Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Meet


__ADS_3

Beberapa kali Zoya melangkah kesana kemari setelah mengirim pesan pada Ethan. Rasa gelisahnya semakin di perkuat saat pria itu tidak membalas pesan darinya. Setidaknya Ethan merespon dengan mengirimkan emoji, atau jempol juga tidak apa-apa, asalkan Zoya tidak merasa diabaikan.


Zoya mendesah, lantas menghempaskan tubuhnya pada sofa ketika siaran konferensi pers yang disiarkan langsung dari gedung AE RCH sudah dimulai. Zoya fokus dengan hati berdebar dan berharap-harap cemas.


"Pernikahan itu bukan sandiwara. Tidak ada kontrak perjanjian pernikahan, syarat atau kesepakatan apa pun. Pernikahan kami normal seperti pasangan pada umumnya dan ...,"


Zoya tanpa sadar menggigit ujung kukunya, menunggu kelanjutkan kalimat Ethan.


"Saya mencintai Zoya Hardiswara."


"Kami saling mencintai, tidak ada sandiwara apa pun di dalam pernikahan kami."


Tanpa sadar pula, Zoya tersenyum setelah mendengarnya. Rasanya asing, tapi ia merasa bahagia. Sangat bahagia.


**


"Masa cuma segitu doang beres masalahnya? Enggak asik."


"Keluar uang banyak, cape dan cuma ini hasilnya?" seorang wanita tengah menggerutu ketika siaran konferensi pers yang dalam waktu sekejap mengguncang publik itu usai.


"Ohh, Momy sudah menduga hal ini."


Sontak Alexa menoleh ke belakang, melihat sang momy yang berdiri dengan tangan tersilang di depan dada. "Momy."


"Kamu membuat ulah?" Rachel menatap putrinya tidak mengerti. Sejak datang kemarin tingkah laku Alexa memang mencurigakan, dan Rachel sudah menduga hal ini.


"Hanya sedikit, Mom."


"Oh, yah. Gimana sama agensi Momy ini yang juga 'sedikit' berantakan?" Rachel menekan mara sedikit.


"Ethan udah beresin masalah ini." Alexa menyahut pasrah yang membuat Rachel menghela napas, ia menggelengkan kepalanya. Alexa tidak jauh berbeda dengan Arasy, suka membuat ulah dan membiarkan Ethan yang mengurusnya.


"Pulanglah ke Amerika!" sahut Rachel sembari melenggang ke arah sofa, mendaratkan bokongnya di sana, sedangkan Alexa tampak terkejut dan keberatan dengan apa yang baru saja Rachel katakan.


"No!"


"Tidak bisa tidak. Tapi harus!"


"Mom!"


"Kalau kamu sudah membuat masalah kecil artinya kamu akan membuat masalah besar nanti!"


"I won't, Mom. I promise!" wanita itu memohon dengan wajah memelas.


"Momy can't trust you," Rachel tidak bisa dibujuk. "Back to your place, okay?" sambungnya, final.


Alexa mendesah. "Momy lupa? Tugasku di sini masih banyak!" masih mencoba untuk tidak segera kembali ke Amerika.


"Apa? Syutingmu sudah selesai. Ada tawaran lain? Tidak ada, 'kan?"


"Beberapa perusahaan iklan menghubungiku kemarin."


"Yah, dan Momy sudah membatalkannya. Bagaimana?" Rachel tersenyum secerah matahari.


"Mom!"


"Berkemaslah dan pulang besok pagi. Momy akan sipakan hely untuk mengantarmu ke Bandara."


"Aku akan naik taksi."


"Baiklah jika itu maumu."


Alexa membelalakan matanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja sang momy katakan. "Mom, apa nggak bisa jika pura-pura membujukku?"


"Momy tau kamu tidak suka dibujuk." Rachel bangkit, mengusap lengan putri kesayanagannya lantas keluar dari ruangan, sedangkan Alexa menghentakan kaki dengan perasaan kesal.


Ia mengambil ponsel dan mendial nomor seseorang kemudian menempelkan benda pipih itu ke telinganya. Dalam dering pertama panggilan sudah terhubung.


"Daddy, aku akan segera pulang."


"Momy mengusirku, again." sahutnya dengan sendu.

__ADS_1


**


Fahry melangkah keluar dari gedung AE RCH. Lambaian tangan seseorang membuatnya mendekat pada sebuah mobil putih yang terparkir di depan gedung. Anggun memberi kode pada Fahry untuk masuk, pria itu menaikan alis, gestur bertanya untuk memastikan. Anggun mengangguk, membuat Fahry sedikit memutari mobil dan duduk pada kursi penumpang.


Ia tampak sedikir canggung, namun begitu, ia merasa lega jika Anggun mau memberinya kesempatan. Anggun tersenyum melihat pria itu, jujur hatinya masih sakit dan tidak terima atas perbuatan yang Fahry lakukan.


Tapi seperti apa yang sudah dikatakannya di hadapan media. Jika Fahry layak diberikan kesempatan. Terlebih, Anggun sudah memikirkannya dalam jangka panjang. Anye menjadi pertimbangan yang paling ia utamakan, dan hubungannya dengan Fahry, mungkin akan membaik jika keduanya saling terbuka dan memperbaiki diri masing-masing.


"Enggak ada yang mau kamu bilang ke aku?" tanya Anggun saat Fahry tak kunjung bersuara. Fahry menoleh, ia tersenyum singkat kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah lain.


Tak lama, ia menghela napas dan kembali menatap Anggun. "Anggun, maafin aku." ungkapnya tampak tulus. Anggun terdiam, kemudian kepalanya mengangguk perlahan. Membuat Fahry meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya.


"Maaf belum bisa jadi suami yang sempurna, aku masih memiliki sangat banyak kekurangan."


"Enggak ada suami yang sempurna Fahry." Anggun menyela dengan cepat. "Kehadiran istrilah yang menyempurnakan kekurangan itu." Anggun balas menggenggam tangan Fahry. "Seharusnya aku lebih pengertian dan menghargai kamu sebagai suami aku."


"Maaf karena selama ini aku abai dan terlalu mikirin diri aku sendiri."


Fahry terdiam, Anggun juga sudah selesai. Keduanya hanya saling menatap dan berbicara melalui tatapan mata. Ada rasa yang tak bisa dijelaskan oleh kata, sehingga yang dilakukan keduanya adalah tersenyum dan merengkuh tubuh masing-masing. Saling menyambut dan menenangkan, saling mengakui kesalahan masing-masing.


"Fahry, perasaan aku buat kamu–"


"Masih sama seperti dulu. Jangan merasa kalau aku gak cinta sama kamu." jujur Anggun, Fahry mengangguk dalam diam, mengusap punggung wanita itu dengan gerakan lembut.


"Demi kamu dan Anye, aku akan berusaha jadi lebih baik lagi. Makasih udah kasih aku kesempatan. Seharusnya aku nggak pernah berpaling."


"Itu bagian dari takdir, Fahry. Tidak bisa dihindari."


"Terimakasih, karena sudah mau kembali."


Selin tersenyum menatap keluar di mana mobil Anggun masih terparkir di sana. Ia juga melihat Fahry masuk kendalam mobil tersebut. Wanita itu mendeeah lega, melipat tangannya di depan dada.


"Sepertinya situasi sudah sangat terkendali." gumamnya dengan beban yang seolah terhempas jauh dari dadanya.


"Ini melegakan. Semoga hal-hal seperti ini tidak terulang."


Selin menoleh pada orang yang tiba-tiba saja bersuara. Randy tampak berdiri di sampingnya dengan tangan yang juga terlipat di depan dada, sama sepertinya. Selin dapat memperkirakan jika Randy sudah cukup lama berdiri di sana.


Sementara di tempat lain, Agyan juga ikut mendesah lega setelah melihat siaran konferensi pers mengenai pemberitaan yang menyeret nama putra serta menantunya.


"Anak kamu itu memang selalu membuat masalah." decak Agyan begitu Freya duduk di sampingnya setelah meletakan buah yang dibawanya dari dapur.


"Anak aku? Kamu pikir yang bikin cuma aku doang?" kesal Freya. Memutar bola matanya dan memakan buah apel yang sudah ia kupas.


"Emang sama siapa?" Agyan bertanya iseng dengan mata memicing. Freya menoleh dengan tatapan membunuh.


"Kamu serius nanya gitu?" tanyanya. Agyan terdiam, tak lama ia tertawa dan menggandeng sang istri dengan erat. Freya pasrah dalam dekapan suaminya. Arasy yang baru menuruni anak tangga menggelengkan kepala melihat hal itu, ia mencemooh sedangkan hatinya sangat senang melihat keharmonisan kedua orang tuanya.


"Kamu mau kemana?" tanya Agyan begitu Arasy berjalan di belakang mereka.


"Arasy ke luar sebentar."


Agyan menoleh. "Sama bodyguard!"


"Enggak perlu Ayah!"


"Sayang–"


"Biasanya juga sendiri!" menyela cepat setengah kesal.


"Arasy, dengerin apa kata Ayah!" Freya menginterupsi. Arasy mendesah. "Iya." berlalu begitu saja. Begitu sampai di teras, Arasy melempar kunci mobil yang langsung sigap ditangkap seorang pria berjas hitan yang berdiri di samping mobilnya.


"Kita ke mana?" tanya pria tersebut.


"Udah, nyetir aja!"


"Baik Tuan Putri."


Arasy berdecih, masuk kedalam mobil saat Junlian–bodyguardnya membukakan pintu mobil. Tak lama mobil melaju meninggalkan pelataran rumah. Arasy berniat akan ke apartement Zoya, selain untuk menghibur wanita itu, ia juga akan melakukan misi penting.


Arasy menentang ponsel. Mendial nomor Zoya dan menempelkan benda canggih tersebut pada daun telinga. "Holla, Kakak Ipar." sapanya dengan senyum secerah mentari begitu panggilan terhubung. Arasy cukup yakin jika suasana hati Zoya sedang sangat baik sekarang.

__ADS_1


"Kamu baru nelpon aku sekarang?" Zoya mencibir yang justru membuat wanita cantik itu tertawa.


"Aku sibuk, dan kemarin suasana hatimu nggak bagus buat diganggu."


"Hmm, kamu bener."


Arasy tersenyum. "Kamu masih di apartement?"


"Iya."


"Bagus, aku kesana sekarang."


"Oke, suasana hatiku lagi bagus buat nerima tamu."


"Aku tau kamu pasti senang. Karena Ethan?" tebak Arasy. Ia tau Ethan mengatakannya di hadapan media jika pria itu mencintai Zoya. Siapa pun wanita yang diperlakukan seperti itu tentu saja akan merasa senang.


"Memang karena siapa lagi?"


Arasy tertawa, tak lama ia memutus sambungan telpon begitu basa-basi mereka usai. Sekarang ia sedang berpikir untuk menelpon Ethan, tapi sebelum itu. "Kita mampir di supermarket." intruksinya pada Julian.


"Kita mau beli apa?"


"Nama kamu siapa?" Arasy balik bertanya.


"Jualian. Julian Meano."


"Okey, Junmen(Julian Meano)!" Julian tampak tercengang namanya tiba-tiba saja berubah.


"Bisa gak sih kalo nurut aja. Gak usah banyak tanya?!" kesalnya yang membuat Julian mengangguk.


"Lagian Ayah kenapa, sih, pake suruh keluar sama bodyguard segala!" gerutunya dengan suara pelan. Tapi sang bodyguard hanya menganggukan kepala dan melihat pantulan wajah kesal Arasy dari balik spion.


Mobil yang ditumpangi Arasy menepi, tapi sebuah kecelakaan terjadi saat sebuah mobil di depan mundur perlahan dan menabrak mobil Arasy. Wanita itu sedikit terhuyung ke depan karena Julian tiba-tiba saha menginjak rem.


"Astaga, bisa nyetir nggak, sih?"


"Maaf, Non. Tapi mobil di depan tiba-tiba mundur."


Arasy mengalihkan tatapannya pada mobil sport berwarna merah di hadapannya. Tampak seorang pria keluar dari pintu kemudi dan melihat keadaan mobil, Arasy juga ikut turun meski Julian sudah mencegah.


"Astaga."


Pria itu berjalan ke arah Arasy yang baru saja keluar dari mobil. "Saya minta maaf, saya buru-buru dan saya tidak sengaja." sahutnya penuh sesal. Arasy melihat keadaan mobilnya. tidak begitu parah. Hanya mendapat sedikit lecet.


"Biar saya bawa ke bengkel."


"Enggak papa, mobilnya juga gak rusak."


"Tapi saya merasa nggak enak."


"Enggak masalah!"


"Tapi saya–"


"Euu, gimana kalau saya traktir coffee." tawarnya, beralih pada yang lain. Setidaknya sebagai bentuk permintaan maaf.


"Mmm," Arasy bagai berpikir.


"Ayolah, saya merasa sangat nggak enak karena saya nggak berhati-hati."


Arasy menghela napas, kemudian mengangguk. Julian tampak memicingkan mata, merasa tidak setuju dengan hal itu.


"Oh, yah, perkenakan, saya Ryuga." pria itu mengulurkan tangan. Arasy menerimanya.


"Rai Ryuga Jagaska." sambungnya dengan senyuman begitu tangan mereka berjabat.


"Arasy. Zeinn Arasy Maheswari."


TBC


Hayo itu Tuan Muda Kecil yang ketemu Arasy di pemakaman atau bukan yah.

__ADS_1


__ADS_2