
Seorang wanita tampak keluar dari dalam kamar mandi dengan raut sendu. Padahal benda yang dibawanya menunjukan hasil positif di mana semua wanita yang berumah tangga akan senang begitu mendapatinya.
Tapi berbeda dengan Selin, justru wanita itu hanya mematung dan membuat sang suami yang sudah menunggunya senak beberapa menit yang lalu mengerutkan kening. Lantas beranjak menghampiri istrinya dan mengambil benda tersebut dari tangan Selin.
Randy senang? tentu saja?
Randy bahagia? sangat bahagia. Impian semua laki-laki adalah menjadi seorang ayah, berulang-ulang ia mendaratkan kecupan di seluruh permukaan wajah Selin. Namun wanita itu masih memaku di tempatnya, tentu hal tersebut membuat Randy terheran-heran dengan apa yang terjadi terhadap sang istri.
Apa yang salah? Apakah Selin tidak senang jika sebentar lagi mereka akan memiliki anak?
"Ada apa Selin? Kamu nggak senang sebentar lagi kita punya seorang anak?" tanyanya penuh selidik. Selin menggelengkan kelala.
"Bukan kayak gitu Ran, tapi gimana caranya aku bilang ke Zoya kalau aku lagi hamil?" keluh Selin.
"Gimana kalau dia tersinggung pas nanti tau aku hamil?"
"Gimana kalau dia merasa minder?" sahut Selin beruntun, mengutarakan hal yang sejak tadi mengganggu pikirannya . Ia tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Zoya begitu nanti tahu jika dirinya sedang hamil hamil.
Mendadak Randy juga memaku. Apa yang Selin katakan benar dan tepat sasaran, sekalipun semua pasangan berhak berbahagia, setidaknya mereka harus menghargai perasaan atasan mereka. Mereka tidak bisa seenaknya saja terlebih dengan Ethan sudah lama menginginkan kehadiran seorang anak di rumah tangga mereka keduanya pastj akan merasaterpukul begitu mendapat kabar Selin yang baru menikah beberapa bulan dengan Randy sedang mengandung anak pertama.
Sekalipun pikirannya mendadak kalut, tetapi Randy berusaha untuk bersikap tenang, ia meraih tubuh sang istri. Kemudian menenangkan Selin, mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja
Seandainya harus dirahasiakan, maka akan sampai kapan? Sampai bayi itu lahir dan Zoya tahu jika salin melahirkan dengan tiba-tiba pasti tidak akan seperti itu. Wanita itu pasti akan marah.
"Biar aku yang mikirin hal itu, yang penting sekarang kamu tenang, rileks dan jangan banyak pikiran." ucap Randy.
"Setelah ini kita pergi ke dokter kandungan." sambungnya yang segera mendapat anggukan kelala dari Selin.
Selin mendesah, ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dikatakan pada Zoya atau bagaimana caranya dia memberitahu wanita itu jika dirinya tengah mengandung anak pertamanya dengan Randy–namun dengan kalimat yang sekiranya tidak akan mengganggu ataupun merendahkan Zoya.
**
__ADS_1
Ethan sedang berkutat dengan komputernya ketika Randy memasuki ruang kerjanya dengan raut tak terbaca, membuat Ethan mengernyitkan dahi saat memdapati pria itu datang bersama dengan istrinya.
Sekalipun mereka satu perusahaan, setidaknya Selin tidak pernah masuk ke dalam ruangannya. Pernah tapi masih dapat Ethan hitung bebrapakali jumlahnya.
Namun kali ini, dua orang itu tampak berbeda membuat Ethan menghentikan aktivitasnya sejenak, sedikit memundurkan kursi putarnya, menjauhkan diri dari komputer yang menyita perhatian.
"Ada apa?" tanya Ethan ketika dua orang itu tak ada yang berbicara ataupun menyapanya terutama Randy, tidak biasanya sang skretaris bersikap demikian.
"Ada hal yang ingin saya sampaikan." sahut Randy, begitu formal seolah ia sedang berhadapan dengan atasannya. Meskipun pada kenyataannya memang begitu, namun biasanya sekalipun kerja pria itu profesional sikapnya pada Ethan tetap saja selayaknya seorang teman, namun kali ini lagi-lagi Ethan melihat ada yang berbeda.
Ethan tidak bertanya hanya menatap dua orang itu bergantian dan menunggu Randy untuk menyampaikan apa yang akan dikatakannya. Seharusnya pria itu tahu Ethan sangat tidak suka basa-basi.
"Selin hamil." sahut Randy, kalimat singkat yang membuat Ethan terdiam pada awalnya. Ia berpikir jika hal itu konyol, bukan karena Selin yang sedang hamil, namub untuk apa kedua orang itu itu harus memberitahukannya mengenai hal tersebut.
Hingga beberapa detik selanjutnya, sebelum Ethan tertawa atas apa yang baru saja di sampaikan Rndy. Ia lebih dulu tersenyum tipis.
"Saya tidak tahu apakah cara saya salah atau tidak, tapi yang pasti saya memberitahukan Pak Ethan agar memikirkan solusi.
"Bagaimana caranya Mbak Zoya tidak perlu tahu hal ini." Selin angkat bicara Leni. Ethan tak mampu berbuat apa-apa, ia hanya mampu menganggukan kepala bagai orang bodoh di saat mana seharusnya ini segera mengucapkan selamat kepada dua orang itu yang mungkin akan lebih dulu menjadi orang tua dan menimbang anak daripada dirinya. Ethan justru malah tak kujung berbuat apa-apa.
"Selamat, yah." sahutnya, Randy tersenyum. Dengan tatapan penuh Iba dan hanya mampu menepuk-bepuk bahu pria itu.
"Kamu yakin Zoya tidak perlu tahu hal ini?" tanya Ethan pada Selin, sebelumnya ia juga mengucapkan selamat pada Selin.
Sekalipun ragu, Selin tetap mengangguk. Sebenarnya apapun cara yang akan ia pilih salah satu alasannya karena ia tidak melihat Zoya bersedih saat nanti tahu jika dirinya tengah mengandung. Selanjutnya Ia juga tak ingin jika Zoya marah karena dirinya merahasiakan hal bahagia ini.
"Akan lebih baik jika Zoya tidak perlu tahu."
"Sampai kapan."
"Euumm, tidak tahu mungkin sampai ....,"
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian rahasiakan?" tiba-tiba seseorang muncul dari pintu masuk yang tidak Randy ditutup rapat-rapat ketika ia masuk tadi.
Ketiganya melemparkan tatapan kepada wanita yang telah tiba di dalam ruangan tersebut dengan alis yang berkerut, dia adalah Zoya yang sudah mendengar sebagian hal yang sudah 3 orang itu katakan. Selin hanya mematung, rupanya Tuhan tidak memberikan kesempatan padanya untuk merahasiakan hal ini lebih lama, dalam sekejap Selin tahu sepertinya Zoya harus segera mengetahui apa yang terjadi dengannya.
Zoya mengerutkan keningnya dalam-dalam ketika tidak ada yang menyahuti pertanyaannya. Ia berjalan perlahan dan berdiri di samping Ethan, memperhatikan suaminya yang hanya diam membeku.
"Apa yang coba kalian rahasiakan?"
"Kenapa aku nggak boleh tahu?" desak Zoya. Ia akan sangat marah jika tak kunjung ada yang menjawab pertanyaabnya.
"Mbak sedang hamil." kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir Selin berhasil membuat ketiga orang itu beradu pandang, tapi masih memaku di tempatnya, belum mampu mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab rasa penasaran Zoya atas pertanyaan yang baru saja ja ajukan.
.
"Benar?" tanya Zoya, tak percaya dengan raut wajah sendu. Selin menganggukan kepala, mata cantik itu tampak berkaca-kaca, membuat Selin tak tau harus berbuag apa. Atau memulai darimana jika Zoya benar-benar marah padanya nanti.
Beberapa detik selanjutnya, air mata wanita itu jatuh membasahi pipinya, dengan gerakan cepat Zoya segera menyeka air matanya dan mengukir sebuah senyum.
"Ini berita bahagia bukan? Kenapa kalian mau coba rahasiakan itu dari aku?" Zoya merasa kecewa tentu saja.
"Mbak Selin, kenapa harus dirahasiakan. Seharusnya aku orang pertama yang tahu mengenai hal ini, kenapa kalian malah jahat?" Zoya merasa tidak terima, ia menjadi orang terakhir yang tahu mengenai kabar kehamilan Selin, sang manajer yang sudah dianggap seperti saudaranya sendiri.
Masih tidak ada yang bersuara di sana. Baik Ethan, Randy ataupun Selin masih kebingungan di tempatnya, terutama melihat raut wajah Zoya yang terlihat sudah begitu ceria, meski wanita itu tidak bisa berbohong jika sejujurnya barangkali ia merasa kecewa terhadap dirinya sendiri saat Tuhan belum lagi memberikan kepercayaan untuk kembali menitipkan seorang bayi di rahimnya.
"Mbak benar-benar lagi ngandung anak pertama kalian?"
Zoya menatap Selin penuh tuntutan, sedangkan Selin hanya diam, hingga beberapa detik selanjutnya Selin menganggukan kepala. Membuat Zoya kemudian meraih tubuhnya.
"Selamat. Selamat Mbak Selin aku nggak nyangka."
"Aku nggak nyangka Mbak Selin nikah dan sekarang udah hamil anak pertama. Selamat ya, semoga selalu sehat." Zoya memeluk Selin erat-erat, setelahnya ia beralih kepada perut wanita itu.
__ADS_1
"Baik-baik di dalam ya, Sayang. Sampai bertemu dengan aunty nanti, yah, calon keponakan." sahutnya dengan tangan yang mengusap-usap permukaan perut Selin yang masih begitu datar.
TBC