Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Adegan Kisseu


__ADS_3

Holla, i am back.


***


Zoya adalah orang paling bahagia begitu mengetahui kabar kehamilan Naina. Hari-harinya dipenuhi senyum dan tawa. Segala kebutuhan gadis itu ia penuhi dengan baik demi menjaga sang ibu dan jabang bayi.


Ketika Zoya mendatangkan seorang dokter pribadi untuk Naina dan memeriksa usia kehamilan gadis itu, Dokter mengatakan jika usia kandungan Naina memasuki minggu ketujuh. Zoya tersenyum mengingat jika saat itu ia tengah berada di luar kota. Artinya Ethan dan Naina benar-benar bersenang-senang selama ia tidak ada.


Wanita yang tengah memainkan ponsel setelah Selin memberitahukan kapan tepatnya acara syukuran empat bulanan sang manajer digelar itu menatap suaminya yang tengah mengganti pakaian.


Ia mengukir senyum lebar melihat orang yang paling dicintainya itu. Apa yang ia khawatirkan secara berlebihan nyatanya tidak sepenuhnya terjadi. Ethan sama sekali tidak berpaling darinya, pria itu tetap menjadi Ethan yang sangat mencintai dan menjaga perasaannya.


Pria itu tidak serta merta berubah drastis sekalipun akan memiliki anak dari Naina. Membuat perasaan Zoya lega sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkannya.


Ethan yang baru saja membalikan badan mengernyit saat melihat istrinya yang tengah tersenyum menatapnya.


"Ada apa?" Ethan bertanya dengan kerutan di dahinya. Ia lantas berjalan menghampiri Zoya dan duduk di tepi tempat tidur. Alih-alih menyahut, Zoya justru meraih tangan pria itu dan menggenggamnya, membuat Ethan kian merasa heran, belakangan, sikap istrinya memang sepuluh kali lipat lebih hangat sejak tahu Naina hamil.


Ethan diam-diam mengembuskan napas pelan mengingat fakta jika bayi yang sedang Naina kandung bukanlah darah dagingnya. Bayi itu akan menjadi anak Rival dan Zoya tidak akan bisa memilikinya.


"Gimana syuting kamu?" tanya Ethan kemudian saat wanita itu hanya tersenyum menatapnya tanpa bicara apapun.


"Mm, lancar. Besok–" kali ini Zoya menatap pria itu ragu, Ethan menyipitkan matanya. "Jangan buat saya penasaran, Sayang."


"Pak Irpan bilang besok adegan kiss." wanita itu memberitahu dengan nada ragu. Ethan terdiam, Zoya mengambil sebuah script dan menyerahkannya pada Ethan.


"Kamu udah pernah baca sendiri, 'kan dan adegan kaya gini bakalan ada." Zoya memerhatikan air muka sang suami yang berubah masam meski masih tetap meninggalkan jejak-jejak ketampanan di sana.


"Nanti saya cek jadwal saya besok."


"Ngapain?"


"Saya mau ke lokasi syuting kamu." pria itu menyahut dengan nada penuh keyakinan yang membuat Zoya menganga di tempatnya.


Kilasan kejadian saat Ethan mengacaukan syutingnya dengan Edrin di awal pernikahan mereka bahkan dan menjadi pemeran pengganti untuk adegan ciuman yang seharusnya dilakukan Edrin melintasi pikiran Zoya.


Ethan akan datang ke lokasi syuting dan melihat proses syuting, artinya pria itu akan membuat kekacaun.


"Kamu udah janji nggak akan ikut campur sama project filmku yang ini." Zoya memperlihatkan sorot waspada dan penuh ancaman. Tetapi sang suami hanya mengedikan bahu acuh dan merebahkan diri di tempat tidur.


"Ethan, kamu udah janji Sayang." wanita itu merengek dan Ethan sama sekali tidak memedulikan.


***


Keesokan harinya, Ethan benar-benar datang ke lokasi syuting ketika Zoya menyelesaikan take pertamanya pada hari tersebut. Selanjutnya ia akan melakukan adegan ciuman dengan Edrin.


Wanita itu menengadah saat Ethan berdiri tepat di belakangnya yang tengah duduk di kursi rehat seraya membaca script selanjutnya.

__ADS_1


"Kamu beneran dateng?" Zoya mengerucutkan bibir. Ethan mencondongkan tubuhnya, membuat jarak wajah keduanya berdekatan.


"Saya harus memastikan sendiri jika lawan main kamu itu tidak memanfaatkan kesempatan ini."


"Pikiran kamu buruk banget, sih." wanita itu kembali menundukan pandangannya dan membaca script.


Ethan juga kembali menegakan tubuhnya dan memasang raut acuh tak acuh seraya melipat tangannya di dada.


"Mbak Zoya, Pak Sutradara bilang dua menit lagi take." Naina yang muncul entah dari arah mana memberitahunya, Zoya mengangguk dan tersenyum pada gadis itu. Naina juga tersenyum, tetapi perlahan senyumnya luntur ketika matanya menatap Ethan yang berada di belakang Zoya, ia baru menyadari kehadiran pria itu.


Naina hanya mengangguk sopan pada pria itu dan berdiri di samping Zoya.


"Pak Ethan,"


Arfat yang saat itu berada di lokasi syuting setelah beberapa hari tidak berkunjung tampak menyapa Ethan begitu melihat kedatangan pria itu. Ethan mengukir senyum tipis pada produser film tersebut.


"Saya tidak tahu jika Pak Ethan akan datang." ucapnya merasa tidak enak melihat kehadiran suami dari Zoya Hardiswara itu.


"Tidak masalah. Abaikan saja saya, saya hanya sebentar di sini." ucap Ethan yang membuat Arfat sekilas menatap Zoya yang asik membaca script. Arfat ingat jika hari ini Zoya akan melakukan adegan ciuman dengan Edrin, barangkali Ethan datang untuk hal tersebut.


"Yasudah kalau begitu Pak Ethan, saya duluan."


"Iya."


"Zoya, semangat." Arfat sempat memberikan suportnya pada Zoya sebelum benar-benar berlalu dari sana. Zoya tersenyum dan mengangguk penuh sopan pada sang produser.


"Zoya." salah seorang kru memanggil Zoya dan memberikan aba-aba agar wanita itu segera bersiap untuk pengambilan adegan. Zoya mengangguk, beranjak dari duduknya dan hanya diam saat seorang stylist merapikan tatanan rambutnya.


"Ini kali pertama setelah jadi istri kamu. Aku perlu persiapan." Zoya menyahut. Ethan hanya memutar bola matanya dengan tangan terlipat di dada. Tapi tatapan matanya mengarah pada bibir Zoya, miliknya dimana hari ini ia harus membiarkan orang lain menyentuhnya.


"Aku take dulu, yah." pamit Zoya sekilas menyentuh lengan pria itu dan berlalu, Ethan mengikutinya dan berdiri di belakang Irpan selaku sutradara yang akan mengatur adegan. Irpan sekilas menyapa pria itu namun Ethan lebih dulu menepuk bahu Irpan dan menyuruh pria itu agar hanya fokus pada adegan yang akan Zoya dan Edrin lakukan.


"Suami kamu dateng?" tanya Edrin begitu ia melihat Ethan yang berdiri di belakang Irpan lengkap dengan tatapan penuh intimidasi saat menatapnya.


Zoya melihat arah pandangan Edrin dimana ia menemukan suaminya tengah berada di sana bersama dengan skretarisnya, Selin dan juga Naina berikut para kru yang lain.


"Iya." wanita itu menyahut singkat dengan dada berdebar. Rasanya ia gugup jika adegan yang akan dilakukannya dengan Edrin disaksikan oleh pria itu.


"Kamu nggak papa?" Zoya kemudian bertanya pada Edrin, Edrin menggelengkan kepala. Setelahnya pria itu menyahut singkat, "nggak masalah." pria itu tersenyum, menganggap seolah Ethan bukanlah hambatan baginya sekalipun pria itu menyaksikan apa yang akan dilakukannya.


Dua orang itu sama sama menghela napas dan mempersiapkan diri ketika Irpan menyuruhnya bersiap.


"Action!"


Saat Irpan sudah berseru untuk mereka memulai adegan. Semula Zoya dan Edrin sebagai Rain dan Angkasa saling bertatapan hingga Edrin meraih kedua sisi wajah Zoya dengan perlahan dan tampak lembut.


Suasana mendadak hening, semua yang menyaksikan tampak menghela napas. Sementara Ethan sudah dengan raut cemasnya menggigit jari melihat bibir sang istri dan Edrin yang sudah nyaris bersentuhan.

__ADS_1


"Cut!"


Kekanak-kanakan bukan? Saat adegan yang seharusnya memakan waktu sedikit dengan satu kali take tetapi Ethan membuatnya berantakan.


"Katanya udah janji." Zoya berdecak sendiri ketika pria itu menghentikan proses syuting sesuka hati. Tatapan penuh kecewa terlihat jelas di mata para kru tapi tak berani mengarahkan tatapan mereka pada Ethan.


"Maaf," hanya itu yang bisa Ethan katakan dengan raut datar. Ia reflek berteriak cut karena tidak tahan melihat Edrin yang lama melakukannya. Randy disampingnya berdecak seraya menutupi wajah. Perangai bosnya sama sekali tidak berubah.


"Huh." Edrin di hadapan Zoya tampak menghela napas. Zoya hanya mampu memberi tatapan penuh permintaan maaf pada lawan mainnya tersebut.


Edrin sekilas menatap Ethan, dua orang itu sama-sama menyorotkan tatapan penuh kilatan amarah. Ada seringai jahil di bibir Edrin begitu Ethan tak kunjung memutus tatapan mereka.


"Zoya, Edrin, siap. Kita take lagi." Irpan berseru, dua orang itu mengangguk dan kembali bersiap.


Alhasil, pada akhirnya. Edrin dan Zoya berkali-kali melakukan take tersebut. Semula Edrin yang tiba-tiba saja berhenti saat bibir keduanya nyaris atau bahkan sudah bersentuhan.


Atau bahkan Zoya yang tiba-tiba saja merasa gugup. Terlebih, sekalipun ia tidak melihat suaminya, ia merasa jika Ethan terus melayangkan tatapan tajam padanya. Sangat membuat Zoya merasa tidak nyaman. Ia merasa terganggu.


"Maaf, maaf." Zoya membungkukan badan pada semua staf dan kru atas insiden kegagalan take pertama dan membuat mereka harus melalukan take berulang-ulang.


"Maaf, yah." lantas wanita itu beralih pada Edrin selaku lawan mainnya. Mungkin pria itu juga sudah lelah, sama sepertinya.


"Nggak papa, aku suka." Edrin menyahut dan terkekeh kecil, membuat para kru tertawa mendengar pria itu. Namun saat melihat tatapan Ethan, semua orang meredakan tawa dan memupus senyum mereka. Sementara Zoya hanya mampu tersenyum kaku.


***


Zoya segera duduk dan meraih sebotol minuman dingin yang Naina sodorkan begitu menyelesaikan takenya dengan Edrin setelah menghabiskan waktu cukup lama. Ia lihat wajah suaminya yang masam dan tak berbicara sepatah katapun padanya usai ia menyelesaikan take dengan Edrin.


Naina yang berada di antara mereka hanya terdiam–sementara Selin tengah berbincang dengan Irpan dan beberapa kru.


Naina hendak menyerahkan minuman pada Ethan namun merasa ragu melihat raut wajah tidak bersahabat pria itu.


"Pak Ethan, Mbak Zoya. Saya permisi sebentar." pamit Naina, ia cukup pengertian untuk membiarkan dua orang itu saling berbicara.


Menit ketiga usai hanya ada mereka berdua setelah kepergian Naina, Zoya hanya menatap suaminya yang terdian di tempat.


"Kalau bukan karena kamu yang bikin kacau take pertama, aku sama Edrin nggak mungkin harus take berulang-ulang." Zoya angkat bicara dan tak mau disalahkan. Ia tahu suaminya pasti marah karena hal tersebut.


Ethan tak menyahut, ia hanya bangkit dari duduknya dengan raut acuh. "Saya harus ke agensi sekarang." pria itu tampak enggan membahas hal yang ia saksikan beberapa saat lalu.


Zoya tahu suaminya kesal. Tapi salah siapa memang? Zoya bahkan tak meminta pria itu untuk datang dan menyaksikan adegannya dengan Edrin.


Zoya beranjak dari duduknya dan memeluk Ethan sekilas. "Yaudah, hati-hati." Pria itu mendesah, menunjukan raut kesalnya.


"Saya kesal Zoya."


"Iya, aku tahu, makannya kamu harus hati-hati. Kendaliin diri kamu juga." ucap wanita itu. Ethan lagi-lagi hanya kembali mendesah, rupanya memang sangat berat memiliki seorang istri yang statusnya adalah bintang terkenal, ia meraih dagu Zoya dan menatap bibir wanita itu.

__ADS_1


Zoya tersenyum. Dengan raut pasrah, Ethan mendaratkan kecupannya di sana. Setidaknya, jejak bibir Edrin yang singgah di bibir istrinya sudah ia bersihkan.


TBC


__ADS_2