Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Beban fikiran yang berakibat fatal


__ADS_3

Hari pun berlalu, tapi sikap Devid masih saja mendiamkan Airin. Tidak banyak bicara, kalau pun ada pembicaraan itupun hanya sekedarnya saja. Airin bingung tak tau harus bagaimana. Mau bertanya langsung dia takut kalau Devid marah padanya. Tapi dia juga tak ingin Devid bersikap seperti itu. Sikap Devid membuat Airin merasa kalau Devid tidak mencintainya. Mungkin perhatian dan kebaikan kebaikannya hanya sekedar kewajiban karena status mereka.


Awalnya Airin sempat merasa tersanjung, karena dia mengira Devid mencintainya. Memperlakukannya dengan lembut. Suka menggendong Syfa dan mengajaknya bermain. Sering mengajaknya jalan jalan bertiga bersama Syfa, memberikan bermacam macam hadiah. Membuat Airin serasa dimanjakan. Kemaren kemaren pandangan mata Devid tersirat rasa yang membuat dada Airin berdebar debar. Tapi sekarang Devid tak lagi memandang mesra. Bahkan terkesan acuh tak acuh. Tapi sebagai seorang istri, Airin tetap menjalankan tugasnya. Meskipun sikap Devid hari ke hari semakin dingin.


"Ah, mungkin memang dia tak mencintaiku. Mungkin aku saja yang ke pede an. Menganggap segala perhatiannya adalah ungkapan rasa cinta. Padahal tidak."Bisik Airin dalam hati. Meski sebenarnya hatinya sedih, karena kebersamaan mereka yang sudah hampir satu tahun ini telah menghapus nama Syahdan dari dalam hatinya. Tanpa terasa nama Syahdan yang tertulis dalam hati nya digantikan oleh Devid. Tapi sayang, Airin merasa Devid tidak pernah sama sekali menaruh hati padanya. Airin merasa hanya dia yang jatuh cinta. Airin malu, mudah sekali dia jatuh hati karena selalu di manja.


Sementara itu Devid yang sedang berada di ruangan kerjanya di Rumah Sakit. Setelah menjalankan tugas ke Dokterannya memeriksa beberapa pasien, tampak duduk melamun di Meeja kerjanya. Devid pun memikirkan tentang hubungan pernikahannya dengan Airin. Sampai kapan akan berjalan seperti ini. Devid pun sebenarnya juga telah jatuh hati pada Airin. Tapi bayangan kejadian di cafe itu sungguh sangat menyiksanya. Dia sadar, kalau dia hadir setelah Syahdan dan Airin saling mencinta. Tapi kini status pernikahan yang telah terjalin apakah Airin tak pernah memikirkannya. Devid menganggap Airin hanya berpura pura menerima pernikahan mereka. Mungkin karena hanya ingin menyenangkan hati Ayah dan Ibunya. Devid benar benar kecewa.


"Tidak mungkin akan seperti ini terus, aku harus segera membicarakannya dengan Airin. Kalau memang dia dan Syahdan masih berhubungan, lebih baik pernikahan ini di akhiri saja." Fikir Devid. Karena walau bagaimanapun juga, dia punya hati dan perasaan. Dia tak ingin larut dalam hubungan yan tak jelas ini.


"tok...tok...tok..." Suara ketukan pintu.


"Ya, masuk.." Jawab Devid dari dalam. Seorang perawat pun masuk ke dalam. Setelah di izinkan nya.


"Maaf Dok, tadi ada seorang pria menitipkan ini. Katanya untuk Dokter Devid. Penting." Ujar perawat itu sambil menyerahkan sebuah amplop coklat padanya. Setelah Devid menerimanya, perawat itu pun pamit keluar.

__ADS_1


Devid langsung membuka amplop itu. Dia penasaran dengan isinya. Karena tidak ada penjelasan apapun tentang pengirimnya. Di dalam amplop itu ada beberapa foto. Wajah Devid langsung berubah setelah melihat foto foto itu. Foto foto Airin dan Syahdan. Dalam foto foto itu tampak kedekatan Syahdan dan Airin. Kemesraan keduanya terpampang jelas. Wajah keduanya yang berseri dengan senyuman manis mereka.


Rahang Devid mengeras, darahnya serasa mendidih. Tangannya mengepal meremas foto foto itu. Apa maksud semua ini. Siapa yang telah mengirimkan foto foto ini padanya. Tapi, Devid yakin semua ini tujuannya agar matanya semakin terbuka dengan hubungan istrinya dengan sahabatnya itu. Devid membanting semua yang ada diatas meja. Dia benar benar ingin meluapkan amarahnya. Hatinya benar benar diliputi amarah. Beberapa kali Devid memukul meja. Tangannya yang telah memerah biru tak terasa sakit sedikitpun. Karena hatinya jauh leih sakit.


"drrrrrtttt....dddrrrtttt....." Ponselnya berdering. Ada panggilan dari dokter Kevin. Devid pun menjawab nya.


"Hallo Dokter Devid. Saya butuh bantuan anda sekarang juga Dok. Bapak Firdaus kesehatannya semakin menurun. Sepertinya rencana tindakan operasi kemaren harus segera kita lakukan. Tidak ada cara lain lagi Dok. Pihak keluarga juga sudah setuju." Suara Dokter kevin tampak sangat khawatir.


Devid jadi teringat dengan kondisi pasien mereka Bapak Firdaus. Memang sudah dari beberapa hari yang lalu Devid menyarankan untuk segera dilakukan tindakan Operasi untuk penyakitnya. Tapi karena Operasi yang akan dijalani termasuk Operasi besar, pihak keluarga masih tidak setuju.


"Saya baru saja keluar dari ruangan pak Firdaus. Kalau bisa malam ini juga Operasinya harus dilakukan Dok. " Sahut Dokter Kevin.


"Baiklah.. Anda siapkan semuanya. Sebentar lagi saya langsung ke ruangan Operasi." Jawab Devid. Dan sambungan telfon pun berakhir


Meskipun sebenarnya suasana hati Dokter Devid sedang buruk. Dia tak bisa tidak ikut dalam Operasi ini. Watu sholat Maghrib pun tiba, Devid berniat untuk sholat dulu sambil menenangkan dirinya sebentar. Dalam sujudnya Devid memasrahkan segalanya pada Tuhannya. Dia menangis meminta petunjuk Allah. Agar ada penyeselesaian dari segala masalahnya.

__ADS_1


Selesai menunaikan kewajiban agamanya, Devid bersiap siap menuju ke ruangan Operasi. Karena Dokter Kevin dan team sudah bersiap siap juga disana. Devid menarik nafas dalam.. Dia berusaha bersikap profesional. Ini adalah tugasnya. Dia harus bisa memisahkan antara urusan pribadi dengan pekerjaannya.


Sebelum masuk ke ruang Operasi, di depan pintu Devid dihadang oleh anggota keluarga Pak Firdaus. Pak Firdaus adalah orang yang cukup terpandang di kota ini. Istri pak Firdaus meminta agar Devid menyelamatkan suaminya.


"Banyak banyak berdo'a ya Bu, saya hanya menjalankan tugas saya. Yang memberikan kesembuhan adalah Allah.. Jadi Ibu dan anak anak harus meminta kesembuhan untuk Bapak hanya kepada Allah. Saya akan melakukan tugas saya dengan sebaik mungkin. InsyaAllah." Ujar Devid menenangkan istri Bapak Firdaus yang tampak sangat sedih dengan keadaan suaminya.


"Dokter harus menyembuhkan Papa kami. Kalau saja Operasi ini gagal maka saya akan menuntut Dokter ke Pengadilan." Ujar salah seorang anak Bapak Firdaus. Dia memang adalah seorang yang sangat berpengaruh di pemerintahan. Dan dari awal Bapak Firdaus di rawat di Rumah Sakit ini, anaknya ini lah yang selalu banyak tuntutan dan bantahan.


"Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaiknya ya Pak. InsyaAllah." Jawab Devid dengan tetap memberikan senyum nya. Kemudian segera masuk ke dalam ruangan Operasi.


Devid kemudian menjalani steril terlebih dahulu, sebwlum memulai Operasinya. Dibantu oleh perawat yang bertugas, Devid memakai atribut pakaian tugasnya. Dokter Kevin dan Dokter Adrian sudah menunggu didalam. Bapak Firdaus juga sudah berada di meja Operasi siap untuk dilakukan tindakan.


"Bismillah..." Ucap Devid. Dan kemudian Operasi pun dimulai. Devid tetap berusaha tetap tenang, dia harus focus dengan pekerjaannya. Tapi tiba tiba saja bayangan Airin tengah berpeluka dengan Syahdan kembali melintas di kepalanya.


"Dokter jangan pegang yang itu, bisa fatal nanti..." Tiba tiba suara Dokter Adrian mengejutkannya.

__ADS_1


__ADS_2