
"Ini Kak Gyan, 'kan Kak?" Vanesh tak percaya saat ia membuka beberapa situs berita online di ponselnya yang dengan jelas menampilkan wajah Agyan.
Braga melihat layar ponsel gadis itu, ia menatapnya cukup lama dan mengangguk setelah benar-benar yakin jika yang ia lihat adalah wajah Agyan.
"Iya, ini Agyan."
"Kapan ikut castingnya? Bukannya sibuk di sirkuit Kak Gavin. Kok tau-tau masuk tv, sih."
"Bikin iri!"
Braga menatap gadis itu dan mengusap puncak kepalanya. "Nggak boleh iri,"
"Iya bercanda!"
Braga tersenyu melihatnya. "Nanti mau minta foto bareng ke Kak Gyan, ah."
"Foto kamu bareng Agyan, 'kan banyak."
"Itu sebelum Kak Gyan jadi artis."
Braga menggeleng pelan. Terserah Vanesh saja.
*
*
Brandon tengah menikmati waktu makan siangnya, di kantin Rumah Sakit, menunggu Gisna yang katanya akan segera tiba. Beberapa menit berselang, gadis itu duduk di hadapannya dengan sepiring nasi berikut lauk pauk. Ia menentang ponsel dengan wajah serius.
Brandon memperhatikannya karena Gisna yang tak kunjung menyentuh makannya. Ia menutup layar ponsel gadis itu, membuat Gisna menurunkan tangannya perlahan ke atas meja.
"Jangan ngeliatin hape terus. Makan dulu,"
Gisna mengangguk. Ia mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. Menatap Brandon yang asik makan. "Kamu udah tau berita tentang Agyan?"
"Kenapa?"
"Dia jadi artis, buka sosial media isinya wajah Agyan semua." gadis itu berkata dengan serius. Brandon memicingkan matanya menatap Gisna, membuat gadis itu salah tingkah.
"Jadi itu alesan kamu betah natap layar hape lama-lama?"
"Enggak. Bukan gitu," Gisna sedikit gelagapan menanggapinya.
Brandon tertawa melihat ekpresi Gisna. Gadis itu berdecak, tak ingin meladeni Brandon dan menarik perhatian para suster yang juga sedang makan.
Namun begitu, Brandon tetap melihat sosial media. Dan memang benar, jika Agyan sedang menjadi bahan perbincangan di sana.
*
*
"Ceritanya panjang, nanti kapan-kapan kita ngobrol!" sahut Agyan saat Morgan menghubinginya dan menanyakan detail Agyan yang tiba-tiba saja banyak dibicarakan dan muncul di tv.
"Harusnya loe ngajak-ngajak gue kalo masuk tv." Morgan masih menggerutu saja di ujung sana.
"Makasih, Sayang!" sahut pelan Agyan sambil mengecup pipi Freya setelah istrinya itu memasangkan jas miliknya.
"Mana gue tau kalo bakal rame kaya gini." ia menyahuti Morgan setelah beberapa saat. "Pokoknya kita harus ngobrol!" Morgan persis seorang pacar yang menuntut kejelasan pada cowoknya.
"Iya. Tapi nanti!"
Sambungan telpon terputus, Agyan menilik penampilannya dalam cermin. Freya di belakangnya memperhatikan sembari tersenyum. Agyan mengangguk, mengagumi penampilannya sendiri.
Tampan. Batinnya berucap, wajar jika ia jadi perbincangan.
"Kamu yakin nggak mau ikut?" Agyan berbalik, menaruh kedua pergelangan tangannya di bahu Freya.
"Iya. Aku tunggu kamu aja di rumah,"
__ADS_1
"Aku nggak tega ninggalin kamu sendirian."
"Emang kamu bakalan lama?"
Agyan diam sebentar, mempersempit jaraknya dengan Freya, kedua tangannya masih berada di pundak gadis itu. "Aku bakal usahain buat pulang secepetnya."
Freya mengangguk mendengar keputusan Agyan. Sebenarnya, suaminya itu memaksa untuk ikut, tapi Freya beberapa kali menolak.
Ia tidak ingin merepotkan Agyan di sana jika ikut dengan suaminya itu. Freya mendongakan kepala saat mendengar sebuah mobil memasuki pelataran rumah mereka, Agyan juga menoleh.
"Kamu pesen taksi onlone?"
"Enggak."
"Itu Aryo, aku minta dia buat jemput. Ayo, aku kenalin." sambungnya sambil menggandeng Freya keluar, sekalian Freya mengantarnya sampai ke teras. Sebelum pulang dari sirkuit sore tadi, Agyan memang meminta tolong pada Aryo untuk menjemputnya, karena rasanya tidak mungkin ia harus mengendarai motornya. Sekalian, Agyan tidak ingin pusing-pusing mencari alamat gedung RCH.
Tepat ketika Agyan dan Freya keluar dari rumahnya. Aryo juga keluar dari mobil, senyum cerahnya seketika mengembang begitu melihat pemilik rumah.
"Selamat malam, Mas Agyan, Mbak." sapanya pada Agyan dan Freya. Agyan tak merespon, sementara Freya hanya mengangguk kecil.
Dalam hati, Aryo bertanya-tanya mengenai siapa gadis di samping Agyan. Sejak ia melihatnya keluar dari pintu, pancaran pesona gadis itu begitu membuatnya kagum.
Agyan mendesah saat Aryo terus menatap istrinya. Ia menggeser Freya ke belakang tubuhnya dan membuat Aryo tersadar jika ia sudah bersikap tidak sopan.
"Dia istri saya, namanya Freya."
Terlihat dari ekpresi wajahnya, jika Aryo baru saja terkejut dengan apa yang di sampaikan Agyan. Ia kira Agyan belum memiliki istri, namun ternyata, apa yang saat ini ia lihat amat jauh dengan perkiraannya.
Awalnya ia berharap gadis itu adalah saudara Agyan. Dan ia akan menyusun rencana untuk mendekatinya. Harapannya sirna.
"Oh, istri Mas Agyan cantik."
"Iya. Tapi bukan buat kamu liatin!" sinis Agyan, Freya sedikit mengguncang lengan suaminya itu agar tak sembarangan berbicara dan bersikap lebih sopan pada Aryo.
"Maaf, Mas." pemuda itu meminta maaf dengan sopan.
"Sayang, ini Aryo." Agyan menperkenalkan Aryo tanpa menjelaskan detail siapa Aryo sebenarnya.
Agyan menoleh pada istrinya. "Jangan diliatin!"
"Kamu, ih!" kali ini Freya mencubit Agyan, pria itu mengaduh kesakitan. Diam-diam Aryo tersenyum melihat tingkah pasutri di hadapannya ini.
"Yausdah, Mas, kita langsung berangkat saja."
Agyan mengangguk, Aryo berjalan ke arah mobil dan membuka pintu belakang. Ia benar-benar sedang menjadi sopir profesional sekarang. Berdiri di sana dan menunggu Agyan yang tengah berpamitan.
"Aku berangkat, yah." mendekat dan mencium kening Freya. Kemudian sedikit berjongkok dan mencium perut Freya, mengusapnya lembut dan membuat Aryo kembali terkejut.
"Sayang, Ayah berangkat, yah. Cuma sebentar, nanti Ayah pulang lagi." ia berbicara pada Ethan dan kembarannya di dalam perut Freya. Freya hanya mengusap rambut suaminya. Usapan sayang melepas Agyan pergi untuk pertamakalinya di waktu malam.
"Kamu nggak papa di rumah sendirian?"
"Enggak papa. Kamu tenang aja,"
Agyan menghela nafas, mengusap rambut istrinya dan benar-benar pamit dari sana. Berlalu meninggalkan Freya yang mengiringinya dengan lambaian tangan.
"Mas Agyan—"
"Istri saya lagi hamil. Makannya saya cium perutnya!" Agyan tau Aryo akan memberikan pertanyaan yang jawabannya menjurus ke sana. Aryo hanya ber-oh ria, sampai ia tersadar jika Agyan sudah duduk di tempatnya dan ia buru-buru mengambil posisi di balik kemudi.
Sepanjang perjalanan, Aryo banyak bertanya pada Agyan, dan Agyan akan menanggapi dengan seperlunya.
Sejujurnya Aryo menyenangkan, sabar dan sopan. Tapi Agyan merasa ia dengan Aryo tidak cukup akrab untuk banyak berbicara.
"Mas Agyan sudah lama menikah sama Mbak Freya?"
"Sekitar dua bulan yang lalu,"
__ADS_1
"Pacarannya lama, Mas?"
"Lima tahun."
"Wah, lama berarti, yah."
"Masih lama?"
"Apanya, Mas?"
"Sampenya."
"Oh, sebentar lagi Mas."
"Nanti kamu temani saya ketemu Direkturnya."
"Iya, Mas."
Aryo tidak berbohong jika mereka akan sampai sebentar lagi. Karena setelahnya, selang lima belas menit. Mobil berhenti di sebuah gedung besar.
Agyan turun, ia melihat tulisan di atas pintu masuk dalam sebuah papan digital led dengan lampu berwarna biru, RCH Pictures.
Agyan mengangguk-anggukan kepala, rupanya agensi tersebut baru saja berdiri empat tahun yang lalu, karena sebelumnya gedung ini bukanlah RCH Pictures.
"Mari, Mas Agyan." ajak Aryo, Agyan mengangguk. Salah satu petugas penjaga pintu mengantarkan keduanya sampai pada pintu lift, acara diadakan dia lantai tiga.
Acara syukuran diadakan karena film yang sekarang sedang diproduksi berada dalam rating satu, selain itu, acara ini juga dihadiri oleh beberapa fans yang beruntung dalam undian untuk datang dan turut memeriahkan acara.
"Mas Agyan gugup?" tanya Aryo ketika pintu lift terbuka dan mereka sudah berada di lantai tiga.
Agyan menggeleng. "Saya tidak gugup, hanya tidak nyaman."
Aryo tersenyum masam. Begitu sampai di tempat berlangsungnya acara, Agyan segera diserbu oleh fansnya yang meminta untuk foto bersama.
"Kak, boleh minta foto bareng."
"Mas Pelatih, foto bareng dong."
"Foto, yah."
Mereka mulai berdesakan mengambil posisi berdekatan dengan Agyan. Aryo berusaha mencegah tapi tidak bisa dan Agyan tampak tidak masalah. Karena bagaimana pun, ini adalah resiko jika ia setuju bergabung dalam bidang ini.
Sementara beberapa panitia acara dan juga Arfat serta Sutradara dan kru berikut para artis yang sudah ada di sana cukup heran saat tiba-tiba saja para fans film berhamburan meninggalkan tempat.
Tapi ketika melihat Agyan, mereka mengerti mengapa para fans itu meninggalkan tempat mereka dan mengabaikan beberapa artis di sana.
Agyan berhasil lolos dari kerumunan saat beberapa kru menariknya, bagaimana pun acara akan segera dimulai. Dan sesi foto akan digelar setelah acara syukuran usai.
"Kak Agyan hebat, belum apa-apa fans kamu sudah membludak." bisik Ocha saat Agyan berdiri di sampingnya. Agyan hanya tersenyum sopan.
Acara sudah dibuka oleh sambutan Arfat, ia berbicara banyak mengenai film yang sedang diproduksi oleh RCH Pictures. Ia juga berbicara mengenai sebuah film layar lebar yang diangkat dari sebuah buku novel.
RCH Pictures akan memproduksinya bulan depan. Dan mencari pemeran utama yang cocok dengan karakter dalam novel.
Saat Arfat menyampaikan hal tersebut, para fans yang menghadiri acara seketika berteriak nama Agyan agar turut andil dalam film tersebut.
Mungkin adalah kesempatan yang baik untuk melibatkan Agyan saat namanya sedang melambung saat ini, namun begitu masih banyak yang harus dipertimbangkan. Terlebih, Agyan belum bergabung secara resmi dengan RCH Pictures.
Begitu acara sambutan usai, selanjutnya adalah acara makan bersama sekaligus sesi foto bagi yang sudah selesai makan. Agyan berada di sana, banyak mengobrol dengan Arfat mengenai sebuah film. Sampai ada salah satu kru yang memberitahu jika Direktur mereka sudah sampai.
Siluet seorang wanita dengan pakaian semi formal menembus kerumunan dengan gaya anggun dan dewasa. Agyan sempat mengernyit melihatnya, namun beberapa detik kemudian, bibirnya berucap pelan saat wanita itu sudah ada di depannya.
"Rachel."
TBC
Jangan lupa like dan koment.
__ADS_1
Btw, jangan hujat Rachel, yah. Guys.
Jangan nuduh pelakor😂