
Dua minggu menjadi sangat lama bagi Zoya ketika ia menunggu hasil dari inseminasi buatan yang dilakukan Naina. Dengan cekatan, ia sudah melingkari tanggal di mana tepat pada hari itu akan dilakukan tes kehamilan.
Setiap hari, Zoya selalu diberikan rasa penasaran. Ingin segera mengetahui hasil dari usaha yang mereka lakukan.
Zoya sangat tidak sabaran ketika mereka pergi ke Rumah Sakit secara langsung dan menemui dokter kandungan.
Namun, senyumnya yang tercipta sejak ia keluar dari rumah bahkan sejak sehari sebelumnya perlahan luntur ketika dokter mengatakan jika inseminasi buatan yang mereka lakukan gagal.
Kegagalan tersebut terjadi karena ****** yang dihasilkan bukanlah sprema terbaik, selain itu juga karena waktunya yang tidak tepat. Zoya seketika terlihat sangat putus asa, begitu juga yang lain. Ia juga dapat melihat sorot yang sama dari Ethan dengan Naina juga terluka tentu saja, tetapi yang paling sakit adalah Zoya.
Apa yang ia takutkan sebelumnya terjadi. Zoya tidak tahu harus berbuat apalagi. "Tidak apa-apa Sayang, saya sudah katakan tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja ya." Ethan berusaha membujuk istrinya. Tapi tidak akan semudah itu, Zoya tidak bisa baik-baik saja.
"Kita bisa coba melakukan inseminasi buatan sekali lagi Pak." Dokter memberi saran. Namun Zoya terlanjur menggelengkan kepala. Ia seolah tak memiliki harapan lagi. Pun ia sudah tidak ingin merepotkan Naina dengan kembali membuat wanita itu menjalankan proses inseminasi.
"Saya bersedia Dok." Naina buka suara. Membuat Ethan dengan Zoya menoleh padanya. Gadis itu tersenyum dengan penuh keyakinan. Zoya mengalihkan pandangannya pada sang suami, pria itu mengangguk. Ikut meyakinkan Zoya jika memang Naina masih bersedia membantu mereka untuk mengandung anak Ethan.
"Baik Dok, kita coba sekali lagi." Ethan memberikan keputusan saat itu juga. Sang Dokter mengangguk. Ketika Ethan meraih tubuh Zoya dalam dekapan, Dokter tersebut hanya menatapnya dengan sorot iba. Ia tahu apa yang Zoya rasakan, ia cukup mengerti dan mampu merasakannya.
***
Zoya pulang ke rumah dengan keadaan lesu. Semangatnya sudah hilang. Sedangkan Naina dengan Ethan juga hanya terdiam. Mereka berlalu ke kamar untuk beristirahat tanpa mengucap satu patah kata pun.
Rasanya. Tidak ada yang bisa buka suara dan mengeluarkan kata untuk sekedar saling menguatkan.
***
Naina memasak di dapur ketika waktu menunjukan pukul tujuh malam. Dalam aktivitasnya, ia melamun. Merasa gagal dalam membantu Zoya. Ia merasa sudah menghancurkan harapan wanita itu.
Kenapa inseminasi buatannya harus gagal? Padahal harapan Zoya begitu besar.
Naina mendesah. Ia membalikan tubuh, tangannya hampir menyenggol panci panas andai seseorang tidak dengan cepat menarik tangan gadis itu sedikit menjauh. Naina terkesiap tentu saja, ia tampak begitu terkejut, akhir akhir ini dirinya sangat sering melamun dan nyaris membahayakan dirinya sendiri di dapur.
"Berapa kali saya katakan. Hati-hati!" sahut Ethan dengan wajah datarnya. Ia segera mematikan kompor saat sup ayam yang dibuat gadis itu tampak sudah matang.
"Maaf Pak."
"Seharusnya kamu minta maaf sama diri kamu sendiri." Ethan menyahut sedikit kesal, Naina hanya kembali menundukan pandangan, ia tahu jika dirinya dalam bahaya atau mengalami sesuatu hal, maka Ethan yang akan bertanggung jawab. Pria itu pasti tidak ingin Naina membuatnya repot.
Ethan tampak mengambil mangkuk dan juga piring.
"Pak Ethan akan makan malam?" tanya Naina saat melihat pria itu. Ethan mengangguk. Menyendokan beberapa kali sup ayam ke dalam mangkuk.
__ADS_1
"Saya dengan Zoya makan di kamar. Kamu juga jangan lupa makan." sahut pria itu tanpa menoleh pada Naina sedikitpun. Tampak sibuk menata piring dan mangkuk serta segelas air pada sebuah nampan. Naina ingin membantunya tapi ia cukup yakin jika pria itu pasti akan menolak tawarannya. Sehingga Naina hanya menganggukan kepala mengingat apa yang Ethan katakan sebelumnya.
Tak lama, pria itu berlalu dengan langkah hati hati. Meninggalkan Naina seorang diri di dapur. Ia baru sadar jika ada yang janggal di atas meja makan. Senyum kecil terukir di bibir gadis itu sast menatap semangkuk sup, kemudian mengalihkan tatapannya di mana Ethan sudah menghilang.
**
Ethan sudah membujuk istrinya untuk makan malam, namun wanita itu konsisten menggelengkan kepala. Ethan ingin marah, namun ia tidak bisa. Sehingga sedikit memaksa wanita itu untuk makan mungkin akan dilakukannya. Kebetulan saat ia ke dapur ia menemukan Naina yang tengah membuat sup ayam.
Awalnya Ethan akan membuat setidaknya omelet atau nasi goreng. Tapi melihat Naina sudah masak, sepertinya Ethan tidak perlu repot-repot lagi dan membuang waktunya untuk masak serta membuat dapur berantakan nanti.
Ethan kembali ke kamar setelah mendapatkan semangkuk sup ayam sebagai menu makan malam untuk Zoya. Tapi pria itu terheran-heran saat tidak mendapati istrinya di dalam kamar. Padahal dengan jelas Ethan mengingat jika Zoya duduk di tepi tempat tidur sembari bersandar pada kepala ranjang saat Ethan meninggalkannya untuk mengambil makan.
"Sayang," Ethan mencoba memanggil wanita itu. Kamar mandi tampak sepi, sedangkan pintu kaca balkon juga tertutup rapat. Ethan mulai panik mencari keberadaan sang istri, terlebih ia tak menemukan ponsel wanita itu yang semula berada di atas meja di samping tempat tidur.
Ethan menaruh nampan yang sejak tadi ia bawa ke atas meja. Sementara dirinya segera memeriksa lemari pakaian dan walk in closet, akan sangat terpukul hati pria itu seandainya mendapati seluruh pakaian Zoya tidak ada di sana.
Sekalipun Ethan belum menemukan Zoya, setidaknya ia bisa tenang saat melihat jika pakaian sang istri utuh dan berada pada tempat biasanya. Tidak ada yang berubah di sana. Ia mendesah lega.
Tapi Ethan mulai kehabisan ide, kemana kira-kira istrinya pergi? Cukup lama Ethan berdiam di sana, mematung di dekat lemari hingga beberapa detik selanjutnya ia segera berlalu keluar dari kamar tanpa menutup pintu. Lantas berlalu dengan cepat menuju ruang kerjanya.
Barulah Ethan merasa tenang saat mendapati lampu ruang perpustakaan sekaligus ruang rahasianya terang. Artinya seseorang baru saja masuk ke sana. Ethan berjalan menuju rak buku melayang untuk memastikan jika sang istri benar-benar ada di sana.
Wanita itu membiarkan ruang rahasia Ethan gelap. Cahaya yang Zoya dapatkan hanya dari perapian gantung dan flash pada ponselnya.
Wanita itu tampak terkejut mendapati kehadiran Ethan yang tiba-tiba berada di sana.
"Kenapa kamu tidak bilang jika ada di sini." pria itu mulai melangkah menghampiri Zoya.
"Saya benar-benar panik tadi, saya khawatir sama kamu karena tidak ada di kamar. Saya sudah cari kamu kemana-mana." sahut pria itu lagi, melangkah kian dekat dan justru membuat Zoya risih.
"Ethan ...,"
Ethan mengerutkan kening melihat reaksi sang istri. Terutama saat wanita itu menyembunyikan kertas yang semula dibacanya. Tentu saja tingkah wanita itu membuatnya penasaran.
"Apa yang sedang kamu baca?" tanya Ethan penuh selidik seraya mendaratkan diri dengan santai di samping Zoya di atas loveseat yang wanita itu duduki. Zoya hanya menggelengkan kepala. Namun Ethan tak bisa membiarkannya, ia hendak meraih kertas kertas di tangan Zoya, Zoya berusaha menghindar.
"Beritahu saya apa yang kamu baca, Sayang." Ethan mengatakannya dengan penuh penekanan.
"Ini naskah film." Zoya akhirnya menyahut, ia menundukan pandangan sedangkan Ethan terdiam. Tubuhnya mendadak kaku selama beberapa saat. Rasanya Ethan ingat pasti jika ia sudah membuang naskah tersebut.
"Pas kamu buang aku langsung ambil dan simpen di sini karena kamu udah jarang masuk ke ruangan ini." wanita itu bagai bisa membaca isi kepala suaminya.
__ADS_1
"Aku cuma baca-baca doang kok. Aku nggak punya niat buat ikut gabung sama filmya."
"Tadi aku ke sini dan inget kalau naskahnya aku simpen. Jadi aku baca-baca." panjang lebar wanita itu dengan dada berdebar, ia takut jika Ethan akan marah.
Ethan yang mendengarnya mendesah. Sebagian hatinya rasanya campur aduk melihat raut Zoya yang tampak ketakutan padanya. Padahal biasanya wanita itu amat keras kepala dan tidak pernah takut sedikitpun pada Ethan. Bahkan seringkali menantanginya.
Ethan mendekatkan tubuhnya pada Zoya, meraih wanita itu dalam pelukannya guna menenangkan Zoya. Agar wanita itu tidak perlu merasa takut.
"Tidak papa Sayang. Kenapa kamu harus taakut?" Ethan mengusap belakang kepala wanita itu.
"Aku takut kamu marah." jawab Zoya, jujur. Ethan tersenyum, mengurai pelukan dan menatap tepat pada manik Zoya dalam-dalam.
"Bagaimana kalau saya izinkan saja kamu ambil filmnya?" tidak ada angin, tidak ada hujan hari itu, tetapi tiba-tiba saja Ethan mengatakan hal mengagumkan yang membuatnya tak percaya. Ia menatap Ethan untuk memastikan jija pria itu serius atas apa yang baru saja dikatakannya pada Zoya.
"Kamu bercanda, 'kan?" Zoya tak yakin dengan pria itu.
"Saya yakin. Kalau kamu ingin filmnya maka silakan ambil."
"Beneran, 'kan?" Zoya sekali lagi memastikan. Ethan mengangguk, dalam sekali hentakan punggungnya menabrak sandaran loveseat saat tiba-tiba Zoya menyerangnya dengaan pelukan.
"Beneran nggak apa-apa?"
Ethan mengangguk.
"Beneran dikasih izin?"
Ethan kembali mengangguk, membuat Zoya kian erat memeluknya bahkan mendaratakan kecupan singat di bibir pria itu.
"Kamu nggak bakal cemburu sama pemain cowoknya nanti?" Zoya meragukan sang suami untuk yang kali ini. Ethan diam sesaat, begitu raut wajah istrinya berubah, ia segera menganggukan kepala.
"Saya nggak akan cemburu berlebihan." sahut pria itu. Zoya tersenyum puas, menenggelamkan wajahnya di dada sang suami. Sedangkan Ethan hanya kembali mengusap belakang kepala wanita itu.
Jujur Ethan merasa ragu untuk memberikan izin untuk Zoya mengambil film tersebut. Ethan tidak yakin jika ia akan benar-benar bisa menahan rasa cemburunya.
Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini kecuali hal tersebut untuk nembuat Zoya bahagia. Setidaknya, dengan begitu wanita itu akan fokus dan sejenak melupakan apa yang terjadi.
Ethan akan melakukan hal apapun selagi itu dapat membuat Zoya tersenyum. Terutama untuk saat ini.
TBC
follow ig-ku eva_yuliaaan_04
__ADS_1