Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Rasa Bersalah Ethan


__ADS_3

Ethan melangkahkan kaki menuju kamarnya di mana ketika ia membuka pintu, Zoya berada di sana dan tengah mengganti pakaian. Ethan menatap wanita itu dengan tenang namun Zoya tak menghiraukan. Ia bairkan saja suaminya sedangkan dirinya dengan gerakan cepat segera mengenakan sleep wear yang sudah ia ambil dari lemari pakaian.


"Sayang,"


"Aku nggak mau bahas apapun." tepis Zoya dengan cepat.


"Zoy, dengarkan saya dulu." pinta Ethan namun Zoya sama sekali tidak memedulikan. Begitu usai mengenakan sleep wearnya ia lebih memilih untuk berlalu menuju pintu keluar setelah menyambar cadrigan berwarna hitam. Meninggalkan Ethan di dalam kamar, pria itu hanya mematung bimbang. Mendesah pasrah dengan mata yang menatap langkah aaki Zoya yang keluar dari kamar.


Ethan lantas melangkah menuju kamar mandi tapi sebelumnya ia sempat meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, saya ingin bercerita."


**


Zoya mengukir senyumnya begitu menuruni anak tangga dan bertemu dengan Freya. Wanita itu juga balas tersenyum menyambut Zoya.


"Bunda lagi nyiapin makan malam?" tanyanya, Freya segera mengangguk. berjalan menuju meja makan, Zoya mengekor di belakangnya. Menu makan malam sudah tertata rapi di atas meja dengan beberapa lauk yang Zoya lihat adalah makanan kesukaan Ethan, dan juga makanan kesukaan Zoya.


Zoya menatap Freya yang tengah mengatur asisten rumah tangganya mengenai beberapa menu lagi yang masih berada di dapur. Tanpa sadar Zoya mengukir senyum dengan mata sendu. Kenapa ia memiliki mama mertua yang begitu baik dan sangat menyayanginya? Rasanya kehidupan Zoya sudah begitu sempurna hanya dengan kehadiran suami dan juga mertuanya.


"Ethan, sini makan." suara Freya membuatnya menoleh ke belakang di mana Etan muncul dari sana, pria itu tersenyum kepadanya. Namun sayang, Zoya masih menatapnya tanpa ekspresi apapun.


Raut wajah Ethan tampak tak keberatan. Dia berjalan ke arah meja makan dan duduk di sebelah kursi yang akan diduduki Zoya.


"Silakan duduk," sahut Freya menyadarkan wanita itu namun Zoya terlihat ragu, enggan duduk di samping sang suami tetapi ia memikirkan lagi, pria sudah begitu baik padanya. Mungkin seharusnya Zoya tidak berlebihan memperlakukan putra kesayangan dari mama mertuanya, mungkin seharusnya ia tidak marah berlebihan kepada Ehtan.


Setelah Zoya pikirkan berulang-ulang, apa yang Ethan sampaikan beberapa waktu lalu di dalam mobil, pria itu mengatakan dengan sangat lembut dan penuh pengertian. Tidak menyinggung-nya sama sekali.


Mungkin karena perasaan Zoya saja yang sensitif sehingga ia merasa tersinggung dan beranggapan Ethan tak ingin memiliki anak dengannya. Padahal Zoya tahu suaminya.


Pria itu sangat mencintai dirinya, tidak mungkin ia menolak kehadiran seorang bayi yang notabenenya nanti adalah buah hatinya dengan Zoya.


"Sayang." Ethan menyadarkan wanita itu yang hanya mematung saat Freya menyuruhnya untuk duduk. Zoya segera tersadar dari lamunannya, kemudian segera duduk. Freya hanya tersenyum sambil menyodorkan beberapa lauk ke piringnya.


"Makasih Bunda, biar Zoya sendiri aja." sahutnya tak ingin merepotkan sang mama mertua, tetapi Freya menggelengkan kepala. Menolak usulan Zoya.


"Biar Bunda saja, kamu duduk dan makan dengan tenang, makan yang banyak oke?" sahutnya akhirnya membuat Zoya hanya mampu menganggukan kepala.


**


Sementara di tempat lain, Selin tengah menikmati buah semangka yang baru saja di disediakan sang suami. Waktu menunjukan pukul tujuh malam, ia tengah menonton televisi di ruang utama rumah sementara Randy baru saja muncul dari arah dapur setelah mencuci tangannya yang kotor begitu selesai mengupas dan memotong semangka.

__ADS_1


Pria itu kemudian duduk di samping Selin setelah Selin menyodorkan sepotong semangka padanya, pria itu mendesah lantas mengunyah semangkanya. Ia merentangkan tangannya pada bahu sofa, Selin tentu saja menatapnya heran.


"Ada apa?" tanya Selin melihat raut kacau suaminya.


"Tadi Pak Ethan telpon." sahut Randy singkat, Selin masih menatapnya, menunggu sang suami melanjutkan kalimat. "Dia udah usul ke Mbak Zoya buat adopsi anak, tapi ya ..., Mbak Zoya–"


"Zoya marah?" tanya Selin dengan cepat mendahului Randy. Ia mengenal Zoya atau bagaimana watak wanita itu yang sangat mudah tersinggung, terutama masalah anak sangat sensitif bagi wanita itu akhir-akhir ini.


Randy menganggukkan kepala membenarkan tebakan istrinya, ia mengingat kembali nada suara Ethan yang begitu sendu saat menceritakan hal tersebut kepada-nya, ia sadar jelas saja Zoya akan menolak usulan mengenai mengadopsi anak.


Wanita itu itu pasti lebih ingin merawat anaknya sendiri daripada anak orang lain, terlebih lagi para fansnya pasti akan bertanya-tanya mengenai alasan kenapa Zoya lebih memilih untuk mengadopsi seorang anak daripada memiliki anak sendiri, wanita itu pasti akan kian tertekan membayangkan hal tersebut.


Selin tak mampu berkata-kata setelahnya, ia hanya diam dengan tangan yang mengusap permukaan perutnya yang masih rata.


"Akhir-akhir ini dia juga jarang ngajakin aku ngobrol. Aku khawatir," sahut Selin mengingat jika akhir-akhir ini ia dengan Zoya memang jarang berinteraksi. Mereka hanya berbicara seperlunya saja. Terlebih wanita itu juga sempat menolak beberapa tawaran syuting iklan dan FTV, belum lagi karena ketidakfokusan-nya di lokasi syuting yang membuat Zoya kian terlihat kacau.


Randy hanya merangkul bahu istrinya, ikut menyayangkan kecelakaan yang dialami Zoya hingga membuatnya sulit memiliki seorang anak. Atau bahkan mungkin tidak akan.


Tapi tidak ada hal yang bisa dilakukan. Terlebih lagi Zoya belum mengetahui bagaimana kondisi dirinya sendiri.


**


Entah mengapa Zoya merasa tetap khawatir kepada asisten rumah tangganya tersebut.


Zoya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru saat tidak mendapati suaminya di dalam kamar, padahal jelas-jelas pria itu tidak turun lagi ke lantai bawah. Zoya hanya mematung di sana, menerka di mana kira-kira keberadaan suaminya, sampai ia menyadari jika pintu balkon tampak terbuka dengan gorden yang bergerak karena diterpa angin.


Ragu, tapi Zoya tetap melangkahkan kakinya ke sana, dan benar saja ternyata Ethan berada di balkon. Tampak duduk dengan tenang di sebuah kursi panjang yang berada di sana. Laptop di hadapannya tepat di atas meja tampak masih menyala.


"Ethan, udah malam." tegur Zoya agar sang suami cepat masuk, angin berhembus cukup menusuk tulang dan Zoya tidak ingin jika suami nya jatuh sakit karena masuk angin.


Ethan menoleh dengan senyum tipis di bibirnya. "Saya lagi ngobrol sama Arial dan Aluna." jawaban yang Ethan berikan membuat Zoya terdiam sesaat, hingga kemudian wanita itu merasa tertarik untuk ikut duduk di samping Ethan terutama saat pria itu menunjuk tempat kosong di sampingnya.


Zoya segera duduk. Bagai melupakan apa yang terjadi sore tadi ketika Zoya mendebat Ethan dengan hebat. Suasana cair segera tercipta ketika dengan begitu saja Ethan yang merentangkan tangan dan meraih bahunya membuat Zoya menyandarkan kepalanya di dada sang suami.


Bintang yang bertaburan di atas langit membuat dua orang itu terpaku untuk tetap menatap ke sana. Seolah mereka sedang saling menatap dengan Ariel dan Aluna di atas sana.


Zoya tersenyum sebelum akhirnya bertanya pada suaminya. "Kalian ngobrol apa?" Ethan menoleh, sesaat pandangan keduanya saling bertemu.


"Saya bilang kalau Mami mereka sedang marah dan saya tidak tahu lagi bagaimana caranya saya bisa minta maaf." sahut pria itu dengan santainya.


"Saya takut Zoya." sambungnya lantas mempertemukan tatapan mereka, Zoya hanya menatapnya dan menunggu Ethan melanjutkan kalinat.

__ADS_1


"Saya takut karena saya sudah membuat kamu bersedih. Ariel dan Aluna juga akan marah kepada saya." sambung pria itu lagi yang mampu membuat Zoya mulai tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"Terus mereka bilang apa?" tanya Zoya dengan setetes air mata yang jatuh di pipinya, menganak sungai yang dengan segera Ethan seka dengan ibu jarinya.


"Mereka tidak bilang apa-apa, mungkin mereka marah." jawaban Ethan kali ini membuat Zoya tertawa dengan air mata berderai. Sejak kapan suaminya jago membuat sebuah lelucon seperti ini?


"Zoya, mungkin setiap waktu saya harus minta maaf kepada kamu." Ethan buka suara lagi, matanya tampak begitu serius yang membuat wanita itu terdiam menatap suaminya. Sementara tangan Ethan terulur menghapus air mata di pipi mulus Zoya.


"Setiap apa yang saya lakukan, saya merasa gagal dalam membahagiakan kamu, saya selalu merasa bersalah ketika saya melihat kamu bersedih."


"Ketika saya menangis dan ketika saya melihat kamu marah kepada saya. Saya merasa jika saya sudah gagal."


"Saya merasa gagal dalam membahagiakan kamu.


"Gimana cara supaya aku buat kamu nggak merasa gagal?" tanya Zoya, jelas ia tak ingin suaminya terus-menerus merasa seperti itu, padahal pada kenyataannya Ethan sudah sangat sempurna baginya.


Hanya saja Zoya yang terlalu egois dan kurang bersyukur, selalu merasa kurang dan selalu merasa paling benar sehingga apa yang Ethan lakukan lebih banyak salah di matanya


"Cara saya menjaga kamu mungkin berbeda dari suami pada umumnya, tapi saya melakukan itu semua karena saya mencintai kamu Zoya."


"Saya tidak tahu bagaimana caranya menjadi seperti orang lain Saya tidak tahu bagaimana caranya menghadapi seorang wanita yang tengah marah. Saya tidak bisa peka seperti pria lain."


"Saya hanya bisa mencintai kamu, memberi segala hal yang kamu inginkan."


"Juga menjaga kamu dari jangkauan orang-orang yang sekiranya membuat rasa cemburu saya berhamburan."


"Jika apa yang saya lakukan berlebihan, bahkan terkesan mengekang. Saya minta maaf."


Panjang lebar pria itu, sepanjang Ethan berbicara Zoya hanya terdiam tak mampu berkata-kata. Sebegitu berpengaruhkah marah Zoya pada pria itu sehingga apa yang membuat mereka bertengkar sore tadi justru luput dari jangkauan pria itu karena terlalu banyak perlakuannya yang membuat Zoya seringkali menggerutu.


"Kamu nggak selalu salah Ethan."


"Kamu nggak selalu salah." sahut Zoya tak kuasa menahan air matanya. Sedangkan Ethan juga sudah berkaca-kaca.


"Saya mohon, Sayang Jangan membenci saya atas segala kesalahan saya."


"Maafkan Saya." sahutnya lagi, kemudian mendekap Zoya dengan erat. Sementara wanita dalam dekapannga hanya menganggukan kepala.


"Maaf."


TBC

__ADS_1


__ADS_2