan Zoya meneduh hingga wanita itu akhirnya mengukir senyum tipis.


Tentu saja hal sederhana itu membuat Ethan gemas dan tidak tahan untuk segera mendaratkan bibirnya di bibir ranum wanita itu. Tanpa ia sadar jika di bawah tangga Freya memerhatikan keduanya sejak mendengar teriakan Zoya.


"Ekhem!" Freya menginterupsi dua orang itu, membuat Ethan menghentikan aktivitasnya, pria itu tersenyum menatap sang bunda, berbeda dengan Zoya yang meringis karena tertangkap basah mertuanya.


Namun Ethan segera menggenggam tangannya dan menuntunnya turun ke bawah hingga berdiri di hadapan Freya.


"Selamat pagi Bunda." Ethan menyapa dengan riang gembira, sikap yang sedikit langka dilihat darinya.


"Apa yang kalian ributkan pagi-pagi begini?" tanya Freya Dua orang itu saling berpandangan kemudian dengan kompak sama sama menggelengkan kepala.


"Kita tidak ribut Bunda. Kita mau pamit pulang." sahut Ethan, Zoya ikut mengangguk mengiyakan. Freya mengerutkan kening, tak percaya alasan yang Ethan lontarkan. Tapi melihat kondisi dua orang itu, ia yakin jika semua baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Tidak sarapan dulu?" tanya Freya.


"Kami sarapan di jalan nanti."


"Bunda, Zoya pulang, yah." pamit Zoya saat Ethan berlalu lebih dulu dari hadapan mereka. Freya mengangguk, memeluk menantunya tersebut penuh kasih.


"Yasudah kalau memang kalian tidak akan sarapan di sini."


Freya lantas menggandeng Zoya menuju ruang utama dimana Ethan sudah berada di sana dan berpamitan pada Agyan.


Setelah keduanya berpamitan, Zoya dan Ethan melangkah keluar dari rumah. Keduanya akan sarapan di salah satu restoran dalam perjalanan pulang sekalian bertemu dengan Edrin usai membuat janji temu.


Zoya tidak tahu semua akan berjalan mulus atau tidak. Ia hanya berharap jika Ethan mampu menahan amarahnya dan menyelesaikan semua dengan kepala dingin.


Ia juga berharap jika Edrin tidak akan melakukan hal appaun yang sekiranya dapat memancing amarah Ethan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2