
FYI : Rachel itu temen kuliah Agyan di Amrik dulu yang naksir sama Agyan. Dia bukan pendatang baru. Dan, di sini dia fokus menjalankan bisnis. Bukan nyusulin Agyan. Dia bukan pelakor, yah, Gaes. Kan aku dah, kata, di sini gak akan ada pelakor. Ok.
*
*
"Rachel."
Rachel berdiri di hadapan Agyan, ia tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke arah pria tampan itu.
Beberapa awak media mulai memotret mereka, mengabadikan setiap moment dalam jangka waktu perdetik yang terjadi dengan interaksi antara Agyan dan Rachel.
Ini akan menjadi bahan berita bagus melihat sorot mata dua orang itu.
"Agyan, senang bertemu kamu di sini." ucap pelan Rachel.
Agyan menarik satu sudut bibirnya, lantas ia menyahut. "Sama."
Keduanya tak kunjung melepas jabatan tangan. Menjadi pusat perhatian, terlebih para awak media yang mulai penasaran. Namun begitu, Rachel tampak bersikap profesional. Ia menyapa awak media dan menyampaikan jika ia dan Agyan adalah seorang teman lama.
"Seperti yang kalian ketahui, jika RCH Pictures adalah perusahaan ayah saya, namun tiga bulan ini, saya adalah Direktur Utama resmi, pemilik RCH Pictures."
"Meski saya pemula dalam bidang ini, saya akan melakukan yang terbaik untuk kemajuan perusahaan."
"RCH Pictures, akan mempersembahkan film-film terbaik dan berkualitas."
"Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik."
Gemuruh tepuk tangan menggema setelahnya. Para awak media tampak kagum pada Direktur muda cantik itu. Begitu juga Agyan yang sudah mengagumi Rachel saat mereka kuliah di Amerika.
Hanya mengagumi. Mengagumi kecantikan dan kecerdasan gadis itu. Tidak ada niat untuk berpaling dari Freya, sama sekali tidak ada. Tolong jangan berfikir macam-macam.
Di tengah berlangsungnya acara, Agyan mendapat undangan untuk segera menemui Rachel di ruangannya, ditemani Aryo yang berjalan di depan sembari menunjuk jalan di mana letak ruang Direktur.
Begitu Aryo membuka pintu ruangan, tampak Rachel sedang berdiri di samping meja menunggu kedatangan Agyan. Wanita itu tersenyum dan segera duduk di kursinya.
Aryo juga menarik kursi yang bersebrangan dengan Rachel, mempersilahkan Agyan untuk duduk. Beberapa detik berselang, Rachel menyerahkan sebuah map dengan beberapa kertas di dalamnya ke hadapan Agyan. Agyan menerimanya.
"Ini apa?"
"Undangan dari beberapa stasiun televisi yang mengundang kamu wawancara sebagai aktor pendatang baru,"
"Dan beberapa tawaran syuting iklan."
"Aku akan segera membuat kontrak kerjasama kamu dengan perusahaan."
"Aku tidak pernah bilang akan mau." sela cepat Agyan yang membuat Rachel menatapnya dengan heran dan kesal.
"Nama kamu sedang menjadi perbincangan, ini keuntungan yang baik untuk kamu dan perusahaan ku."
"Aku tidak tertarik!"
Tidak hanya Rachel yang merasa terkejut, bahkan Aryo saja terperanjat mendengarnya. Bagaimana bisa dengan mudah Agyan menolak tawaran emas yang sedang menghampirinya.
Rachel menghela nafas, ia tidak akan terpancing karena ia tau bagaimana menjengkelkan dan arogannya seorang Zeinn Agyan.
"Aku tidak tau alasan kamu tidak tertarik dengan kerjasama ini. Seharusnya kamu bersyukur, kamu sedang dalam keadaan yang sulit, bukan?"
Agyan menatap Rachel tepat pada manik matanya begitu Rachel berkata demikian. Apa selama Rachel di Indonesia, ia menyelidiki kehidupan Agyan?
Termasuk mengetahui permasalahan Agyan dengan keluarganya karena hubungan yang tak mendapat restu?
"Jangan berfikir macam-macam, aku tidak melakukannya Agyan. Mm—Kecuali setelah ini, mungkin akan."
Agyan mengangkat satu sudut bibirnya.
"Akan?"
Rachel tak menggubris. Ia kembali menghela nafas dan menautkan jari jemarinya di atas meja dengan tenang. Sementara Agyan melipat tangannya di dada.
"Dengar ini! Menjadi publik figur adalah cara yang instan untuk kamu bisa mendapatkan banyak uang. Terlebih dengan nama kamu yang sudah terkenal di masyarakat sini."
"Aku harap kamu bisa mempertimbangkannya dengan baik."
"Ini naskah film yang bulan depan akan digarap RCH Pictures sesuai apa yang dikatakan Pak Arfat tadi. Kemungkinan kamu akan didapuk sebagai lead actor."
"Tanpa casting!" Rachel menegaskan.
"Seharusnya kamu tidak memiliki alasan untuk menolak." sambungnya yang kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan ruangannya. Memberi kebimbangan untuk Agyan.
Agyan menatap sebuah naskah yang baru saja Rachel serahkan. Aryo mengambilnya dan melihat beberapa skrip di sana.
"Cocok. Nih, sama Mas Agyan!"
Agyan tak memperdulikan, ia bangkit. Kemudian berlalu keluar, Aryo mengernyitkan dahi melihat reaksi Agyan. Ia pun segera menyusul dan keluar dari ruangan.
__ADS_1
*
*
Ini adalah hari minggu, pagi ini Freya maupun Agyan masih berada di atas tempat tidur, dengan Agyan yang merebahkan kepalanya di atas dada Freya sambil mengusap-usap perut gadis itu.
"Kamu berharap kembarnya cewe, apa cowok?" tanyanya, menolrh pada Freya, kemudian mengubah posisinya untuk tidur satu bantal dengan Frrya.
"Mau cewek atau cowok, nggak papa."
Agyan mengangguk. "Iya. Enggak papa, nanti bikin lagi kemar sembilan."
Freya memukul lengan pria itu, Agyan tertawa. "Banyak amat,"
"Biar jadi tim sepak bola. Kan asik, nanti kita jadi suporternya."
"Jangan, ah, kalo maen bola ntar berantem dong."
"Beliin bolanya sebelas, biar gak rebutan."
"Ngaco kamu, ah."
Agyan terkekeh, mengelus rambut Freya dan miring menghadap sang istri. Menatap Freya tepat pada manik gadis cantik itu.
"Yang,"
"Hmm."
"Kalau seandainya besok ada berita macem-macem tentang aku. Kamu jangan salah paham," Agyan menyibak rambut Freya yang jatuh di kening gadis itu.
"Berita macem-macem gimana?" tanya Freya dengan lipatan di dahinya.
Agyan menghela nafas. "Aku belum cerita soal ini ke kamu."
Freya diam dan semakin penasaran mengenai apa yang akan Agyan katakan. Tiba-tiba saja dadanya berdebar tidak karuan.
"Waktu di Amerika, ada cewek yang mau sama aku."
"Bukannya banyak, yah." sindir Freya dengan wajah kesal.
"Kamu dengerlin dulu."
Freya kembali diam dan tenang. Siap mendengarkan Agyan.
"Namanya Rachel, dia pemilik RCH Pictures sekarang, perusahaan yang sekarang nawarin kontrak kerjasamanya, sama aku."
"Tapi sumpah, By. Aku nggak pernah ada hubungan apa-apa sama Rachel. Enggak pernah dan nggak akan!"
"Kamu percaya sama aku, 'kan?"
Tanpa berfikir panjang, Freya mengangguk dengan yakin. Agyan menghembuskan nafasnya lega. "Jadi gimana, kamu mau kerjasama, sama mereka?"
"Masih ada beberapa jam buat aku nentuin pilihan!"
"Aku ada beberapa tawaran syuting juga." sambungnya, ia menatap Freya lekat-lekat. Ingin melihat ekspresi sang istri. Namun Freya malah memalingkan wajahnya.
"Waktu aku masih jadi model, dari SMA sampe aku kuliah. Ada beberapa perusahaan yang nawarin aku buat jadi artis. Syuting film, iklan, tapi aku tolak." Freya berkata tanpa menatap Agyan, Agyan memperhatikan.
"Kenapa?"
"Aku nggak mau waktu aku sama kamu jadi tersita karena aku sibuk syuting."
Bolehkah Agyan menarik kesimpulan jika Freya sedang melarangnya saat ini untuk berkecimpung dalam dunia hiburan? Apa yang dikatakan gadis itu seolah menjurus ke sana. Dan Agyan juga tidak tertarik sama sekali.
Kecuali tertarik pada tawaran Rachel yang menggiurkan. Rachel benar, ini adalah jalan instan untuk Agyan cepat meraih kepopuleran ditengah namanya yang sedang hangat diperbincangkan. Cara instan agar ia cepat sukses dan memiliki banyak uang. Terlebih, ia dan Freya sebentar lagi akan memiliki anak. Tanggung jawab Agyan akan semakin besar.
"Aku juga nggak mau."
"Gyan,"
Agyan menoleh, tatapan keduanya bertemu dalam satu garis lurus. "Aku nggak papa kalo emang kamu tertarik buat gabung RCH."
"Siapa tau kamu cocok dibidang ini." sambungnya. Sedangkan Agyan hanya diam mempertimbangkan, tapi detik selanjutnya ia hanya menggeleng pelan.
"Kamu enggak usah nggak enak sama aku." bujuk Freya.
"Sekarang, 'kan kita udah satu rumah. Ketemunya sering."
Agyan menghela nafas, ia menggenggam tangan Freya dan mengecupnya. "Aku mau sama-sama, sama kamu terus!"
Freya mencebikan bibirnya dan memilih untuk menarik selimut sampai sebatas leher. Ia tau apa yang akan dilalukan Agyan dalam detik selanjutnya.
"Kamu bikin sarapan sendiri aja, aku ngantuk!" sahutnya sambil memejamkan mata, tapi Agyan tidak mungkin membiarkannya begitu saja. Ia justru menciumi Freya dan membuat gadis itu tertawa dan mendorong Agyan.
Tak menggubris, Agyan tetap menciumi seluruh wajah dan leher Freya. Freya hanya bisa pasrah.
__ADS_1
Selepas mandi dan sarapan, Agyan menonton tv dengan Freya. Menikmati hari libur dengan menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya. Freya duduk dengan sebuah toples berisi keripik kentang di sebelah kirinya, sementara Agyan merebahkan kepalanya di paha Freya.
"Kamu mau apa, By?"
Freya menatap Agyan dengan heran.
"Maksudnya?"
"Kamu enggak ngidam, pengen apa gitu. Biasanya, 'kan orang hamil sering ngerepotin!"
Freya memukul pelan tangan Agyan mendengar kalimat terakhir suaminya itu.
"Aku serius tapi, kamu enggak mau apa-apa?"
Freya menggeleng. "Enggak,"
"Iya, sih, yah. Aku emang belum pernah minta apapun. Baik banget bayinya." Freya mengelus perutnya.
"Kaya kamu."
"Haha, iya."
"Waktu itu, sih, pernah."
"Mau apa?"
"Nikah sama kamu."
"Kan udah!"
"Pas belum."
Agyan tersenyum, keduanya kembali fokus pada layar tv di hadapannya. Agyan mengganti layar tv dan melihat pemberitaan acara syukuran yang semalam dihadirinya.
"Ini beritanya?" tanya Freya. Agyan mengangguk, membuat Freya fokus pada layar tv, terutama saat siaran pidato Direktur Utama RCH Pictures.
"Itu ceweknya, Yang?"
"Hmm."
"Cantik."
"Cantik, 'kan kamu."
Freya tak menggubris, ia meraih ponselnya dan mendapati beberapa notif berita dari portal berita daring mengenai kedekatan Agyan dengan Direktur Utama RCH Pictures yang dipertanyakan.
Kali ini Agyan tidak mendapat respon baik dari masyarakat. Ada beberapa komentar yang berada di pihaknya, sementara yang lain menyerang. Ia dituduh mencari panggung dengan sengaja mendekati Dirut dari RCH Pictures.
Yah, namanya cuma modal tampang doang. Pasti butuh bahan buat jadi makin terkenal.
Cuma sekedar gambar yang gak bisa jelasin apa-apa. Aku ada di tempat acara dan ngeliat gak ada something apapun antara Kak Agyan sama Direkturnya.
Biasanya yang tampan emang cuma modal tampang aja.
Mereka cuma temen lama aja, kok.
Cuma tampannya doang, ujung-ujungnya pansos.
Kirain bakal terkenal karna prestasi, eh sekarang nyari sensasi.
Netizen emang pinter bikin kesimpulan sendiri tanpa tau bukti.
Woy, yang bikin berita sape, nih. Mau gue santet!
Freya mendesah, Agyan yang sudah terlanjur melihatnya hanya menggapai ponsel Freya dan menyimpannya pada saku celananya.
"Enggak usah dipikirin."
"Kamu nggak papa digituin?"
"Nggak papalah, lagian, apa yang mereka omongin juga nggak bener."
"Kamu cukup mikirin aku aja." Agyan menangkup satu sisi wajah Freya. Freya mengangguk, kemudian mencium kening Agyan sekilas.
"Aku boleh minta tolong nggak, ambilin earphoneku di kamar dong." sahutnya setelah Freya melepas bibirnya dari kening Agyan. Freya mengangguk dan bangkit, Agyan menyingkir.
Setelah istrinya itu berlalu, Agyan membuka ponselnya. Melihat keramaian yang kembali diciptakan para awak media dan netizen Indonesia. Kali ini komentar mereka benar-benar pedas, Agyan tidak bisa membiarkan Freya melihatnya. Dan nanti malah akan memikirkannya.
Ia mengambil ponsel Freya bersamaan dengan Freya yang muncul membawa apa yang Agyan butuhkan.
"By, aku keluar sebentar, yah. Aku pinjem hape kamu." Ia bangkit dengan buru-buru. Mengecup kening Freya dan berlalu
Freya hanya terdiam menatap kepergian Agyan dengan heran.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like:")
Banyak komen banyak like. Aku buru-buru up lagi😍