
Maaf, yah. Lama:")
*
*
"Dua minggu?" Rachel terlihat keberatan saat Agyan membatalkan semua jadwal syutingnya dan meliburkan diri selama dua minggu. Menemani persalinan Freya dan akan terus berada di samping istrinya selama empat belas hari tanpa kegiatan apapun.
”Kamu tau sendiri, aku akan membuka galeri seni sebelum istriku melahirkan, dan aku akan ada untuk dua anakku selama beberapa hari."
"Gyan,"
"Yah, terserah!" Agyan tidak mau tau. Sekali ia sudah buat keputusan, ia hanya butuh persetujuan Rachel, ia tidak menerima larangan.
"Perusahaan sedang dalam keadaan yang tidak stabil, Gyan."
Agyan mendesah, ia bangkit dan merapihkan blazernya. "Aku hanya minta waktu empat belas hari. Setelah itu, semuanya akan kembali seperti semula."
Rachel hanya mengangguk pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa. "Baiklah, aku akan membantu acara pembukaan galeri seni kamu."
Agyan mengangguk setuju. Ia berpamit dan pergi ke arah pintu keluar. Rachel hanya menatap kepergiannya.
Dua hari lagi, Agyan akan membuka galeri seni. Memamerkan hasil karyanya pada orang banyak. Membuktikan pada orang-orang jika ia tidak hanya tampan, tetapi ia juga memiliki bakat lain selain akting yang sekarang sudah menjadi bidangnya.
"Jalan sekarang Mas?" tanya Aryo saat Agyan sudah duduk di dalam mobil. Agyan mengangguk, kemudian mobil perlahan melaju menuju tempat yang akan Agyan tuju. Zeinn Group.
Hanya butuh waktu kurang lebih empat puluh lima menit untuk mereka sampai di perusahaan Andreas. Agyan masuk ketika pintu otomatis di hadapannya terbuka, Aryo mengikuti di belakangnya.
Tatapan para karyawan di perusahaan tersebut seketika saja mengarah pada Agyan. Tatapan takjub, juga terkejut terpancar dari mata mereka masing-masing. Baik pria dan wanita menatapnya dengan tatapan sama.
"Anak tunggal Pak Andreas, 'kan?"
"Yang sekarang jadi artis?"
"Udah pernah nonton filmnya nggak, sih. Sumpah, dia keren banget."
Mereka sibuk berkasak-kusuk membicarakan kehadiran Agyan, sampai tidak menyadari jika ada Dharma di sana. Dharma mengikuti arah pandang para karyawan, ia menghela nafas dan berdehem.
Menyadarkan mereka dan seketika membuat mereka semua kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Tuan muda," Dharma menyapa Agyan. Agyan hanya tersenyum.
"Pak Andreas ada?" tanya Agyan dengan sopan. Dharma mengangguk, kemudian menuntun Agyan ke ruangan Andreas. Beberapa karyawan wanita masih menatapnya, sebagian dari mereka diam-diam memotret Agyan dan segera mengunggahnya pada akun sosial media masing-masing.
Banyak dari mereka merasa patah hati setelah tiba-tiba saja Agyan keluar dari perusahaan dan melanjutkan hidup dengan Freya kekasihnya sejak SMA.
*
*
"Terserah Papi akan datang atau tidak. Yang penting Gyan sudah mengundang Papi secara resmi."
Andreas hanya terdiam setelah mendengar sederet kalimat panjang putranya yang menyampaikan jika ia akan membuka sebuah galeri seni, sekaligus mengumumkan kelahiran putra pertamanya.
Andreas tidak tau harus bereaksi seperti apa. Ia sudah terlanjur membentengi hubungannya dengan Agyan. Komunikasi mereka tak lagi sebaik dulu. Entah Agyan yang sudah tak ingin lagi perduli padanya. Atau mungkin karena ia terlalu egois dan membuat Agyan menjauhinya.
"Gyan harap Papi datang. Kalau enggak, artinya semuanya udah selesai, 'kan, Pi?"
"Semuanya berakhir."
Andreas tetap hanya diam. Sementara Agyan beranjak dari duduknya. Ia permisi dan pergi dari ruangan Andreas, meninggalkan sang Papi yang hanya diam mematung.
*
*
Beberapa awak media yang sengaja Aryo undang turut memadati acara pembukaan galeri seni milik Agyan. Acara berjalan dengan lancar, para rekan Agyan sibuk melihat-lihat hasil tangan Agyan.
Ia kebanjiran pujian atas karya tangannya yang menakjubkan. Selain tampan, ternyata ia juga memiliki bakat terpendam yang baru saja ia perlihatkan pada khalayak ramai.
__ADS_1
Orang-orang yang hadir dalam acara juga turut mendo'akan untuk kelancaran kelahiran putra pertama Agyan dengan Freya.
"Papi tidak menyangka Gyan, kamu ternyata jago melukis." ungkap Warry setelah ia puas mengelilingi galeri seni dan melihat hasil lukisan menantunya.
Agyan tersenyum samar. Hatinya tidak tenang. Orang yang ditunggunya tak kunjung datang setelah Agyan datang dan mengundang langsung dirinya untuk menghadiri pembukaan galeri seni Agyan. Kenyataannya, ia tidak ada, Andreas tidak datang.
"Sayang," Agyan menoleh saat tangan lembut seseorang menyentuh bahunya. Ia tersenyum.
"Mami tanya kamu," sahut Freya yang membuat Agyan mengalihkan tatapannya pada Anna yang menatapnya penuh heran. Rupanya sejak tadi ia hanya melamun.
"Kenapa, Mi?"
"Mami tanya. Kamu bener-bener ngambil cuti selama dua minggu?" Anna mengulang pertanyaannya.
"Iya, Mi. Agyan mau memenin Freya buat nanti ngurus anak-anak."
Anna tersenyum. "Kamu memang suami yang pengertian, Freya beruntung punya suami kaya kamu." ucapnya tulus. Freya hanya mengusap lengan suaminya, sementara Agyan tersenyum menanggapi ucapan mertuanya.
"Yaudah, Mami sama Papi liat-liat lagi, yah." pamit Anna sambil menepuk lengan Freya dan Agyan. Kedua orang itu mengangguk, menatap kepergian Anna dan Warry yang kembali melihat-lihat lukisan.
"Gyan, kenapa?" tanya Freya. Sedari tadi ia tau jika suaminya itu tidak fokus.
"Sayang,"
"Kenapa By?"
"Kamu dari tadi ngelamun."
"Oh, maaf."
"Kenapa? Papi kamu?" tebak Freya. Agyan sudah bercerita, jika setelah menemui Rachel untuk izin cuti, ia pergi ke perusahaan Andreas untuk mengundang sang papi datang dalam acara ini.
"Papi gak dateng," Agyan menyahut dengan senyum tipis.
"Mami Grryc?"
Freya tersenyum, tangannya tergerak untuk merapihkan dasi dan jas Agyan. Kemudian mengusap sisi wajah suaminya. Tingkah keduanya tak lepas dari sorotan para awak media yang selalu fokus pada keduanya.
Semenjak acara tujuh bulanan Freya yang Agyan gelar secara terbuka di rumah lamanya. Ia tak lagi mempermasalahkan wajah istrinya terekpos media. Sehingga sekarang, ia tak segan membawa Freya dalam acara-acara penting dan memperlihatkan istrinya pada dunia.
Meski terkadang, ia merasa lelah jika hari-harinya dengan Freya tidak mampu berjalan normal seperti biasanga di muka umum karena selalu menjadi pusat perhatian dan perbincangan.
Tak jarang, menjadi kejaran para awak media untuk dijadikan headline terpanas dalam berita.
"Mungkin Papi kamu lagi sibuk, siapa tau dia telat." Freya menenangkan. Agyan hanya mengangguk, berharap apa yang dikatakan Freya benar jika Andreas hanya telat. Bukan bermaksud untuk tidak datang.
Agyan berusaha untuk tidak memikirkannya. Ia menyibukan diri dengan beberapa petinggi yang menjadi sponsor untuk acaranya. Juga asik berbincang dengan Morgan and the geng yang sengaja Agyan undang untuk datang.
Sampai ia ada pada kenyataan, jika Andreas benar-benar tidak datang meski acara sudah usai. Andreas sama sekali tidak menghubunginya.
Membuat Agyan yakin dengan apa yang dikatakannya. Semuanya sudah berakhir dan Andreas sudah tidak menganggapnya lagi.
Freya yang mengerti perasaan suaminya hanya mampu mendukung dan menguatkan Agyan. Mempercayakan semuanya pada takdir dan waktu. Berharap, semuanya akan seperti dulu.
Hari berikutnya, Agyan memilih untuk tidak memikirkan apa yang sudah terlewat. Dan ia sibuk menyiapkan barang-barang yang diperlukannya untuk dibawa ke rumah sakit.
Freya akan memulai oprasinya pada pukul delapan besok pagi. Agyan dengan Freya akan berangkat sore ini dan menginap satu malam di rumah sakit sebelum operasi.
"Sudah semua, Mas?" tanya Aryo saat ia mengikuti langkah kaki Agyan ke arah kamarnya.
"Udan, kayaknya. Mm, saya cek lagi, takut ada yang lupa." Agyan mempercepat langkahnya. Menarik sebuah koper yang berada di atas tempat tidur dan membukanya.
"Sayang—"
"Kamu—"
Freya segera menghampiri suaminya dan menghentikan tangan Agyan yang membuka koper. "Ini perlatan bayi. Kan punya kamu udah aku beresin sejak semalem. Yang ini jangan diberantakin lagi."
Agyan berdecak, ia beranjak.
__ADS_1
"Koper punyaku di mana, By."
Ia melangkah ke arah walk in closet dan membuka salah satu lemari. Freya mengikuti suaminya, Aryo juga mengekor di belakangnya.
"Ini mau ngapain lagi ngambilin baju?" tanya Freya saat Agyan mengambil sebuah kaos.
"Nanti, pagi-pagi aku mau joging dulu, biar sehat."
"Hah? Kamu ngaco, ah, aku gak mau ijinin!" Freya merebut kaos itu dari tangan Agyan.
"Kenapa?"
"Kamu ngarang, istrinya mau lahiran malah mau joging. Enggak, pokoknya jangan!"
Agyan tertawa melihat tingkah istrinya. "Cuma sebentar Sayang, keliling rumah sakit aja, kok. Nggak jauh, gak lama juga." sahut Agyan dengan tangan yang berada di bahu istrinya.
"Pokoknya enggak. Kamu ngaco, aku mau lahiran, loh, Yang. Aku gak mau kamu ninggal-ninggalin. Enak aja,"
"Cuma sebentar, Sayang!"
"Enggak ada. Pokoknya jangan!"
Agyan mendesah dan pasrah. Aryo yang memperhatikan mereka hanya tersenyum. Ia seringkalo gemas melihat tingkah Agyan saat bersama dengan Freya.
"Yaudah, enggak!" ia mengalah.
Agyan berlalu setelah mengecup kening Freya. Sementara Freya mengembalikan kaos yang di ambil Agyan pada tempatnya.
"Ini baju baby udah lengkep, Yang?" teriak Agyan, Freya berjalan menghampiri Agyan dan mengangguk.
"Iya, udah. Baju bayi, selimut sama—"
"Bawa, ini, yah." Agyan menentang dua buah kaos basket untuk ukuran anak kecil berwarna merah.
"Sayang, anak kita yang satunya, 'kan perempuan."
"Biar tomboy."
"Jangan, ah."
Agyan menilik kaos bernomor punggung 23 itu. Michael Jordan, Agyan sangat mengidolakannya. "Ini masih kegedean, Sayang. Masa anak bayi pake kaos gini, gak muat. Tunggu satu atau dua minggu." bujuk Freya agar suaminya tak kecewa.
"Tapi bawa aja, nggak papa, yah." Agyan masih berusaha keras agar keinginannya terpenuhi.
"Yaudah,"
"Asik." pria tampan itu berdecak senang sembari memeluk istrinya. Freya memasukan dua kaos itu ke dalam koper untuk bayi kembarnya.
Pada awalnya, Freya tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayinya meski ia yakin adalah laki-laki, bahkan sudah memberinya nama, Ethan.
Tapi Agyan memaksanha untuk melalukan USG demi mengetahui jenis kelamin kedua buah hati mereka. Lengkap sudah rasanya kebahagiaan Freya dan Agyan saat mengetahui jika bayi mereka kembar pengantin. Laki-laki dan perempuan.
"Jadinya, kita berangkat sekarang, Mbak?" tanya Aryo yang sudah siap membawa koper. Freya terdiam, ia menghela nafas dan menoleh pada Agyan. Sejujurnya, sejak berkonsultasi dengan dokter dan membicarkan mengenai persalinan Freya yang harus dilakukan secara secar karena bayinya kembar, Freya seringkali merasa gelisah.
Bagaimana pun, dalam hidupnya ini adalah pengalaman pertamanya akan menjalani operasi.
Agyan tersenyum dan mendekat pada Freya
Mengelus salah satu sisi wajah Freya. "Kamu tenang, ada aku." ungkap Agyan dengan tulus. Membuat genangan air di pelupuk mata istrinya.
"Tapi kamu jangan joging!" wajah Freya terlihat kesal kala mengingat Agyan akan meninggalkannya untuk joging di pagi hari sebelum ia melaksanakan operasi.
Agyan tertawa, membawa Freya ke dalam pelukannya. "Iya, Sayang. Nggak akan, selangkah pun aku gak akan ninggalin kamu!"
Freya mengangguk dalam dekapan Agyan. Memejamkan mata dam berharap yang terbaik untuk kelancaran operasi yang akan dijalaninya. Demi kedua buah hatinya.
TBC
Kalau kalian merasa nggak asing sama scene ini. Iya, bener. Ini terinspirasi dari Unforgettable Journey Citra Kirana dan Rizky Aditya ketika lahiran Baby Athar.
__ADS_1