
Hari itu, Zoya harus kembali merasa kecewa begitu mendapati alat tes kehamilannya menunjukan hasil negatif. Wajah wanita itu tampak ditekuk, sedangkan Ethan yang masih berbaring di tempat tidur hanya tersenyum, tahu apa yang terjadi. Meraih tubuh istrinya penuh kasih saat Zoya menindihnya begitu saja, tak butuh waktu lama bagi Ethan merasakan basah pada bagian dadanya sejak wanita itu menenggelamkan wajahnya di dada Ethan.
Ethan tidak berkata apa-apa, hanya mendekap tubuh wanita itu lebih erat dengan salah satu tangan yang mengusap belakang kepala istrinya. Sedangkan Zoya terisak hebat.
"It's okey, Sayang." Ethan menenangkan. Tapi mau sampai kapan ia membohongi Zoya dan membuat wanita itu tersako oleh harapannya sendiri?
"It's oky, semuanya bakalan baik-baik aja." hiburnya namun tetap tak mampu menenangkan perasaan Zoya, wanita itu terus terisak. Kecewa berulang kali ketika alat tes kehamilannya yang menunjukkan hasil negatif.
Sekarang Zoya benar-benar merasa jika Tuhan sudah tidak lagi memberinya kesempatan karena Zoya tak mampu menjaga apa yang sudah dititipkan untuknya.
Dia gagal.
**
Selama beberapa hari ini Naina memperhatikan Zoya lebih banyak diam daripada biasanya, bahkan ketika melakukan syuting wanita itu benar-benar tidak fokus pada apa yang sedang ia kerjakan, padahal Zoya terkenal sebagai artis yang profesional.
Bahkan ketika di rumah, interaksi antara Ethan dengan Zoya ia perhatikan hambar ketika Zoya lebih banyak mengabaikan sang suami yang terus memperlakukannya dengan baik.
Belakangan ia tahu satu hal yang membuat keadaan Zoya menjadi lebih murung, alat tes kehamilan yang selalu menunjukkan hasil negatif sangat berpengaruh kepada Zoya. Naina mengerti mengenai perasaan Zoya yang begitu ingin memiliki anak dengan Ethan, namun sampai saat ini Tuhan masih belum mengizinkan hal tersebut terjadi dalam kehidupan wanita itu.
Naina pikir hal tersebut bukan karena Zoya pernah gagal karena tidak bisa menjaga titipan dari Tuhan, dua sekaligus. Tetapi mungkin karena kebahagiaan yang Zoya miliki sudah sempurna.
Ia adalah seorang artis terkenal yang memiliki banyak uang dan koneksi, memiliki seorang suami yang baik sayang dan penuh pengertian, memiliki mertua dan adik ipar yang begitu menyayanginya dan dikelilingi oleh orang-orang yang baik.
Baik dari kalangan aktris, fans, bahkan para kru film.
Mungkin Tuhan merasa jika hal itu sudah lebih dari cukup untuk Zoya sehingga tidak ada hal yang perlu lagi ditambah dalam kehidupan wanita itu.
Meski begitu, Naina cukup yakin seandainya wanita itu bisa memilih. Jika ada yang bertanya kepadanya apakah ia memilih karirnya atau anak, maka Zoya pasti akan lebih memilih anak.
Hari ini, wanita itu tengah bersiap dengan Ethan untuk menginap di rumah Freya karena wanita itu tinggal sendiri di rumah setelah tadi siang Agyan terbang ke luar negeri untuk mengurus beberapa urusan perusahaan di sana selama beberapa hari.
Selain untuk menemani sang bunda, Zoya juga sudah lama tidak menginap di rumah Freya. Seharusnya ia menjadi sering berkunjung ketika Aras sudah tidak ada di sana lagi dan menemani sang bunda. Freya pasti kesepian di rumahnya sendirian.
"Naina, kamu nggak papa kan kalau di rumah sendirian?" tanya Zoya masih sempat-sempatnya mengkhawatirkan keadaan asisten rumah tangganya tersebut. Naina tersenyum kemudian menggelengkan kepala.
"Enggak apa-apa Mbak Zoya, Mbak tenang aja saya aman Di sini." sahutnya menenangkan wanita itu. Zoya hanya mengangguk begitu Ethan turun dari lantai atas dan menggandengnya, keduanya segera berangkat menuju kediaman Freya tepat ketika jarum pendek jam menunjuk angka lima.
Naina menatap kepergian kedua majikannya dimana Etan menggandeng Zoya dengan mesra bahkan sesekali mendaratkan kecupan di pipi wanita itu saat keduanya bersenda gurau .
Sudah Naina katakan, jika Zoya memiliki kehidupan yang sempurna. Mungkin Tuhan menahannya untuk wanita itu segera memiliki momongan
__ADS_1
Naina mendesah, rasanya paham betul Blbagaimana perasaan Zoya. Namun apa yang bisa wanita itu lakukan? Sama sekali tidak ada.
**
Mobil melaju di bawah langit sore Jakarta yang tampak begitu cerah, jalanan yang sedikit macet membuat perjalanan Ethan dengan Zoya menuju rumah Freya sedikit terhambat.
Zoya hanya memerhatikan keluar kaca jendela mobil dan melihat lalu-lalang pengendara motor yang menepi di samping mobilnya saat terjebak macet, suara klakson juga sahut-sahutan terdengar. Begitu bising namun tampak tak mengganggu Zoya sedikitpun. Kebisingan itu seolah hanya angin lalu baginya, bukan masalah besar.
Ethan yang tengah mengusap-usap gagang stir sesekali menoleh kepada sang istri, sejujurnya ia ingin mengajak wanita itu berbicara hal penting, membahas apa yang ingin Ethan sampaikan belakangan ini namun masih belum sanggup ia katakan pada istrinya
Ethan spontan mengukir senyum begitu wanita itu menoleh padanya. "Saya mau bicara." sahut Ethan kemudian memberanikan diri, bagaimanapun ia juga tidak bisa terus menunda-nunda.
"Bicara apa?" tanya Zoya saat Ethan terdiam, tampak sedang menyusun diksi yang tepat agar Zoya tidak merasa tersinggung atau bahkan marah karena apa yang akan ia sampaikan pada wanita itu.
Zoya sudah tidak sabaran saat beberapa detik berselang dan Ethan hanya terdiam.
"Apa, Ethan?"
"Menurut kamu, bagaimana jika kita mengadopsi seorang anak?" sahut Ethan, berhasil membuat Zoya mengerutkan keningnya dalam-dalam.
"Adopsi buat apa?" tanyanya yang jelas aja heran mengenai pertanyaan Ethan.
"Ya ..., buat kita urus buat. Buat kita rawat. Buat kita angkat jadi anak kita."
"Saya tidak bercanda, Sayang. Saya serius." Ethan menyahut dengan raut wajah yang memang benar-benar serius.
"Bagaimana menurut kamu kalau kita mengangkat seorang anak?" sambungnya dengan harapan Zoya menganggukan kepala.
"Maksud kamu, tuh, apa, sih? Aku nggak ngerti. Kenapa tiba-tiba kita harus adopsi seorang anak?"
"Ya, karena saya merasa kamu terlihat begitu ingin segera memiliki anak."
"Iya, tapi aku ingin anak yang lahir dari rahim aku sendiri, bukan hasil adopsi!" Zoya berbicara dengan nada tinggi, tiba-tiba ia merasa dongkol dengan pembahasan yang baru saja diangkat oleh suaminya.
"Iya, saya mengerti. Tapi tidak ada salahnya bukan, anggap kamu latihan sebelum kita memiliki anak." Ethan masih dengan nada lembutnya dan pembawaan yang enak didengar.
"Enggak. Aku gak mau!" Zoya menyahut dengan tatapan matanya kesal tanpa mempertimbangkan pertanyaan Ethan. Apapun itu, Zoya tidak ingin dengan cara mengadopsi anak. Mengurus anak adopsi dan buah hatinya sendiri jelas saja berbeda.
Ethan meraih tangan Zoya, menggenggamnya, mengusap dengan lembut dan menciumnya saat mata wanita itu berkaca-kaca. "Aku nggak ngerti, kenapa kamu kayak gini, sih?" sahut Zoya dengan terisak.
"Kemaren ngajak biar kita childfree, sekarang kamu usul buat kita adopsi anak. Mau kamu tuh apa, sih, Ethan?"
__ADS_1
"Mau saya kamu bahagia, Zoya." Ethan membatin.
"Kamu udah bener nggak mau punya anak dari aku?" kali ini ia menatap Ethan dengan mata basah.
"Sayang, tolong jangan salah paham. Maksud saya tidak begitu. Demi Tuhan saya tidak ada niatan untuk tidak mau memiliki anak dari kamu."
"Ya terus apa maksudnya?" tanya Zoya, masih dengan isakannya yang kuat. dengan Menepis tangan Ethan yang masih menggenggam tangannya, kemudian menghapus air mata dengan punggung tangan.
"Adopsi cuma untuk orang-orang yang nggak bisa punya anak. Tapi kita bisa punya anak, 'kan Than?" Isakan Zoya kian kencang, membuat Ethan segera menganggukan kepalanya kemudian meraih tubuh Zoya dalam pelukan, namun wanita itu segera mendorong dadanya, menolak ajakan Ethan untuk memeluknya.
Ethan hanya bisa pasrah di tempatnya, mungkin seharusnya ia tidak mengatakannya sekarang, mungkin waktunya belum tepat jika harus membicarakan hal tersebut kepada Zoya. Belakangan, perihal anak selalu menjadi alasan untuk keduanya berdebat hebat.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Freya, hingga kemudian tiba di rumah wanita itu, Zoya sama sekali tak bicara pada Ethan. Ia bahkan turun dari mobil terlebih dahulu sebelum Ethan membukakan pintu mobil. Freya sudah menyambut mereka di teras rumah. Bibir wanita itu mengukir sebuah senyum saat melihat anak dan menantunya.
"Bunda." Zoya segera melangkah dengan cepat menghampiri Freya yang segera merentangkan tangannya, menyambut Zoya dengan sebuah pelukan hangat yang membuat wanita itu segera memeluk Freya, tanpa sadar dia melakukannya dengan cucuran air yang keluar dari matanya. Bahkan dengan isakan yang membuat Freya terheran-heran atas apa yang terjadi dengan menantunya.
Sedangkan Ethan yang menyusul langkah kaki wanita itu hanya mengangkat bahu ketika Freya menatapnya dengan gestur bertanya alasan kenapa Zoya menangis tiba-tiba.
"You cry Baby?" tanya Freya sambil menghapus air mata sang menantu begitu mereka mengurangi pelukan. Zoya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tak mampu bercerita kepada Freya.
"Ada apa?" Freya bertanya lagi dan Zoya masih konsisten menggelengkan kepala. Freya terdiam tidak mengerti, bingung harus melakukan apa sedangkan menantunya tidak ingin bercerita.
Freya memilih untuk mengukir senyum dan mengusap lembut punggung menantunya. "Ya sudah, masuk yah, istirahat di dalam." akhirnya Freya tak ingin mendesak menantunya. Mengajak Ethan dengan Zoya agar segera masuk ke dalam rumah.
Sejujurnya Zoya merasa begitu kenal kepada sang suami yang akhir-akhir ini sering memancingnya untuk berbuat keributan. Apa yang pria itu katakan selalu di luar dari dugaannya, tampak tiba-tiba dan tak masuk akal untuk Zoya.
Zoya berusaha untuk menghindari sang suami dan rupanya hal itu tidak luput dari perhatian Freya sehingga ia tahu ada yang tidak beres di antara anak dan menantunya.
Begitu Zoya pamit untuk beristirahat di kamar, lantas ia bertanya kepada putranya.
"Kalian sedang bertengkar?" tanya Freya. Ethan menggelengkan kepalanya pelan. "Jadi kalian benar-benar tidak akan cerita sama Bunda?" tanya Freya sekali lagi yang membuat Ethan tidak bisa lagi untuk menutupi apa yang terjadi saat perjalanan kemari.
"Aku usul ke Zoya buat kita adopsi anak. Dia marah." sahut Ethan, singkat padat dan jelas. Freya terdiam sesaat.
"Lagian kamu kenapa harus bilang hal seperti itu ke Zoya?"
"Gimana kalau nanti dia curiga?" Freya merasa khawatir seandainya menantunya tahu hal apa yang mendasari Ethan untuk melakukan hal tersebut.
"Aku nggak tahu Bunda, aku kira Zoya bakalan setuju karena dia suka sekali anak kecil.
"Iya dia suka anak kecil, tapi akan berbeda jika dibandingkan dengan anaknya atau bukan, sukanya Zoya sekedar suka, tapi untuk merawat dan membesarkan jelas dia hanya ingin anaknya sendiri." terang Freya yang membuat Ethan menyandarkan punggungnya ke belakang. Memijat pangkal hidungnya dan mendesah.
__ADS_1
Setelah ini, apa yang harus ia lakukan?
TBC