Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Jalan Untuk Damai


__ADS_3

Freya dengan Agyan menuruni anak tangga. Aryo sudah berlalu membawa koper mereka dan menyimpannya di bagasi mobil.


Di lantai dasar, Anna dengan Warry tengah duduk sambil menonton tv, dengan Cherry dan Mama Gavin yang datang bertamu ke rumah Agyan dan Freya. Sementara Anna dan Warry memang menginap di sana.


"Mami, Freya berangkat sekarang." pamit Freya seraya menghampiri Anna. Anna beranjak dari duduknya dan memeluk Freya, membuat tatapan fokus Warry pada layar tv beralih pada Freya.


"Mami besok datengnya jangan telat."


"Iya, Sayang. Mami tepat waktu, kamu tenang aja. Yah."


"Janji?" Freya menguarai pelukannya. Matanya berkaca-kaca, begitu juga Anna yang menyaksikan putrinya sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.


"Iya, Sayang. Mami janji," Anna mengelus perut besar Freya, tersenyum setelah melihat Freya juga mengukir senyum.


Freya beralih pada Warry yang tetap duduk di sofa. Ia mencium punggung tangan Warry. "Papi, do'ain, Freya, yah. Biar selamet sama bayinya juga."


"Amin, Papi akan do'akan, Nak."


Warry mengukir senyum tulusnya, mencium perut Freya cukup lama. Menguntai kata dan do'a untuk kedua cucunya di dalam sana.


"Kalian hati-hati, yah." ungkap Warry setelahnya. Agyan mengangguk, mencium punggung tangan Warry dan menggandeng Freya yang akan berpamitan pada Mama Gavin.


"Tante, do'ain Freya, yah."


"Iya, Sayang. Hati-hati, yah."


"Sehat-sehat sama bayinya." mengelus perut Freya.


Freya mengangguk dan beralih pada Cherry. Cherry segera merentangkan tangannya. Lantas Freya memeluknya. "Uhh, yang bentar lagi gendong dua bayi." sahutnya, Freya hanya tersenyum.


"Do'ain, yah, Che. Besok jangan lupa dateng,"


"Iya. Loe tenang aja,"


Setelah acara pamitan, Freya dan Agyan berlalu. Masuk ke dalam mobil untuk segera berangkat ke rumah sakit. Sepanjang perjalan, Freya hanya diam dengan mata yang terus mengarah pada kaca jendela mobil. Agyan memperhatikannya, menggenggam tangan Freya.


"Kenapa, sih?"


Freya menyeka air matanya. Agyan justru tertawa melihatnya. "Kenapa, hah? Kamu gak seneng?" tanya Agyan sambil mengelus-elus punggung tangan Freya.


"Enggak, bukannya gitu. Aku seneng, malahan seneng banget. Aku cuma gak nyangka aja,"


Agyan tersenyum, kemudian menyeka air mata istrinya. "Tau, gak, sih, Yo." ia berbicara pada Aryo. Aryo hanya melihatnya melalui spion.


"Dari semalem, Freya cemas terus. Banyak nangisnya." adu Agyan yang membuat Aryo hanya tersenyum.


"Mungkin Mbak Freya terharu, Mas."


"Perjalanan kalian, 'kan nggak mudah—" Aryo menjeda kalaimatnya, ia merasa terlalu lancanag, tapi sudah terlanjur mengungkapkannya.


"Mungkin Mbak Freya juga merasa, hal itu seperti anugerah dalam rumah tangga kalian."


Agyan mengangguk kecil. Ia mengerti dengan apa hang sebenarnya coba Aryo sampaikan. Dan ia sama sekali tidak merasa keberatan.


"Bener gitu?" Agyan beralih pada Freya.


"Iya. Dan kamu tau sendiri, sekalipun mereka belum dapet do'a apa-apa dari Papi Andreas."


Agyan semakin kuat menggenggam tangan Freya. Lantas ia mengecupnya, "Kamu gak usah khawatir. Semuanya bakal baik-baik aja."


Freya mengulas senyum dan mengangguk.


Setibanya di Rumah Sakit. Feya dan Agyan menemui dokter yang akan menangani operasi secar Freya. Mengobrol sedikit dan mengantarkan Freya menuju ruang rawat inapnya setelah operasi nanti.


"Silakan," seorang perawat membuka pintu, mempersilakan Freya dan Agyan untuk masuk. Sementara sang dokter yang mengantarkan mereka kembali ke ruangannya.


Freya menutup mulutnya tak percaya saat ia masuk ke dalam ruangan. Bagaiamana tidak, ruangan tempatnya di dekor dengan sedemikian bagusnya. Persis seperti akan ia akan mengadakaan pesta.


"Kamu yang siapain?" tanya Freya pada Agyan yang menaruh tas Freya di meja samping brankar. Agyan mengangguk puas, senang melihat ekpresi istrinya yang tampak senang.


"Kamu seneng?" Agyan mendekat dan menggandeng Freya.


"Seneng banget, bagus."


"Iya dong. Khusus buat kamu,"

__ADS_1


Freya tersenyum dan memeluk Agyan. Mengucapkan rasa senang dan terimakasihnya pada sang suami.


Pukul tujuh sebelum waktu operasi, Freya dan Agyan menghabiskan waktunya untuk berjemur di balkon rumah sakit. Menikmati pagi dengan terpaan sinar matahari, dan Agyan semakin tidak sabar untuk segera melihat kedua buah hatinya.


Para anggota keluarga juga sudah datang sesuai dengan permintaan Freya agar tidak terlambat. Hanya saja, tidak lengkap rasanya tanpa kehadiran orang tua Agyan. Meski saat ini, Agyan tidak ingin terlalu memikirkannya. Ia hanya akan fokus pada Freya. Toh, percuma saja berharap pada Andreas.


"Padahal kalau joging, cuma di sekitar sini aja." sahut Agyan, matanya mengarah ke bawah, di mana beberapa orang berlalu-lalang di sekitar Rumah Sakit, para manusia sudah mulai beraktifitas meski masih pagi.


"Pokoknya jangan!" cegat Freya. Agyan hanya tersenyum. Tak lama, ponselnya berdering, Agyan merogoh ponsel dari saku jaketnya.


"Siapa?" tanya Frrya saat Agyan hanya menatap layar ponsel dan tak kunjung menjawabnya.


"Rachel,"


Freya mengangguk mempersilakan Agyan agar mengangkat telpon. Agyan menurut dan segera menggeser ikon hijau. "Gyan, aku ke luar sebentar, yah." pamit Freya.


"Ke mana?"


"Sebentar aja, yah."


"Hati-hati, jangan lama-lama."


"Iya, Sayang."


Freya berlalu, melewati ruangannya di mana para anggota keluarganya ada di sana. Dan Freya mengatakan akan ke luar sebentar. Anna membiarkannya meski terlihat enggan Freya keluar dari ruangan tanpa intruksi dari Dokter. Terlebih, gadis itu menolak untuk ditemani.


Freya hanya berjalan-jalan, menyusuri lorong Rumah Sakit. Ia mendapat sapaan dari banyak orang yang dilewatinya, dan Freya membalasnya dengan senyum manis. Langkahnya menjadi perlahan kala matanya menangkap sosok yang ia kenal.


Langkah kaki Freya menuju ke sana, orang yang dihampirinya tampak terkejut melihat kehadirannya. "Freya,"


"Mami ngapain di sini, siapa yang sakit?" tanya Freya tidak sabaran, sembari menyentuh lengan Grrycia yang mengulas senyum tipis.


"Siapa yang sakit?" tanyanya sekali lagi.


Grrycia tak menyahut, ia menggenggam tangan Freya dan menggandeng menantunya itu ke sebuah ruangan dengan tanda bunga mawar di depan pintu.


Grrycia membuka pintu ruangan tersebut dengan pelan. Freya menoleh pada Grrycia setelah matanya menangkap sosok tak asing yang tengah berbaring di brankar Rumah Sakit dengan perban di kepalanya.


Grrycia tak mengatakan apapun, ia hanya mengangguk dan menggandeng Freya mendekat pada Andreas.


*


*


Setelah kedatangan Agyan yang mengundang Andreas secara langsung untuk datang dalam acara pembukaan galeri seni miliknya. Andreas belum kunjung membuat keputusan akan datang atau tidak bahkan ketika Agyan sudah meninggalkan ruangannya.


"Agyan ngundang kita buat dateng di acara pembukaan galeri seni miliknya." sahut Andreas saat ia dan Grrycia akan tidur. Cahaya temaram dari lampu balkon memberi celah pada Andreas untuk dapat melihat wajah istrinya.


"Kita dateng?"


Andreas terdiam, matanya fokus menatap plafon kamar. Grrycia menyentuh sisi wajah suaminya.


"Mas, kalau kamu masih sulit sama hal ini. Aku yang nyerah. Selama ini, sebagai istri yang baik aku selalu ada dipihak kamu meskipun kamu keliru."


"Tapi mulai sekarang, aku nggak bisa. Aku malu sama diri aku sendiri saat mungkin aja status aku sebagai seorang ibu dipertanyakan oleh Agyan."


Grrycia menghela nafas, menaruh telapak tangannya di dada Andreas.


"Mas. Kalau selamanya kamu menyiksa diri kamu sendiri dengan ego, kapan kamu akan benar-benar menjadi seorang ayah, dan mertua yang baik untuk menantu kita?"


"Grrycia, saya mau tidur!"


Grrycia menghela nafas. Menurunkan tangannya yang berada di dada Andreas. Sedangkan Andreas memejamkan matanya, tak lama, ia mengubah posisi dan membelakangi Grrycia.


Keesokan harinya, Andreas yang sudah rapih dengan stelan jas kantornya menghampiri Grrycia yang tengah menyiapkan sarapan. Grrycia hanya menatap Andreas yang melangkah mendekat. Keduanya hanya bertukar pandangan, saling menatap sampai kemudian Andreas memutua tatapan itu dan memeluk istrinya.


Wajahnya terlihat sendu, Grrycia mengusap kepala sang suami. "Nanti kita dateng ke acara Agyan, yah." sahut Grrycia dengan suara pelan. Andreas mengurai pelukannya.


"Mas terlalu malu, Grrycia. Selama ini, Mas selalu memikirkan bagaimana caranya agar dapat berdamai dengan Agyan ataupun masa lalu, tapi Mas sama sekali tidak menemukan alasan yang tepat untuk memperbaiki semuanya."


"Mas terlanjur memperkeruh keadaan, Mas terlalu egois."


Grrycia tersenyum mendengar kalimat suaminya. Ia mengelus kedua sisi wajah Andreas.


"Mas Andre, kamu tau gaimana putra kita. Aku yakin dia bakalan ngerti. Justru semakin kamu menjauh, Agyan akan berubah membenci kamu." Grrycia mengatakannya dengan penuh kelembutan. Memberikan pengertian pada Andeeas agar suaminya tidak berkecil hati.

__ADS_1


"Kita dateng, yah."


Andreas terdiam, kemudian mengangguk. Jangan sampai, Agyan menganggap jika kekeluargaan mereka berakhir. Di dalam tubuh Agyan, mengalir darah, yang selamanya adalah miliknya, darah Andreas.


Tepat pukul delapan pagi ketika Andreas dan Freya akan berangkat ke acara pembukaan galeri seni milik Agyan, Andreas mendapat panggilan dadakan dari perusahaan. Ada klien dari luar negri yang ingin bertemu dengannya.


"Yasudah, kamu berangkat duluan. Nanti Mas akan menyusul, Mas janji tidak akan lama." sahut Andreas sebelum Grrycia masuk ke dalam mobil.


"Mas janji tidak akan lama, Sayang."


"Seenggaknya, salah satu di antara kita harus ada sebelum acara dimulai."


Grrycia diam, kemudian ia hanya mengangguk pasrah. "Mas hati-hati!"


Andreas menganggukkan kepalanya, membukakan pintu mobil untuk Freya. "Pak, saya titip istri saya." pesan Andreas pada sang sopir.


Setelah mobil yang ditumpangi Grrycia berlalu. Andreas masuk ke dalam mobilnya, ia melihat arloji dipergelangan tangannya. Ia harus datang dalam acara Agyan sebelum acara dimulai, hal itu yang berada di kepalanya ketika ia mulai melajukan mobil.


Ia tidak boleh membiarkan Agyan membencinya. Mobil yang dikendarai Andreas melaju dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan Ibu Kota.


Sedangkan Grrycia, perasaannya mendadak menjadi cemas. Ia gelisah sepanjang perjalanan. Padahal, ia akan bertemu dengan putra dan menantunya dalam acara bahagia, tidak sepantasnya hatinya merasa seperti sekarang.


Mobil berhenti tepat di depan gerbang sebuah gedung di mana galeri seni milik Agyan ada di sana. "Ini tempatnya Bu?" sang sopir bertanya. Grrycia mengangguk, bersamaan dengan telpon masuk di ponselnya.


Grrycia hanya terdiam setelah bertanya siapa penelpon. Kemudian kata yang keluar dari mulutnya setelah itu adalah, "kita putar balik Pak." ucapnya dengan setetes air mata yang jatuh menganak sungai di pipinya.


Setengah heran, sopir melaksanakan apa yang Grrycia perintahkan. Perasaan Grrycia semakin gelisah, hatinya bertanya-tanya bagaimana keadaan sang suami yang mengalami kecelakaan.


Tanpa Grrycia tau, bersamaan dengan kepergian mobil yang ditumpanginya. Agyan keluar dari gedung, matanya mengarah ke arah gerbang. Berharap dua orang yang ditunggunya segera datang.


*


*


Tanpa terasa, air mata Freya jatuh menetes mendengar penuturan Grrycia. Bagaimana Andreas mengalami kecelakaan setelah menerobos lampu merah tanpa disadarinya.


"Saya kira, dengan mengebut. Maka waktunya akan cukup, tapi ternyata saya malah sama sekali tidak bisa datang dalam acara Agyan."


"Saya pasti sudah sangat mengecewakan Agyan," Andreas terlihat sedih mengatakannya. Beruntung, luka yang dialaminya tidak begitu parah.


Freya menggeleng kecil. "Tapi kenapa kalian gak ngasih tau kami hal ini?"


"Mami udah coba hubungin Agyan, tapi tidak ada respon."


"Mami bisa telpon Freya," Freya semakin tidak kuasa menahan air matanya. Agyan begitu marah dan kecewa karena Andreas tidak datang. Tanpa mereka tau, jika Andeeas hampir kehilangan nyawanya demi menghadiri acara Agyan.


Grrycia hanya mengulas senyum sambil mengusap lengan Freya.


"Freya, maafkan saya. Selama ini, saya tidak bisa menjadi mertua yang baik untuk kamu. Selama ini, sikap saya juga tidak baik kepada kamu." ungkap Andreas pada menantunya, terlihat sorot penyesalan di matanya.


"Maaf, 'kan saya."


Freya mengulas senyum dengan air mata yang mengalir di pipinya. Tangan Andreas terangkat, hal yang tidak Freya duga saat tiba-tiba saja Andreas mengelus perut Freya.


"Saya yakin, keduanya, akan menjadi pelengkap hidup bagi kalian." Freya mengangguk kecil. "Semoga operasi kamu berjalan lancar. Semoga kamu dan kedua cucu saya selalu dalam keadaan yang sehat dan selamat."


Air mata Freya kian deras, sejak tadi Grrycia juga sudah berkaca-kaca. "Terimakasih, Om."


Andreas menggeleng. "Panggil saya, Papi."


Freya mengangguk dengan spontan. "Iya, Papi."


Sepanjang perjalanan untuk kembali ke ruangannya, Freya hanya diam. Tapi bibirnya terus mengulas senyum. dari arah berlawanan, Agyan berlari ke arah Freya. "Sayang," Agyan menghampirinya dengan raut panik.


"Aku nyari kamu ke mana-mana. Kamu ke mana aja?"


Freya tersenyum, ia balik menggenggam tangan Agyan. "Gyan,"


"Ada apa?"


"Aku, sama bayi kita. Kami udah dapet do'a dari Papi Andreas."


TBC


Ayolah, banjir komentar😂

__ADS_1


__ADS_2