Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Hadiah Istimewa Untuk Ethan


__ADS_3

"Sayang, jam tangan yang udah saya taruh di atas nakas ada di mana, yah?" Ethan bertanya sedikit berteriak karena istrinya sedang berada di dalam kamar mandi. Ia menatap pantulan dirinya yang sedang merapikan dasi pada pantulan cermin.


Sampai pintu kamar mandi yang terbuka membuanya menoleh. Zoya muncul dengan jubah mandi berwarna putih, rambut basahnya di bungkus dengan handuk kecil berwarna putih pula. Wanita itu menaikan alis saat melihat suaminya yang memerhatikan.


"Kamu bilang apa pas aku di dalem?" tanyanya, berjalan ke arah walk in closet, Ethan mengikuti.


"Jam tangan saya. Saya sudah taro di atas meja, tapi nggak ada." sahutnya. Zoya mengangguk - anggukan kepala, lantas membuka sebuah kotak kaca dan mengambil salah satu koleksi jam tangan Ethan di sana.


"Tadi sebelum mandi aku simpen lagi. Pake yang ini aja," menyodorkan jam tangan merk alba berwarna cokelat. Ethan mengangguk dan mengenakannya dengan senang hati. Apa pun itu, ia selalu menyukai pilihan istrinya.


"Kamu tunggu di meja makan, biar aku ganti baju dulu." suruhnya pada sang suami begitu pria itu usai memakai jam tangannya.


"Yasudah, biar saya tunggu di bawah." Zoya mengangguk, Ethan berlalu dan keluar dari kamar sementara wanita itu mulai berpakaian.


Di lantai bawah, Ethan segera duduk pada kursi tempatnya biasa. Naina sudah selesai menata sarapan di meja makan. Gadis itu tersenyum menyambutnya. Bersamaan dengan itu, dua orang tiba di antara mereka, salah satunya langsung mendudukan diri. Naina sudah tidak lagi heran, karena ternyata selain skretaris Ethan pria itu juga adalah teman baik majikannya tersebut.


"Kenapa kamu selalu datang di jam sarapan?" kesal Ethan pada Randy. Sangat sering skretaris sekaligus temannya itu datang di pagi hari meski Ethan tidak meminta jemputan.


"Sarapan di restoran atau kafetaria perusahaan nggak enak. Itu sebabnya aku ke rumah kamu." sahut pria itu dengan wajah tanpa dosa.


"Makannya, cepet punya istri."


Randy terdiam, tatapan matanya mengarah pada Naina dan kemudian beralih pada Selin yang berada di belakangnya. Dua orang itu kompaka menghindari tatapan pria tersebut.


"Mbak Selin sarapan di sini?" tanya Naina, mengabaikan tatapan Randy yang kemudian mendesah pasrah dan ditertawakan oleh Ethan.


"Saya sudah sarapan." wanita itu menyahut seperlunya. "Zoya mana?" tanyanya kemudian.


"Di sini." wanita itu menyahut dan berjalan ke arah meja makan, berdiri di belakang Ethan dan menumpu tangannya pada bahu pria itu.


"Berangkat sekarang emang?" tanya Zoya, mengingat jika hari ini ia memiliki jadwal pemotretan.


"Mbak cuma abis ada urusan, sekalian ingin ke sini saja." sahut Selin, sekilas matanya mengarah pada Randy yang sedang sarapan dengan Ethan bahkan sebelum tuan rumah mempersilakan.


"Feeling, yah, Mbak." gurau Zoya, tertawa melihat Randy yang berpura - pura tidak peka. "Kamu sarapan dulu aja." suruh Selin kemudian, Zoya mengangguk, memilih duduk pada kursi yang membuatnya berhadapan dengan Ethan karena kursinya diduduki oleh Randy. Naina permisi untuk menyiram bunga di taman samping karena ia sudah sarapan, begitu juga Selin yang memilih untuk duduk di sofa ruang tamu karena sudah sarapan pula.


Tak lama begitu menyelesaikan sarapan, Randy juga permisi ke ruang tamu untuk menyusul wanita itu. Membuat Zoya bingung di tempatnya.


"Jadi Randy, tuh, sebenermya suka sama siapa, sih? Mbak Selin atau Naina?" tanya Zoya pada sang suami. Suaminya yang usai minum begitu sarapannya habis hanya mengerutkan kening.


"Randy bilang suka dua - duanya." cuapnya mengingat apa yang saat itu Randy katakan meski Ethan cukup yakin pria itu hanya bermain - main.


"Emang bisa suka sama dua orang sekaligus?" tanya heran Zoya. Ethan mengangkat bahu acuh.


"Belum berpengalaman." pria itu menyahut yang membuat Zoya tertawa. Lantas ia melanjutkan sarapan sedangkan Ethan menatapnya, ia sudah melarang pria itu melakukan hal tersebut, tapi Ethan seolah menulikan telinga. Terus menatap istrinya sampai makanan Zoya habis.


**


Naina begitu khawatir saat Zoya meminta sopir yang mengantarkan mereka pulang untuk berhenti lebih dulu di Rumah Sakit usai acara pemotretan usai, sedangkan Selin masih berada di lokasi untuk menyelesaikan beberapa urusan.


Ia khawatir terjadi hal - hal yang tidak diinginkan pada Zoya. Terutama wanita itu menyuruhnya tetap menunggu di dalam mobil dan juga melarang untuk menghubungi Selin atau pun Ethan.

__ADS_1


Naina bernapas lega begitu melihat Zoya keluar dari Rumah Sakit, berjalan ke arah mobil sambil melepas masker hitam yang dikenakannya. Aura manis dan bahagia terpancar di wajah cantik wanita itu.


"Mbak Zoya nggak papa, 'kan?" tanyanya, khawatir. Zoya menggelengkan kepala dan menggenggam tangan gadis itu tanpa mengatakan apa pun.


"Pak, kita ke gedung AE RCH." sahut Zoya pada sang sopir. Sang sopir mengangguk lantas melajukan mobil meninggalkan parkiran Rumah Sakit menuju gedung yang Zoya minta. Naina hanya menatap wanita itu tak mengerti, namun begitu ia tak ingin banyak bertanya. Sehingga dirinya memutuskan untuk diam saja sampai nanti biar Zoya bercerita dengan sendirinya.


Lagi - lagi, Zoya menyuruh Naina untuk tetap menunggu di dalam mobil. Merasa pengap, gadis itu memilih keluar dari mobil dan menunggu Zoya di luar gedung. Memerhatikan gedung yang sudah beberapa kali di datanginya.


"Di mana kira - kira ruangan Pak Ethan?"


"Di lantai paling atas?" lirihnya, bertanya pada dirinya sendiri, menengadah dan menatap ke atas gedung. Sampai kemudian saat ia menurunkan pandangan, justru wajah orang yang selama ini selalu ia hindari muncul di hadapannya. Bencana.


"M-mas Kevin."


"Hay ..., Naina."


**


Zoya masuk dengan begitu saja ke ruangan suaminya di mana pria itu tengah membaca sebuah berkas di mejanya. Dengan langkah sablntai wanita itu menghampiri Ethan yang mengernyit mendapati kedatangannya. Karena sangat jarang sekali istrinya itu datang, atau setidaknya ia akan menghubungi Ethan terlebih dahulu.


"Ada apa?" tanya Ethan. Wanita itu tak menyahut, duduk dengan begitu saja di pangkuan Ethan dan mengalungkan lengan pada leher sang suami. Benar - benar membuat Ethan heran, terutama saat wanita itu mendaratkan kecupan di bibirnya. Senyumnya merekah dengan tatapan berbinar.


"Ehem."


Sampai mata bulat yang memancarkan cahaya penuh binar kebahagiaan itu mengerjap polos mendapati suara orang lain di ruangan tersebut. Jangan bilang jika sebenarnya sedang terjadi rapat dadakan di ruangan suaminya? Otak Zoya berpikir random.


"Siapa?" tanya Zoya yang mulai gugup.


"Ayah, apa kabar?" tanyanya seraya menyalami pria itu.


"Baik, kamu sudah selesai pemotretan?" beruntung Agyan sedang sangat pengertian sehingga tidak menyinggung Zoya mengenai hal yang baru terjadi tadi. Ethan juga tampak bangkit dari duduknya setelah merapikan jasnya. Ia menyalami sang ayah.


"Ada apa ayah kemari?" tanya Ethan yang sudah berdiri di samping Zoya, menggandeng bahu wanita itu.


"Untuk mengunjungimu. Mm, kalian sedang ada acara?"


Hell. Menyesal Zoya memuji ayah mertuanya. Ia segera menggelengkan kepala dengan senyum hambar.


Ethan menatap sang istri. "Ada yang ingin kamu sampaikan?"


"Pulang jam berapa?" wanita itu bertanya pelan seolah - olah agar Agyan tak mendengarnya. Pria itu mengalihkan perhatiannya ke arah lain, berpura pura tak melihat keduanya dan juga tak mendengar obrolan mereka.


"Jangan pulang malem - malem, aku punya sesuatu buat kamu." sahutnya, masih dengan suara pelan namun Agyan masih bisa mendengarnya.


"Sesuatu apa memangnya?" Ethan bertanya dengan ikut berbisik, seketika apa yang dilakukannya mendapat pukulan dari sang istri.


"Serius!" Ethan meringis.


"Iya, iya. Saya tidak akan pulang larut malam,"


Zoya mengangguk puas. "Kalau gitu, aku tunggu di rumah." sahut wanita itu seraya melepas rangkulan tangan suaminya.

__ADS_1


"Perlu saya antar sampai ke depan?" Zoya menggeleng, menoleh pada Agyan.


"Ayah, Zoya pulang duluan."


"Iya. Hati - hati, yah." wanita itu mengangguk, melambaikan tangan pada pria yang ditinggalkannya. Ethan hanya menatap punggung wanita itu sampai menghilang dari pandangannya.


"Istri kamu makin so sweet aja, yah." goda Agyan setelah Ethan menutup pintu begitu Zoya berlalu dari ruangannya. Ethan tak menanggapi, ia justru menatap sang ayah yang tidak biasanya datang bertamu ke gedung perusahaannya. Karena biasanya, jika ada hal penting yang perlu di sampikan, pria itu yang menyuruhnya untuk datang.


"Ada keperluan apa Ayah ke sini?"


"Cuma pengen ke sini aja. Ganggu kamu sama istri kamu, yah?"


Ethan berdecak dengan mata mengarah pada sang ayah yang begitu gemar menggodanya. Pria itu tertawa, lantas melangkah menuju sofa begitu Ethan beranjak ke arah yang sama dengannya.


"Ayah ke sini mau ngasih tau kamu."


"Ngasih tau apa?"


"Tga hari lagi bakalan digelar acara pengajian di rumah Nenek Shanty. Buat peringatan kematian Kakek Tomy." sahut Agyan, mengutarakan maksud kedatangannya pada sang putra.


Awalnya ia akan meminta Ethan datang ke rumah. Namun merasa ia akan pulang cepat hari ini untuk makan siang dengan istrinya, akhirnya Agyan - lah yang datang ke perusahaan Ethan untuk memberitahukan hal tersebut.


"Mm, baiklah. Nanti Ethan dan Zoya akan menginap di rumah Nenek Shanty."


"Bagus itu! Zoya jarang bertemu sama Nenek Shanty." komentar Agyan. Ethan mengangguk - anggukan kepala mengiyakan.


**


Naina membulatkan mata tak percaya begitu Zoya memberitahukannya jika wanita itu sedang hamil. Hal yang membuat Naina juga ikut merasa sangat bahagia, mengingat betapa Zoya berusaha untuk segera hamil dan memiliki anak.


"Nah, makannya kamu bantuin saya buat siapin surprise buat Ethan."


"Siap Mbak." gadis itu berseru antusias tanpa sedikit pun merasa keberatan.


Ruang baca Ethan menjadi pilihan Zoya untuk memberi kejutan pada pria itu di sana. Menyiapkan makan malam romantis untuk keduanya.


Saat pertama kali menginjakan kaki di ruangan yang sekali pun tak pernah dikunjunginya benar - benar membuat Naina terpana saat memasuki ruang kerja plus ruang baca Ethan. Di mana tempat di sana begitu rapi dan terlihat nyaman.


"Kamu suka tempatnya?" tanya Zoya melihat tatapan terpana gadis itu. Naina mengangguk - anggukan kepala. Setelah puas melihat beberapa furniture dan fasilitas yang ada di dalam ruangan tersebut, ia merasa sangat senang karena Zoya mengizinkannya masuk untuk melihat keadaan ruangan tersebut.


Tapi tidak hanya itu, Zoya juga menunjukannya ruang rahasia di dalam ruangan tersebut di mana dalam ruangan rahasia yang Zoya tunjukan dengan cara ajaib terdapat banyak figura Zoya di berbagai sudut.


"Tempatnya selalu rapih. Fotonya juga nggak pernah berdebu karena Ethan rajin ngerawatnya." beritahu Zoya pada gadis yang tengah terpana itu.


"Pak Ethan bener - bener orang yang romantis dan nggak terduga." decaknya yang Zoya tanggapi dengan tersenyum hangat.


Tak banyak yang Zoya dan Naina siapkan. Hanya memasak segala menu makanan kesukaan Ethan dan menatanya di meja kecil di ruang baca pria itu.


"Mbak Zoya hati - hati, nanti jatuh. Biar saya yang bawa makanannya ke lantai atas. Nanti Mbak Zoya yang nata. Okey?" panjang lebar wanita itu, mengambil alih piring kosong yang Zoya bawa saat menaiki anak tangga. Lantas berlalu menapaki anak tangga.


"Terimakasih Naina," sahut Zoya, melangkah mengikuti gadis itu, Naina menoleh dan tersenyum, kepalanya mengangguk samar dengan sorot mata tulus yang membuat perasaan Zoya menghangat melihatnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2