
Alarm sudah menyala sejak beberapa menit yang lalu, namun dua orang di atas tempat tidur dengan sprai berwarna putih itu tampak masih memejamkan mata dengan damai. Sampai beberapa detik berselang, Ethan membuka matanya perlahan.
Ia mengucek matanya dan hendak beranjak ketika waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh pagi. Dengan sangat pelan ia menarik tangannya yang dijadikan bantalan oleh sang istri. Kemudian menyingkap selimut dan hendak turun dari ranjang. Namun dengan cepat Zoya berbalik dan memeluk pria itu dengan mata yang masih terpejam.
Ethan menggelengkan kepala, Zoya menahan Ethan dengan memeluknya sedangkan ia pura-pura tidur. "Zoya, ini sudah siang." Ethan menekan pipi istrinya dengan jari telunjuk.
"Zoya."
Ethan bangun dan duduk, Zoya kian mengeratkan pelukannya dengan posisi yang juga duduk, matanya tetap terpejam. Membuat Ethan tertawa melihatnya."Zoya, hey. Kamu tidak ingin saya pergi?"
"Zoya."
Ethan mendesah, mencubit pipi Zoya dengan gemas. "Dalam hitungan ketiga kamu harus bangun!" Ethan bersiap menghipnotis.
"Satu."
Ia mengangkat jari telunjuk di hadapan wajah Zoya.
"Dua."
"Tiga."
Melihat wanita tak bereaksi, Ethan menggelitik pinggang Zoya, membuat Zoya kian memeluk Ethan dengan erat, menenggelamkan wajahnya di dada pria itu dengan mata yang terpejam erat. Mati-matian ia menahan tawa karena geli yang dirasanya. Membuat Ethan kian gencar menggelitiknya sampai Zoya menggigit dada Ethan dan membuat pria itu mengaduh kesakitan, menghentikan aksinya menggelitik Zoya.
"I'm so sorry." ucap Zoya dengan wajah polos. Menengadah pada pria itu yang tengah meringis karena gigitannya, tangannya memegangi dada.
"Sakit banget?" tanya Zoya, wajahnya tampak iba melihat sang suami yang kesakitan. Ethan mengangguk.
”Itu hukuman karena kamu udah bohongin aku kemaren." wajah Zoya berubah seolah tanpa dosa. Sedangkan Ethan mendesah, menurunkan tangan dari dadanya.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan pada kamu karena sudah mengerjai saya?" balas Ethan, memasang wajah sinis.
Zoya menoleh dengan alis bertaut. "Salahin adek kamu!"
"Saya maunya salahin kamu." mata Ethan memicing, pria itu mendadak serius dan membuat Zoya tak bisa berkutik.
"Enaknya kamu saya apain yah?" Ethan mendekatkan wajahnya pada Zoya, pelan tapi pasti sampai Zoya memejamkan matanya. Ia merasakan firasat buruk pagi ini. Atau mungkin ia harus kembali memberi nafkah batin bagi suaminya?
Perlahan Zoya membuka mata saat tak ada gerakan apa pun dari suaminya seperti apa yang sudah ia perkirakan. Ethan sudah berada di depan pintu. "Saya lapar dan butuh tenaga untuk bermain dengan kamu." sahutnya dengan satu sudut bibir yang terangkat mengakhiri kalimatnya, membuka pintu dan berlalu. Membuat Zoya berdecih seolah diberi harapan palsu.
Ia menyingkap selimut setengah dongkol, memperbaiki gaun tidurnya dan turun dari atas tempat tidur menyusul Ethan menuju dapur. Ia berjalan menapaki anak tangga sembari mengikat rambutnya.
"Masak apa?" tanya Zoya, melihat pria itu yang sudah menyiapkan bahan makanan. Ethan menatap wanita itu sebentar.
"Mmm, masak yang mudah saja."
"Nasi goreng?"
"Kamu mau?"
Zoya mengangguk, bergegas menghampiri Ethan dan melihat apa yang tengah suaminya lakukan. "Kita gak ada nasi?" tanya Ethan, Zoya mengangkat bahu. Toh beberapa hari ini ia tidak pulang ke rumah dan tidak mengetahui apa pun.
__ADS_1
"Kan kamu yang di rumah."
Etham diam, menatap bahan-bahan untuk membuat nasi goreng. "Kalau gitu aku yang masak nasi." Zoya menawarkan diri. Ethan menyipitkan mata. "Kamu bisa?"
"Gampang." sahut Zoya, berjalan ke arah pantry dan mencari di mana biasanya persediaan beras mereka disimpan. Ethan memperhatikan.
"Berasnya di mana?" wanita itu akhirnya menyerah untuk mencari dan memutuskan bertanya. Ethan tersenyum, membuat Zoya salah tingkah dan menggerutu.
"Ih, bukannya kasih tau!" Zoya membuka salah satu pintu lemari di atasnya, tapi tangan Ethan sudah mendahuluinya. Membuat wanita itu terdiam karena Ethan tepat berada di belakangnya. Zoya mengutuki hatinya yang bergemuruh berdekatan dengan Ethan, sangat berlebihan seolah ini pertamakali baginya bersentuhan dengan pria itu.
Zoya perlahan berbalik dengan wajah menunduk. Wajah Ethan tepat di hadapannya, dalam hati Zoya menggerutu. Menuding jika Ethan terlalu banyak menonton drama karena bertingkah seolah ia adalah aktor utama.
Ethan tersenyum melihat wanita itu, menundukan kepalanya sedikit dan mendaratkan kecupan singkat di bibir Zoya. Wanita itu menatapnya.
"Morning kiss." sahut Ethan, mengedipkan mata nya. Diam-diam Zoya berdecih, meski tidak bisa mengelak jika ia sangat mendukung tindakan Ethan barusan.
Zoya mencuci beras seperlunya, sedangkan Ethan memotong beberapa sayuran, keduanya dalam jarak tak berdekatan, sesekali sama-sama mencuri pandang. Saat mata keduanya bertemu, dua orang itu saling tersenyum layaknya dua orang insan yang tengah kasmaran.
Ethan meneruskan kegiatannya memotong wortel, senyumnya tak kunjung hilang. Ternyata seindah ini, saat rasa cintanya terbalaskan.
**
Beberapa hari ini Zoya sudah kembali disibukan dengan syuting iklannya. Beberapa tawaran masuk tetap ia terima dan jadwalanya akan disesuaikan oleh Selin. Zoya ingin menyibukan diri. Sedangkan tawaran film, ia menolak untuk sementara waktu.
"Abis ini langsung pulang aja?" tanya Selin. melihat arloji di pergelangan tangan yang sudah menunjukan pukul 15.55. Ia menenggak air minumnya dan melihat Zoya yang hanya diam.
"Kamu sakit?" tanya Selin begitu melihat wajah Zoya yang tampak pucat. Mungkin karena kelelahan, saat syuting iklan tadi ia banyak melakuka re-take karena kesalahan yang dilakukan beberapa kru, membuatnya beberapa kali mendesah lelah.
"Cuma sedikit."
"Mbak, 'kan bilang. Kalau diet ngatur, ini pasti gara-gara diet gak beraturan kamu, 'kan?" Selin membukakan botol minum dan menyerahkannya pada Zoya. Zoya menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Nafsu makan Zoya memang sedikit meningkat dan membuat berat badannya bertambah, sehingga ia melakukan diet, setidaknya agar tubuhnya terasa lebih ringan, Ethan juga sering memarahinya karena hal itu.
"Kamu udah makan?" tanya Ethan. Ia baru saja pulang dari agensi. Mencium kening Zoya yang sedang duduk menatap televisi kemudian ikut duduk di samping sang istri.
"Udah."
Ethan menoleh. "Jangan bohong, kalau diet gak usah keterlaluan, badan kamu udah bagus tanpa diet." mata pria itu mengarah pada tubuh istrinya.
Zoya berdecih. Menatap kesal pada sang suami yang berbicara seenaknya. Ethan merentangakan tangan pada bahu sofa, jika dilihat dari depan atau pun belakang, tangan pria itu seolah sedang menggandeng Zoya. "Kamu udah ketemu Arasy?" tanya Ethan kemudian, Zoya menoleh. Menggelengkan kepala.
"Kenapa, dia bikin masalah lagi?"
Ethan tersenyum, ia akui jika apa yang Zoya katakan memang benar. Arasy terlalu sering membuat masalah. Seperti saat sekarang misalnya.
"Dia mau hengkang dari dunia entertaint."
"Hah? Kenapa?" Zoya terpekik kaget, Ethan mengangkat bahu. Ia baru saja mendengar kabar itu dari Randy yang mendengar langsung pembicaraan Arasy dengan Rachel.
"Kurang tau."
"Kamu kakaknya, kamu tanyalah!"
__ADS_1
"Saya gak mau ikut campur, itu urusan dia."
"Aku gak minta kamu ikut campur, Hubby. Aku cuma minta kamu tanya apa alesannya." tegas Zoya. Ethan mengangguk-anggukan kepala. Kemudian menatap Zoya, membuat wanita itu heran.
"Menurut kamu apa yang membuat Arasy ingin hengkang?"
"Mm." Zoya menaruh jari telunjuk di dagunya. "Karena udah bosen!" Ethan menoleh dengan tatapan heran, kemudian tertawa dan mendaratkan elusan di puncak kepala Zoya.
"Arasy sudah terlalu lama di dunian entertaint. Biarkan dia beristirahat."
Zoya mengangguk, membenarkan apa yang Ethan katakan jika Arasy memang membutuhkan istirahat.
"Than," panggil Zoya setelah diam cukup lama dan mikirkan sesuatu hal. Ethan hanya menoleh, membiarkan wanita itu berbicara.
"Kamu gak masalah kalau aku tetep di dunia entertaint?" tanyanya, menatap pria itu dalam satu garis lurus. Ethan tersenyum tipis.
"Kalau saya suruh berhenti, kamu mau nurut?" Mengusap satu sisi wajah Zoya dengan lembut, tutur katanya tak kalah lembut.
"Enggak." Zoya menyahut polos, seketika.saja membuat ekspresi wajah Ethan berubah flat dan akhirnya pria itu memutus tatapan mereka yang tadi sudah tercipta dengan mesra. Zoya tertawa, memalingkan wajah Ethan agar kembali menghadap padanya.
"Kamu mau aku keluar dari dunia entertaint?"
Ethan diam sebentar.
"Kamu cemburu kalau aku syuting sama cowok lain?"
"Cemburu?" Ethan mencibir.
"Iya saya cemburu!" sambungnya tanpa pertimbangan. Zoya tersenyum, senang akan kejujuran sang suami.
"Kamu emang gak pinter buat bohong." puji Zoya, menangkup kedua sisi wajah Ethan dan mengecup bibir pria itu cukup lama, membuat Ethan mematung dengan tindakan tidak terduga istrinya.
Setelahnya wanita itu menegakan duduk dan kembali fokus pada sebuah acara yang sedang ditontonnya. Ethan menatapnya, meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya. Membuat Zoya mengalihkan perhatiannya pada sang suami.
"Saya gak akan melarang kamu melakukan hal apa pun yang kamu sukai." sahut Ethan dengan tulus, tersenyum kemudian mengecup punggung tangan Zoya, wanita itu hanya menatapnya tanpa ekspresi.
"Kenapa kamu jadi suami, tuh, baik banget, sih?"
"Karena kamu yang jadi istri saya."
"Ohh, jadi kalau bukan aku. Kamu gak akan sebaik ini?"
Ethan mengerutkan kening. "Sejak saya jatuh cinta sama kamu, saya sudah memutuskan jika saya hanya akan menikah dengan kamu."
"Hanya kamu yang bisa menjadi istri saya."
"Maka dari itu, jangan buat saya kecewa."
Kali ini Zoya tersenyum, ia mengangguk dan berhambur memeluk Ethan. Pria itu masih sama. Selalu penuh kejutan tidak terduga.
TBC
__ADS_1
Aku gak up karena udah balik ngetik dilapak sebelah setelah satu minggu lebih nunda cerita di sana, aku juga masih sekolah dan harus ngerjain tugas. Selain itu aku juga perlu istirahat.
Mohon maaf dan pengertiannya, yah:")