
"Saya yakin seratus persen kalau film ini nanti akan jadi film terbaik yang paling iconic di akhir tahun nanti." Arfat Nahlil, seorang produser besar yang sudah sangat berpengalamaan berkomentar penuh keyakinan.
"Kami harap juga seperti itu Pak Arfat, karena hampir semua orang yang saat ini terlibat di dalam film mengatakan hal demikian." Selin menanggapi dan langsung didukung anggukan oleh Zoya juga yang lainnya.
Usai acara pemotretan untuk.postrr film berakhir, agenda terakhir adalah makan siang bersama dengan Irpan, sang sutradara dan Arfat Nahlil produser film mereka guna menjalin tali silaturahmi, juga ada beberapa hal yang perlu dibahas.
"Edrin, Zoya," panggilan Arfat membuat perhatian dua orang itu teralih ke sumber suara. Arfat tengah tersenyum bangga pada keduanya.
"Chemistry kalian berdua sangat bagus sekali, saya sangat suka. Saya percaya sama kalian." pujinya. Edrin dan Zoya membalas dengan senyuman dan anggukan kepala yang begitu sopan.
"Terimakasih Pak Arfat, suatu kehormatan bagi kami untuk membintangi film ini." Edrin menyahut, Arfat menepuk punggung pria itu. Sedangkan Zoya masih hanya menanggapi dengan tersenyum hingga tatapan Arfat kini terfokus padanya.
"Zoya Hardiswara, mm. Zoya Maheswary." ralatnya sambil menganggukan kepala.
"Menantu Tuan Zeinn Agyan." sambungnya. Sama seperti sebelum-sebelumnya, Zoya masih hanya menanggapi dengan senyumam.
"Seharusnya Pak Ethan juga menjadi bintang besar. Ayahnya sangat berbakat." Arfat masih mengingat dengan baik bagaimana saat ia pertama kali bertemu dengan Agyan hingga berhasil menarik pria itu menjadi seorang bintang terkenal dua puluh lima tahun silam.
Sepertinya, takdir memang berpihak pada Agyan saat itu mengingat jika pria itu berada dalam keadaan sulit bersama dengan Freya saat wanita itu tengah mengandung Ethan dan Arasy. Tuhan mengirimkan Arfat pada Agyan dan mereka bekerja sama dengan hasil yang saling menguntungkan. Bahkan Agyan berhasil sukses besar.
"Sayangnya dia sama sekali nggak minat buat terjun langsung." sahut Zoya mengingat ke-engganan suaminya pada dunia entertaint.
"Kecuali sebagai pemeran pengganti kalau istrinya punya adegan intim." timpal Selin, telak.
"Dia langsung berdiri paling depan." Irpan, sang sutradara menimpali dengan kalimat yang berhasil membuat semua orang terkekeh begitu juga dengan Zoya, tapi diam-diam ia meringis, Zoya dapat membayangkam bagaimana ekspresi suaminya andai pria itu ada di antara mereka.
Ia juga dapat menerawang suasana, jika tidak akan ada tawa di meja mereka.
"Bukannya Freya Maheswary juga adalah seorang model pada zamannnya?" manajer Edrin angkat bicara. Zoya mengangguk, mengingat beberapa cerita dari Freya jika mertuanya tersebut adalah seorang model populer sebelum menikah dengan Agyan. Bahkan sesudah menikahpun, Freya pernah terlibat dalam sebuah acara fashion show.
"Keluarga selebritis." salah satu dari mereka berdecak.
"Oh, yah, apa kabar dengan Arasy?" Arfat kemudian bertanya mengenai adik ipar Zoya yang sudah mantap meninggalkan dunia entertaint.
"Dia mantap meninggalkan panggung hiburan, kemana tujuannya?" sambungnya dengan tatapan yang mengarah pada Zoya. Zoya menggelengkan kepalanya.
"Aku nggak begitu yakin, tapi yang aku tau, dia pergi ke Spanyol." Zoya menyahut seperlunya sebagaimana ia tahu, Arasy juga tidak mengatakan secara spesifik kemana dia benar-benar pergi.
Edrin mengerutkan keningnya menatap Zoya.
"Madrid?"
"Valencia?"
__ADS_1
"Palma atau Barcelona?" pria itu tampak penasaran. Zoya menyipitkan mata, mengangguk bahunya acuh tak acuh.
"Kayaknya kamu penasaran banget, kamu naksir Arasy?" tebak Zoya, yang lain hanya menatap Edrin sembari menanti apa jawaban ptia itu. Edrin justru berdecak.
"Siapa memangnya cowok yang nggak naksir seorang Zeinn Arasy?"
Pria dari berbagai kalangan memang seringkali menargetkan Arasy sebagai tipe idealnya. Cantik, tinggi dengan kulit putih bersih, berbakat dan tidak pernah terlibat skandal. Dia bahkan memiliki penggemar dari kalangan laki-laki dengan jumlah yang tidak bisa dikatakan sedikit.
Semua orang hanya akan berdecak kagum tanpa ada yang menyela jika nama Zein Arasy disebutkan dalam ajang nominasi.
"She is perfect!' sambung Edrin, Arfat dan Ipran mengangguk setuju. Membuat para wanita juga ikut mengangguk, mereka memang tak bisa mengelak dari fakta tersebut.
Begitu acara makan siang dan berbincang bincang hangat juga foto bersama itu usai, Zoya dengan Selin begitu juga dengan Edrin dan manajernya keluar dari restoran. Arfat dan Irpan sudah pulang lebih dulu.
"Jadi tipe ideal kamu juga Zeinn Arasy, wah." Selin berdecak pada Edrin saat keempatnya berada di parkiran. Edrin hanya tersenyum, lantas menggelengkan kepala dengan senyuman.
Selin mengerutkan kening, terutama saat Edrin mengarahkan pandangannya pada Zoya, membuat Selin dan manajer pria itu juga mengarahkan pandangannya pada Zoya yang sedang mengambil ponselnya dari dalam clutch.
Wanita itu terlihat keheranan saat melihat semua orang tengah menatapnya. "Ada apa?" tanyanya tak mengerti.
"Tipe ideal?" Zoya memgingat apa yang Selin tanyakan pada Edrin sehingga ia mengarahkan tatapan pada pria tampan itu.
"Hmm, aku lebih suka yang seperti kamu." pria itu menyahut santai, membuat kedua manajernya menggeleng tak percaya dan memilih berjalan ke arah mobil lebih dulu saat Zoya memukul otot tangan Edrin dan berhasil membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Hati-hati, tanganku berharga!"
"Jangan sembarangan!" ancam Zoya dengan mata melotot.
"Manajer kamu cuma nanya tipe ideal aku. Apa salahnya kalau tipe idel aku itu kamu, kan bukan berarti aku maunya sama kamu!" panjang lebar Edrin yang diakhiri dengan decakan kesal pria itu. Tapi setelahnya ia tersenyum melihat raut bersalah di wajah Zoya.
"Cantik, baik, tegas, dan ... seksi!" apa yang Edrin katakan berhasil membuat Zoya kembali membulatkan matanya, wanita itu bersiap hendak memukul tapi Edrin menahan.
"Bercanda, Zoy!" ungkapnya, kali ini giliran Zoya yang berdecak.
"Bercanda bercanda, kaya kita akrab aja." decak wanita itu yang membuat Edrin terkekeh.
"Hmm, nggak papa nggak kaya kamu. Asalkan dia manis, lemah lembut dan seksi!" kali ini pria itu tampak serius dengan apa yang dikatakannya. Zoya justru berdecih, ia melipat tangannya di dada.
"Calon pasangan kamu?"
"Hmm, aku mau yang kaya gitu."
"Kenapa enggak yang tegas, keras kepala–" Zoya menghentikan kalimatnya saat Edrin ancang-ancang tampak akan menjitaknya. Tapi Zoya tahu jika pria itu hanya menggertak.
__ADS_1
"Sampai bertemu minggu depan Zoya." sahutnya kemudian, untuk yang ini pria itu terlihat begitu manis sekali dengan senyum tipis dan lambaian tangan. Ia berjalan mundur menuju ke mobilnya di mana mesin mobil pria itu sudah menyala.
"Cih," Zoya membuang pandangannya dengan senyum meremehkan pria itu. Tidak buruk, Edrin memang pandai membangun komunikasi yang baik sekalipun tampak menyebalkan.
Zoya baru ingat, jika minggu depan ia sudah akan mulai syuting dengan pria itu. Kali ini Zoya mendesah, ia harus bersiap untuk syuting selama kurang lebih tiga bulan di tiga kota besar dan juga luar negri. Eropa Timur menjadi pilihan untuk bagian terakhir film.
***
Zoya sudah berharap-harap cemas ketika ia pulang ke rumah dan melihat jika mobil Freya terparkir di depan gerbang rumahnya. Ia tentu saja panik, mengingat jika Ethan dengan Naina tidak ada di rumah dalam waktu bersamaan.
Zoya kurang matang menyusun rencana bulan madu antara Ethan dengan Naina. Ia melewatkan satu hal. Ia tak memikirkan sama sekali akan kunjungan Freya yang memang sering datang ke rumah untuk sekedar menemuinya dengan Ethan.
"Bilang aja Pak Ethan ke luar kota atau ke luar negri karena ada sesuatu yang harus diurus." usul Selin yang tampak tak memiliki cara mengelabui Freya.
"Bisa aja, Mbak. Tapi kalau Bunda konfirmasi ke gedung agensi gimana? Atau ke Mommy Rachel langsung? Parahnya Ethan pergi tanpa Randy, skretarisnya, sangat mustahil."
"Aku mesti bilang apa?" Zoya pusing sendiri. Selin terdiam, otaknya sedang sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama, ia hanya bisa mengetukan jari telunjuknya pada gagang stir.
Zoya mengguyur rambutnya ke belakang, ia berpikir keras bagaimana caranya mengalihkan perhatian sang bunda dari Ethan yang tidak ada di rumah nanti.
"Atau kita puter balik aja, kamu ikut ke rumah Mbak." usul Selin, sepertinya hanya hal itu yang melintas dipikirannya. Ia menoleh pada Zoya yang justru menggelengkan kepala, menolak usulannya.
"Kenapa?" tanya Selin, ia mengernyitkan dahi saat Zoya hanya menatap ponselnya, panggilan masuk dari Freya menghiasi layar ponsel. Selin menepuk kepalanya. Mungkin seharusnya Zoya ikut saja berbulan madu dengan Ethan dan Naina dan beralasan pada semua orang jika dirinya dengan Ethan akan liburan.
Yah, mungkin memang harus seperti itu. tapi sekarang apalah daya Tidak ada yang bisa dilakukan.
Dengan raut pasrah, Zoya segera menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya. "Hallo Sayang," terdengar Freya menyapanya penuh riang gembira seperti biasa di ujung sana. Zoya bahkan dapat melihat jika sang mama mertuanya itu tengah tersenyum.
"Iya, hallo Bunda."
"Kamu masih, sibuk, Sayang?"
"Bunda di rumah kalian, tapi gerbangnya ditutup. Rumah juga keliatannya sepi, Naina kemana?" Freya membombandir Zoya dengan pertanyaan. Zoya sempat tersenyum guna membuat dirinya sendiri rileks sebelum menjawab pertanyaan Freya.
"Zoya sebentar lagi pulang Bunda." ia menyahut singkat, sisanya akan ia jelaskan pada Freya nanti usai menemui wanita itu.
"Ohh, yaudah kalau gitu. Bunda tunggu, yah."
"Iya, Bunda."
Zoya mendesah setelah panggilan terputus. Ia menatap Freya yang masih berdiri di depan gerbang rumahnya. Zoya harus mengatakan kebohongan pada Freya mengenai ketidakadaan Ethan di rumah, dan Zoya sangat berharap Freya akan percaya pada apapun yang akan dikatakannya.
TBC
__ADS_1