Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Sekelumit Rasa Para Insan


__ADS_3

Pagi harinya, Zoya menuruni anak tangga dengan wajah berseri, masih mengenakan gaun tidur yang sedikit terlihat berantakan. Naina yang sedang menata menu sarapan di meja makan tersenyum menyambut wanita itu.


"Selamat pagi, Mbak Zoya." sapanya seraya menyodorkan segelas ramuan herbal yang biasa Zoya konsumsi.


"Pagi - pagi udah ngasih ini?" tanya Zoya dengan dahi berkerut, begitu Naina mengangguk, ia menggelengkan kepala, menolaknya secara halus. "Enggak sekarang, okey. Saya takut Ethan muntah nanti," ujarnya mengemukakan alasan. Naina tersenyum mengerti, lantas mengangguk dan menaruh gelas berisi ramuan tradisional itu di atas meja pantry.


Sedangkan Zoya berjalan menuju dispenser untuk mengambil segelas air pesanan sang suami. Suaminya itu masih stay di atas tempat tidur meski hari ini adalah hari kerja.


"Sarapannya udah siap, Mbak." beritahu Naina saat Zoya hendak beranjak dengan segelas air putih di tangannya.


"Iya. Saya kasih tahu Ethan dulu, yah. Dia belum mau ngapa - ngapain soalnya," sahut Zoya, tersenyum dan berlalu meninggalkan Naina bersamaan dengan seseorang yang tiba -tiba saja muncul dan membuat Naina sedikit terkejut.


"Zoya belum bangun?" tanyanya dengan begitu saja. Naina sempat terdiam, namun dengan begitu ia buru - buru berjalan menghampiri Selin.


"Udah Mbak, baru aja naik lagi ke lantai atas. Katanya Pak Ethan belum mau bangun," beritahunya dengan sopan.


Selin menggeleng pelan, sudah menjadi kebiasaan jika pria itu sedang bermanja - manja. Rasanya, Selin sudah sangat hafal.


"Mbak Selin mau sarapan di sini?" tanya Naina setelah menyodorkan segelas air putih begitu Selin mendudukan diri pada salah satu kursi.


"Gampang, deh." wanita itu menyahut singkat seraya mengeluarkan ponsel dari selempangnya. Naina hanya mengangguk menanggapi ucapannya.


"Oh, yah, gimana, kamu udah hafal kan apa aja tugas kamu sebagai asisten Zoya nanti?" tanyanya kemudian, lagi Naina hanya mengangguk. Tapi kemudian ia menyahut. "Iya, sudah hafal, Mbak."


"Bagus." Selin mengangguk - anggukan kepala.


Ia menoleh ke arah tangga, namun Zoya tak juga muncul. Selin mengangkat salah satu tangannya di mana arloji melingkar di pergelangaan tangan.


"Lama, nih, pasti." decaknya. Naina yang mendengar itu hanya terdiam, tapi kemudian ia tersenyum tips, mengerti apa yang Selin maksud.


**


"Kayaknya di bawah ada Mbak Selin, deh." sahut Zoya seraya mengikat rambutnya, ia menatap sang suami dari pantulan cermin. Pria itu tengah melegut air putih yang dibawakannya tadi dan menandaskannya. Kemudian balik menatapnya dari pantulan cermin pula.


"Terus?" pria itu bersuara setelah menaruh gelasnya di atas meja di samping tempat tidur.


"Mandi nggak nih?" Zoya yang sudah mengikat rambutnya dengan acak lantas membalikan badan dan menatap suaminya secara langsung.


"Kamu ada jadwal pemotretan?" Ethan justru balik bertanya, lantas turun dari atas tempat tidur dengan tangan yang bergerak membuka kancing piama yang dikenakannya.


"Hmm." Zoya hanya menjawab dengan gumaman saat pria itu sudah berada di hadapannya.


"Jam berapa?"


"Sekarang juga berangkat kalau udah beres."


"Pulangnya?"


"Mbak Selin belum ngasih tau."


"Kok gitu?"


"Ya gimana aku, sih, iya iya aja."


Ethan berdecak, mengacak puncak kepala wanita itu. "Yaudah. Kita mandi, nanti kamu langsung temuin manejer kamu." sahutnya. Zoya mengerucutkan bibir saat pria itu melangkah meninggalkannya.


"Jangan - jangan kamu nggak tau nama manejer aku, yah." tuduhnya seraya mengikuti langkah pria itu menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Tau. Kamu sering sebut namanya." Ethan menyahut seperlunya.


Begitu usai mandi dan merapikan diri, Zoya dengan Ethan turun ke lantai bawah. Selin tampak sudah pegal menunggu keduanya, tapi ia tak bisa berbuat apa - apa selain tersenyum menyambut tuan dan nyonya sang pemilik rumah.


"Lama, yah, maaf." sahut Zoya, mendudukan diri di kursi samping Selin.


"Setengah jam lagi kita pemotretan." Selin menyahut setengah dongkol.


"Hah?" pekik Zoya, terkejut. Setengah jam dari sekarang? Sudah dipastikan mereka akan terlambat datang ke lokasi pemotretan.


"Kok nggak kasih kabar?"


"Handphone kamu nggak bisa dihubungin, Zoya." Selin menyahut setengah kesal, ia tak berani menoleh pada Ethan, takut pria itu sedang menatapnya dengan tatapan tajam.


"Gak bisa dihubungin?" heran Zoya, ia melihat ponselnya. Beberapa saat kemudian ia menatap suaminya, tapi pria itu mengedikan bahu. Padahal sudah jelas jika pasti Ethan yang mengaktifkan mode silent pada ponselnya.


"Dan masalahnya ini lagu lama, Zoy."


"Naina kemana?" tak memerhatikan apa yang Selin katakan ia justru bertanya mengenai keberadaan Naina yang tak terlihat di sana.


"Naina siap - siap. Kamu dengerin Mbak dulu!"


"Tapi dia udah sarapan, 'kan?" masih perduli dengan keadaan Nain daripada yang lain.


"Udah Zoya. Coba kamu dengerin Mbak dulu," Zoya mendesah pasrah, lantas menoleh dan menatap manejernya tersebut.


"Ada masalah apa?" tanyanya dengan nada terpaksa.


"Model cowoknya diganti."


"Jadi?" Selin terdiam, kali ini ia menatap Ethan sekilas, kemudian beralih pada Zoya.


"Kalau begitu tidak usah ada pemotretan!" sahutnya setelah mengelap bibirnya dengan tisue, Zoya menoleh pada Selin dengan raut bingung. Mereka sudah menandatangani kontrak dan tidak mungkin membatalkannya begitu saja meski Ethan berhak untuk hal tersebut asal ia mau memberikan kompensasi.


"Aku udah tandatangan kontrak." beritahu Zoya meski ia tau apa hasilnya sekali pun ia memberitahukan hal tersebut.


"Bisa dibatalkan, saya bayar berapa pun untuk kompensasinya."


"Dengan cara mendadak? Hello, Hubby enggak, yah!" tegas Zoya. Naina yang baru saja tiba hanya terbingung menatap perdebatan tersebut. Begitu juga Randy yang baru saja tiba. Ia ingin terpesona dengan kecantikan Naina namun Ethan yang memancarkan aura berbeda membuatnya hanya diam.


"Terserah! Saya tidak setuju. Tidak ada pemotretan untuk hari ini atau atau seterusnya kalau berhubungan dengan Edrin, SAYA TIDAK MEMBERI IZIN!" finalnya tanpa ada negosiasi.


"Ethan," suara wanita itu melemah. Jika Ethan mendadak menjadi api, maka ia harus bisa menjadi air.


"Cuma pemotretan merk parfum. Aku jamin nggak akan ada pose–"


"Enggak!"


Zoya akhirnya memilih diam. Ethan tampak dipenuhi emosi, ia mengendurkan dasi yang tiba - tiba terasa mencekiknya. Suasana mendadak mencekam pagi itu di meja makan, terutama bagi Naina yamg baru sakarang mengetahui sisi lain dari seorang Zein Ethan Maheswari saat sedang cemburu. Singkat saja, pria itu tampak menyeramkan.


"Ethan kalau lagi cemburu, beuuh." sambar Randy yang kedatangannya tidak disadari siapa pun kecuali Naina namun gadis itu juga hanya mampu diam. Pria itu segera duduk pada kursi kosong dengan gelagat santai. Ethan yang melihatnya mengerutkan kening, antara tidak suka dan juga kesal. Sedangkan Naina tampak bingung, karena yang ia tau. Randy adalah skretaris Ethan, tapi kenapa bisa ia seenaknya bahkan cenderung tidak sopan pada sang atasan?


"Enggak ada model pria lain selain Edrin?" kali ini mata pria itu mengarah pada Selin yang notabenenya adalah manejer Zoya sejak meniti karier di dunia entertaint.


"Banyak. Tapi nggak ada yang sekeren Edrin." Selin menyahut apa adanya.


Randy mengangguk - anggukan kepala. Seperti mempertimbangkan sesuatu, Ethan tampak mengalihkan perhatiannya ke arah lain, bahkan seolah enggan bersitatap dengan Zoya.

__ADS_1


"Gini deh, kalian jadi brand ambassador parfum?" tanya Randy, menyebutkan merk parfum tersebut. Zoya dengan Selin mengangguk.


"Aman lah, Than." serunya pada Ethan, Ethan menatapnya tidak mengerti. Pria itu mengedipaka mata yang masih tak bisa ditebak oleh Ethan apa arti dan maksudnya.


Sampai kemudian ia ingat apa yang selalu Randy katakan saat sedang menasihatinya jika ia sedang berdebat dengan Zoya. "Than, aku tau kamu gak pernah jatuh cinta dan pacaran sama cewek lain. Tapi kamu harus ngerti, mereka itu kaum yang nggak bida dipaksa apalagi dikekang - kekang." terangnya.


"Maksudnya?" Ethan tak mengerti.


"Ya ...," Randy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memang sulit memberi tahukan sesuatu hal ambigu pada Ethan. Berbicara mengenai cinta dan wanita pada Ethan harus benar - benar secara spesifik.


"Maksudnya, cobalah jangan terlalu ngekang - ngekang Zoya. Dia nggak akan suka, cemburu boleh, tapi jangan berlebihan juga, lah."


"Kamu bersikap over dan posesif kaya gitu ke Zoya karena kamu takut kehilangan Zoya. Nah, jangan sampai cara yang kamu lakuin tuh salah dan justru ngebuat Zoya malah ilfeel dan ninggalin kamu!"


Ethan menghela napas mengingat hal itu. Ia menatap istrinya yang menekuk wajah dengan menu sarapan yang masih utuh di piringnya.


"Baik, saya beri izin tapi dengan satu syarat!" Zoya menahan napas guna mendengar sayarat apa yang akan pria itu ajukan.


"Saya harus ikut ke lokasi pemotretan."


Randy mengedipkan matanya pada Selin, merasa puas karena sudah berhasil membujuk Ethan. Sedangkan Zoya dengan Selin hanya saling menatap, pikiran keduanya sama - sama bertanya - tanya mengenai keributan seperti apa yang nanti akan Ethan ciptakan di lokasi pemotretan. Namun begitu, hal tersebut jauh lebih baik dari pada membatalkan kontrak kerja sama dengan alasan yang bisa mengakibatkan kerugian bagi salah satu pihak.


**


"Naina, ikut mobil saya aja." tawar Randy saat mereka akan berangkat menuju lokasi pemotretan begitu usai sarapan.


"Naina asisten Zoya, jadi harus ikut mobil kami." sahut Selin.


"Tidak ada yang akan Zoya lakukan sepanjang perjalanan. Jadi gak masalah,"


"Tapi saya membutuhkan Naina."


Zoya yang menggandeng lengan Ethan hanya saling menatap dengan suaminya atas perdebatan yang terjadi antara Randy dengan Selin yang tak seperti biasanya.


"Tapi Naina asisten Zoya, bukan asisten kamu."


"Tapi saya manejer Zoya!"


"Kamu cemburu kalau aku satu mobil sama Naina?"


"Kalau iyy –" spontan Selin menghentikan kalimat yang akan meluncur dari bibirnya. Randy tampak menahan senyum, begitu juga Zoya. Sepertinya, mulai sekarang ia harus membiasakan diri untuk tidak membuat Selin terlibat dengan beberapa urusan spelenya. Karena wanita itu juga sudah dewasa dan jelas saja membutuhkan pasangan.


Ia menatap suaminya penuh arti. "Gimana kalau begini saja, biar Selin dan Naina dengan kami. Randy, kamu sendiri!" sahut Ethan tanpa bisa bernegosiasi. Setengah keberatan, Randy tetap menuruti yang sang bos perintahkan.


Zoya tentu saja heran dengan apa yang dilakukan suaminya. Ia mengira Ethan peka dan akan membersamakan Randy dengan Selin agar berdua di dalam mobil.


"Kamu ingin saya memyuruh mereka berdua duduk dalam mobil yang sama?" tanya Ethan pada sang istri saat membukakan pintu mobil untuk wanita itu.


Kepala Zoya mengangguk yakin. "Ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara, Sayang." beritahunya.


"Mereka butuh right time untuk ngungkapin perasaan mereka masing - masing." Ethan mengusap puncak kepala istrinya. Wanita itu hanya terdiam takjub atas apa yang baru saja suaminya katakan.


Apa tidak mekajubkan saat pasanganmu lebih peka pada hubungan orang lain daripada hubunganya sendiri? Rasanya menggelikan.


Zoya hanya menggeleng penuh arti. Sedangkan pria itu mengukir senyum tipisnya, tak lama Naina dengan Selin juga masuk ke dalam mobi Ethan.


TBC

__ADS_1


Maafkeun kalau banyak typo, ini ngetiknya sambil nahan kantuk. Dieditnya besok aja, yah🤧


__ADS_2