
Ethan sedang sarapan di meja makan, sementara Zoya baru saja menuruni anak tangga dan terlihat sedang buru-buru. Ethan menoleh pada wanita itu sambil mengunyah pelan makanan di mulutnya.
"Ada apa buru-buru?" tanya Ethan, melihat wanita itu tengah mengenakan blazernya dengan cepat.
"Aku terlambat, duluan, yah." Mendaratkan kecupan di pipi Ethan kemudian beranjak tak kalah cepat.
"Kamu gak sarapan?"
"Bisa nanti!"
"Zoy–" Ethan menoleh ke arah pintu, wanita itu sudah hilang dalam sekejap mata. Membuat Ethan menggelengkan kepala, lantas ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi chatting. Mengetikan pesan pada istrinya.
Zoya melupakan satu hal, jika pagi ini ia harus datang lebih cepat ke lokasi syuting iklannya. Ia memasuki mobil, duduk di bagian kemudi, wajahnya meringis dengan tangan yang memegangi perut. Ada nyeri di sana.
Zoya mengatur napasnya, rasa sakitnya mulai reda. Denting ponsel di tasnya membuat ia mengambil benda canggih tersebut, melihat notifikasi dari suaminya.
...Pak Boss...
...Hati-hati....
...Jangan lupa sarapan....
Zoya tersenyum, membalas pesan Ethan dengan emoticon love kemudian ia mulai menghidupkan mesin mobil. Melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah.
Sementara di tempat lain, Arasy tampak duduk tenang saat diintrogasi kedua orang tuanya mengenai alasan wanita itu yang ingin hengkang dari dunia hiburan.
"Arasy cuma pengen istirahat, Ayah." menjawab pertanyaan Agyan dengan mudah.
"Sayang, harus ada alesan yang jelas." Freya membujuk putri kesayangannya untuk menjelaskan dan bersikap terbuka pada orang tuanya.
"Arasy, Ayah sama Bunda nggak akan paksa kamu untuk melakukam apa pun. Terjun ke dunia entertaint juga atas kemauan kamu, dan ingin berhenti dari sana pun atas kemauan kamu sendiri, tapi harus punya alasan yang jelad, Sayang." sahut Agyan panjang lebar. Arasy mendesah, memang sulit berbicara dengan kedua orang tuanya.
"Ayah, Bunda. Arasy cuma cape dan mau istirahat. Selama Arasy ada di dunia entertaint, Arasy belum pernah bener-bener istirahat."
Freya dengan Agyan diam dan hanya saling pandang. Agyan tampak menghela napas panjang, kemudian menatap putrinya.
"Allright, tapi ke mana tujuan kamu?" tanya Ethan, mengingat jika putrinya akan berlibur untuk waktu yang cukup lama.
"Luar negri?"
Arasy diam. Ia sudah memikirkan hal ini sejak lama. Andai ia siap berhenti dari dunia entertaint, maka ada satu tempat yang ingin ditujunya untuk menikmati kesendirian.
"Pokoknya ada, tapi Ayah sama Bunda nggak perlu tau."
Freya dengan Agyan mengerutkan kening, merasa tidak yakin. Sementara putrinya tampak tersenyum cerah.
"Kamu jangan lama-lama istirahatnya, kamu udah dewasa dan harus nyari pasangan."
"Ayah!" Arasy menolak membahas hal itu.
"Ayah bener Sayang." Freya mendukung sang suami dan membuat Arasy mendesah, sedikit kesal.
"Yaudah, ah, Arasy mau latihan." ia bangkit, mengambil ransel yang sudah dipersiapkannya dan kemudian melengkah ke arah pintu keluar. Agyan dengan Freya hanya menatap kepergian putri mereka.
__ADS_1
Arasy kembali bergabung di sanggar seni bela diri. Dulu, sewaktu SMP ia bergabung dalam waktu beberapa bulan, kemudian berhenti karena jadwalnya yang padat, kini ia kembali beegabung du sana untuk mengasah keterampilannya.
"Kamu yakin mau biarin dia berenti?" tanya Freya pada sang suami. Agyan menoleh padanya.
"Kita gak bisa paksa dia, Sayang. Lagian, Arasy juga butuh pengalaman lain agar dia lebih dewasa dan menikmati hidupnya." Agyan menyahut logis, Freya hanya tersenyum, kemudian menganggukan kepala. Setuju dengan suaminya.
**
Zoya melegut air minumnya begitu break syuting tepat di ruang istirahat yang letaknya berada di lantai dua. Ia mengguyur rambut ke belakang. Memijat pelipisnya, ia merasa sedikit pusing sekarang. Adhel datang membawakan minyak kayu putih untuknya. "Ini Mbak," menyodorkannya pada Zoya.
"Oh, makasih, yah."
Adhel mengangguk, Zoya menghirup minyak kayu putih tersebut, mulai mendapat sedikit ketenangan. Sedangkan Selin belum sampai di lokasi karena ada beberapa urusan yang harus diselesaikan.
"Mbak Zoya nggak apa-apa, 'kan?" tanya Adhel, khawatir. Zoya menatapnya, "enggak apa-apa kok. Santai aja!"
Adhel menatap wanita itu, kemudian hanya mengangguk-anggukan kepalanya. "Gimana kafe sereal kamu?"
Kali ini Adhel tersenyum dengan wajah riang."Lancar Mbak, spotnya 'kan instagramable banget. Jadi mereka betah bolak balik ke kafe Adhel." sahutnya yang membuat Zoya tersenyum, senang mendengarnya.
"Zoya, udah siap?" seseorang muncul dari arah tangga. Zoya menoleh, kemudian menganggukan kepala. "Mulai lagi Mbak?" Adhel bertanya.
"Iya, nih." Zoya beranjak, memegangi kepalanya yang sedikit pusing. "Mbak," spontan Adhel bangkit dari duduknya.
"Enggak apa-apa, saya cuma sedikit pusing." Zoya menolak Adhel untuk memapahnya. Ia berjalan menuruni anak tangga, tak sengaja kakinya tergelincur dan membuatnya terjatuh.
Adhel membulatkan mata, segera berlari memuruni anak tangga menghampiri Zoya yang sedang dalam kondisi kesakitan. Beberapa kru yang melihat kejadian tersebut segera menghampiri Zoya untuk menolong wanita itu. Bersamaan dengan itu, Selin tiba di lokasi. Dengan langkah cepat ia menghampiri Zoya yang dalam keadaan setengah sadar.
"Zoy."
"Zoy, kamu–" Selin menyadari sesuatu.
"Bawa aku ke rumah sakit." pinta Zoya dengan memohon, dengan cepat ia mengetahui kondisi yang dialaminya, beberapa kru mengangkat tubuh Zoya dengan cepat. Wanita itu sudah tidak sadarkan diri. Sedangkan sebagian lagi para tampak sangat cemas dan mengkhawatirkan keadaan Zoya, belum lagi memikirkan nasibnya jika saja hal buruk sampai terkadi pada Zoya dan bagaimana reaksi Ethan nantinya.
**
"Apa yamg sebenernya terjadi?" tanya Selin pada Adhel yang tampak panik. Zoya sedang ditangani oleh seorang dokter. Selin memejamkan matanya sesaat begitu dokter menyatakan jika Zoya mengalami keguguran karena benturan dan juga pendarahan hebat yang dialaminya. Ia sama sekali tidak tau jika wanita itu sedang hamil. Dan sekarang, Zoya kehilangan canlon anaknya.
"Adhel nggak tau, Mbak. Kejadiannya begitu cepat, Adhel gak tau kalau Mbak Zoya sampai terjatuh dari tangga."
"Harusnya Adhel bantu Mbak Zoya nurunin anak tangga." ia menyalahkan dirinya sendiri. Selin hanya bisa mendesah. Ia mengusap wajahnya gusar. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Zoya saat mengetahui hal ini nanti.
"Ibu Zoya sudah dalam keadaan normal. Tapi maaf, Pak. Kami tidak bisa menyelamatkan janin yang dikandungnya."
"Apa beliau tidak tau jika dirinya sedang hamil?"
"Benturan dan pendarahan hebat mengakibatkannya mengalami keguguran."
"Selain itu, Ibu Zoya terlalu kelelahan dan kekurangan asupan gizi, kondisi kandungannya juga sangat lemah sekali."
"Beberapa minggu lalu beliau masuk Rumah Sakit, dan saat itu beliau memang sedang mengandung. Seharusnya Ibu Zoya menyadari hal tersebut."
Ethan berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit setelah mendengar penjelasan dokter yang menangani Zoya. Mata pria itu memerah dengan aura menyeramkan yang terlihat dari ekspresi wajahnya.
__ADS_1
Begitu mendengar kecelakaan yang dialami Zoya di tempat kerjanya, Ethan segera meluncur ke Rumah Sakit tanpa memperdulikan apa pun. Sekarang kepalanya terasa pusing setelah mendengar penjelasan dokter yang mengatakan jika Zoya mengalami keguguran.
"Zoya, kamu dengan Ethan bagaimana. Kalian tidak berencana untuk segera memiliki anak?"
"Atau kamu ingin fokus pada karier terlebih dahulu?"
"Mm, saya sama Ethan belum mikirin hal itu. Lagi pula, kami baru saja menikah dan saya masih memiliki beberapa kontrak yang tidak mungkin dibatalkan begitu saja hanya karena perihal anak."
"Aku setuju, kamu masih sangat muda dan perjalanan kariermu juga masih sangat panjang."
"Kamu benar, karier kamu juga penting."
Ethan benci mengingat hal itu, ia mengendurkan dasinya begitu ia sudah berada di depan ruang rawat Zoya. Ia menelan saliva susah payah dan mengatur napasnya yang dikendalikan hawa marah.
Di dalam sana, Selin menggenggam tangan Zoya dengan kuat. Menenangkan wanita itu yang sangat shock begitu Selin mengatakan jika Zoya mengalami keguguran.
"Kamu sabar, yah."
Zoya hanya diam dengan raut pilu. Sampai pintu ruangan yang terbuka membuat ia menoleh. Ethan berdiri di ambang pintu dengan tatapan tak terbaca, Selin menoleh. Peka, ia beranjak untuk keluar dan memberi kesempatan pada dua orang itu untuk berbicara empat mata.
Zoya menatap Ethan tidak mengerti saat pria itu berjalan ke arahnya dengan raut berbeda. Selin sudah keluar dari sana. Zoya perlahan duduk dengan susah payah. Ethan mengalihkan perhatiannya ke arah lain, menolak melakukam kontak mata dengan Zoya.
"Than,"
"Kamu sengaja?" tanya Ethan dengan mata yang kian memerah, napas pria itu kembali berantakan. Zoya yang tak mengerti hanya mampu menggeleng kaku.
"Kamu sengaja ngelakuin ini semua karena kamu tidak ingin memiliki anak dengan saya?"
"Enggak gitu, Than."
"Iya Zoya. Kamu sengaja karena tidak ingin kita memiliki anak!"
Tanpa sadar air mata Zoya jatuh membasahi pipinya. Ia tidak menyangka jika Ethan akan berpikiran seperti itu padanya. Padahal sebagai seorang calon ibu. Zoya jauh lebih terluka dari pria itu karena sudah gagal menjaga calon anak mereka.
"Demi Tuhan bahkan aku nggak tau kalau aku hamil, Than." sahutnya susah payah dengan sesekali terisak.
"Kamu tau sendiri selama ini aku sibuk, selain itu aku juga banyak dihadapkan sama masalah. Aku sama sekali nggak tau!" sahut Zoya dengan air mata yang kali ini mengalir deras. Ethan di hadapannya tampak mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Kemudian bangkit berdiri dan hendak pergi.
"Ethan," Zoya meraih tangan pria itu, berharap Ethan mau mengerti dan mendengarkan.
"Aku jauh lebih sakit dari kamu. Kamu tau gimana terlukanya aku sebagai calon ibu yang sudah gagal karena harus kehilangan calon anak kita?"
"Aku terluka, Than."
"Demi Tuhan aku gak sengaja!" ia memohon, tapi Ethan menepis tangan wanita itu.
Ethan memegangi kepala, tak lama ia beranjak meninggalkan Zoya tanpa perduli dengan wanita itu. Membuat Zoya merasa kian kacau karena kehilangan sandaran.
Wanta itu melempar gelas yang berada di meja samping brankarnya, menciptakan suara pecahan nyaring yang membuat suster yang akan memeriksanya segera masuk dengan cepat. Ethan yang mendengar suara pecahan itu hanya menghentikan langkahnya sesaat, kemudian kembali berjalan dengan perasaan kecewa.
Ia kecewa pada wanita itu yang tidak dapat menjaga dirinya sendiri dan calon anak mereka dengan baik. Ia kecewa karena tau jika Zoya belum ingin memiliki seorang anak di antara mereka.
Zoya sudah berhasil membuatnya kecewa.
__ADS_1
TBC