
"Astaga, Mas. Kamu kenapa?" tanya Vina dengan raut panik saat melihat kepulangan putranya dengan wajah babak belur. Rival hanya menggelengkan kepala, sementara orang rumah yang saat itu masih berkumpul di ruang utama hanya menatap ke arahnya.
Dengan buru-buru, Vina mengambil kotak P3K. Sedangkan Rival berjalan ke arah Rayn yang tengah duduk bersama dengan Rafa.
"Kenapa Mas?" tanya Rafa melihat raut bonyok di wajah sang kakak. Pria itu tengah mengusap puncak kepala Davika yang tidur di pangkuannya.
"Davika kenapa tidur di sini?" alih-alih menjawab pertanyaan sang adik. Rival justru balik bertanya dan mengalihkan topik.
"Dia gamau tidur di kamarnga. Tapi abis ini mau dipindahin nanti." Rafa menyahut pertanyaan sang kakak. Rival hanya mengangguk samar, ia meringis saat Vina kembali dan duduk di sampingnya. Rayn hanya memerhatikan putra sulungnya tersebut tanpa banyak bertanya.
"Kamu kenapa, sih, berantem sama siapa?" tanya Vina sembari membersihkan luka di wajah putranya.
"Enggak papa, Ma. Biasa, anak cowok." Rival menyahut santai. Vina menatap tepat di mata putranya dan berakhir dengan mengembuskan napas kesal tanpa berkata apapun.
"Berantem, terus kalah, nih, kayaknya." Rafa menyambar. "Lawan Mas babak belur kayak gitu juga atau nggak?" sambungnya yang mendapat pelototan tajam dari Vina. Rafa akhirnya hanya mengangkat bahu dan berhenti menggoda sang kakak.
"Tadi Ethan kesini, nyariin kamu." sahut Vina setelah beberapa saat suasana jauh lebih tenang–dari gangguan Rafa tentunya.
"Kamu ketemu sama dia?" tanyanya lagi seraya menatap putranya.
"Iya, ketemu. Ini wajahku babak belur juga karena Ethan." rasanya ingin sekali Rival menyahut seperti itu. Namun ia justru memilih menggelengkan kepala.
"Kalian nggak ketemu?"
"Enggak, Ma."
"Dia ngapain yah, nyariin kamu malem-malem. Mama kira dia bakal nyusulin kamu ke kantor pas Mama kasih tahu kalau kamu lembur." Vina mengoceh sementara Rival hanya terdiam.
"Raf, kamu pindahin Davika ke kamarnya. Kasian dia nggak nyaman tidurnya." suruh Vina kemudian setelah cukup lama fokus mengobati luka di wajah putranya. Raffa mengangguk, segera menggendong adiknya itu menuju kamarnya dengan pintu berwarna pink.
Usai sang mama mengobatinya, Rival beranjak menuju kamarnya yang berada di lantai dua setelah mengucapkan terimakasih pada Vina. Tanpa sadar pria itu menjatuhkan benda kecil yang semula ia simpan pada saku jasnya.
Vina dan Rayn hanya menatap kepergian putra mereka, begitu pria itu menghilang di ujung tangga, Vina menatap sang suami.
"Kamu tahu siapa yang udah buat Mas Rival kayak gitu?" tanyanya, tetapi sang suami hanya menggelengkan kepala dan menerbitkan raut khawatir di wajah Vina. Mencoba menenangkan sang istri, Rayn menggandeng bahu wanita itu.
"Seperti kata anak kamu, hal itu biasa bagi cowok."
"Tapi tetep aja, aku khawatir. Gimana kalau nanti lebih parah dari ini."
Rayn tersenyum, meraih puncak kepala wanita itu dan mendaratkan kecupannya di sana.
"Anak kita sudah besar, kita harus percaya, Sayang." Rayn menenangkan, Vina hanya mengangguk samar dan terdiam sekalipun hatinya tetap merasa tidak tenang.
***
Rival melemparkan tubuhnya di atas tempat tidur usai ia mandi dan merapikan diri. Ia menaruh satu tangannya di atas kening, ******* napasnya terdengar begitu frustrasi. Bayangan pada malam itu ketika ia menyalurkan hasratnya pada Naina terlintas di benak Rival. Lantas berganti dengan wajah penuh amarah dan kepedihan Ethan.
Rival kembali mendesah mengingat apa yang Ethan katakan padanya beberapa waktu lalu. Sekilas bayangan wajah Zoya juga melintasi benaknya dan membuat Rival benar-benar merasa bersalah.
Rival menoleh ke samping dimana ponselnya berdenting, menandakan jika ada pesan masuk.
__ADS_1
...Naina...
...Mas kita perlu bertemu besok....
***
Keesokan paginya, Rival yang baru akan berangkat ke kantor kalang kabut sendiri dengan raut panik saat tak kunjung menemukan benda kecil yang ia dapatkan dari Ethan semalam.
Rival yakin jika ia membawanya dan memasukannya pada saku jasnya kemudian tak memindahkannya lagi dari sana.
Pria itu kemudian mematung saat Rafa ternyata berdiri di ambang pintu kamarnya yang kebetulan tidak tertutup. Adiknya itu hanya menatapnya dengan tatapan tak terbaca, sementara Rival juga hanya mematung di tempatnya sampai sang adik masuk dan menutup pintu.
Rafa susah dengan seragam sekolahnya dan siap berangkat. "Nyari ini Mas?" pria itu mengangkat sebuah benda kecil du tangannya yang membat Rival membulatkan mata melihat hal itu.
"Nih," Rafa menyerahkan benda tersebut pada sang kakak dengan wajah polosnyang dibuat-buat, Rival menerimanya dengan gerakan kaku dan malu.
Semalam, setelah mengantarkan Davika ke kamarnya dan kembali ke ruang utama, kedua orang tuanya berpamitan untuk beristirahat ke kamar. Sementara Rafa menghabiskan beberapa waktunya di sana, hingga saat ia akan beranjak meninggalkan ruang utama rumah, ia melihat benda tersebut tergeletak begitu saja di lantai.
Rafa tahu benda tersebut adalah testpack. Alat tes kehamilan. Awalnya ia mengira jika testpack tersebut milik sang mama, namun ia juga merasa tidak yakin sehingga memutuskan untuk menyimpannya. Dan pagi ini, saat ia tak sengaja meijhat sang kakak yang tampak kebingungan mencari sesuatu, Rafa tiba tiba saja merasakan jika apa yang Rival cari adalah barang yang ia temukan semalam.
"Punya siapa Mas?" tanya pria itu lagi. Namun Rival tampak tak berniat menyahut.
"Punya cewek yang waktu itu kita ketemu di hotel pas acara sertijab?"
"Waktu itu Mas nyuruh aku sama Papa pulang duluan, 'kan. Mas nggak pulang,"
"Kalian seneng-seneng?"
Rival mendesah, Rafa mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh melihat reaksi yang sang kakak berikan. "Aku ada ulangan pagi ini, nggak bisa anterin Davika. Davika sama Mas aja, yah. Papa udah duluan ke kantor, tuh." pria itu mengalihkan pembicaraan. Rival mengangguk tanpa minat.
****
Rayn hanya menyangga dagunya saat ia berada di Ruang Kendali cctv dan melihat salah satu monitor yang menampikan luar ruangan milik putranya dimana dua orang di sana tengah berkelahi malam tadi.
Tidak. Lebih tepatnya, putranya mendapat serangan tiba-tiba dengan membabi buta dari seseorang. Dan hal yang sangat tidak dimengerti olehnya saat ternyata pelaku penyerangan adalah Ethan.
Rayn tentu saja bertanya-tanya alasan mengapa Ethan melakukan hal itu pada Rival. Padahal ia tahu dengan baik jika putranya dan putra dari Agyan itu berhubungan baik. Tapi apa yang dilihatnya pagi ini benar-benar tidak terduga.
***
Aura yang terpancar dari seorang Zoya Hardiswara hari tersebut begitu memukau setiap orang di lokasi syuting. Bagaimana tidak, sejak pagi tadi wanita itu kerap kali mengukir senyum dan menghipnotis semua orang. Aurnya jelas terpancar bahagia.
Tentu saja, karena Zoya mendapatkan dua hal baik sekaligus sejak kemarin dan hari ini.
Pertama, ia dengan Ethan akan segera memiliki anak dari Naina. Kedua, poster pertama film mereka sudah rilis dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat luas. Mereka mendapat banyak dukungan dan semua orang sangat tidak sabar atas pemutaran film mereka.
"Katanya ada yang pengen kamu omongin ke Mbak. Apa?" suara Selin yang terdengar begutu wanita itu duduk di sampingnya saat break syuting membuat Zoya menoleh dengan senyum lebar.
"Sini Mbak!" Zoya meminta wanita itu mendekat agar ia bisa berbisik pada Selin. "Naina hamil." bisiknya yang membuat Selin spontan menganga dan segera menutup mulutnya tak percaya. Begitu Zoya mengambil jarak dan duduk tegak di kursinya dengan senyum yang terus mengembang, Selin justru meringis.
"Aku seneng banget, loh, Mbak." sahut wanita itu. Selin hanya memerhatikan Zoya, ia mengukir senyum iba melihat hal tersebut.
__ADS_1
"Zoy,"
"Hmm?" kali ini Zoya mengalihkan perhatiannya pada Selin. "Ada apa, Mbak?"
"Kamu udah siap perhatian Ethan bakalan sangat terbagi setelah ini?" tanyanya yang membuat senyum di wajah cantik Zoya perlahan luntur.
Tapi beberapa saat kemudian, wanita itu kembali memaksakan senyumnya untuk terbit. "Aku udah pikirin masalah itu, cuma sementara aja, 'kan? Jadi aku nggak papa." sahutnya dengan senyum meyakinkan. Selin hanya meraih tangan wanita itu, kemudian mengangguk penuh dukungan.
Zoya baik-baik saja, ia hanya akan sakit sementara. Sisanya adalah bahagia.
"Jadi aku boleh minta tolong nggak, sama Mbak."
"Minta tolong apa?"
"Tolong beliin susu sama vitamin buat ibu hamil."
"Iya, nanti Mbak belikan, yah."
"Okey. Thanks, Mbak Selin."
****
"Tolong rahasiakan ini dari Zoya. Saya tidak mau Zoya tahu masalah ini. Terlebih di tengah-tengah pembuatan filmnya."
"Saya akan urus sisanya nanti."
Apa yang Ethan sampaikan pagi tadi terus terngiang di kepala Naina. Melihat tatapan Ethan, Naina tahu sebagaimana pria itu terluka. Ia sadar jika dirinya sudah sangat mengecewakan Ethan dan Zoya.
Naina mengalihkan tatapannya pada pria di hadapannya setelah lebih dari lima menit keduanya bertemu, duduk saling berhadapan dan hanya saling terdiam. Tapi Naina dapat melihat sorot tulus Rival saat menatapnya.
Ia dengan pria itu bertemu di sebuah kedai bubur usai pria itu mengantarkan adiknya sekolah. Naina hanya diam dan Rival juga melakukan hal yang sama.
Sampai setelah beberapa waktu berselang, Naina berusaha menatap pria itu. "Sakit, yah?" tanyanya melihat luka lebam di wajah pria itu.
Ia sudah tahu pelakuanya sekalipun Rival belum bercerita padanya. Karena semalam, Zoya mencari keberadaan Ethan, Naina merasa yakin jika pria itu mendatangi Rival. Keadaan Rival yang saat ini tengah babak belur memperkuat spekulasinya.
"Sedikit." Rival menyahut disusul senyum manis. Naina kembali hanya terdiam. Sampai kemudian tangan Rival meraih tangannya dan menggenggamnya.
"Mas Ethan bilang apa semalam?" tanya Naina lagi, tetapi Rival tak kunjung memberinya jawaban apapun.
"Yang kita lakuin salah, 'kan Mas?" mata gadis itu nampak mulai berkaca-kaca. Raut kecewa di wajah Ethan terlintas di benaknya dan membuatnya tidak berdaya.
"Apa yang kita lakuin ini, salah, 'kan Mas Rival?" tanyanya lagi, kali ini air mata sudah menganak sungai di pipinya.
"Kita sudah menghancurkan harapan Mas Etglhan sama Mbak Zoya. Aku merasa sangat bersalah, Mas."
"Mas Rival nggak akan ninggalin aku, 'kan, Mas?"
Naina yang sudah terisak membuat Rival beranjak dari posisinya dan pindah ke samping gadis itu lantas merengkuh tubuh Naina dalam dekapannya.
"Aku nggak akan ninggalin kamu. Kamu nggak perlu khawatir."
__ADS_1
"Kamu nggak akan sendirian, Naina."
TBC