
"Kamu pulang diantar supir ya, Karena pagi ini aku ada jadwal praktek." Sahut Devid.
"Iya," Airin menjawab pendek. Dia sedang berusaha menghabiskan sarapannya. Dia merasa kepalanya sedikit pusing, mungkin karena semalam dia tak bisa tidur. Tapi dia tak ingin Devid hawatir dan akan menyuruhnya tetap dirawat di Rumah Sakit.
Supir yang akan mengantar Airin pulang sudah menunggu di Loby Rumah Sakit. Devid mengantarkan Airin keluar. Semua yang bertemu mereka di sepanjang lorong Rumah Sakit tidak ada yang tak menyapa mereka. Tepatnya menyapa Devid, Presdir Rumah Sakit.
"Pagi Dok, pagi Ibu.." Begitulah sapaan yang mereka terima. Baik dari Perawat, OB atau bahkan Dokter Dokter yang bertemu mereka disepanjang lorong. Arin selalu tersenyum kepada semuanya. Banyak dari mereka yang mengagumi Airin. Cantik, anggun dan ramah. Begitulah penilaian mereka terhadap istri Presdir Rumah Sakit itu.
Setelah mengantar Airin hingga masuk ke mobil dan meninggalkan Rumah Sakit. Devid kembali masuk ke dalam, karena ada sesuatu yang akan dilakukannya. " Suruh Dokter Fiona keruangan saya sekarang." Ujar Devid menghubungi seseorang lewat ponselnya. Dan dia pun langsung menuju ruangannya.
"Pagi Dok, katanya Dokter memanggil saya.?" Tak lama menunggu Dokter Fiona pun datang. Fiona merasa tak nyaman dengan tatapan tajam Dokter Devid. Dia sudah mengira ngira kalau Dokter Devid memanggilnya ada hubungannya dengan Airin. "Apa wanita si*lan itu mengadu pada suaminya ini." Ucap Fiona dalam hati.
"Apa yang sudah kamu katakan kepada istri saya" Devid tak bisa berbasa basi lagi. Dia langsung menanyai Dokter Fiona.
"Mengatakan apa ? Maksud Dokter ? maaf saya tidak mengerti.." Dugaan Fiona benar. Ada hubungannya dengan Airin. Fiona masih mencoba untuk mengelak. Pura pura tak paham arah pembicaraan Dokter Devid.
"Sudah cukup Dokter Fiona. Kamu tidak usah berpura pura lagi. Terakhir kali yang berbicara dengan Airin di acara tadi malam adalah kamu. Saya yakin kamu lah yang membuat istri saya pingsan semalam.Apa yang sudah kamu katakan... Haahhh..." Nada suara Devid mulai meninggi. Dia sudah muak dengan tingkah Fiona. Lagi lagi dia bikin ulah.
"Maaf Dokter Devid, saya berani sumpah. Saya tidak mengatakan apa pun pada istri Dokter selain dari ucapan selamat atas pernikahan kalian. Itu saja." Fiona pun keukeh dengan kata katanya. Sudah kepalang tanggung berbohong. Dari pada nanti Devid semakin marah padanya. Walau bagaimanapun juga dia masih butuh pekerjaan ini. Apa nanti kata sahabat sahabatnya kalau dia dipecat lagi.
__ADS_1
"Kamu pikir saya anak kecil yang gampang sekali untuk dibohongi.." Ujar Devid dengan tatapan tajamnya.
"Baik, kalau kamu tidak mau mengakuinya. Ini adalah peringatan terakhir saya untuk kamu. Apapun urusanmu dengan Syahdan, jangan pernah kamu melibatkan aku dan keluargaku Apalagi Airin. Karena sekarang dia adalah istriku. PAHAM... " Ujar Devid dengan penekanan yang sangat menakutkan.
"Baik Dok... Saya mengerti.." Jawab Fiona ngeri.
"Keluar dari ruangan saya." Usir Devid.
Fiona pun segera keluar.Dia terdiam dibalik pintu ruangan Devid. Matanya basah, Fiona mengepalkan jemarinya kuat. Tampak dia sangat menahan amarahnya.
"Awas kau Airin. Jangan fikir aku akan membiarkan kamu bahagia. Kita lihat saja nanti.." Ucap Fiona lirih.
Sementara itu Airin telah sampai dirumah. Dia disambut hangat oleh Kedua Ibunya, Dewi dan Anita. Syfa pun langsung berhambur ke pelukannya. Seakan sangat merindukan Bundanya.
"Airin ngk pa pa kok Bunda. Capek juga kalau harus tiduran terus..hehehheeh" Jawab Airin.
Mereka pun ngobrol bersama. Airin sangat merasa bahagia sekali. Melihat kedekatan Ibunya dengan Ibu mertuanya. Obrolan mereka seakan nggak putus putus. Ada saja yang mereka bahas. Sesekali Ayahnya dan Airin ikut ngobrol. sangat terlihat kalau Ibu mertuanya itu sangat peduli kepada Ayah dan Ibunya. Sedikitpun tak terlihat dari sikapnya yang merendahkan orangtuanya. Airin sangat bersyukur sekali. "Semoga keputusanku menikah dengan mas Devid adalah keputusan terbaik." Harap Airin dalam hati. Dia berharap kebahagian yang kini tengh dirasakan orangtuanya akan selamanya. Jangan lagi ada duka untuk Ayah dan Ibu.
"Nak, kemaren adikmu telpon. Da titip salam, belum bisa pulang karena semasa kontrak kerja dia ngk dapat cuti dari majikannya." Ujar Dewi.
__ADS_1
"Adik Airin kerja apa Jeng, kok nggak dikasih izin cuti." Anitapun penasaran.
"Aina kerja jadi penjaga lansia Bu, Dia menjaga seorang nenek, Jadi anak nenek itu nggak kasih izin Aina pulang sampai habis kontraknya. " Jawab Dewi.
"Tapi katanya kontraknya ngk sampai satu tahun lagi.. Jadi dia mau bertahan dulu saja. Nanti setelah habis kontrak kerjanya, dia mau berhenti saja. Mau balik kesini bu" Lanjut Dewi. Bagaimana pun juga, dia sudah rindu dengan anak gadisnya yang satu itu. Masih teringat dulu Aina terpaksa pergi keluar kota untuk menghindari ancaman Andri mantan suami Airin dulu. Tapi sekarang Andri sudah meninggal dan Airin pun insyaAllah sudah bahagia dengan pernikahannya yang sekarang. Jadi, Dewi ingin Aina tinggal bersama nya lagi.
"Nanti Airin telfon Aina Bu, sudah lama juga nggak ngobrol dengan dia. Terakhir sejak Airin akan menikah dengan Mas Devid."Ujar Airin tersenyum.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ditempat lain, Luna baru saja habis belanja. Luna berjalan menuju mobilnya sambil sesekali melihat aplikasi hijau di ponselnya. Sesekali dia tampak mengetik membalas chat masuk di aplikasi itu. Tak sengaja tiba tiba Luna menabrak menyenggol seseorang. Sehingga barang bawaan Luna jadi terlepas dan berjatuhan.
"Maaf,,, maaf mba,,, saya nggak sengaja. Saya tengah buru buru jadi kurang memperhatikan jalan. Sekali lagi maaf mba." Ujar Pria yang bertabrakan dengannya itu. Sambil membantu Luna mengambil kembali belanjaannya yang jatuh.
"Iya nggak pa pa mas, saya juga salah. Main hape saat jalan." Jawab Luna. Dia nggak bisa marah karena tadi dia juga sedang membalas chatingan dari temannya.
"Eh,, mba Luna ya.." Ujar Pria itu saat mereka saling pandang. Luna mencoba mengingat ingat pria di depannya itu. Sepertinya dia juga mengenal pria itu.
"Mas Andri,,??" Tanya Luna memastikan..
__ADS_1
"Iya mba, saya Andri. Masih ingat saja ya mba." ujar Pria yang bernama Andri itu sambil tertawa kecil
"Hehehe, ingat ingat lupa Mas...." Jawab Luna polos. Karena memang kalau saja mereka tak bertemu lagi sekarang mungkin dia sudah tak ingat lagi dengan pria yang pernah menolongnya saat Syahdan mabuk berat dulu. Sewaktu Syahdan kecewa dan merasa di khianati sahabat baiknya, Dokter Devid. "Ah jadi ingat itu lagi." Ucap Luna dalam hati. Kejadian itu benar benar membuat Saudara laki laki nya itu terpukul. Bagaimana tidak, baru saja sehari mereka kehilangan Mami mereka untuk selamanya. Besoknya, wanita yang dicintai Syahdan pun menikah. Itupun dengan Sahabat karibnya sendiri. Sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah yang dirasakan Syahdan.