Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Kembali Pulang


__ADS_3

Anggota tim tiba di Bandara Tanah Air pagi-pagi sekali. Meski begitu, rupanya mereka tak bisa menghindar dari kejaran para wartawan yang sudah lama menunggu untuk mewawancarai Zoya.


Melihat keadaan yang tampak buruk sekalipun Arfat sudah menyiapkan petugas keamanan untuk mereka, Edrin dengan cepat menyusul langkah Zoya di hadapannya seraya membuka mantel tebal yang ia kenakan, menyampirkannya pada Zoya ketika mereka sudah hampir mendekati pintu keluar dimana para wartawan sudah bersiaga di sana.


Alexa yang melihat hal itu hanya mendesah, ia tahu Edrin sedang marah padanya karena hal ini. Bahkan sejak semalam pria itu sama sekali tidak berbicara padanya dan bahkan tidak duduk di sampingnya saat merrleka berada di dalam pesawat.


Zoya hanya menundukan pandangannya, berjalan dengan berhati-hati dan mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan para wartawan di hadapannya yang bersangkutan dengan kasus skandal yang saat ini tengah hangat diperbincangkan seluruh orang.


"Bagaimana syuting terakhirnya Zoya, lancar?"


"Lancar, semuanya berjalan lancar." Zoya menyahut dengan terburu-buru.


"Apakah hari ini Ethan datang menjemput kemari, Zoya?"


"Kamu sudah tahu, 'kan skandal yang menimpa suami kamu. Jadi apa tanggapan kamu, Zoya?"


"Benarkah diam-diam Pak Ethan memiliki hubungan gelap dengan asisten kamu?"


"Kamu benar-benar tidak tahu hal itu?"


"Selama ini kamu dibohongi oleh dua orang tersebut?"


Zoya berusaha mengabaikan untuk yang ini, puluhan pertanyaan mengenai kasus tersebut berusaha untuk dihindarinya. Ia terus menerobos menuju mobil yang sudah menunggunya di luar Bandara, cukup repot memang sekalipun para bodyguard berhasil menjaganya dari sentuhan dan desakan parah para wartawan, namun ia tak bisa lolos dari pertanyaan yang mereka lontarkan.


"Apa rencana kamu selanjutnya Zoya, kalau kamu tertipu, apa kamu akan menuntut dua orang yang sudah mengkhianati kamu?"


"Apa kamu akan memaafkan suami kamu?"


"Zoya, tolong berikan tanggapannya."


"Zoya, berikan jawabannya."


"Bisa kita wawancara sebentar Zoya?"


"Terima kasih," ucap Zoya pada bodyguard ketika ia sudah berhasil masuk ke dalam mobil.


"Terimakasih Edrin." Edrin sedikit-banyak sudah membantunya lolos dari situasi yang sangat sulit itu.


Melihat Zoya yang sudah berada di dalam mobil, tentunya Selin sang manajerlah yang menjadi sasaran pertanyaan para wartawan.


"Bagaimana tanggapan anda sebagai manajer dari Zoya Hardiswara, apa kalian sudah punya pilihan untuk kedepannya bagaimana menyelesaikan masalah ini atau kalian akan membiarkannya saja dan melihat Ethan menyelesaikan masalahnya sendiri?"


"Berikan tanggapannya Mbak Selin."


"Berikan tanggapannya."


"Semua pertanyaan kalian akan mendapat jawaban langsung dari Zoya dalam konferensi pers nanti. Permisi." ucap Selin singkat yang kemudian berusaha menerobos para wartawan dengan Alexa dan masuk ke dalam mobil, mengabaikan para wartawan yang masih terus melemparkan pertanyaan sekalipun mobil sudah mulai melaju perlahan.


"Kita langsung ke gedung agensi. Ibu Rachel sudah menunggu di sana." intruksi Selin kepada sopir dari gedung agensi yang datang menjemput mereka. Sang sopir mengangguk pelan dan melajukan mobil, meninggalkan Bandara.

__ADS_1


Zoya mendesah, mengguyur rambutnya ke belakang. Ia menatap keluar jendela dengan raut gelisah, Selin yang tahu kondisi perasaan wanita itu lantas meraih tangan Zoya dan menggenggamnya, Zoya menoleh dan tersenyum ketika Selin menyemangatinya dengan senyuman.


Sementara Alexa bersikap seolah menjadi patung di sana.


Kedatangan Zoya ke gedung agensi tentunya mendapat beragam tatapan dari orang-orang yang berada di sana memang, namun satu hal yang pasti mereka aman karena tidak ada wartawan melalui pintu masuk basement karena Zoya tidak masuk melalui pintu masuk utama.


"Bagaimana Zoya, syuting terakhir kamu, apa semuanya berjalan dengan lancar?" Zoya yang sedang berdiri di lobby gedung menoleh pada sumber suara di mana Rachel menatapnya dengan senyum yang sulit diartikan.


"Lancar Bu." Zoya menyahut diakhiri senyum manis.


"Langsung ke ruangan saya!" intruksinya yang kemudian melangkah pergi menuju sebuah lift. Zoya, begitu juga Alexa dan Selin mengikuti.


"Tadinya Pak Ethan yang akan menjemput kamu, tapi saya pikir itu bukan hal baik jika dia bertemu para wartawan di Bandara." sahut Rachel arangkali Zoya sedikit kecewa karena yang datang menjemputnya bukan sang suami.


"Saya mengerti." Zoya menyahut. Ia setuju dengan Rachel. Bagaimanapun, Ethan tidak bisa menghadapi media sendirian.


Setelahnya, di dalam lift, mereka hanya terdiam. Alexa yang enggan menatap sang mommy hanya menundukan pandangan. Bagaimanapun, ia tahu jika manajer Zoya pasti sudah melaporkan pada Rachel siapa dalang dibalik penyebaran skandal Ethan dengan asisten Zoya Hardiswara.


"Silakan duduk." Rachel mempersilakan begitu mereka tiba di ruangan wanita itu. Ketiganya duduk dengan raut tak terbaca. Hampir semua orang memperlihatkan ekspresi yang sama.


Cemas dan gugup.


"Mm, Zoya."


"Iya, Bu?"


"Kamu sudah tahu bukan, kasus yang menimpa suami kamu sangat berdampak besar pada karier kamu dan juga reputasi perusahaan."


"Jadi apa pilihan kamu?" tanya Rachel kemudian. Ia tak ingin bertanya terlalu banyak, karena Zoya pun pasti mengerti seberapa kacau kasus ini memengaruhi perusahaan mereka.


"Agensi sudah mempersiapkan konferensi pers. Bagaimana, kamu akan jujur pada media mengenai hubungan mereka atau kembali membuat sandiwara untuk menutupinya?" Rachel to the point. Selin sedikit terkejut, ia tahu seberapa bingung Zoya di hadapakan pertanyaan seperti itu.


Ia menatap Zoya yang tampak masih diam mempertimbangkan jawabannya. Hingga saat mata keduanya bertemu. Zoya mengangguk padanya seolah tanpa ragu.


"Saya yang sudah membuat kekacauan ini. Saya akan bertanggung jawab. Saya akan jujur pada media. Lagipula tidak ada yang perlu dirahasiakan lagi." Zoya menyahut mantap. Rachel sejenak terdiam begitu mendengar keputusan Zoya, tapi detik selanjutnya ia menganggukan kepala dan tersenyum atas pilihan tegas Zoya.


"Konfetensi persnya akan digelar dua jam lagi. Kamu boleh pulang dan beristirahat lebih dulu. Ethan pasti sedang menunggu kamu di rumah."


Zoya mengangguk samar, kemudian bangkit dari duduknya diikuti Selin dan pamit pada Rachel. Begitu juga Alexa yang ikut bangkit dari duduknya.


"Alexa." sampai panggilan Rachel membuat wanita itu mematung.


"Iya, Bu?"


"Kamu tetap di sini!" intruksinya yang membuat wanita itu mendesah pasrah dan kembali duduk di tempatnya.


"Aku pulang sendiri aja, Mbak, nggak perlu khawatir, aku aman."sahut Zoya saat mereka sudah berada di basemant.


"Kamu yakin?" Selin bertanya dengan nada khawatir. Zoya mengangguk. "Lagian Mbak juga butuh istirahat. Kita ketemu di sini dua jam lagi, okay." Zoya meyakinkan sebelum masuk ke dalam mobil perusahaan. Selin akhirnya mengangguk dan membiarkan wanita itu pergi.

__ADS_1


Setelah kepergiannya, Selin mendesah. "Masa yang benar-benar buruk." decaknya pelan.


***


"Mommy, aku ngelakuin itu karena punya alasan!" Alexa membela diri saat sang mommy menyaalahkannya atas insiden yang saat ini tengah mengegerkan publik.


"Mommy tidak ingin nendengar apapun alasan kamu, Alexa." Rachel tampak kegerahan menghadapi sikap anak sematawayangnya tersebut.


"Momy benar-benar tidak mengerti dengan kamu Alexa!"


"Apa yang Ethan dan Zoya sembunyikan sama sekali tidak mengganggu atau memengaruhi kamu!"


"Seharusnya kamu tidak perlu ikut campur masalah mereka!"


Alexa janya diam mendengarkan dengan pasrah. Bagaimanapun ia memang bersalah.


"Kamu sadar? Tindakan kamu sudah menyakiti mereka. Tindakan kamu merugikan, Alexa!"


"Kamu mengancam karir Zoya dan reputasi Ethan juga mencemarkan nama baik perusahaan!"


Rachel menatap putrinya yang hanya diam dengan pandangan tertunduk. Ia mendesah dengan amarah yang meluap-luap di dadanya. Ia selalu tidak bisa mengendalikan putrinyabl dengan sikap lemah lembut.


"Mommy tidak mau tahu, begitu perilisan film kamu selesai, kamu harus kembali ke Amerika–"


"Momy!"


"–jangan kembali ke Indonesia sebelum Mommy beri perintah!"


"Momy tidak mau mendengar protes!"


***


Zoya menghela napas sebelum kakinya melangkah menuju teras rumah. Selanjutnya, ia memantapkan diri dan memijakan kaki ke teras rumahnya lantas membuka pintu yang tak terkunci.


Ethan yang sedang duduk dengan pandangan tertunduk menunggu kepulangan wanita itu di ruang tamu mengangkat pandangannya begitu pintu terbuka.


Sesaat ia hanya mematung melihat wanita yang beberapa hari ini tak berkomunikasi sama sekali dengannya. Wanita yang beberapa hari ini sangat Ethan rindukan dan belakangan membuatnya tak bisa tidur setiap malam.


Zoya yang melihat pria itu mengukir senyum tipis. Tapi Ethan tidak ingin melihat hal itu, ia justru berharap Zoya akan datang padanya dan mencaci maki dirinya habis-habisan. Ethan akan merasa lebih baik jika melihat wanita itu marah padanya.


Mata Ethan tampak memerah melihat Zoya. Beberapa hari ini ia sangat khawatir jika istrinya itu tidak akan pulang untuk kembali bertemu dengannya. Namun ternyata, Zoya masih cukup baik untuk kembali pulang ke rumah mereka.


Tapi beberapa detik berikutnya, pria itu terkekeh setelahnya saat melihat Zoya yang merentangkan tangan dengan senyum lebar di bibirnya sekalipun matanya tampak berair.


"Kalau aku nggak salah denger waktu itu. Ada orang yang katanya kangen sama aku, katanya kalau aku pulang, ada pelukan permintaan maaf." sahutnya yang membuat mata Ethan kian memerah.


"Aku mau pelukan itu sekarang." sambungnya yang membuat Ethan segera berhambur memeluk wanita itu. Membuat perasaan Zoya menghangat seketika. Ia bahkan memejamkan mata beberapa waktu guna meresapi pelukan suaminya.


"Untuk apa kamu minta maaf. Harusnya pelukan ini cukup jadi pelukan kerinduan." sahutnya pada sang suami. Tetapi Ethan tak mampu menanggapi, ia hanya memeluk Zoya kian erat, seolah takut, jika sekali lepas maka istrinya tidak akan kembali lagi.

__ADS_1


"Saya sangat merindukan kamu, Zoya."


TBC


__ADS_2